(navigation image)
Home American Libraries | Canadian Libraries | Universal Library | Community Texts | Project Gutenberg | Children's Library | Biodiversity Heritage Library | Additional Collections
Search: Advanced Search
Anonymous User (login or join us)
Upload
See other formats

Full text of "Akar Kesesatan LDII Dan Penipuan Triliunan Rupiah Kasus Maryoso"

- I 

1™J 



H.M.C, SHODIQ 









ii 




DAN PENIPUAN 
TRILIUNAN RUPIAH 



Penerbit: 

Lembaga Penelitian dan Pengk< 
(LPPI) * 




m Islam 



TRILltMN RUPIAH 



Penerbit 

Lembaga Penelitian.S#^|ngkEpin Islam 



H. M. C. Shodig 



Akar Kesesalan WO. & 
Penipuan Triliunan Rupiah 



Cetakan: 
Kedua, Oktober 2004 

Penerbit: 

Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI)] 

Gedung LPPI: Jl. Tambak No. 20D Kel Pegangsaan Jakarta Pusat 10320 

Telp. (021)31908749 Fajc (021) 31901259 



Judul Buku: 

Akar Kesesatan LD1! & Penipuan Triliunan Rupiah 



Penulis: 

H.M.C.Shodiq 



Computer Sett: 

Jaisyu Muhammadin Sayaud 



Desain Sampul: 

Rahmatika 



Cetakan Pertama: 

Januari 2004 



Cetakan kedua: 

Oktober 2004 



Penerbit: 

Lembaga Penelitian dan Pengkajian islam (LPPI) 

Gedung LPPI: Jl. Tambak No. 20D Kel Pegangsaan Jakarta Pusat 10320 

Telp. (021) 31908749 Fax. (021) 31901259 



/£?£? Penctfnijt 



Kata Pengantar 




Alhamdulillah! Rabi! 'alamien. Shalawat dan salam atas Nabi 
Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia 
sampai akhir zaman. 

Ammaha'du. 

Bacaan yang di hadapan Anda ini adalah tulisan HM Shodiq pemerhati 
kesesatan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) tinggal di Jakarta, 
ditambah dengan beberapa hal yang penting menyangkut peristiwa yang 
berkaitan dengan LDII (termasuk kebiasaan berkata jorok/ tak pantas yang 
diajarkan oleh Amir LDII). dan kumpulan hasil pelacakan/investigasi Koran 
Radar Minggu terbitan Jombang Jawa Timur tentang kasus penipuan belasan 
triliun rupiah yang berlangsung ramai di kalangan LDII sejak 2000 sampai 
2003 dan kasusnya masih memanas sampai kini. 

HM Shodiq telah bertahun-tahun mengamati polah tingkah jama'ah LDII, 
mencermati ajaran-ajarannya, dan merasakan dampak kekakuan dan 
ketidaktoleransian orang LDII terhadap Muslimin yang di luar jama'ah LDII. 
Pengamatan disertai pengalaman itu dituangkan dalam bentuk tulisan yang isinya 
menyanggah serta membeberkan kesalahan-kesalahan fatal doktrin LDII. 

Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq ■ ||||||i 



Pembahasan yang ditulis Pak Shodiq ini menghunjam pada pokok 
masalahnya, yakni pangkal dalil yang dijadikan aqidah LDII yang sekaligus 
dijadikan landasan untuk mensahkan keislaman LDII dan menganggap tidak 
sahnya keislaman umat Islam yang bukan pengikut LDII. 

Apa landasan LDII itu? 

Landasannya adalah hadits ' u Laa Islaama Illaa BU Jamaa 'ati... " 
(Tidak ada Islam kecuali dengan jarna'ah. . . ). Ternyata dalam penelitian Pak 
Shodiq yang merujuk kepada kitab-kitab a-ljarh wal ia 'di l fkritik periwayat 
hadits) sebagai penimbang hadits membuktikan bahwa hadits %< laa 
islaama... " yang dijadikan sandaran utama LDII itu adalah hadits mauquf 
(tidak dari Nabi saw, hanya berhenti di tingkat sahabat), dho'if (lemah), dan 
tingkat lemahnya itu sangat lemah. Yang hal itu sama sekali tidak boleh 
dijadikan landasan dalam ibadah, apalagi sebagai landasan aqidah. balikan 
apalagi dijadikan landasan untuk mensahkan keislaman golongan sendiri 
(LDII) dan menganggap tidak sairnya keislaman orang yang bukan LDII. 
Masih pula dengan landasan hadits yang sangat lemah itu, LDII berani 
menentukan bahwa hanya golongan mereka sajalah yang wajib masuk surga. 
sedang orang Muslim yang lainnya adalah calon-calon penghuni neraka 
selama-lamanya, dan m$m$2kmsyarrulbariyyah, sebumk-buruk manusia. 

Seandainya hadits yang dijadikan landasan itu betul pun. sikap LDII 
yang sampai menganggap orang Muslim selain LDII sebagai najis itu sudah 
merupakan sikap ghuluw alias melampaui batas, yang hal itu sangat dilarang 
oleh Nabi Muhammad saw 1 . 



s I s/s > } i 



s / 



/,*..*, S s S S SS * " S ' t 

Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda pada pagi Aqobah dan beliau di atas untanya, "Ambilkan 
kerikil untukku, moka aku ambilkan kerikil untuknya, yaitu kerikil lontar (jamrah), lalu ketika aku 
le takkan nya di tangan beliau, beliau bersabda, (ya, yang) seperti ini, dan jauhilah olehmu ghuluw 
(sikap berlebih-lebihan/ melampaui batas di dalam agama. Maka sesungguhnya yang merusak 
orang-orang sebelum kamu itu hanyalah sikap ghuluw di dalam agama. " (HR An-Nasaai, rijalnya 
tsiqot/ kuat-terpercaya). 

llil§ ■ H.M.C, Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



Apalagi sudah menajiskan, masih menganggap pula bahwa orang 
selain golongan LDII itu akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya, 
dan masih ditambah lagi bahwa jama' ah LDII (yang dulunya bernama Darul 
Hadits, berganti nama menjadi Islam Jama'ah, lalu jadi Lemkari, dan kini 
LDII) saja yang wajib masuk surga; maka sikap itu sudah menjiplak sikap 
orang-orang Yahudi. Kepada orang-orang Yahudi itu cukup ditantang oleh 
Allah swt: 



s s s / 



's 

Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika 
kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah 
bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika 
kamu adalah orang-orang yang benar". (QS Al Jumu'ah: 6). 



/• s S s 



»» t» y S S J' s s 



Mereka tiada akan mengharapkan kematidn itu selama-lamanya 
disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka 
sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim. (QS 

Al Jumu'ah: 7). 

Dengan memiliki sifat dan sikap model Yahudi itu saja sudah jelas 
mendapatkan tantangan dari Allah swt. Ini masih ditambah lagi yaitu sikap 
yang meniru kaum Khawarij, yakni ghulu w/melampaui batas, dan juga 
menganggap orang selain golongannya itu kafir, malahan di LDII justru 
ditegaskan, orang Muslim selain golongan LDII itu adalah: calon penghuni 
neraka selama-lamanya, dan seburuk-buruk manusia. Balikan lebih drastis 
dari itu, ajaran LDII yang didoktrinkan oleh amirnya, bahwa orang selain 
LDII itu adalah kemaluan wanita yang busuk semua. 

Terhadap kaum khawarij yang dikenal jujur dan rajin ibadah pun 
karena mereka berjalan bukan pada jalan yang benar (sesuai yang 

Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq ■ f0$M 



KaU PenginUr 



dituntunkan Rasulullah saw) maka ketekunan ibadah mereka tidak 
menjadikan mereka selamat di akherat Hingga Nabi saw menyebut mereka 
(kaum Khawarij) sebagai anjing-anjing neraka. 



liiSpVj^^jy,^ 



/ 



Dan Sa 'id bin Jamhan, ia berkata, aku berjumpa Abdullah bin Ahi 
Aufa dan dia terhalang penglihatannya, maka aku menyalaminya, lalu ia 
berkata, siapa kamu. Aku jawab, saya Sa 'id bin Jamhan. Ia berkata, apa 
yang ayahmu perbuat? Aku jawab, ia telah dibunuh oleh Al-Azariqoh (satu 
sekte Khawarij). Dia (Abdullah bin Abi Aufa) berkata, Allah telah melaknat 
Al-Azariqoh, Rasulullah saw telah berbicara kepada kami bahwa mereka 
adalah anjing-anjing neraka (kilaahun naar). Aku berkata, apakah hanya 
Al-Azariqoh sendiri atau khawarij secara seluruhnya. Ia berkata, bahkan 
khawarij seluruhnya (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan At-Thobroni, rijal 
Ahmad tsiqot/kuat, Majma ' Zawaaid, juz 5, hal 230). 



Illil m H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






Kjij Penctfnizr 






S S S S fit* s * •* y 



** >• "V ** • " T y S x 

•y \£* J* JT> CIH d ji ^^^Jj^Xvj -up -viSI ^p? 411 J^u/j cJu^ 

> . ' ' > > ' ^ >* * ' ' > ' ' s 

X ..> «X* > X »XX « I J /„ i> IX >, X .<» .... X XX.»X. » ..X XX 3 x^.\l-^ -" -** J „ 

s s yy ^•"" X 

y y y • } y y v ■ 

«c*, jj a^U j) ^J- Jl c/9 1 5*v v> j* ^ ^ ^vh #• 

y/ / • • • /* • X •'**/' x • • x x *x- X 



x y y y 



Dari Abi Salmah dan Atho 'bin lasar bahwa keduanya mendatangi 
Abu Sa 'idAl-Khudri lalu keduanya bertanya tentang al-haruriyyah (dari 
golongan Khawarij), apakah kamu dengar Rasulullah saw menuturkannya. 
Ia (Abu Sa 'idAl-Khudri) berkata, saya tidak tahu siapa al-haruriyyah itu, 
tetapi aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda: akan keluar dalam 
umat ini (Abu Sa 'id berkata) -dan beliau tidak berkata minhaa (dari umat 
ini) — satu kaum yang kamu sekalian merasa remeh shalat kalian beserta 
(dibanding) shalat mereka, lalu mereka membaca al-Qur 'an tidak melewati 
kerongkongan atau tenggorokan mereka, mereka melesat (keluar dengan 
cepat) dari agama bagai keluarnya anak panah dari sasaran panahnya, 
maka pemanah melihat kepada anak panahnya, ke mata panahnya, ke 
gagang tempat masuk mata panahnya, lalu ia menerawangkan ke atas,- 
apakah ada sedikit darah yang menempel padanya, (artinya tidak melihat 
sedikitpun darah yang menunjukkan terkenanya sasaran panah). (HR 
Muslim). 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah» H.M.C. Shodiq 



KzU Pengantar 

Demikianlah, kaum khawarij yang tekun ibadah, hingga ibadahnya 
para sahabat saja kecil dibanding mereka, namun karena tidak sesuai dengan 
ajaran Rasulullah saw dan ghuluw, maka mereka nasibnya kelak di akherat 
menj adi anj ing-anj ing neraka. 

Dalam hal LDII, sikap Yahudi dan khawarij itu sudah diadopsi, masih 
pula ditambah hal-hal lain yang lebih ekstrim lagi dengan menentukan 
Muslimin selain golongan LDII adalah calon-calon penghuni neraka selama- 
lamanya, dan seburuk-buruk manusia. 

Di balik kesadisannya dalam mengecam Muslimin pihak lain itu, masih 
pula LDII menggerilya harta simpanan manusia terutama jama'ahnya agar 
berpindah tangan ke para petinggi LDII dengan cuma-cuma. Dalam bahasa 
daerah Jawa disebut ngglembuk. menipu dengan aneka dalih. Tidak 
tanggung-tanggung, hasil glembukannya selama hampir tiga tahun itu lebih 
dari sepuluh triliun rupiah. Di sinilah perlunya LPPI melampirkan dalam 
buku ini hasil pelacakan Radar Minggu dalam kasus yang menunjukkan 
jati diri LDII itu memang benar-benar penuh tipuan, baik di bidang aqidah 
maupun duit. 

Dalam hal kasus penipuan duit belasan triliun rupiah, pelakunya 
adalah para petinggi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dan kaki 
tangannya, sedang korbannya adalah pengikut LDII dan orang-orang lain. 

Tidak tanggung-tanggung, uang yang dikeruk oleh para petinggi LDII 
sebanyak hampir 11 triliun rupiah, selama tahun 2000 sampai 2003. 
Bayangkan, seandainya uang itu berupa pecahan terbesar yakni ratusan ribu 
rupiah saja bila untuk mencapai hampir 1 1 triliun itu tumpukannya sampai 
setinggi Tugu Monas (Monument Nasional) di Jakarta yang menjulang ke 
langit itu. Sementara itu saat buku ini mau dicetak, ada gegeran gonjang- 
ganjing bobolnya BNI (Bank Negara Indonesia) dan BRI (Bank Rakyat 
Indonesia) . Kasus bobolnya dua bank negara itu sangat ramai di masyarakat 
secara nasional. Kalau dihitung secara nominal, bobolnya BNI sekitar 1 .7 
triliyun rupiah, sedang BRI sekitar 296 miliaran rupiah. Jadi kasus yang 
terjadi di LDII itu jauh lebih tinggi nilai jumlahnya dibanding kasus bobolnya 
dua bank pemerintah yang menjadi berita heboh di masyarakat menjelang 
akhir tahun 2003. Ini bukan mengecilkan nilai kebobolan yang terjadi di 
BNI dan BRI, namun sebagai perbandingan, betapayagonya para petinggi 
LDII itu, mereka mampu membobol duit masyarakat sampai hampir 1 1 triliun 
rupiah, namun tidak menjadi heboh nasional. 

UKIIh H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



Satu "prestasi" tersendiri bagi para petinggi LDII 

Kasus penipuan itu telah memakan banyak korban yang terdiri dari 
anggota LDII dan lainnya. Bahkan para pejabat serta punggawa desa pun 
tertipu pula. Ada yang tertipunya itu secara mengenaskan, misalnya dibujuk 
oleh pihak pengumpul dana yang disebut dana investasi dalam kaitannya 
dengan pembayaran rekening listrik dan apa yang mereka sebut usaha-usaha 
lain yang mereka sebut halal. Mula-mula para petinggi dan propagandis 
LDII menekankan pengumpulan dana investasi itu dengan "penekanan model 
syari'at LDII", siapa yang menentangnya maka dianggap faroqo l Jama 'ah 
(memisahkan diri dari jama'ah) maka darahnya halal. Sehingga penyetoran 
duit kepada para pengumpul dana investasi LDII ini terkait dengan doktrin 
LDII yakni taat Amir. 

Di samping itu, peristiwa yang berawal dari Mojokerto Jawa Timur 
tahun 2000 ini memberi iming-iming bagi penyetor dana akan mendapatkan 
bunga/ keuntungan tiap bulannya 5-7% dan modal yang disetorkannya pun 
dapat diambil kapan saja diperlukan oleh penyetornya/ penanam modalnya. 
Karuan saja banyak orang yang tertarik untuk menyetorkan uangnya, bahkan 
ada yang menjual harta kekayaan pokok yang mungkin satu-satunya, 
misalnya sawah. Yang lebih mengenaskan lagi, ada karyawan yang dibujuk 
oleh pihak pengumpul dana agar si karyawan menyetorkan uang dengan 
cara utang ke koperasi (tempat dia bekerja) lalu diinvestasikan ke LDII, yang 
nantinya akan mendapatkan keuntungan tiap bulannya. Kurang lebihnya, si 
karyawan tinggal ongkang-ongkang kaki lah, tiap bulan sudah mengalir duit 
bunga dari investasi di LDII itu. Lantaran manisnya bujukan itu maka si 
karyawan pun mau dituntun saja ke kantor koperasi tempat dia bekerja, lalu 
menandatangani perjanjian utang duit koperasi, dan dia tidak usah membawa 
duit utangannya itu, langsung sudah dibawa oleh pihak pengumpul dana 
LDII ke petinggi LDII. 

Lha dalaah. . . bukannya tiap bulan tinggal ongkang-ongkang kaki yang 
terjadi. Tetapi si karyawan itu gajinya tiap bulan dipotong habis oleh koperasi, 
sedang apa yang dijanjikan oleh pembujuk dari LDII itu tak kunjung tiba. 
Ngomplong lah si karyawan itu, merasa tanda tangannya telah 
mengakibatkan hilangnya gaji per bulan yang biasanya dia nikmati, masih 
pula beban utang duit koperasi itu terasa menggunung, hingga entah sampai 
kapan dia tidak menerima gaji tiap bulannya. Apalagi terbayang pula bahwa 
para petinggi LDII menikmati duit kerukan hasil tipuan itu dengan mondar- 

Aka r Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H. MC. Shodiq g llllil§ 



KzUPendantir 



mandir sana-sini naik mobil mendut-mendut dan isteri imut-imut. Mereka 
tak mau kalah dengan ulah pendiri LDII, Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis 
(Luar Biasa) Sakeh (Sawahe Akeh, Sawahnya Banyak) yang walaupun sudah 
gaek, menjelang matinya tahun 1982 baru saja menikahi gadis muda 15 
tahun asal Madura. Benar-benar dipolkan nafsunya, karena menurut 
penelitian Departemen Agama, isteri yang dicerai oleh Nurhasan Ubaidah 
jumlahnya 13 orang. Sedang menurut KH Hasyim Rifa'i (da'i di Kediri, 
bekas murid Nurhasan selama 17 tahun), isteri-isteri Nurhasan yang ke- 
empat selalu berganti-ganti sampai tak bisa dihitung lagi. 

Jurus-jurus untuk menipu memang sudah dibuat mulus. Dengan 
senjata "wajib taat Amir, tidak taat maka masuk neraka selama-lamanya" 
mengakibatkan proyek-proyek tipuan baik berupa syahwat seks maupun 
syahwat perut bisa dilancarkan. Yang terkuak di permukaan pun di antaranya 
sudah seperti itu. Wallahu a'lam, apa yang belum terkuak. Maka LPPI 
alhamdulillah telah memberikan peringatan kewaspadaan kepada umat Islam, 
di antaranya telah menerbitkan buku yang berjudul: 

Bahaya Islam Jawa 'ah- Lemkari- LDII, dan dua selebaran yang beredar 
luas pula, berjudul: 

- Ini Bahaya LDII Waspadalah 

- Ini Dia, Bukti Kebohongan Imam LDII Nurhasan Ubaidah Lubis dalam 
memanipulasi Hadits Nabi yang Mengatakan Dirinya Manqul kepada 
Rasulullah saw . 

Kali ini LPPI sengaja mencetak hasil lacakan Radar Minggu yang 
menurut pertimbangan kami pantas disimak untuk menambah bukti tentang 
kebohongan-kebohongan LDII. 

Kasus-kasus yang ditampilkan ini sengaja kami urutkan sesuai dengan 
tanggal terbitnya di Koran itu, supaya mempermudah bagi pembaca dalam 
mengurutkan terjadinya peristiwa. 

Yang ditampilkan oleh Radar Minggu bukan hanya kasus penipuan 
uang investasi, namun juga disertai beberapa artikel yang mendukung, yakni 
tingkah-tingkah bohong LDII. Maka artikel-artikel itu pun kami sertakan 
pula, sesuai dengan urutan edisinya. 

Kami berharap dengan diterbitkannya buku disertai lampiran 
"klipping" tentang kasus LDII mengenai uang tipuan hampir 1 1 triliun rupiah 
ini akan membuka mata bagi Umat Islam bahwa LDII benar-benar jago dalam 
hal penipuan, baik dalam hal syari' ah maupun fulusiah alias duit. 

|^i| ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



Ktf* Pepdjtrbir 



Oleh karena itu kami berterimakasih dan menghargai setinggi- 
tingginya upaya pemimpin redaksi dan seluruh rekannya di jajaran Radar 
Minggu di Jombang yang dengan sigap dan tegasnya berani menampilkan 
kasus yang memang benar-benar menguliti jati diri LD II ini. Juga terimakasih 
kepada Pak HM Shodiq yang mempercayakan kepada LPPI untuk 
menerbitkan bukunya. Demikian pula terimakasih kami sampaikan kepada 
berbagai pihak yang telah memberikan informasi dan hal-hal lain, yang 
semuanya bagi kami merupakan sumbangan yang tidak bisa ternilai harganya. 
Kepada semuanya kami ucapkan j azaakumullah khairol jazaa\ 

Mudah-mudahan segala upaya untuk menyadarkan Umat Islam dari 
bahaya LDII ini diridhai oleh Allah SWT dan bermanfaat di dunia dan 
akherat Amien 

Jakarta, Dzulqaidah 1424H/ Januari 2004M 
Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq 



KzU PengznUr 



llilSil ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah 



K#fy Sjmbufyn 



SAMBUTAN STAF AHLI MENHAN BIDANG IDAG 

PADA SIMPOSIUM SEHARI TENTANG 

KEWASPADAAN UMAT ISLAM TERHADAP 

ALIRAN YANG MERUSAK AQID AH TAUHID 

Tanggal, 12 Februari 2000 



Yang terhormat 

Ketua Yayasan Pendidikan Sunan Bonang 

Bapak-bapak unsur pimpinan daerah Tk II & Tk Kecamatan 

Seluruh Pengurus YPBS, PMQ TK, SD, SLTP, dan SMA 

Bapak-bapak/Ibu-ibu undangan serta hadirin yang kami muliakan 

Assalama alaikum Wr. Wb. 

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt, 
yang telah memberikan hikmah, nikmat, hidayah serta taufiq kepada kita 
bersama berupa kesehatan sehingga dapat bersilaturahmi bertemu muka di 
tempat yang berbahagia ini. 

Kedua, saya berterima kasih atas penghargaan yang diberikan kepada 
saya diundang dan supaya memberikan sambutan pada acara simposium 
tentang "Kewaspadaan Umat Islam Terhadap Aliran yang Merusak Aqidah 
Tauhid". Topik ini menarik karena padia akhir-akhir ini negara kita dilanda 
arus globalisasi yang mau tidak mau harus kita lalui, selanjutnya timbullah 
krisis ekonomi di mana-mana termasuk di Indonesia. Dengan adanya krisis 
ekonomi tersebut, muncullah gerakan reformasi yang kita rasakan sekarang 
ini yang menuntut perubahan kepemimpinan dan sistim pemerintahan yang 
lebih baik. 

Pemberantasan KKN dan menegakkan Demokrasi. Derasnya reformasi 
tersebut cenderung bangsa kita melupakan nilai-nilai perjuangan bangsa 
sejak 1945 antara lain nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Kita telah 
mengabdikan prikemanusiaan dengan maraknya kekerasan, pembunuhan, 
perkosaan dan pembakaran. 

Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah, H MC. Shodiq ■ lllllll 



KzU SwvbuUn 



Kita telah melupakan persatuan dan kesatuan, dengan timbulnya 
kerusuhan di Ambon, Halmahera, Lombok, Pontianak Kalbar, ini disebabkan 
karena dipicu emosi perbedaan suku agama dan golongan. Kita lalai bahwa 
musyawarah untuk mufakat itu melekat di hati, dan itu yang terbaik dan 
telah terbukti dalam pemilu kita tahun lalu. Meskipun ada perbedaan 
pendapat, tapi jangan terjadi saling membunuh, persaudaraan harus kita 
pupuk, dengan sebaik-baiknya agar demokrasi menjadi sehat. Tadi saya 
sampaikan bahwa topik simposium ini menarik karena di tubuh Islam sendiri 
masih terdapat perbedaan pendapat antar organisasi satu dengan yang 
lainnya. Perbedaan pendapat itu sebenarnya wajar-wajar saja di dalam 
organisasi, selagi masih dalam bingkai persatuan dan kesatuan dan masih 
dalam lingkup pedoman aqidah umat Islam yaitu Al Qur'an dan hadits 
dikuatkan dengan bai'at Islam kita "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan 
selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah". 

Para Peserta simposium yang kami hormati. 

Demikianlah yang menimbulkan keresahan terhadap masyarakat dan 
tidak diinginkan oleh pemerintah, karena konflik-konflik antar golongan 
tersebut adalah melemahkan kepada Islam itu sendiri, dan itu adalah benih- 
benih yang melemahkan persatuan dan kesatuan bangsa, yang lambat laun 
akan menjadi konflik yang lebih besar. Oleh sebab itu kepada hal-hal seperti 
inilah yang harus dicermati dalam simposium ini. Sebagai Rasulullah sebelum 
meninggal berwasiat sebagai berikut: 

"Aku tinggalkan kepada engkau (umatku) dua perkara apabila kau 
pegang teguh niscaya engkau tidak akan sesat selama-lamanya. Apakah 
itu? Yaitu Kitabullah (Al Qur 'an) dan Sunnah Rasulullah (Al Hadits). 

"Saya kira kita semua tidak ada yang ingin sesat' 5 . 

Para peserta simposium, hadirin dan hadirat yang terhormat. 
Beberapa contoh aliran sempalan Islam yang bisa membahayakan 
aqidah Islamiyah yang telah dilarang seperti: 
-Lemkari 
-LDII 

-Darul Hadis 
-Islam Jama'ah 

WMM ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan) LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



Klij Szmbuiin 



Sedangkan aliran sempalan Islam yang saat ini dinilai meresahkan 
masyarakat seperti: Ahmadiyah, Syi'ah, Inkar Sunnah, Isa Bugis dll. 
Kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya. 

Meskipun setiap manusia tidak ingin sesat namun karena ambisi 
pribadi atau karena keseimbangan status hidup maka manusia berani 
mengorbankan aqidah dengan merekayasa pedoman, yang penting tampil 
beda di dalam masyarakat, sampai-sampai berani merubah Al Qur'an dan 
Hadits atau dibolak-balik sesuai keinginannya. Salah satu bentuk ajaran yang 
mengkafirkan sesama muslim apalagi menghalalkan darahnya itu adalah 
bertentangan dengan firman Allah dalam Al Qur'an: "Wata 'Awami 'Alal 
Birri Wat Taqwa Wala Ta 'awam 'Alalltsmi Wal Udwan " artinya: Tolong 
menolonglah kamu pada perbuatan baik dan taqwa, dan jangan tolong 
menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan. Dan saya harapkan mudah- 
mudahan simposium ini dapat berguna sebagai wahana untuk menggalang 
persatuan dan kesatuan khususnya dalam tubuh umat Islam itu sendiri dan 
umumnya dapat menggalang persatuan dan kesatuan bangsa. 

Para hadirin yang kami muliakan 

Demikianlah sambutan saya sebagai manusia tidak luput dari 
kesalahan dan kehkhilafan, oleh sebab itu apa bila benar, itu adalah dari 
Allah SWT, dan apabila salah itu semata-mata kesalahan saya, oleh karena 
itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata saya ucapkan selamat 
bersimposium semoga sukses. 

Wahillahit tauflq wal hidayah 

Wassalamu 'alaikum Wr. Wh. 

Jakarta 12 Februari 2000 

Staf Ahli Menhan 

Bidang Ideologi dan Agama, 

I r. Soetomo, SA 
Mayor Jenderal TNI 



Note: Dibacakan oleh PABAN (Perwira Pembantu) IDAG DEPHAN Kol. Sarjono. 

Akar Kesesatan LD1I & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq ■ WMM 






KlU SzmbuUn 



IBlli ■ H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






Pjfijr/si 






Daftar Isi 



v 



Kata Pengantar 

Sambutan StafAhliMENHAN Bidang DDAG xv 

Daftar Isi 



?sK 



Bagian Satu : Kesalahan LD II dalam Memahami Dalil 

• Muqaddimah ; \ 

• LDI1 dan Jama'ah lainnya di Indonesia beserta, ciri-cirinya 15 

• Keamiraii Nurhasan Ubaidah 22 

• Ajaran Manqul Nurhasan Ubaidali 41 

• B ahay a Ajaran Takfir (mengkafirkan) dan dampaknya 49 

• Pandangan dan Ulasan 54 

• Ringkasan dan Kesimpulan 84 

• Penutup 100 

• Lembaran Khusus 105 



Akar Kesesalan LD1I & Penipuan Triiiunan Rupiah. H.M.C. Shodiq ■ R|pl 






Pafttr Isi 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



Bagian Dua : Bukti-Bukti Penipuan LDII 

• Daftar Korban Penipuan Investasi LD II 116 

Hati-hati Tawaran Investasi '.(Surat Pembaca) 118 

Korbannya Para Pejabat, Konglomerat dan Jendral? 120 

Keluh Kesah Pengepul Tingkat Bawah 121 

PT. Lima Utama, Pengepul Jombang 122 

Camat Korban Rp. 650 Juta 124 

LDII bagai Diguncang Badai 126 

Menyibak Kasus 'Investasi" Seputar LDII, Pengepul Investasi 

Berusaha Melarikan Diri 130 

Selintas Jejak-jejak LDII 132 

Menyibak Kasus "Investasi" Seputar LDII, "Angin Surga" 

Mulai Berhembus 135 

LDII Kediri dan Jombang Protes 137 

Penjelasan Redaksir 138 

"Fatwa" DPD LDII Jatim Tak Digubris 140 

Siapakah KHNurhasan Al Ubaidah? 141 

Surat Yuda dari Penjara .' 145 

Sistem Struktur Kerajaan "Islam Jama'ah" 354 149 

Obral Janji Petinggi LDII 152 

LDII Juga Ada yang "Sontoloyo" 154 

Para "Petinggi" LDII Cuma Obral Janji 156 

Istri Kyai Sepuh LDII Terlibat Langsung 159 

Konspirasi Mafia Membeli Penjara 161 

Ada Apa Dibalik Ini Semua? 164 

Tanah Ponpes LDII Burengan Hasil "Serobotan"? 166 

Petinggi LDII Bertindak Diskriminatif® 171 

• Petinggi LDII Bertindak DisJcriminatif (II) 173 

i!!!! ■ H MC. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



• 



Jeritan Korban Investasi LDII 175 

Kerajaan LDIIGo Internasional 177 

Kasus Investasi di LDII, Polri Harus Tanggap 181 

Polah Tingkah Para Nasabah 184 

Tanpa Pengaduan pun Dapat Diproses 186 

Penyimpangan Ijtihad Nurhasan 187 

DDII Bukan LDII 190 

KH. Nurhasan Al Ubaidah Dikawal Pasukan Jin 192 

Untuk Menyelesaikan Kasus Investasi LDII Tim Penyelesaian 

Pinjam Uang Anggota Jama'ah 196 

Jeritan Gimo 198 

Kebohongan LDII Amat Nyata 200 

Si Miskin pun Digerogoti 203 

Stop Press, Radar Minggu Diteror 205 

Pemberitahuan 206 

Kisah Meninggalnya KH. Nurhasan Al Ubaidah 

yang Dirahasiakan 206 

Petinggi LDII Ingkar Janji? Korban 

Ancam Demo Besar-besaran 211 

Janji Penyelesaian 27 Agustus, Tak Ada Realisasi 214 

Korban Investasi di LDII Berencana Lapor Ke Polda Jatim 216 

Cerita Dari Baraka 217 

Bau Busuk Aset LDII 220 

Rp. 2.6 M Diserahkan "Petinggi Burengan Kediri, Jatim 222 

Indeks '. 225 



< * > 

Akar Kesesalan LDIt & Penipuan Triliunan Rupiahi H.M.C. Shodiq 



Pjftjt Isi 



'f$MMM ■ H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesikfan LPll Pzkm Memihimi Pjlil 



BAGIAN KESATU 

KESALAHAN LDII 
DALAM MEMAHAMI DALIL 



MUQADDIMAH 

Maha Suci Allah, hanya kepadaMu kami menyembah.dan hanya kepadaMnkami 
memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi 
Muhammad Rasulullah savv para shohabat dan pengikut-pengikut beliau sampai 
akhir zaman. 

Agama Islam dijalankan atas tuntunan Rasulullah s. a. w. searah dengan 
sabda beliau: 






c Apa yang Aku dan para shohabat ada di atasnya". 






Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq g tlllli§| 






BACIAN KESATU: Kestkhm LP/I Pihm Mem^htmi Pjli[ 

Konkritnya adalah Al Qur'an dan hadits secara murni dan konsekuen, 
Pas tidak ditambah dan tidak dikurangi. Mengubah, menambah, serta 
mentafsirkan Al Qur 'an-Hadits tidak sesuai dengan maksud sebenarnya, apapiin 
alasannya dan apapun bentuknya akan berarti melecehkan, melangkahi Nabi, 
yang pada hakekatnya melecehkan Islam, balikan pada tataran yang lebih besar 
bisa tergolong yang merusak Islamnya, sekalipun tetap tekun sholat, puasa, zakat, 
haji dan ibadah-ibadah lainnya seperti golongan Khawarij sebagiamana 
disabdakan Nabi (riwayat Bukhari- Muslim). 

Jika kita mengamati ajaranH. NurhasaanUbaidah, maka hal yang pokok 
adalah tentang Jama'ah, amir, bai'at dan ta'at., dan jika berbicara tentang 
J ama ' ah, amir, b ai ' at dan ta ' at, maka yang lebih dulu harus diperhatikan adalah 
definisi/pengertian tentang hal itu. Dalil-dalil mana yang dij adikan dasar untuk 
definisi tersebut. Jika definisinya salah dikarenakan yang dijadikan dasar 
mendefinisikan/mengartikan itu dalil-dalil yang tidak shahih atau Hadits-hadits 
dha'if (lemah), maka pengamalannya akan salah dan hasilnya pun akan salah. 
Demikian pula seluruh dalil shahih (apalagi dha'if (lemah)) yang digunakan untuk 
mengamalkan j ama' ah, amir, Bai'at, ta'at dari definisi yang salah hasilnya akan 
salah pula (benar + salah = salah/rusak). 

Jika startnya (langkah awalnya) salah, maka selanjutnya akan salah(tidak 
menghasilkan amal sholeh atau balikan berdosa). Misalnya: dalil tentang bai'at 
dan ta'at itu adalah shahih, tetapi jika digunakan untuk membai'at orang yang 
tidak memiliki persyaratan untuk dibai'at (misalnya A), padahal seharusnya 
(B), maka ini adalah penempatan dalil yang salah/dalil yang shahih tetapi 
digunakan secara salah (salah tempat), sehingga hasilnya menjadi salah pula. 

Sedangkan dasar yang dipakai oleh H. Nurhasan untuk mendefinisikan/ 
mengartikan Jama'ah, amir, Bai'at dan ta'at itu adalah hadis mauquf yang dha'if 
(lemah) dengan kedha ' if an yang berat yang dilarang untuk dij adikan hujj ah yaitu: 



s /s 



"Tiadalah Islam kecuali dengan berjama 'ah, tiadalah berjama 'ah 
kecuali dengan beramir, tiadalah beramir kecuali dengan berbaVat dan 
tiadalah berbai 'at kecuali dengan bertho 'ai 



'«y» 



HMC. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcsihhin LP// Pjkm Mem^himi Pilii 

Oleh karena Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati . . . dst itu Hadits dha'if/ 
lemah sekali maka semua pengertian/perumus an yang didefinisikan berdasarkan 
Hadits dha'if (lemah) itu menjadi keliru dilihat dari segi kaidah. Jika 
pengertiannya keliru maka pengamalannya akan keliru pula sehingga tidak akan 
menjadi amal soleh. Hal ini seharusnya benar-benar diperhatikan. 

Demikian pula mengenai fatwa memperjuangkan kemurnian Qur ? an- 
Hadits-Jama'ah. Tujuannya tentunya bagus, tetapi karena pengertiannya tidak 
sesuai dengan yang dimaksud Nabi (keliru) maka hasilnya bukan 
memperjuangkan, tetapi malahan sebaliknya. 

Terdapat beberapa keterangan/pernyataan yang secara jelas menunjukkan 
bahwa yang menjadi dasar berjama'ah, beramir, berbai ' at dan ta'at serta takfir 
(mengkafirkan) itu adalahZtftf Islaama Illaa BilJama 'ati ... dan seterusnya. 

Untuk lebih jelasnya saya kutipkan pernyataan-pernyataan Drs. Nurhasim 
Pengasuh Pondok (LD1I) Burengan Kediri, dalam bukunya "Imam Jama 'ah Di 
Dalam Agama Islam }> sebagai berikut: 

1 . "Atas dasar ini maka nilai kata-kata: 

. . . &du. 'ypL\i 

Sebagai hujjah yang wajib diikuti di dalam agama tidak dapat disangkal 
lagi dan kata-kata Umar itu merupakan penjelasan terhadap firman Allah 
dalam Surat Ali Imron 1 03 " (Buku Drs. Nurhasim hal. 21). Ayat yang dij adikan 
dasar oleh Nurhasan Ubaidah untuk perintah berjama'ah: 

s s s s s 

'Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan 
janganlah kamu bercerai berai". " 

2. Jama'ah di dalam agama mengenai selain shalat ialah: Mengangkat Amir/ 
Imam untuk dita'ati dalam agama untuk menuju Surga, dan selamat dari 
Neraka Allah, berdasarkan dalil hadits mauquf ialah ucapan Umar bin Al 
Chotob yang tersebut di dalam Musnad ibnu Hanbal: 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C.- Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesikhtn LP// Ptkm Memihjmi Pjlil 



■\yi^^^\j^q^sscti\j^^\^^^a.\,vi^iV 



/■ / S S S s s s s s s s s / 

(Lihat Buku "Imam Jama'ah Di Dalam Agama Islam" karangan Drs. 
Nurhasim hal. 12) 



3, "Sedang berjama'ah harus dengan jalan beramir, Berafnir dengan jalan 
berbai'at kemudian diikuti dengan ta'at sesuai dalil". (Lihat Buku "Imam 
Jama 'ah Di Dalam Agama Islam " Drs. Nurhasim hal. 34 ) 



jSM-l^f 



4. "Keterangan Rasulullah mengenai Jama'ah dengan sabda: 






jI^^Ij ^Jip y u 



'Yang aku tetapi dan para shahabatku ' itu tidak bertentangan dan tidak 
mengurangi isi dari kata-kata Umar: Laa Islaama lila BilJama 'ati. . . . dst." 
(hal. 21) 

5 . "Adapun dalil yang menyanggah adanya Islam tanpa Jama'ah adalah Hadits 
mauquf, sabda Umar yang tersebut di dalam Musnad Ibnu HanbaL (hal. 19): 



NB : Pernyataan tersebut membuktikan bahwa yang menj adi dasar penetapan 
kafir terhadap orang-orang di luar jama'ah adalah Laa Islaama lila BU 
Jama' ati dst 

6. Dan lain-lain 

Dengan demikian dalil Laa Islaam a Illaa Bil Jama 'ati ... dst itu ? bukan 
saja sebagai dasar berjama'ah, beramir, berBai'at dan ta'at tetapi lebih dari itu 

IIIIIIb H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDH & Penipuan Triiiunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kenhfan LP// Pjkm Memihimi Pil/I 

sebagai dasar penilaian bahwa orang yang diluar Jama'ah (H. NurhasanUbaidah) 
itu kafir. Pernyataan kafir ini yang dampaknya menjadi sangat has, karena orang 
kafir itu padanya tidak ada lagi kebaikan, tidak ada kehalalan, adanya semua 
munkar, semua keburukan, sama dengan binatang balikan darah dan hartanya 
pun halal diambil. 

Jadi walaupun beberapa guru LDII dalam kesempatan berdialog 
menyatakan kepada saya (penulis) bahwa Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati itu 
bukan pokok tetapi hanya sebagai pendukung, namun jelas sekali pernyataan- 
pernyataan tersebut di atas merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa 
dalil dasar dari pada berjama'ahyang kemudian membai'at amir (H. Nurhasan 
Ubaidah) untuk dita'ati, serta penilaian bahwa orang luarjama'ah itu kafir adalah 
u Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati }> dst (Hadits mauquf yang dha'if /lemah). 

Kesimpulannya, dalam hal yang berkaitan dengan berjama'ah, 
mengangkat amir, Bai'at dan ta'at serta pernyataan kafir (pengafiran), yang 
menjadi landas an pokoknya adalah Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati dst. 

Lagi pula istilah mendukung itu dalam Ilmu Hadits hanya ada terhadap 
hal yang senada/sejenis, sedangkan dalil-dalil lain yang sejenis dengan Laa 
Islaama Illaa BU jama' ati yang menyatakan tiada Islam kecuali dengan 
berjama'ah itu tidak ada. Sehingga oleh karena itu pernyataan bahwa Laa 
Islaama Illaa BU Jama 'ati itu hanya sebagai pendukung adalah tidak konsisten 
dan tidak konsekuen tetapi sekedar berdalih. 

Persoalannya bukanlah pokok atau pendukung, tetapi apapun 
kedudukannya, hadits dha'if (lemah) itu telah dipergunakan sebagai dalil untuk 
hal-hal yang menyangkut aqidah yang fundamental, sedangkan Nabi melarang 
meriwayatkan hadits-hadits dha'if (lemah). 

Dengan demikian yang dilakukan itu adalah bertentangan dengan yang 
dilakukan Nabi. Sehingga pernyataan bahwa Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati 
itu tidak bertentangan dengan <{ Maa anaa 'alaihi waashabiy, seperti tersebut 
pada no. 4 diatas adalah juga pernyataan yang tidak konsekuen dan sengaja atau 
tidak telah memutar balikkan fakta (tentang kebenaran). 

Bagaimana bisa menyatakan tidak bertentangan?. Laa Islaama Illaa BU 
Jama 'ati itu dha'if (lemah sekali), sedangkan dha'if (lemah) itu dilarang Nabi, 
Masa hal yang dilarang Nabi dinyatakan tidak bertentangan dengan yang 
dilakukan Nabi. Dimana logikanya? 



Akar Kesesalan LDii & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq 






BAGIAN KESATU: Kcstkhtn LP/ 1 Pjljm Memihimi Pjlil 

Anehnya lagi dia yang mendasarkan pada Hadits dha'if (lemah) Justru 
menyatakan kafir danmunkar kepada orang lain yang mendasarkan kepada Hadits 
shahih dan melarang j ama'ahnya berimam kepada orang di luar ja ma'ahnya 
(berbuat kekeliruan sendiri dituduhkan kepada orang lain). 

Sekalipun demikian praktek seperti itu nampaknya diyakini sebagai 
sesuatu yang benar dan diterima oleh jama' ah serta dilaksanakan dengan penuh 
kebanggaan, tanpa ragu, tanpa ada keinginan untuk meneliti, mengkaji, atau 
mengujinya (setidaknya sampai saat ini), sekalipun kenyataan banyak diantara 
jama' airnya itu yang tidak paham apakah dalil-dalil yang dipakai itu shahih atau 
tidak, boleh dipakai atau tidak. Mereka hanya berkeyakinan bahwa apa yang 
diajarkan oleh gurunya itu adalah benar dan wajib diikuti sesuai dengan ajaran 
manqul nya, sekalipun gurunya itu juga belum tentu benar. Sesuatu yang menurut 
hemat penulis dilihat dari segi aqidah adalah cukup berani dan mengerikan jika 
menggunakan Hadits dha'if (lemah sekali itu) disamping Hadits-hadits dha'if 
(lemah) lainnya dianggap tidak apa-apa (lihat hal. khusus i s/d x) 
(N. B. apa yang penulis kemukakan ini bukanlah karangan tetapi didasarkan 
pada tinjauan lapangan). 

Mereka nampaknya juga begitu yakin bahwa amirnya itu tidak mungkin 
salah, dan barang kali sudah merasa aman dengan berpegang pada hadits yang 
menyatakan bahwa: 

"Barang siapa beramal dalam jama 'ah karena Allah, jika benar maka 
A U ah menerima amalannya itu, dan jika keliru Allah mengampuni ". 

Padahal hadits ini juga dha'if karena perawinya Muhammad Holid bin 
Hanafi adalah dha V/(Ibnu Hajar Al Haitsami). Di samping itu jaminan hadits 
ini (sekiranya tidak dha'if (lemah) juga hanya akan berlaku jika b erj ama'ahnya 
itu benar sesuai dengan yang disabdakan atau dilakukan Nabi Muhammad saw. 

Dari anggota-anggota jama 'ah dimana penulis berhubungan atau yang 
menghubungi penulis, mereka mengemukakan bahwa banyak dalil-dalil tentang 
perintah Jama' ah maupun bai'at, oleh karena itu wajib mengamalkannya, dan 
jika tidak maka akan masuk neraka Itulah pemahaman mereka. Akan tetapi suatu 
hal yang nampaknya kurang diperhatikan adalah bagaimana berjamaa'ah. 
berbai'at dan beramir itu harus diamalkan menurut syaraV ketentuan Nabi. 
Padahal jama' ah yang dimaksud oleh Nabi itu adalah Jama 'atid- Muslimin 
(jama* ah seluruh Muslimin) yang merupakan kesatuan umat Islam dengan satu 



H MC. Shodiq, Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGAN KESA TU: Kesjkhjn LD/ 1 P$km Memihimi ' Pilil 

Imam bukan Jama'atun Minal Muslimin (Jama'ah dari sebagian Kaum 
Muslimin), yang masing-masing mempunyai imam/amir sendiri-sendiri 

Jadi kita perlu meneliti adakah saat ini jama'ah dengan Imamnya 
sebagaimana yang dimaksudkan Nabi dalam Hadits Bukhari-Muslim itu. Jika 
ada. kita wajib berjama'ah dan berbai'at, tetapi jika tidak ada bukan berarti 
kemudian melakukan berjama'ah menurut penafsirannya sendiri (menggunakan 
hadits dha'if (lemah) yang dilarang untuk dijadikan hujjah), karena pengamalan 
ibadah yang tidak sesuai dengan ketentuan Nabi itu adalah bid'ah yang berarti 
amalnya tertolak. 

Jika diamati lebih lanjut maka dapat dilihat dengan jelas bahwa dalam 
ajaran-ajaran itu dalil-dalil yang shahih telah bercampur dengan: 
Hadits dha'if (lemah) atau nash-nash yang tidak shahih, 
Dalil-dalil yang shahih tetapi ditafsirkan secara tidak benar sehingga tidak 
sesuai lagi dengan aslinya dan menjadi rusak. 

Dalil-dalil yang digunakan/ditempatkan secara salah, yaitu dalil-dalil yang 
bukan mestinya/haknya tetap dipergunakan tanpa memenuhi persyaratan 
untuk dapatnya dipergunakan hadits tersebut (memanipulasi dalil). 

Akibat dari hal-hal tersebut di atas. jika tidak benar-benar faham dan 
tidak bisa memilah-milah, orang dapat terkecoh dan menganggapnya semua 
adalah benar. Oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut: 

I. HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGAN PROSES 
PEMBENTUKAN JAMA'AH, PENGANGKATAN AMIR SERTA 
PEMBAP ATAN H. NURHASAN UBAIDAH 

Pada langkah awal H. Nurhasan Ubaidah membentuk jama'ah, yang 
membaf atnya menjadi amir. dan dengan bai'at itu jama'ah wajib ta'at kepadanya 
dengan mendasarkan dalil Laa Islaama Illaa BilJama 'ati dan dalil-dalil lainnya 
yang berdasarkan penafsirannya dianggap mendukung. 

Dengan penggunaan Hadits itu dan Hadits -hadits dlia'if (lemah) yang 
lain (lihat hal. 119-128) berarti H. Nurhasan Ubaidah telah membenarkan dan 
meyakini bahwa hadits dha'if (lemah) ataupun nash-nash yang tidak shahih dapat 
dijadikan sandaran ibadah apakah itu pokok atau pendukung. 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: KesjkklR LPU 2iIiB Memahami Paiil 

Dengan meyakini sesuatu yang dlia'if (lemah) itu adalah benar, dan harus 
diamalkan maka secara syar 'i aqidahnya menjadi menyimpang dan rusak. 

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa H. Nurhasan Ubaidah yang 
dikatakan mempunyai musnad-muttasil kepada Rasulullah dan mewajibkan 
umatnya manqul ke beliau adalah tidak benar. Jika benar beliau mempunyai 
musnad-muttasil ke Rasulullah, maka beliau tidak akan berani menggunakan 
dan mengaj arkan Hadits dlia'if (lemah) yang der aj at kedhaif airnya sama dengan 
hadis Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati, karena Rasul melarang dan mengutuk 
penggunaan Hadits dlia'if. Adalah suatu hal yang mustahil jika menyatakan 
manqul-musnad-muttasil padaNabi, tetapi melakukan hal-hal yang dilarang Nabi 
(Walaupun bisa saja beralasan sekalipun hadits itu dlia'if (lemah) tetapi banyak 
dalil-dalil lain yang memerintahkan untuk berjama'ah. Sebenarnya itu alasan 
yang tidak berdasar karena dalil-dalil lain itu tidak senada dengan yang dimaksud 
"Laa Islaama Illaa BiUama 'ati ". yang menafikan/meniadakan Islam jika tidak 
berjamaa'ah mengikuti ajaran H. Nurhasan Ubaidah. Tegasnya dalil-dalil lain 
tentang Jama'ah, Imamah danbai'at itu tidak seperti yang ditafsirkan H. Nurhasan 
Ubaidah tetapi seperti sabda Nabi yang diriwayatkan Khudzaifah Ibn Al-Yamani. 



II. PASCA PENGANGKATANNYA MENJADI AMIR. 

Setelah pengangkatan dirinya menjadi amir terlaksana kemudian H. 
Nurhasan Ubaidah melakukan kegiatan-kegiatan dan fatwa: 

1. Mengajarkan apa yang telah menjadi keyakinannya itu, sekalipun 
sumbernya dari Hadits dlia'if /lemah, yaitu wajib berjama'ah, beramir, 
Bai'at dan ta' at versi H. Nurhas an Ubaidah kepada masyarakat luas sampai 
orang percaya dan meyakini bahwa H. Nurhasan Ubaidah adalah amir 
yang sah dan benar, yang wajib diikuti. 

2. Mewajibkan pengikutnya belajar ilmu agama dengan cara manqul 
kepadanya dan mengharamkan belajar di luar jama'ah. 

3 . Menfatwakan dan mengaj arkan b aliwa yang disebut Islam itu hanya orang- 
orang yang sudah menjalankan syariat Islam dan menyempurnakan dengan 
berjama'ah, beramir dan berBai'at serta ta'at kepada amir (H. Nurhasan 
Ubaidah), sedangkan orang-orang yang di luar itu bukan Islam, alias 

I HMC, Shodiq« Akar Kesesalan LDi! & Penipuan Triliunan Rupiah 



' BAGIAN KESA TU: Kesjkhjn LP// Ojkm Mem^h^mi Pslii 

kafir, tidak boleh diikuti, tidak boleh makmum kepadanya, tidak boleh 
dido'akan, tidak boleh dishalati jenazahnya dan lain-lain, sekalipun itu 
orang tuanya /anaknya /suaminya /istrinya. 

Munculnya fatwa tersebut yakni seperti pada bagian I & II tidak lain 
karena bersumber dari Hadits dha'if (lemah) "Laalslaamalllaa BilJama 'ati >3 
yang seharusnya ditinggalkan, juga tidak ada dalil lain yang maknanya seperti 
itu. Akibat dari hal-hal tersebut (seperti pada bagian I & II) maka timbullah 
beberapa masalah berikut ini: 



A. Bagi H. Nurhasan Ubaidah Dan Para Pengajar/Guru-guru. 

1. Di samping telah menggunakan untuk dirinya sendiri ia juga telah 
meriwayatkan dan mengajarkan hadits dha'if/lemah kepada orang lain. 
Meriwayatkan hadits dha'if/lemah sedang ia tahu bahwa hadits itu dha'if 
(lemah) adalah pendusta (Hadits Tirmidzi). 

2. Mewajibkan mengikuti ajarannya dengan sistimmanqulnya, sedangkan yang 
diajarkan itu diantaranya adalah Hadits-hadits dha'if/lemah adalah berarti 
melestarikan kekeliruan dan kedustaan secara berkesinambungan dari generasi 
ke generasi selanjutnya. 

3 . Mencampur-adukkan yang palsu dengan yang shahih adalah merusak /fasik. 

4. Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang halal 

5. Mengajarkan/menyuruh orang lain untuk mengikuti ajarannya yang keliru 
mengakibatkan orang lain yang mengikuti ikut keliru pula adalah perbuatan 
dosa. 

6. Beribadah dengan hadits-hadits dha'if (lemah) yang dilarang, bukan saja 
ro'yu tetapi adalah bid'ah dan menentang Nabi. 

7. Mengkafirkan orang diluar jama'ahnya bisa beresiko berbalik jika yang 
dituduh kafir itu (menurut Allah) bukan kafir 

B. Bagi Orang-Orang Yang Mengikuti Ajarannya: 

1 . Mengikuti atau mengaji kepada orang yang aqidahnya menyimpang, maka 

Akar Kesesalan L D 1 1 & Penipuan Triliunan Rupiah. H MC. Shodiq g WMMM 



BAGIAN KESATU: Kesahan LPII Dlkm Memahami Dtiil 

aqidahnya ikut menyimpang, mengakibatkan ibadahnya yang didasarkan pada 
aqidah tersebut bisa tertolak, (wallaahu a'lam). Yang mengajarkan, yang 
menyuruh dan yang mengikuti sama-sama berdosa (Hadits Muslim) 
2 . Semakin banyak mengikuti pengajiannya/aj arannya yang keliru, maka akan 
semakin banyak pula menumpuk kekeliruan/dosanya (bukan pahala). 

C. Bagi Orang Lain Yang Tidak Mengikuti. 

Dengan adanya pernyataan-pernyataan/hujatan bahwa orang-orang di luar 
Jama'ah itu Kafir, musuh Allah, bermunkar, maka dapat menyulut konflik-konflik 
dalam masyarakat sehingga dapat merusak keharmonisan tatanan masyarakat, 
terutama dalam hal ibadah. 

Adanya fatwa-fatwa seperti itulah yang menimbulkan permasalahan- 
permasalahan. 

Jika ada keluhan seperti yang dikemukan Luddhy Cahyana dalam 
bukunya: "Islam Dib alih Pengadilan Media Masa " tentang apa yang ia namakan 
"memusuhi LDII" itu kiranya (jika ada) hal itu tidak lepas dari ulahnya sendiri 
atas pernyataan-pernyataan dan tuduhannya itu. 



PERLAKUAN HUKUM 

Dengan bercampurnya antara dalil-dalil yang tidak shahih dengan yang 
shahih tersebut, maka hukum yang berlaku adalah: 

1 . Yang dari aslinya dha'if (lemah), maka tetap tidak shahih, sekalipun ditutupi 

dengan dalil-dalil/perbuatan yang shahih. 

2. Dalil-dalil yang aslinya shahih, akan tetapi setelah ditafsirkan secara tidak 
benar maka hasil tafsirnya menjadi tidak shahih, dan dalil shahih yang 
digunakan secara salah/ditempatkan pada bukan tempatnya sehingga tidak 
sesuai dengan maksud aslinya. Maka kedudukan hukum yang ditempati dan 
akibat perbuatannya tetap tidak shahih, balikan perbuatannya itu adalah flisuq. 

3 . Dalil-dalil shahih yang penggunaannya hanya mengesahkan syari'at Sementara 
aqidahnya tetap menyimpang, maka pemakaian Hadits shahih tersebut tidak 
akan menghasilkan amal sholeh atas syari'at yang didasarkan pada aqidah 



H.M.C. Shodiq> Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU; Kes&fan LP! I Dikm Memzhimi Pifil 

yang keliru itu. 

Contoh kecil yang amal ibadahnya tidak diterima karena aqidahnya 
menyimpang adalah orang yang mendatangi dukun kemudian ia percaya pada 
dukun itu maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari (sekalipun secara syarikat 
sholatmyasah). HR. Muslim. 

MENGECOHKAN 

Sehubungan bercampurnya dalil yang shahih dengan yang tidak shahih 
dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah itu, maka bagi yang tidak paham atau 
memahami Islam secara terbatas (tidak memahami dalil-dalil), dapat saja menjadi 
terkecoh atau salah. 

Bisa saja saudara kita dari LDII memberikan kepada kita setumpuk dalil- 
dalil yang dipakai dasar ibadahnya yang dianggapnya benar. Tetapi tanpa 
mengurangi rasa hormatnya untukmenerima itu, kita juga perlu hati-dalil jangan 
sampai kita mengambil dalil yang salah, akibat telah bercampurnya dalil-dalil 
itu. karena jika dalil yang diambil salah atau penempatan dalil itu salah maka 
amal kitapun akan salah (ditolak). 

Contoh sederhana: Tentang dalil hukumnya mencari ilmu 
Hukum mencari ilmu dalam ajaran H. Nurhasan itu adalah wajib akan tetapi 
wajibnya itu secara manqul ke H. Nurhasan Ubaidah atau guru-guru yang 
ditunjuknya. Jika tidak demikian (belajar,/ mengaji ilmu agama diluar jama'ah) 
itu dilarang (haram), tidak sah. 

Dalil tersebut di atas sesungguhnya telah bercampur antara yang shahih 
dengan yang tidak shahih. Bagi yang tidak paham atau memahami Islam secara 
terbatas, bisa jadi menganggap seluruh rangkaian dalil diatas benar dan wajib 
diamalkan seluruhnya, jika tidak akan berdosa. Oleh karena itu ia tidak berani 
mengaji diluar j ama'ahnya, karena takut dosa tanpa menyadari bahwa keyakinan 
dan perbuatannya itu justru keliru dan aqidahnya menjadi menyimpang. Balikan 
seandainya dilarang mungkin akan menentang dengan menyatakan: 

"Mengaji Kok Dilarang" 

Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq ■ 



BAGIAN KESATU: Kesthhzn LP/I Pihm Memibtmi Pjli! 

Bukan kegiatan mengajinya itu yang dilarang, akan tetapi obyek yang 
dikaji itu. Mengaji dan mengamalkan serta melestarikan hadits-hadits dha'if 
(lemah) yang dilarang Nabi adalah sama dengan mengamalkan dan melestarikan 
kekeliruan. Semakin banyak mengamalkan akan berarti pula semakin banyak 
kekeliruannya (bukan pahala). 

Apakah mengulang-ulang/memperbanyak pengamalan hadits dha'if 
(lemah) dengan tingkatan dha'if (lemah) berat itu akan dianggap bukan 
kekeliruan, dan balikan dianggap mencari pahala? . Adalah suatu yang mengerikan 
jika mengamalkan hal-hal yang dilarang Nabi akan dianggap tidak bersalah 
balikan berpahala dengan alasan yang tidak benar. 

Akan lain halnya bagi yang memahami Islam secara lebih luas. Ia tidak 
sekedar hanya menerima dari guru. (guru juga bisa salah), maka ia juga akan 
meneliti atau mengkajinya dengan merujuk pada Qur'an dan Hadits shahih 
terutama jika dirasa ada kejanggalan. Dan jika tidak tahu maka akan mencari 
tahu kepada yang benar-benar tahu dan adil sehingga ia dapat mengetahui bahwa 
mencari ilmu itu memang wajib yang harus dilaksanakan, akan tetapi wajib 
manqul kepada H. Nurhasan Ubaidah itu (setelah diteliti) tidak ada dalilnya 
yang shahih, melain kail hanya rekaan, bid'ah sehingga harus ditinggalkan dan 
Bila dilakukan dan diyakini kebenarannya malahan akan berdosa. 

Di sinilah perbedaannya. Orang yang senatiasa mau meneliti dan mengkaji 
kemungkinan kekeliruannya lebih kecil dibanding yang sekedar menerima (taqlid 
buta sementara ia sendiri tidak memahami dalil-dalil), apalagi kalau taqlidnya 
itu sudah sampai sedemikian rupa tertanam dalam keyakinannya bahwa semua 
yang dari H. Nurhasan Ubaidah itu selalu dianggap benar, dan jika bukan dari 
beliau semua adalah salah, dan orang yang ingin meluruskan dianggap memusuhi. 
Maka kesalahan yang ada akan lestari (terus berlanjut) tanpa mampu 
mengkoreksi. 

Hal-hal tersebut diatas mendorong saya untuk menulis buku ini sebagai 
panggilan kewajiban yang harus dilakukan sekalipun dalam batas-batas 
kemampuan yang ada. 

Tulisan ini saya persembahkan khususnya kepada Saudara-saudara / 
Shahabat-shahabat dekat sebagai masukan dalam rangka saling berwasiat dalam 
kebenaran sesuai firman Allah dalam Surat Al 4 Ashr ayat 3 adalah menjadi 
harapan penulis dengan tulisan ini Saudara-saudaraku dapat terdorong dan tertarik 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesikfan LP/ 1 Pikm Memihimi Diiil 

untuk meneliti kembali, untuk mengetahui apakah tidak ada yang salah dalam 
ibadahnya selama ini bukan saja syari'atnya, tetapi lebih penting adalah 
aqidalinya, karena aqidah yang salah akan merusak amal. 

9 ^ Al pur'an berulang kali mengingatkan agar senantiasa berfikir: 
Oj^k J^il "Agar Mereka Berfikir" (lihat QS.7/176, QS.16/44 QS.59/21). 
Dalam arti senantiasa mengkaji dan meneliti ayat-ayat Allah baik yang ada dalam 
Al Qur'an maupun yang ada dalam alam semesta ini, termasuk meneliti dan 
mengevaluasi pada diri kita apakah ibadah kita ini sudah berada pada jalur yang 
benar, baik dari segi Al Qur* an maupun Hadits. 

Apakah kerja berat ibadah kita ini betul akan menyelamatkan kita bukan 
justru akan mencelakakan. Oleh karena itu pengkajian menjadi menjadi sangat 
penting. Jangan sampai mengikuti/mengerjakan sesuatu kekeliruan karena ketidak 
tahuannya. Dari segi Al Qur'an apakah tafsirmya sudah benar, Dari segi Hadits 
harus memahami Hadits itu dan kaidah-kaidahnya, sehingga kita tidak akan 
mengamalkan tafsir-tafsir Quranyang salah dan Hadits-hadits yang dha'if (lemah) 
karena hal itu akan mencelakakan. 

Jika tidak mampu sendiri bisa bertanya kepada orang yang alim (ahli) 
dan adil (tidak ada pamrih apapun selain ridho Allah). 

Jika setelah melakukan pengkajian kemudian didapati ada yang keliru, 
Insya Allah pintu taubat masih terbuka. Lain halnya jika sudah tahu bahwa dalil 
itu dha'if (lemah) tetapi dengan keberaniannya memang sengaja menggunakan/ 
mempertahankannya, maka perbuatan itu setidaknya sudah diperhitungkan 
dengan segala resikonya, dan syaran ataupun nasehat tak lagi ia perlukan. 

Jika kita merasa sudah benar kita dituntut untuk membuktikan bahwa 
itu benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih sesuai firman Allah: "Qul haatuu 
burhaanakum inkuntum shoodiqiin" (tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu 
memang benar, Al Baqarah 111). Tanpa bisa membuktikan bahwa itu benar 
maka siapapim tidak berhak menyatakan itu adalah benar. 

Selanjutnya kita memohon kepada Allah hidayah dan pertolongan, jangan 
sampai yang kita peroleh itu justru "Istidroj" yang tidak kita sadari, yaitu 
diperdayakan dan sengaja dibiarkan oleh Allah untuk terus leluasa berbuat 
kesalahan dengan merasa seolah-olah apa yang dilakukan itu benar dan mendapat 
pertolongan Allah. Padahal bukan pertolongan atau hidayah yang diperoleh, akan 
tetapi justru dijebloskan oleh Allah agar terjerumus lebih dalam (akibat 



Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq 



BACIAN KESATU: Kesikhm LP/i Pj/jm Memihimi Pjlil 

mempermainkan dalil-dalil dan ayat-ayat Allah) dan baru sadar serta menyesal 
di hari qiamat nanti (surat An Nisa ayat 115, Al Kahfi ayat 103-104) Lebih- 
lebih lagi jangan sampai Allah mengunci hati dan. pendengaran, dan menutup 
penglihatan kita (karena kita sendiri yang tidak mau menerima petunjuk dan 
kebenaran. (Surat Al Baqarah ayat 7) 

Tinj auan lebih rinci hal-hal yang disebutkan di atas akan diuraikan dalam 
BAB I s/d VI dengan mendasarkan pada dalil-dalil yang shahih, serta menghindari 
hal-hal yang bersifat karangan prasangka maupun fitnah sebagaimana yang sering 
dituduhkan orang. Jika ada ungkapan-ungkapan yang dirasa kurang tepat/kurang 
enak. atau kesalahan-kesalahan lainnya penulis memohon maaf, hal itu karena 
keterbatasan/kelemahan penulis atau karena ketetapan dalil harus dikatakan 

demikian. 

Tidak ada maksud-maksud lain selain hanya ingin menyampaikan 
keterangan-keterangan berdasarkan kaidah-kaidah yang shahih sebagai tuntutan 
kewajiban. Sebaliknya dengan tulisan ini pembaca dapat menggali dan mengkaji 
kembali kebenaran dalil-dalil tersebut untuk mengetahui bagaimana yang 
sebenarnya. Koreksi terhadap kesalahan dan kritik demi perbaikan serta 
penyempurnaan, kami harapkan dengan ucapan terima kasih. 

Semoga tulisan ini ada manfa'atnya dan Allah Yang Maha Mengetahui 
dan Maha Pengampun senatiasa memberi petunjuk dan ampunan. 

Jakarta, September 2003 

Penulis 

H. M. C. Sodiq 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU- Kesthfan LP/I Pikm Mcmihimi Pjlil 

LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA (LDII) DAN 
LEMBAGA/ JAMA' AH LAIN DI INDONESIA 

Di Indonesia padamasaini terdapat banyak Lembaga/Jama' ah/ Aliran 
Islam. Beberapa yang bisa disebutkan antara lain: 



No 


Nama Lembaga 


Imam/Pemimpin 


1 


Lemb aga D akwah Is fam 
Indonesia (LDII) 


H. Nurhasan Ubaidah 
Abd. Dhohir 


2 


Jama'ah Muslimin (Hizbullah) 


Wali Al-Fatah 


3 


Ahmadiyah 


Mirza Ghulam Ahmad 


4 


Syi'ah 


Dr. Jalaludin Rakhmat 


5 


Tarekat Naqsabandiyah 


Prof. DR. Kadirun Yahya 


6 


Jama'ah Salamullah 


LiaAminuddin 


7 


Pembaru Isa Bugis 


Isa. Bugis 


8 


Ma'had Al Zaitun 


H. A Karim/ Abu Toto (AS 
Panji Gumilang) 


9 


Darul Arqom 


Syeikh Suhaimi 


10 


Gerakan Lembaga Kerasulan 


Aceng Syaifuddin 



Prinsip Dasar Masing-masing Lembaga: 

1 . Masing-masing mempunyai pemimpin yang wajib dita'ati. Ada yang 
dengan sebutan Imam. Amir. balikan Nabi. 

2 . Masing-masing menganggap hanya j aina' ah dan amirnya yang benar dan 
sah, jama'ah lain dianggapnya firqoh. 

3 . Orang-orang yang tidak masuk dalam kelompoknya adalah sesat/kafir. 

4. Jama 'ahnya dilarang mengikuti kegiatan ibadah diluar jama'ahnya 

5 . Orang-orang yang keluar dari kelompoknya dinyatakan murtad. 

Karena satu sama lain diantara lembaga-lembaga tersebut menyatakan 
hanya jama' ah/kelompok dan amirnya saja yang sah, maka secara teori (analisis) 
antara mereka berpotensi untuk saling berlawanan. 

Dalil yang dipakai sebagai dasar untuk ibadah oleh masing-masing ada 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H MG Shodiq 






BAGIAN KESATU: Kesikfan LP// Pjljm Memjhjmi Pjlil 

yang sama ada yang berbeda. Yang hampir sama adalah LDII dengan Jama'ah 
Muslimin (Hizbullah) Wali Al Fatah. Baik LDII maupun Jama'ah Muslimin 
(Hizbullah) untuk hal-hal yang berkaitan dengan jama'ah-amir-Bai'at-ta'at, 
mereka menggunakan dalil-dalil yang sama. Mengapa bisa sama? Hal itu tidak 
dibahas pada kesempatan ini. 

Jika kita membaca buku berjudul 'Imam Jama'ah di dalam Agama 
Islam ■'■' yang disusun Drs. Nurhasim (orang LDII) dan "Khilafah 'AlaMinhajin 
Nubuwwah" terbitan Al Amanah (Jama'ah Muslimin Hizbullah) akan kita 
ketahui bahwa baik LDII maupun Jama'ah Muslimin (Hizbullah) menggunakan 
dasar dalil-dalil yang sama, antara lain: 
1 . Atsar, yang dikatakan sebagai ucapan Khalifah Umar bin Kliatab) 



, t' •«• - * + t»vst , sSt''*' • -* t»*-l r 



, f' ■*. _• .• • • vs 

y s / / / / / s y/ / y / / / 

"Tiadalah Islam kecuali dengan berjama 'ah, tiadalah berjam 'aah 
kecuali dengan beramir, tiadalah berami r kecuali dengan berbal 'at, 
tiadalah berBai 'at kecuali dengan ta 'at " 

Bedanya dalam versi Jama'ah Muslimin Hizbullah dalam hadits tersebut 
tidak ada lafadh "Bai 'at" (ini sesuai asli hadits Ad Darimi) 

2. Surat Ali Imron ayat 103: 



s s s y 



"Dan berpeganglah kamu sekalian pada tali (agama) Allah dengan 
berjama 'ah (tafsir menurut mereka) dan janganlah kamu sekalian 
berflrqoh. " 



/ 6 i . . . \y y S w t , . S \ V' y' \ y i i < \ \ \ '' "* < . » . \ -" A \ S 



3 . Surat An Nisa ayat 5 9 

1 y *" y y ' *' 

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atlah kamu kepada Allah, Rasul 
illll ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesihfon LOII Dtkm Memthjmi Dili! 

dan sekalian pemimpin-pemimpin kamu ... . " 

4. Hadits Nabi bahwa umat Nabi Muhamad S AW akan berfirqoh menj adi 
73, yang 72 masukneraka dan yang satu masuk surga, 

' s s * y y /f. y yy y 

3 y ^ y y } 3 5» • • * 

y y y y y y 

"Sesungguhnya ummatku ini (kata Rasulullah) akan berpecah belah 
menjadi 73. Yang 72 berada di Neraka dan yang satu di Surga ialah 
yangjama 'ah " (lafadh dari LDII). 

5. Nabi bersabda: 

S' S y i S * * * } S ' ' '' J i S 

^ y y^V" y y y -* y j y ** y 



"Dari Abu Said berkata, Nabi saw bersabda: Bila dilakukan 
pemberi *atan terhadap dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir 
dari keduanya. " Hadits Muslim 

6. Hadits Nabi tentang perintah lima perkara, yaitu berjama'ah, mendengar, 
ta'at, hijrah dan jihad (Riwayat Ahmad) 

7. Larangan keluar dari ta'at dan berpisah dari jama'ah. 

8. Dan lain-lainnya. 

Akan tetapi dari dalil -hal/sumber-sumber yang sama tersebut, ternyata 
dalam pelakaksanaan dan hasilnya berbeda, bahkan saling bertentangan. 

Menurut LDII yang dimaksud dan yang sah sebagai Al- Jama'ah dan amir 
pada no. 1 dan 3 tersebut diatas adalah jama'ah dan amir H. Nurhasan 






Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Keszkhm LP/I Pjkfv Memthtmi Pjlil 

Ubaidah, dan Bai'at serta ta'at itu adalah kepada H. Nurhasan Ubaidah. 
Sebaliknya menurut Jama'ah Muslimin Hizbullah, yang dimaksud j ama' ah 
dan amir itu adalah Jama'ah Muslimin Hizbullah dan amir itu adalah Wali Al 
Fatali, demikian pula Bai'at dan ta'at itu adalah kepada amir Wali Al Fatali. 
Bahkan Jama'ah Wali Al Fatah telah mendeklarasikan dirinya secara 
internasional sebagai satu-satunyanya jama'ah yang sah di dunia dalam rangka 
menuju khilaf ah yang sesungguhnya. 

• Oleh karena itu berdasarkan pernyataan-pernyataannya di atas, yang akan 
■ masuk surga itu menurut LDII adalah jama' ah H Nurhasan Ubaidah ( LDII ), 

sebaliknya menurut Jama'ah Muslimin Hizbullah, yang berhak masuk surga 
itu adalah Jama'ah Muslimin Hizbullah, Wali Al-Fatah. 

• Sehubungan dengan dalil ke 5 tersebut di atas, diantara H, Nurhasan dengan 
Wali Al Fatah maka yang dimaksud amir tandingan bagi H. Nurhasan Ubaidah 
adalah Wali Al Fatah. Sebalikya bagi Wali Al Fatah, yang merupakan amir 
tandingan adalah H. Nurhasan Ubaidah. Menurut hadits riwayat Muslim, amir 
tandingan itu harus dibunuh. 

• Demikian pula setiap Lafadjama'ah, amir, bai'at yang terdapat dalam Qur'an 
dan Hadits akan selalu diartikan sebagai terkait dengan j ama' airnya masing- 
masing. 

Jadi ironisnya sumber/dalil-dalilnya sama, tetapi setelah diamalkan, 
ternyata hasilnya berbeda mengapa sampai terjadi demikian?. Diantaranya adalah 
karena: 

1. Masing-masing menafsirkan dalil-dalil Al Qur'an dan Hadits itu menurut 
pendapatnya sendiri-sendiri, bukan menurut maksud sebenarnya dari dalil- 
dalil tersebut. 

2. Menempatkan/menggunakan dalil-dalil tersebut disesuaikan dengan 
kepentingan masing-masing. 

3 . Tidak memperhatikan Sabda Nabi saw. tentang apa yang dimaksud dengan 
jama'ah, dan bagaimana jikajama'ahitu tidak ada sebagaimana diriwayatkan 
Bukhori-Muslim. 

4. Berjalan sendiri-sendiri. 

Hal-hal tersebut di atas membuktikan, walaupun yang dipakai pedoman 

■ H.M.C. Shodiq> Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGAN KESA TU: Kesthfon LDII Dihm Memifami Djiil 

adalah dalil-dalil yang shahih, akan tetapi tidak berarti bahwa pengamalannya/ 
hasilnya akan pasti benar. Hal itu akan sangat tergantung bagaimana cara 
menafsirkan/ menggunakan dalil-dalil tersebut, benar sesuai dengan maksud dalil 
atau tidak. Oleh karena itu hal ini perlu dicermati. 

Dapat dibayangkan, bagaimana j adinya jika nantinya banyak bermunculan 
kelompok/lembaga/j ama'ah yang juga sama-sama menyandarkan pada dalil-dalil 
yang sama sebagaimana yang dipakai LDII dan Jama'ah Muslimin Hizbullah 
tersebut di atas, tetapi kemudian masing-masing menafsirkan menurut versinya 
sendiri-sendiri, sehingga masing-masing menyatakan hanya jama'ah dan amirnya 
yang sah, sedangkan yang lain tidak sah, sesat atau kafir. Amir kelompok lain 
dianggap tandingannya dan harus ditiadakan, setidaknya dimusuhi, dan masing- 
masing juga berpegang teguh pada pedoman/dalil-dalil yang dipakai, maka satu 
sama lain akan saling bermusuhan, sehingga hancurlah Islam karena adanya 
jama'ah-j ama'ah tersebut (hancur dari dalam), maka umat Islam akan menjadi 
bulan-bulanan umat lain. 

Suatu keadaan yang sangat menyedihkan. Hal ini jelas tidak kita inginkan 
dan balikan bertentangan dengan yang dimaksudkan oleh Surat Ali Imron 1 03 
itu sendiri. 

Jadi yang kata mereka, j ama J ah-j ama'ah itu dibentuk untuk memenuhi 
perintah Al Qur'an dalam surat Ali Imron ayat 103 dan dalil-dalil lainnya (Al 
Qur*an dan Hadits), agar berpegang teguh pada tali Allah dan jangan berpecah 
belah, kenyataanya mereka bahkan telah membentuk firgoh-firqoh yang justru 
dilarang. 

Dengan banyaknya jama'ah/Iembag a/kelompok-kelompok Islam yang 
masing-masing mengaku paling benar, paling sah dengan menunjukkan dalil- 
dalilnya itu maka banyak orang yang menj adi bingung mana yang benar, mana 
yang salah, apakah benar semua atau salah semua, balikan bisa menjadi korban. 
Kebanyakan orang, apalagi yang tidak paham, hanya bisa menilai dari kulitnya' 
atau lahiriahnya saja. Yang nampak dari luarnya bagus itulah yang dianggap 
benar. Yang nampak bershahabat, suasananya menyenangkan, ditambah slogan- 
slogan yang menjanjikan pasti masuk surga, dan lain-lain itulah yang akan menjadi 
pilihannya, tidak tahu bahwa aqidahnya ternyata menyimpang. Padahal 
Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa telah ada golongan (Khawarij) yang 
ibadah dlohirnya itu luar bisaa dibanding umat yang lainnya, akan tetapi mereka 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesj/jhjn LP/i Pjjjm Memjhzmi Pilii 

itu dikutuk Nabi sebagai yang telah menyimpang dari Islam karena aqidahnya 
yang rusak (Hadits Bukhari-Muslim dari Yusair). 
laf adz Hadits tentang Khawarij : 



/ * C i V ' ' ^. 

s ** y s * ' ' ' t 

s t * s i > > > ' ' * '*>>*■ 

s ^~~* ** s s s y/ y "y s s * ' 

} / / / s* } y} ' ^ } ■ t « 



4 />« . J 




*s y s 



6 i» vJ 1 (j* hM> 4jy fi**}\ j* c^n^y -u «? » o y > o**/; 

s s s s s s s y yy 

y y y *} y * a 4 ' ' ' ' n xv * 



^ pl ^s 51 i \jt#m ^ 4£& J& f &1 \r, & i a, ^ 



s / yy 



/s O' * • 

* - - -s ; 



"Dar/ H^a/r ibn 'Amr, dia berkata: Aku bertanya kepada Sahi ibn 
Hunaif: "Apakah kamu mendengar Nabi saw berkata sesuatu tentang 
Khawarij? " Sahal berkata: "Aku mendengar beliau bersabda, sedang beliau 
mengulurkan tangan beliau ke arah Irak. "Akan keluar dari sana suatii kaum 
yang membaca Al Qur'an dimana Al Qur % an itu tidak melampaui tulang 
lehernya. Mereka lepas dari Islam seperti lepasnya anak panah dari 
busurnya. '" 

Dalam hal ini Muslim meriwayatkan, "Bahwa mereka (Khawarij) 
membaca Al Qur 5 an. Bacaan kalian disbanding bacaan mereka bukan apa-apa, 
shalat kalian dibanding shalat mereka bukan apa-apa. Begitu pula puasa kalian 
dibanding puasa mereka bukan apa-apa. Mereka mengira bacaan Al Qur'an 
akan memberi pahala bagi mereka, padahal akan menambah siksa atas mereka. 
Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus binatang buruan. 

Mengapa sebetulnya, yang ibadahnya luar bisaa malah dikutuk Nabi?. 
Adalah karena mereka terlalu cepat mencap sesat/kafir terhadap orang lain 
khususnya terhadap shahabat Ali bin Abi Tholib. Tentunya kita tidak ingin 



H MC. Shodiq, Akar Kesesalan IDI I & Penipuan TriSiunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesjhfon LP! I Dikm Memihimi Pjlii 

termasuk dalam golongan Khawarij itu. 

Bagaimana menghadapi banyaknya firqoh-firqoh yang kenyataannya tidak 
sej alan dengan garis Nabi itu. (Khuzaifah bertanya kepada Nabi); 

y s s s *} s * * * * * ' ' m si? s } /s 









''Maka bagaimana jika kaum muslimin tidak memiliki jam a } ah dan 
imam (yang sesuai dengan ketentuan Nabi)?. Rasulullah menjawab: "Maka 
tinggalkan olehmu semua golongan yang ada, meskipun engkau terpaksa 
makan akar pohon, sehingga mati menjemput engkau, dan engkau tetap dalam 
keadaan seperti itu '"' (Bukhari dari Hudzaifah ibnu Al Yamani). 

Oleh karena itu j alan yang terbaik adalah kembali kepada dalil-dalil Al 
Quran dan Hadits shahih secara mumi. syari'at dan aqidalmya (jangan hanya 
mementingkan syariatnya, sementara aqidalinya keliru) dengan mengikuti apa 
yang menjadi pegangan/garis Nabi: 

Caranya adalah dengan meneliti kembali: 

1 . Apakah dalil-dalil yang dipakai ibadah selama ini benar-benar shahih? Atau 
adakah tercampur dengan yang tidak shahih atau dha'if/lemah? Jika ada agar 
ditinggalkan. 

2. Apakah dalil-dalil shahih yang dipakai itu ditafsirkan secara benar? Jika 
tidak agar ditinggalkan, dan kembali kepada yang benar. 

3. Apakah dalil-dalil itu penempatannya sudah benar? Jika tidak agar 
ditinggalkan dan diluruskan. 

Kita tidak boleh sekedar menerima/mengikuti tanpa mengetahui apakah 
yang diikuti itu benar atau salah (taqlid buta) sehingga belajar itu tidak sekedar 
taqlid, tetapi mengetahui kaidah- kaidah, sehingga dengan itu kita mampu menilai 
sesuatu dalil itu shahih atau tidak 



Akar Kesesalan LDI1 & Penipuan Triliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesah ha n LP/f Pjhro Memahami Dalil 

Untuk dapat terlaksananya semua hal tersebut diatas diperlukan ilmu 
dan kemauan untu^ mengkaji/meneliti. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam 
AlQur'an: 6j^^'r^l*5 Supaya kamu berpikir. 

Jika tidak tahu, maka tanyalah kepada orang alim dan adil dimana saja 
mereka berada. Jangan kepada orang-orang yang alim tetapi tidak adik lebih- 
lebih kepada orang yang tidak alim dan tidak adil, karena bisa menjerumuskan. 
Kebenaran itu tidak terletak pada siapa yang mengatakan, tetapi apa yang 
dikatakan. Sekalipun yang mengatakan itu adalah tokoh atau ulama besar, jika 
yang dikatakan atau yang diperbuat itu salah, maka tetap saja salah. Sebaliknya 
sekalipun yang mengatakan itu orang yang berada di luar kelompok, jika yang 
dikatakan atau yang diperbuat itu benar, maka tetap benarnya. Jadi tidak ada 
istilah "Pokoknya asal dari si A itu pasti benar, sebaliknya jika bukan dari Si A 
itu pasti salah". 



KEAMIRAN RNURHASAN UBAIDAH 
DITINJAU DARI DALIL-DALILYANGSHAHIH 

Dalam melakukan pembahasan Bab ini, hal yang perlu diperhatikan 
terlebih dulu adalah suatu kaidah, bahwa setiap mempelajari dan mengamalkan 
Hadits Nabi adalah wajib mengikuti manliaj/jalanpara Muhadditsin yang telah 
meneliti/ menetapkan kaidali -kaidah/ menyusun Hadits-hadits. Tegasnya adalah 
wajib mengikuti kaidah-kaidah Ilmu Hadits (Mushthalahul Hadits) 

Sebagaimana diketahui bahwa dari rangkaian keterangan keterangan/ 
pernyataan-pernyataan sebagaimana disebutkan dalam hal. yang lalu, semua itu 
merupakan fakta bahwa pembentukan j ama' ah, pembaratan H. Nurhasan 
Ubaidah menj adi amir adalah didasarkan pada Atsar yang dikatakan sebagai 
"ucapan Umar bin Khattab": 

"Sesungguhnya tiadalah Islam kecuali dengan berjama'ah, tiadalah 
berj ama' ah kecuali dengan beramir, tiadalah beramir kecuali dengan berbai'at, 



H.M.C. Shodiq< Akar Kesesatan LDIi & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Ke&kfah LP// Pikm Memihimi Pjlil 
tiadalah berBai'at kecuali dengan ta'at (lafadh LDII) 

Hadits ini dha'if (lemah) dengan tingkat dha'if yang sangat lemah sekali 
dan bukan bersumber dari Nabi (Hadits Mauquf). Oleh karena itu sesuai kaidah- 
kaidah ilmu hadits, tidak boleh dan tidak sah untuk dijadikan sandaran ibadah. 

Adapun bukti-bukti dha'ifhya (lemah) hadits tersebut adalah sebagaimana 
uraian di bawah. 

Terlebih dahulu kita bandingkan / perhatikan teks (mattan) hadits tersebut 
menurut Buku LDII yang disusun Drs. Nurhasim sebagaimana tersebut di atas 
dengan teks aslinya dari Sunan Ad Darimi. 

Adapun teks Hadits yang asli dari sumber Ad Darimi adalah sebagai 
berikut: 

^ ioL^ ^ f ^Ui n/ -ol ^Ji\ ^j^\ ^_^\ ^_ i ^ 

(7J>/ .y/rt/ penulis cantumkan fotocopy dari Hadits tersebut, sehingga 
m asih dalam benti ik aslinya) . 

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, diberitakan kepada 
kami oleh Baqiyah, disampaikan kepada kami oleh Sofvvan bin Rustum, dari 
Abdurrahman Maisaroh dari Tamim ad Dari, dia berkata: "Orang-orang di zaman 
Umar itu telah berlebih-lebihan pada bangunan-bangunan rumahnya" kemudian 
Umar berkata: "Wahai bangsa Arab, bumi-bumi (maksudnya sederhanakanlah 
hidup kalian). Bahwa sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan j ama' ah, 
dan tidak ada j ama 'ah kecuali dengan imaroh / kekuasaan, dan tidak ada 
kekuasaan kecuali dengan ta'at. 

(NB. Dalam Hadits ini tidak ada lafadh "Bai'at"). p*^ 

Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq ■ | 



BAGIAN KESATU: Kesikhjn LP/I Pzkm Memjhtmi Djlil 

Barang siapa diangkat oleh kaumnya menjadi pemimpin dalam keadaan 
faqih, maka ia akan menj adi sumber kehidupan bagi dirinya dan kaumnya, dan 
barang siapa diangkat kaumnya menjadi pemimpin tanpa ilmu, maka itu akan 
menjadi sebab kerusakan bagi dirinya.dan kaumnya 

ADA PERBEDAAN 

Memperhatikan kedua matan Hadits mauquf tersebut, ternyata terdapat 
perbedaan antara versi LDII dengan aslinya dari Sunan ad Darimi yaitu: 

1 , Dibandingkan dengan Sunan Ad Darimi. pada versi LDII terdapat tambahan 

lafad:^ ^ **Jl> % Dengan adanya tambahan tersebut, maka hadits versi 
LDII tersebut matannya telah berubah dan bertambah dari aslinya, ada Ulat 
yang menambah isi dan makna menyebabkan cacat pada matannya, dan 
matannya menj adi dha'if (lemah) 

2, Matannya tidak dicantumkan secara lengkap 

3, Tanpa sanad, padahal sanad adalah sangat penting untuk mengetahui 
perawinya, apakah semua perawinya shahih, dan sanadnya tidak terputus. 

• Inilah yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh Ibnu Mubarok, bahwa Isnad 
itu termasuk agama, jika tidak (perlu) isnad maka orang akan berkata dengan 
sekehendak hatinya. Jadi isnad itu berkaitan dengan Hadits. Bukan di luar 
Hadits, Sanad itu adalah jalan dimana di dalamnya terdapat perawi-perawi 
yang menghubungkan materi hadits dari sumber hadits sampai penulis Hadits 
(mis: Bukhari dll), sehingga setelah sampai pada penulis Hadits, maka sanad 
itu selesai/berhenti/tidak ada lagi, bukan sanad seperti yang dimkasud H. 
Nurhasan Ubaidah dalam Hadits Tirmidzi di Bab Asmaul Husna yang 
menyambungkan H. Nurhasan Ubaidah menjadi bagian sanad pada hadits 
itu. 

4, Penulisannya, (luinifnya) ada perbedaan. 

SYARAT-SYARAT HADITS SHAHIH 

Suatu Hadits untuk dapat dinilai shahih harus memenuhi syarat-syarat 

sebagai berikut: 

1. Sanadnya shahih. 

I ■ H.M.C. Shodiq« Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcsikhin LP/f Djkm Memifami Djiii 

a. Perawi-perawinyashahih, (adil dan dhabith/ sempurna ingatan) 

b. Sanadriya tidak terputus 

2. Tidak ada Ulat (suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai 
keshahihan Hadits) 

3. Tidak janggal (tidak berlawanan dengan Hadits lain yang rawinya lebih 
kuat atau dengan ayat-ayat Al Qur'an) 

4. Matannya tidak cacat. 

Tidak terpenuhi salah satu saja dari syarat-syarat tersebut di atas. maka 
Hadis dinyatakan dhaif (lemah), tidak boleh dijadikan sandaran ibadah, apalagi 
sandaran pokok. (Baca buku Mustholahl Hadis). 

SYARAT-SYARAT SHAHIHNYA PERAWI 

Perawi dinilai sah /shahih jika: 

1 . Adil. yaitu: 

a. Selalu memelihara perbuatan ta'at dan menjauhi munkar, 

b. Tidak berbohong atas Rasulullah. 

c. Tidak dituduh bohong secara umum 

d. Tidak dituduh fasiq atau bid'ah. 

e. Tidak mengikuti aqidah yang salah/menyimpang 

f. Tidak majhul (dikenal di kalangan ahli hadits). 

g. Dan lain-lain yang dapat disimpulkan bahwa akhlaknya baik 

2. Dhabith. yaitu: 

a. Tidak pelupa (ingatannya baik) 

b. Hafal apa yang diterima dan apa yang disampaikan 

c. Memahami maksud hadits. sehingga tidak berubah ketika 

menyampaikan. 

Perawi-perawi yang memenuhi syarat tersebut di atas disebut Tsiqoh. 
(Lihat Musthalahul Hadits) 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kcsjhhin LP/f Plhrr? Memihjmi Pj/jj 

TAKHRIJHADITS 

Untuk mengetahui Hadits mauquf yang dikatakan sebagai ucapan Umar 
itu shahih atau tidak, perlu diteliti sanadnya/perawi-perawinya shahih atau tidak. 
Jika shahih, selanjutnya perlu diteliti matannya shahih atau tidak. Akan tetapi 
jika pada s anadny a/perawinya saja sudah kedapatan tidak shahih, misalnya ada 
salah seorang perawinya (apalagi lebih) majhul, munkar, laa yahtaju bihi, cacat, 
(tidak tsiqoh) dan sebagainya sesuai kaidah-kaidah ilmu Hadits, maka Hadits 
yang dalam keadaan demikian itu sudah dinyatakan dha'if (lemah) dan gugur- 
tertolak, sehingga tidak boleh dijadikansandaran ibadah, apa lagi sandaran pokok. 

PERAWI-PERAWI HADITS 

Sebagaimana diketahui, setelah kehidupan Nabi banyak (puluhan ribu) 
beredar Hadits dha'if (lemah), palsu. Untiikmengliindari pemakaian hadits-hadits 
dha'if (lemah) tersebut, para Muhadditsin (para ahli dalam hal hadits-rijal/perawi- 
perawi, Ulat dan sebagainya) zaman itu, melakukan penelitian terhadap perawi- 
perawi Hadits mulai dari nama, nasab, guru-gurunya, murid-muridmiya, sifat- 
sifat biografi, tanggal kelahiran dan kematian dll terhadap perawi-perawi tersebut 
seliingga dapat diketahui tsiqoh atau tidaknya. Kemudian perawi-perawi tersebut 
dibukukan dalam Kitab-kitab Rijal disertai keterangan-keterangan tentang 
keadaan/sifat-sifat perawi-perawi tersebut untuk dij adikan pedoman para pemakai 
Hadits hingga sekarang. Dengan demikian jika ingin mengetahui keadaan/sifat- 
sifat para perawi suatu Hadits (tsiqoh atau tidaknya), tinggal melihat pada Kitab- 
kitab tentang Rijal, seperti Thobaqotul Huffad, Mizanul F tidak Lisanul Mizan 

dan kitab-kitab lainnya. 

Adapun riwayat perawi Hadits %t Laa Mama lila BilJama'ati ... "sebagai 

berikut: 



HMC. $hodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Trillunan Rupiah 



BAGIAN KESA TV: Kesikfan LD I! Dik m Memihjmi Djlil 






V^-vJ 



1 . Perawi Yazid bin Harun 

Imam Ahmad berkata: "Yazid seorang yang hafalannya bagus, menguasai, 
shahih haditsnya" (dinukil oleh Imam Sayuti dalam Kitab Thobaqotul Huffad) 

** *■ t' J v 



J^^u^i/^^^^ 






2. Perawi Baqiyah. 

Ibnu Mubarok mengatakan bahwa dia jujur, tetapi dia mencatat Hadits 
dari siapa saja yang datang dan pergi (sembarangan). Imam Abu Hatim berkata 
bahwa Baqiyah tidak bisa dijadikan hujjali. Abu Mashar berkata Hadits-hadits 
Baqiyah tidak bersih, maka hati-hatilah. Ibnu Huzaimah berkata, tidak 
menjadikan hujjah dengan Hadits-hadit Baqiyah. dan Ahmad Ibnu Hanbal 
berkata, saya mengira B a qiy ah meriwayatkan Hadits munkar dari orang-orang 
majhul. (Dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Kitab Mizanul I'tidaL Juz I 
hal. 331-332) 



u^j 






Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiahi H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesthfan LP/! PjkfV Memjhjmi Palil 

3. Perawi Sofwan bin Rustum. 

Disebutkan bahwa dia tidak dikenal keshahihannya. Bahkan Imam Azdi 
menyatakan:"Orang ini kalau membawakan Hadits selalu munkarul hadis, tercela 
(dinukil Imam Adz-Dzahabi dalam Kitab Mizanul F'tidal Juz II hal. 316). 

4.' Perawi Abdurralnnan Maisyaroh. 

Dikuatkan oleh ' Al-Ajali. Tetapi Imam Al Madini (guru Imam Bukliori) 
menyatakan bahwa dia orang yang tidak diketahuai keshahihannya. (dinukil oleh 
Imam Adz-Dzahabi dalam Kitab Mizanul F'tidal Juz II hal. 594). 

Dari data-data para perawi Hadits tersebut di atas terbukti bahwa: 

1 . Perawi Yazid bin H arun adalah b aik. 

2. Perawi Baqiyah tidak bisa dijadikan hujjah 

3 . Perawi Sofwan bin Rustum, ini fatal. Disamping tidak dikenal keshahihannya, 
balikan jika membawakan Hadits selalu munkar, (cacat berat) 

4. Abdurralnnan bin Maisaroh. keadaanya diperselisihkan, dan Imam Al Madini 
menyatakan majhul. 

Catatan: 

Dalam kaidah ilmu hadits, apaBila ada perawi yang derajatnya 
diperselisilikan antarabaik dengan tidak baik, maka ijma' memberlakukan hukum 
u Ajjarhu Muqoddamu 'Ala Ta 'di!. ", yang menilai tidak baik didahulukan dari 
pada yang menta'dil (menetap an baik) 

Dari keempat perawi tersebut di atas, ternyata tiga orang perawi secara 
beruntun tidak shahih diantaranya seorang bukan hanya majhul tetapi juga 
munkarul hadits. Dengan demikian cacad/dha'ifnya perawi Hadits tersebut 
sampai beruntun/ bertingkat-tingkat) 

Atas dasar hal ini berarti Rawi hadis; tersebut tidak shahih, sehingga sanadnya 
tidak shahih. 



HMC. Shodiq« Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TV: Ke&hhan LP// Pzhm Memih^mi PjiiJ 

KEDUDUKAN HADITS "LAA ISLAMA ILLA BIL JAMA' ATF\ . .. 

1 . Berdasarkan takhrij hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa sanad hadits 
tersebut tidak shahih sebab perawinya tidak shahih. Dengan demikian 
berdasarkan kaidah ilmu hadits, maka kedudukan hukum hadits tersebut di 
atas dari jalur sanadnya adalah dhaif (lemah) dengan derajat lemah yang 
paling lemah. 

2. Dari jalur matan, hadits versi H. Nurhasan itu ada illat yang menyebabkan 
matannya dha'if (lemah) akibat adanya tambahan lafadh"bai'af ' yang 
merub ah/menambah isi/makna dari aslinya. 

3. Dari jalur sumber Hadits, adalah bahwa Hadits tersebut tidak bersumber 
dari Nabi. tetapi dikatakan dari Umar bin Khatab. Maka kedudukan hadits 
tersebut adalah Hadis Maukuf, bukan Hadits Marfu\ 

Dengan demikian maka hukum dari Hadits Laa Islaama IUaa Bil Jama'ati 
.... tersebut adalah: "dhaif dengan derajat kedhaif anyang paling lemah". 

HADITS YANG DITOLAK: 

Berdasarkan kaidah-kaidah Ilmu Hadits, suatu Hadits ditolak (tidak boleh 
dipakai), gugur jika terdapat salah satu dari yang tersebut dibawah: 

A. Berdasarkan sanad: 

1 . Ada cacat pada rawinya, baik pada keadilannya ataupun hafalannya, majhul, 
munkar, laa yahtaju bihi, dan sebagainya (Rawinya tidak shahih). 

2. Sanadnya tidak bersambung karena ada seorang rawi atau lebih gugur atau 
tidak saling bertemu satu sama lainnya. 

B. Berdasarkan jurusan matan: 

1 . Hadits itu mauquf; 

2. Maqthu' 

C. Matannya cacat yang menyebabkan tidak shahih. 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kestkfan LP/I Pjkn? Memihimi Pilil 

D. Bertentangan dengan Hadits lain yang lebih shahih. 

Dengan melihat Takhrij dan kedudukan Hadits Laa Islaama Illaa Bil 
Jama'ati serta ketentuan-ketentuan suatu Hadits ditolak, dimana perawinya tidak 
shahjh,m atannya caca.% dan H adits itu m auqufm aka H adits <( Laa Islaama Illaa 
B f /Jama'ati " adalah tertolak dan gugur, tidak boleh dijadikan hujj ah. 

Dengan gugurnya/tertolaknya Hadits Laa Islaama "Illaa BilJama 'ati, 
maka semua yang disandarkan/didasarkan pada Hadits tersebut secara otomatis 
juga gugur/tertolak pula. 



AMIR/KHALIFAH ITU ADALAH DARI GOLONGAN QURAISY 

Selain kaidah-kaidah sebagaimana telah diuraikan diatas, terdapat pula 
sabda Nabi dari Anu: Bin Asli : 

y y y y 

f , < ' t 1* ' > ? * ' * " " ' 



Xy f. " '* y y' s ' 

y y 

yy y » y v 

s yy y 

"Sesungguhnya keamiran itu ada pada orang Ouraissy dimana seseorang 
tidak memusuhi mereka kecuali Allah akan menyingkirkannya pada wajahnya 
selama mereka masih menegakkan agama. " (Riwayat Bukhari - Muslim dari 

Al Min). 

Dalam hal ini Muslim menambahkan: 



IllUll ■ H.M.C. Shodiq< Akar Kesesatan IDI i & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU- Kesalafan LP/i Pjljm Memihzmi Pjlil 



> ' '. > > * ■ * '- 



x * 

x s 



) *»»'' I* Kfc" "* k *»X1<" |X> -*' 'l/ Au I/ t» #k\ } * X* i|,«XXXX ' iX * X 



x ^""* x ** x x x x x 

//■*s/}/s#/ t m x x x i x 

^^ ^\J5C ^ p J\3 isA^ 



XXX X XXX 



■<j*xxxx X 0>xxx X 



<* * x' *'xx 



"DariJctbirbin Samurah berkata; Aku mendengar Nabi saw bersabda: 
Sesungguhnya persoalan ini (amir) tidak akan selesai sebelum 12 orang amir/ 
khalifah menyelesaikan diantara mereka. Kedua belas orang itu berasal dari 
kaum Quraisy". Hadits ini dari Jabir bin Samuroh. 

Berdasarkan Hadits tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan amir/ 
khalifah menurut Nabi itu adalah berasal dari golongan Quraisy. Dan jika 
berpegang pada Hadits itu maka yang dimaksud dengan Bai' at dan ta' at itu juga 
kepada amir/khalifah sesuai Hadits tersebut sehingga berdasarkan Hadits tersebut 
itu pula H. Nurhas an Ub aidah tidak memenuhi s ar at untuk menj adi amir ataupun 
untuk dibai'at, begitu juga Wali Al Fatah Imam Jama'ah Muslimin (Hizbullah) 



STATUS HUKUM KEAMIRAN 
H. NURHS AN UB AIDAH TID AK SAH 

Di awal pembahasan Bab ini telah dikemukakan bahwa jika berbicara 

atau menggunakan Hadits maka kita harus mematuhi kaidah-kaidah tentang 

Hadits. 

Dimuka telah diketahui pula bahwa: 

1 . Hadits: "Laa Islamaa lila BU Jama 'ati " dan seterusnya adalah dha'if 
(lemah), tertolak, tidak sah untuk dijadikan sandaran ibadah. Dengan 
tertolaknya Hadits tersebut maka tertolak pula semua yang disandarkan 
pada hadits tersebut. 



Akar Kesesatan LDI! & Penipuan Trillunan Rupiah. HMC. Shodiq g 



BAGIAN KESATU: Kesjljhjn LP/I Pj/jm Memjfamj Pjlil 

2. Terdapat Ulat yang menyebabkan dha'if (lemah) pada matannya 

3. Kedudukan Hadits tersebut mauquf yang pada prinsipnya tidak boleh 
dijadikanhujjah. 

4. Jika merujuk Hadits Bukhori-Muslim ? H. Nurhasan Ubaidah juga tidak 
memenuhi syarat untuk menjadi amir. 

Denganmendasarkan pada kaidah-kaidah sebagimana tersebut di atas, 
maka ditinjau dari segi kaidah/hukum/menurut bahasa hukum, Keamiran H. 
Nurhasan Ubaidah adalah tidak sah, demikian pula dengan bai'at dan keta'atan 
kepadanya 

Khusus mengenai tidak sahnya Bai'at, bukan hanya karena keamiran H. 
Nurhasan Ubaidah didasarkan pada hadits dha'if (lemah), tetapi, disamping itu 
juga karena tidak terpenuhinya syarat-syarat untuk dibai'at Imam/Amir yang 
dibai'at itu adalah imam/amir yang dalam kedudukannya sebagai Khalifah 
(pemimpin/penguasa tertinggi umat Islam dalam segala urusan baik agama 
maupun pemerintahan) yang memiliki syarat-syarat atau kriteria-kriteria antara 
lain sebagai berikut: 

Sebagai penguasa tertinggi dalam segala urusan 
Mempunyai wilayah yang riel 
Mampu memimpin seluruh penduduk di wilayah itu 
Dalam wilayah itu ditegakkan hukum Islam sepenuhnya 
Memimpin perang secara pisik dan lain-lain layaknya penguasa negara. 
- Dll 

Jika kita meneliti kembali sejarah Islam khususnya para shohabat, mereka 
yang dibai'at itu adalah mereka yang dalam kedudukannya sebagai Khalifah 
(penguasa pemerintahan/negara). Sebagaimana diketahui bahwa pemerintahan 
Abu Bakar itu sangat terkenal dengan sebutan 'Pemerintahan Syuro". 

Jadi tidak ada bai'at kepada Imam yang bukan dalam posisinya sebagai 
penguasa negara/pemerintahan. Tegasnya tidak ada bai'at kepada imam/amir 
yang dalam kapasitas sebagai pemimpin dari Jama'atum Minal Muslimin 
(Jama'ah dari sebagian kaum muslimin). 

Jadi pembai'atan kepada H. Nurhasan Ubaidah itu disamping tidak sah 
karena menggunakan hadits dha'if (lemah) dan tidak memenuhi syarat-syarat 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



SS&v&K* 



BAGIAN KESA TU: Kesjhfm LPII Pikm Memthimi Palil 

juga menggunakan Hadits shahih tentang bai'at tetapi digunakan secara salah 
(salah tempat). 

Suatu hal yang juga perlu dipertanyakan adalah, dalil shahih yang dipakai 
dasar dalam proses pembai'atan H. Nurhasan Ubaidah yang menurut Drs. 
Nurhasim dilakukan dengan cara mengaji Al Qur * an dan Hadits yang dilakukan 
oleh tiga orang, setelah sampai pada ayat-ayat Al Qur'an dan Hadis-hadis 
mengenai Jama'ah, Imaroh, bai'at dan ta'at serta faham akan artinya, lalu 
berdasarkan kefahamannya itu kemudian membai'at (H. Nurhasan Ubaidah) 
menjadi Amir (Drs Nurhasim hal. 34). Bandingkan dengan proses pembai'atan 
Khalifah Abu bakar, Umar dan yang lainnya. 

REAKSI DAN PROTES 

Dapat dipahami adanya keterangan bahwa tidak sah itu akan dapat 
menimbulkan reaksi. 

Waktu penulis mengangkat tulisan ini kedalam konsep, seorang teman 
berkomentar kepada penulis "Apakah keterangan itu tidak akan mengundang 
reaksi dan protes?" 

Dalam hal ini penulis menjawab: "Apa yang saya kemukakan itu bukan 
pendapat saya, tetapi kaidah-kaidah ilmu hadits, sedang saya hanya 
mengungkapkan". Penulis justru berpendapat bahwa ini memang perlu 
disampaikan terutama kepada saudara - saudara yang belum memahami, sehingga 
bisa diamBil sebagai pertimbangan bagaimana yang sebaiknya menurut mereka 
setelah mengetahui kedudukan hukumnya yang sebenarnya. Janganlah sampai 
orang berbuat salah karena ketidak tahuannya. Jika menurut mereka keterangan 
ini dianggap tidak benar sehingga agar diabaikan saja, hal itu adalah sepenuhnya 
hak mereka Yang jelas ini masalah hukum. Jadi mau dipatuhi atau tidak, 
hukumnya tetap begitu. Sama halnya hukum-hukum yang lain. Jika mau 
mematuhi, hal itu memang sudah seharusnya. Jika tidak, karena berani 
menghadapi resikonya, atau alasan-alasan lain adalah juga haknya. 

Hanya saja janganlah hukum yang sudah demikian ketentuannya, 
dinafikan/ditiadakan berdasarkan alasan-alasan yang bukan berdasarkan kaidah/ 
hukum. Disamping itu apa yang saya tulis hanyalah sekedar menanggapi apa 
yang sudah ada atau yang mereka nyatakan dalam ajaran-ajaran/buku-bukunya. 

Akar Kesesalan LDII & Penipuan Tiiliunan Rupiah. H.M.C. Shodiq ■ | 






BAGIAN KESATU: Kesikhtn LP/I Pjkm Mcmihimi Pjlil 

Jadi bukan mengada-ada. Untuk perbandingan bagaimana ajaran dan 
pernyataan yang ia/mereka sampaikan terhadap orang di luar jama'ahnya, 
silahkan periksa dan renungkan sebagian kecil yang penulis kutip dalam hal. 
50 sub 1.2 dan hal. 78 sub a s/d e. 

Jadi kalau tidak setuju adalah sangat waj ar, seperti tidak setujunya penulis 
dengan pernyataan itu. Hanya saja ketidak setujuannya itu harus didasari dan 
disertai kaidah-kaidah, bukan asal tidak setuju. 

Mengapa hadits dha'if (lemah) dipakai pedoman ibadah? 

Jawabannya yangpasti, beradapada H. NurhasanUbaidah, wallahu a'lam. 
Tetapi ada beberapa kemungkinan: 

1. Mungkinkah tidak tahu bahwa itu dha'if (lemah)? 

Kemungkinan ini disangsikan, karena ini akan bertentangan dengan 
pernyataan-pernyataan muridnya bahwa H. Nurhasan Ubaidah adalah ahli hadits 
dan paling benar yang tak mungkin- salah, sehingga mestinya tidak mungkin 
tidak tahu. Orang yang ahli hadits tentunya tahu kaidah-kaidah dalam ilmu hadits. 

2. Mengetahui bahwa hadits tersebut adalah dha'if (lemah), tetapi sengaja 
menggunakannya. 

Jika benar apa yang dikatakan Saudara kita (guru LDII) bahwa Hadits 
ini memang dha'if (lemah), tetapi tetap dipakai karena alasan-alasan tertentu, 
maka berarti bahwa hadits dha'if (lemah) ini (juga yang lainnya) adalah memang 
sengaja digunakan. Hanya saja kesengajaan untuk mempergunakan tersebuttidak 
akan mengubah hadits dha'if (lemah) itu menj adi dalil yang shahih yang boleh 
dijadikan hujjah. Sedangkan alasan boleh dijadikannya hadits ini sebagai huij ah 
karena ada dalil-dalil lain yang memerintahkan untuk berjama'ah beramir, 
berbai'at dan ta'at, juga tidak benar karena dalil-dalil lain itu tidak sama/senada/ 
sej enis dengan "Laa Islaama lila BU Jama 'ati " tetapi perintah-perintah yang 
pelaksanaannya juga harus didasarkan kepada petunjuk Nabi. 

Jika kemungkinan ini yang dipakai, maka berarti telah membolehkan 
Hadits dha'if (lemah) yang dilarang untuk dijadikan pedoman ibadah. Hal ini 
berarti bukan lagi sekedar mengada-ada akan tetapi merupakan pengingkaran 
terhadap sabda Nabi yang melarang; penggunaan Hadits -hadits dha'if (lemah) 

I ■ H MC. Shodiq. Akar Kesesalan LDIi & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Ke&kfan LPU P^km Memahami Pjli[ 

sehingga merupakan penyimpangan aqidah yang lebih jauh. Disamping itu hal 
ini juga akan memperkuat alasan bahwa tidak benar H. NurhasanUbaidahitu 
Manqul-Musnad-Muttasil ke Rasulullah saw, karena jika benar, maka beliau 
tidak akan mungkin berani mengamalkan Hadits-hadits dha'if (lemah) (yang 
bukan hanya satu jumlahnya). 

3. Mungkin juga akan menyatakan bahwa Hadits tersebut shahih. 
sekalipun sudah tebukti bahwa hadits itu dha'if (lemah) 

Jika demikian maka harus bisa membuktikan kaidah mana yang 
menyatakan bahwa Hadits itu shahih, sesuai firman Allah "Tunjukkan bukti 
kebenaranmujika kamu orang yang benar" (Al Baqarah ayat 111) 

4. Kemungkinan yang lain adalah menganggap bahwa Al Muhadditsin 
yang menerangkan derajat para perawi itu "mengarang" 

Suatu ungkapan yang sering dimunculkan orang bila membela diri. 
Sehingga penilaian derajat para rawi oleh Al Muhadditsin itu akan dianggap 
tidak sah. Jika demikian halnya, maka harus bisa membuktikan bahwa itu tidak 
sah. Disamping itu dari mana lagi ia akanmengamBil sumber Hadits jika tidak 
dari Al Muhadditsin, karena keterangan-keterangan tentang rij al / perawi hadits 
itu bersumber dari atau ada pada Al-Muhadditsin. Menolak atau tidak mengakui 
Al Muhadditsin akan berarti menolak seluruh riwayat hadits. Hal ini jelas tidak 
mungkin jika bukan karena sengaj a mengingkari. Sebagai catatan, setiap ahli 
hadits, akan selalu mengikuti manhaj Muhadditsin, baik mengenai kaidahmaupun 
penggunaannya, sehingga tidak akan mengatakan Al Muhadditsin itu mengarang. 

Kemungkinan mana saja dari keempat tersebut di atas yang dijadikan 
alasan akan tetap saja pada posisi yang tidak benar dan bahwa penggunaan 
hadits "Laa Islama Illaa Bilj ama'ati" dst. . . sebagai pedoman ibadah tetap tidak 
sah. 

Pendapat Drs. Nurhasim: 

Ucapan Umar tentang "LAA ISLAMA ILLAA BILJAMA'ATL.. " bisa 

dijadikanhujjah dan tidak bertentangan dengan "MaaAnaa ( Alaihiwa 

AshhabV\ 



Akar Kesesatan LD! I & Penipuan Triltunan Rupiah. HMC. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesjhhjn LP! I Ojljm Mcm^himi Pjlil 

Drs. H. Nurhasim dalam bukunya hal. 19 berpendapat bahwa "Laa 
Islam a Illaa Biljam a 'ati " walaupun hanya ucapan Umar (bukan dari Nabi) dapat 
dijadikanhujjah dan wajib diikuti dengan alasanbahwa telah mendapat jaminan 
dari Rasulullah, dengan sabdanya: 

a. Tetapilah sunnahku dan sunnah para Kholif ah yang diberi petunjuk dan pintar- 
pintar, (dan Umar termasuk salah seorang khalifah itu) 

b. Ikutilah 2 orang sepeninggalku nanti, ialah Abu Bakar dan Umar 

c. Para shahabatku adalah laksana bintang-bintang, dengan shahab atku yang 
manapun kamu mencontoh kamu memperoleh petunjuk, 

d. Allah telah meletakan haq (kebenaran) itu pada lisan Umar 

Pendapat Drs. Nurhasim tersebut di atas dapat ditanggapi sebagai beriku: 

a. Telah dibuktikan di muka bahwa hadis "Laa Islama" yang disebut-sebut sebagai 

ucapan Umar (Hadits mauquf) itu adalah Hadits dha'if (lemah), dengan deraj at 
dha'if (lemah) derajat yang paling lemah, maka tertolak dan gugur. Dengan 
gugurnya hadits tersebut maka Hadits "Laa Islaama Illaa Bil Jama'ati" itu 
secara syara' tidak bisa dikatakan sebagai ucapan Umar. Mengi'tiqodkan itu 
adalah ucapan Umar, berarti telah berbuat bohong atas nama Umar. Jika ini 
dinisbatkan ke Nabi maka berbuat bohong atas nama Nabi adalah dosa 
besar. Disamping itu menyatakan Hadits Ucapan Umar yang berarti Mauquf 
itu boleh dij adikan hujj ah sudah menyalahi kaidah Ilmu Hadits, karena Hadits 
Mauquf itu hanya bisa dijadikan I' tibar, tidak boleh dij adikan sandaran ibadah. 
Demikian halnya Hadits dha'if (lemah). 

b. Mengikuti/keta' atan itu hanya dalam ma'ruf . Mengikuti itu adalah terhadap 
apa yang diucapkan ataupun yang dilakukan. Hadits ini dha'if (lemah). 
Pengertiannya bahwa hadits itu tidak ada kepastian bahwa itu adalah ucapan 
Umar. Karena secara kaidah, Umar tidak mengatakan yang demikian, jadi 
bagaimana itu akan dikatakan mengikuti ucapan Umar? 

c. Hadits tentang para shahabat adalah laksana bintang-bintang, ini adalah Dhaif 

(lemah), jadi tidak bisa dijadikan alasan (lihat hal. 105) 

d. Mengenai ucapan Umar itu dijamin benar dalam mengartikan suatu Hadits 
perlu diperhatikan dalam kontek apa Hadits itu disabdakan (sebab 
disabdakannyahadits) sehingga diketahui kandungan isinya. Sebagai contoh, 

| ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TV: Kesihfan LP// Dikm Memihimi Dalil 

jika ada orang mengatakan bahwa Si A itu hebat, ahli dan dijamin benar 
maka jika ucapan itu disampaikan saat membangun rumah, maka yang 
dimaksud pasti benar itu adalah dalam hal membangun rumah, tetapi belum 
tentu demikian dalam hal berdagang. Demikian pula dalam hal yang disebut 
sebagai ucapan Umar ini Insya Allah Khalifah Umar jika berkata akan benar. 
Akan tetapi Umar itu bukan Nabi, jadi sejalan dengan dalil "tidak ada yang 
ma'sum selain Nabi", kiranya dapat memberi pemahaman kepada kita, bahwa 
bisa saja tanpa sengaja Umar berkata salah ( tidak selamanya pasti betul). 
Sebagai contoh: 

1 . Ketika tersiar berita bahwa Nabi wafat, maka Umar berdiri dan dengan 
suara lantang membantah berita itu samBil berkata, "Nabi tidak 
meninggal" dan terus mengancam kepada orang-orang yang mengatakan 
bahwa Rasulullah telah wafat. Baru setelah Khalifah Abu Bakar 
membacakan Surat Ali Imron Ayat 144 : "Bahwa Muhammad hanyalah 
seorang Rasul sebelumnya pun telah berlalu Rasul-Rasul Apakah 
Bila ia mati atau terbunuh kamu akan berbalikke belakang (murtad)?. 
Barang siapa berbalik ke belakang sama sekali tak akan merugikan 
Allah, tetapi Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang 
bersyukur ". Maka seketika itu Umar terjatuh, dan berkata :"Kamu benar 
Abu B akar, seolah-olah aku tidak pernah memb aca Ayat itu, Rasululullah 
memang telah wafat. (Abu Bakar Sidiq: Haikal) 

2. Dalam kesempatan lain perihal mahar, Umar berkata "Jangan memberi 
mahar banyak-banyak". Atas perkataan Umar tersebut seorang wanita 
mengingatkan akan kata-katanya tersebut. Kemudian Umar segera 
mengatakan : "Kami telah salah". 

3. Dll 

Yang pasti apa yang disebut sebagai ucapan Umar u Laa Mama Illaa 
BU Jama 'ati itu adalah dha'if (lemah)/tertolak/gugur, sehingga secara kaidah 
tidak bisa dikatakan sebagai ucapan Umar, dan tidak bisa dij adikan hujj ah. 






Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan RupiahwHMC. Shodiq 






BAGIAN KESATU: Kesikhtn LP/I Pjljm Memjhjmi Pjlil 

RINGKASAN URAIAN: 



a. Pengertian dan kedudukan Hadits Dha 5 if (lemah) : 

Hadits dha'if (lemah) b anyak macamnya, tetapi pada intinya adalah Hadits 
yang kehilangan (tidak dipenuhinya) salah satu syarat atau lebih dari syarat- 
syarat sahnya Hadits Shahih atau Hasan. Sedang mengenai kedudukan hukum 
Hadits dha'if (lemah) adalah: gugur, tertolak, dilarang untuk meriwayatkan, 
dilarang untuk menetapkan hukum, kecuali hanya untuk memberi sugesti 
amalan utama. 

b. "Laa Mama Illaa BU Jama 'ati " disamping Hadits Mauquf dia juga 

Hadits Dha'if (lemah), karena sanadnya tidak shahih, oleh sebab perawi- 
perawi nya tidak shahih. Matannya pun tidak shahih, oleh karena itu tidak 
boleh dijadikan sandaran (hujjah) beribadah. Demikian pula hal-hal yang 
disandarkan pada hadits ini menj adi gugur dan tertolak. . 

c. Oleh karena pengangkatan amir H. Nurhasan Ubaidah disandarkan pada 
Hadits Mauquf dan dha'if (lemah) yang tidak boleh dij adikan sandaran, dan 
lagi berdasarakan Hadits Bukhori dan Muslim sebagaimana telah disebutkan 
diatas H. Nurhasan tidak memenuhi syarat untuk menjadi amir, ditambah 
lagi tidak memiliki syarat-syarat untuk dibai'at, maka bai' at dan keamiran 
H. Nrhasan Ubaidah secara syara' tidah sah. 

d. D engan tidak s ahny a keamiran H . Nurhasan Ub aidah tersebut maka: Aj aran- 
ajaran dan fatwanya tidak sah 

Tidak boleh diikuti 

Mengi'tiqodkan bahwa ajaran itu benar adalah 

penyimpangan aqidah. 

Sebagai ibarat, seorang pemimpin yang diangkat dengan undang-undang 
yang tidak sah, maka tidak sah kedudukannya sebagai pemimpin Jika 
kedudukannya sebagai pemimpin tidak sah, maka semua peraturan yang 
dikeluarkannya tidak sah, dan tidak boleh diikuti. 



Illllll ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



•.•.v.-.y.v.v.v.v 



BACIANKESA TU: Kesakfan LP/ 1 Pzkm Memihimi Pjlil 

SANKSI-SANKSI MENGAMALKAN AJARAN-AJARAN YANG 
DIDASARKAN PADA HADITS-HADITS DHA'IF (LEMAH)/DUSTA/ 
PALSU. 

Mengamalkan ajaran-ajaran agama yang didasarkan pada Hadits-hadits 
dha'if (lemah)/dusta/palsu, setidak-tidaknya akan terkena sanksi-sanksi: 

A. Meriwayatkan hadits sedang ia tahu bahwa hadits itu dusta/ dha'if (lemah), 
maka ia adalah salah seorang pendusta (Tirmidzi) 



y /s- s S s S s 



■'.r' 
/S 



Catatan: 

Meriwayatkan hadits (dengan mengatakan itu dari) Nabi padahal ia tahu 

bahwa itu hadits bukan dariku adalah pendusta, apa lagi kalau itu dari 

shohabat. 

B. Kecelakaan besar bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak 
berdosa (Al Jatsiyah, 7) 

(v :V\L\)^\d'jA% 



4 S 4 'S 



C, Jangan mendahului ketetapan Allah dan Rasul (tidak boleh membuat 
ketetapan hukum sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul, misalnya 
dengan membuat aturan sendiri dengan hadits-hadits tidak sahih lihat Al 
Hujaratayatl) 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Tritiunan Rupiah , H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU: Kesahhm LP/f Pzhn? Mcmihimi Pjfil 



i m t'* / > ' 



i }'* * '} ' '* i 



' y *■-> x yy y X " S / 

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat 
Allah(AlQalam8) 



' > > ' 



(A^l^j&l^Ste 



D. Yang mengamalkan dan yang mengikuti keburukan/ perbuatan dosa adalah 
sama-sama berdosa. (Muslim). 



/ / 



t } e y } s * f s # s * 



s s yy yy 



y y y y y y * y 

-0 y y > 

° 'b 4 l * \ * * *°' 



E. Dansiapayang mengajakpadakesesatan ? makabaginyamenanggung dosa 
seperti dosanya orang-orang yang mengikuti ajakannya itu tanpa tanpa 
dikurangi sedikitpun dari dosa mereka. (Muslim) 

l*^ y» {jk i *4 '6- fii- r'»» # & tf^ i v* '& 

' yy yy ** • y' y y y y y j> ' 



mil 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Kesah hin LP// Pihm Memthtmi /V// 
AJARAN MANQUL H. NURHASAN UBAIDAH 
A. Pokok-Pokok Ajaran Manqul H Nurhasan Ubaidah 

Pengertian: 

Manqul menurut H. Nurhasan Ubaidah adalah proses pemindahan ilmu 
dari guru ke murid. Ilmu itu harus musnad (mempunyai sandaran) yang disebut 
sanad, dan sanad itu harus muttasil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Sehingga 
Manqul-Musnad Muttasil ( disingkat M.M.M. ) diartikan: belajar/mengaji Al 
Qur'an dan Hadits dari guru, dan gurunya bersambung terus sampai ke 
Rasulullah. 

Akan tetapi dalam praktek wajib manqul itu adalah ke H. Nurhasan- 
Ubaidah. Jika tidak ke H. Nurhasan, namanya bukan manqul, maka ilmunya 
tidak sah, ibadahnya ditolak, dan masuk neraka. Alasannya, karena hanya dia 
yang mempunyai MMM ke Rasulullah (Subhanallah, Yang Maha Suci dari segala 
kelemahan) 

Dinyatakan bahwa H. Nurhasan Ubaidah telah memperoleh musnad- 
muttasil,yangmemanqulkanAl-Qur'an-Hadits dari guru-gurunya yakni: Syeikh 
Umar Hamdan, Syeikh Muhammad Siroj, Abu Samah, Sayid Alwi, Sayid Amin. 
(Menjaga Kemurnian Qur'an Hadits Jama'ah hal 9) 

Tidak tanggung-tanggung Ia pun telah menempatkan diri sebagai isnad 
Sunan Tirmidzi dengan menambahkan sanad dari yang asli yang sebetulnya hanya 
sampai dengan Ibrahim bin Ya'cub ia tambahi dengan beberapa rawi lagi 
sehingga sampai ke H. Nurhasan Ubaidahikut menjadi rangkaian sanad dari 
Hadits tentang Asmaul Husna Hal ini tercantum secara jelas dalam Kitctbush 
Sholahhal. 124-125 yang diterbitkan LDII. Di bagian lain H. Nurhasan Ubaidah 
oleh j ama' ahnya dinyatakan satu-satunya Ahli Qur 'an dan hadis di Indonesia 
yang tidak ada yang dapat menandinginya. 

Bahkan berani "ketok gulu" (potong lehernya) kalau ada yang bisa 
mengalahkan, (luar bisaa, sayangnya tantangan itu hanya kepada kiai-kiai kelas 
kampung) Namun yang jelas itu menggambarkan kesombongan imam yang 
dijadikan panutan. Adakah ajaran Nabi yang demikian yang menjadi sumber 
manqul? 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Trfliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 



BAGIAN KESATU; Kesihhan LP/f Pj/jfv Memihtmi Pjlil 

YANG MENJADI DASAR KEMANQULAN H NURHASAN UB AIDAH 
(POLNYA ILMU MANQUL): 



Beberapa dalil yang dijadikan dasar pendapatnya itu di antaranya: 
1 . Firman Allah dalam Surah Al-Isro' ayat 3 6 



"Dan janganlah mengatakan/mengerjakan apa-apa yang tidak ada ilmu 
(IlmuManqul). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua 
' itu akan ditanya /diurus oleh Allah ". 

2. Hadits Abu Daud 

v /**",', K *,***'» i '*/ • ' - * ' 

/■ / / S S S S 

"Barang siapa yang mengucapkan /menerangkan Kitab Allah Yang Maha 
Mulia dengan pendapatnya (secara tidak manqul) walau benar, maka 
sungguh ia telah salah ". 

3 . Hadits Tirmidzi (Hadits ini dha'if / lemah) : di lembar berikutnya, 

j\3l 'y *£** !*~^ ^y o!>^ {J J^ J* 



• • s s / s 



"Barang siapa yang mengatakan tentang Al Our 'an dengan pendapatnya 
sendiri (tanpa manqul), maka hendaklah menempati tempat duduknya di 
neraka, " 

Itulah pendapat H. NurhasanUbaidah /jama'ahnya tentang manqul. 



HMC. Shodiq, Akar Kesesatan LDI1 & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Ke&hhn LPII Ojkm Mcmthimi Palit 

B. TINJAUAN / PEMBAHASAN 

Pembahasan lebih lanjut tentang ajaran Manqul H. Nurhasan Ubaidah 
akan didasarkan/berpijak pada kaidah bahwa: Setiap kegiatan Ibadah harus 
ada dalilnya, jika tidak ada dalil maka ibadahnya tidak sah. Yang dimaksud 
dengan dalil, adalah nash Al Qur ? an atau Hadits yang shahih, murni baikmattan 
maupun maknanya Menukil itu adalah dari Al Qur ? an dan Hadits, (Nash yang 
shahih) sehingga bukan sekedar Ilmu yang dipindahkan dari guru, jika itu bukan 
dari nash yang shahih. 

Kenyataannya, manqul yang dimaksud ajaran H. Nurhasan Ubaidah itu 
adalah bahwa ayat-ayat Al Qur 'an dan Hadits serta seluruh ajaran agama itu 
hanya sah jika dikeluarkan / ditafsirkan / diajarkan / difatwakan oleh H. Nurhasan 
Ubaidah atau guru-gurunya. Tidak melalui seperti itu bukan manqul maka tidak 
sah, dan amalnya ditolak sehingga akan masuk neraka. Alasannya karena semua 
ilmu ibadah itu harus manqul-musnad-muttasil ke Rasulullah, dan hanya dia 
yang MMM ke Rasulullah, sehingga apapun yang dari H. Nurhasan Ubaidah 
selalu dianggap benar sekalipun sebenarnya salah. 

Dari uraian tersebut di atas, adalah jelas bahwa yang dimaksud manqul 
dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah itu adalah manqul kepada H. Nurhasan 
Ubaidah. Jika tidak ke dia, itu bukan manqul dan haram. 

Untuk selanjutnya jika disebut manqul dalam uraian ini, maka yang 
dimaksud adalah manqul kepada H. Nurhasan Ubaidah 



Kewajiban manqul ke H. Nurhasan Ubaidah tersebut sudah menjadi 
Aqidah Jama'ah LDII 

Di sinilah permasalahannya: 

a. Mengapa manqul itu harus/wajib ke H. Nurhasan Ubaidah, dan jika tidak 
ke dia menurut mereka ibadahnya tidak sah? 

b . Mengapa hanya H. Nurhasan Ubaidah yang musnad-muttasil ke Rasulullah? 

c. Adakah dalilnya yang mensahkan hal-hal tersebut di atas? Atau hal itu hanya 
pendapatnya sendiri, (ro'yu). 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Tdliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 






BAGIAN KESATU: Kcsihfan LP// Ptkm Memjhjmi Pj/f[ 

KAJIAN TERHADAP KEABSAHAN MANQUL. 

Jika diamati, terdapat beberapa hal yang mereka jadikan dasar wajib 
manqul antara lain; 

a. H. Nurhasan Ubaidah dianggap sebagai amir yang sah yang wajib ditaati. 
Melepaskan ketaatan dari padanya akan masuk neraka 

b. Taat kepada amir H. Nurhasan Ubaidah diartikan taat kepada Allah dan 
Rasulullah, menentang amir berarti menentang Allah dan Rasul-Nya. 

c. Dalil Al Qur ' an dan Hadits (Al Isra ayat 3 6, Hadits Abu Daud dan Tirmidzi) 
sebagaimana disebutkan diatas., 

d. Hanya H. Nurhas an yang telah musnad muttasil ke Rasulullah. 

Jika point a dan b di atas yang dijadikan dasar manqul, maka sudah 
dijawab pada pembahasan BAB II bahwa keamiran H. Nurhasan Ubaidah 
berdasarkan kaidah, tidak sah, dan ajarannya tidak boleh diikuti, sehinggamanqul 
(ke H. Nurhasan Ubaidah) juga tidak sah. 

Mengenai Surat Al Isra ayat 36. 

Menurut para ahli tafsir, maksud dari ayat itu adalah: Janganlah kamu 
mengatakan "Aku telah melihat, padahal kamu tidak melihat, "aku mendengar 
padahal kamu tidak mendengar, dan "aku tahu padahal kamu tidak tahu, karena 
Allah akan menanyakan semua itu pada hari qiamat Jadi jangan mengatakan / 
mengerj akan sesuatu / apa saj a yang kamu tidak melihat, tidak mendengar, tidak 
mengetahui (tidak menguasai persoalannya /ilmunya). (Ibnu Katsir Juz III, hal. 
59). 

Di dalam ayat ini juga tidak ada kata-kata "ilmu manqul baik dalam 
bentuk laf adz maupun arti / maknanya, dan tidak ada sama sekali hubungannya 
dengan kemanqulan H. Nurhasan Ubaidah. Adanya tambahan kata-kata "ilmu 
manqul yang dimaksudkan kepada H. Nurhasan Ubaidah dalam terjemahan LDII, 
itu adalah penafsiran menurut pendapatnya sendiri yang dilihat dari segi mana 
saja tidak ada dasarnya. 

Demikian pula pada kedua Hadits Abu Daud dan Tirmidzi. Pada asli 
Hadits -hadits tersebut tidak ada lafad tanpa/tidak manqul dan juga tidak bisa 

| ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



:-:->: ■>x-m*m-x-x 



BACIANKESA TU: Keszkhtn LP/J Dikm Mavjhimi Pjli[ 

ditafsirkan seperti itu. Pengertian "menurut pendapatnya sendiri disini adalah 
tidak mengikuti aturan- aturan membaca dan tafsir Al Qur 'an secara benar sesuai 
dengan maksud ayat. Jadi sisipan tanpa/tidak manqul yang maksudnya kepada 
H. Nurhasan Ubaidah itu bikinan baru yang mengada-ngada. H. Nurhasan 
Ubaidah itu Justru telah mengada-ada dan membelokkan arah ayat dan hadits 
itu dari arah yang sebenarnya kearah seolah-olah itu semua untuk kemanqulan 
danmanqul itu berartikepada H. Nurhasan. Ubaidah. Di sisi lain, Hadits Tirmidzi 
itu dha'if (lemah), (lihat Lembar Khusus ii), jadi tidak bisa dijadikan dasar. 

Sepintas masalah ini sederhana, tetapi ditinjau dari segi aqidah, tindakan 
itu mengakibatkan aqidah jadi menyimpang. (Dengan menunjukkan tafsir ayat/ 
hadits itu seolah-olah benar harus manqul ke H. Nurhasan) 
Allah berfirman dalam An Nahl 1 05 : 

y y y / s s s s s 

"Sesungguhnya yang mengada-ngadakan kebohongan itu hanyalah 
orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan neraka itulah 
bagi orang-orang pendusta" . 

Firman Allah dalam Al An' am ayat 49 : 

"Dan orang-orang yang mendustakan/mengubah makna ayat-ayat 
Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka berbuat f asi q. " 

Jadi sebenarnya baik secara lafadz maupun tafsir, dalam asli Surat Al 
Isra ayat 36 dan Hadits Abu Daud - Tirmidzi (dha'if (lemah) itu tidak ada 
pengertian "mangui" seperti yang dimaksud H. Nurhasan. Tafsir seperti itu 
adalah bikinan H. Nurhasan Ubaidah. 

Dengan demikian Al Isra ayat 36 dan Hadits Abu Daud-Tirmidzi itu 
tidak ada korelasinya dengan kemanqulan H. Nurhasan Ubaidah sehingga dari 
segi kaidah tidak bisa dijadikan dasar kemanqulan H. Nurhasan Ubaidah. 



Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah, H.M.C. Shodiq 






BACIAN KESATU: Kcsihhm LDII Pjljm ' Memibimi Djlil 

PENGAKUAN H. NURHASAN UBAIDAH MEMILIKI MANQUL 
MUSNAD MUTTASILKE RASULULLAH SAW 

Dalam Bab Polnya Ilmu Manqul disebutkan bahwa H. Nurhasan Ubaidah 
memiliki MMM ke Rasulullah S AWTerhadap pernyataan ini maka muncullah 

dua pertanyaan: 

1 . Apakah ada bukti sah bahwa H. Nurhasan Ubaidah manqul-musnad-muttasil 
ke Rasulullah (adanya sanad yang tidak terputus)? 

2. Seandainya ada bukti sah untuk mo.l, adakah bukti sahbahwa semua guru/ 
rawi yang memusnad-muttashilkan itu shahih (tsiqah) sebagaimana mestinya 
seperti halnya dalam Hadits. 

Jika ada bukti bahwa kedua tersebut di atas sah, maka sahlah kemanqulan 
H. Nurhasan Ubaidah. Jika salah satu saja (apalagi kedua-duanya) tidak sah 
maka tidaklah sah kemanqulannya Sama halnya hadits, maka ilmu-ilmu untuk 
bisa dinyatakan manqul dari Rasulullah SAW wajib memenuhi syarat-syarat 
sahnya hadits yaitu: 

1 . Sanad tidak terputus (musnad-muttashil) 

2 . Semua perawi / guru-guru dalam s anad itu harus tsiqoh/ shahih/ terpercay a 

3 . Matannya shahih, tidak ada illat, tidak j anggai 

S alah satu syarat s aj a tidak terpenuhi, maka b atal / gugurlah periwayatan 
/ ilmu-ilmu yang dikatakan dari Rasulullah saw 

Sesuai dengan persyaratan tersebut, mari kita kaji, adakah kemanqulan 
H. Nurhasan Ubaidah itumemenuhi syarat-syarat tersebut, sebagai syarat sahnya 
kemanqulan yang musnad muttashil ke Rasulullah SAW. 

1 . Tentang Sanad yang tidak terputus (musnad-muttashil): 

Sejauh ini bukti adanya sanad yang tidak terputus itu tidak ada. Yang 
ada hanyalah "pengakuan bahwa H. Nurhasan Ubaidah telah dimusnad- 
muttashilkan oleh guru-gurunya dan sanad yang dibuat oleh H. Nurhasan Ubaidah 
seperti dcantumkan pada halaman 124-125 Kitabus Sholah terbitan LDII tentang 

Asma'ul Husna. 

Suatu pengakuan tidak bisa dijadikan dalil/dasar yang sah untuk 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGAN KESA TV: Kcmhhin LP// Ptkm Memihimi Dilil 

menyatakan/menetapakn bahwa sesuatu itu benar/shah. (Jika pengakuan bisa 
dijadikan dalil, maka banyak orang juga bisa menyatakan bahwa mereka MMM 
ke Rasulullah saw) Jadi tidaklah segampang itu untuk menyatakan memiliki 
MMM. Dengan tidak adanya bukti sah bahwa H. Nurhasan Ubaidah itu MMM 
ke Rasulullah saw, maka dari mana dan apa dasarnya bisa menyatakan bahwa 
beliau MMM ke Rasulullah saw? 

2. Tentang bukti perawi/guru-guru yang ada dalam sanad itu shahih. Seandainya 
saj a syarat ke 1 itu terpenuhi /ada, maka belum berarti MMMnya itu sah, masih 
harus diikuti dengan syarat ke 2 dan ke 3 Syarat ke 2 yaitu semua guru/rawi 
yang menghubungkan H. Nurhasan Ubaidah dengan Rasulullah SAW. ituharus 
shahih (termasuk H. Nurhasan Ubaidah sendiri). S atu saj a perawinya tidak shahih 
maka tidak sah. 

Jadi taruhlah beliau itu benar berguru kepada guru (A) kemudian (A) 
berguru kepada guru (B) dan (B) kepada (C) dan(C) kepada (D) dan seterusnya 
sampai ke Rasulullah, (istilahnya sudah MMM). Apakah dengan itu sudah bisa 
menj amin bahwa berita / sabda / ajaran dari Rasulullah saw (Misalnya berita X) 
kepada (D), (D) kepada (C), (C) kepada (B);dan (B) kepada (A) dan (A)kemudian 
kepada H. Nurhasan Ubaidah seterusnya ke Jama'ah itu ketika sampai pada 
Jama'ah benar-benar masih murni (X) (tidak berubah, kurang atau lebih). Jika 
salah satu dari A, B, C, D itubaik sengaja atau tidak, merubah berita (X), maka 
berita yang disam paikan oleh Nabi tersebut setelah sampai kepada H. Nurhasan 
Ubaidah sudah tidak asli lagi/sudah berubah/tidak shahih lagi (dha'if/lemah). 

Dengan demikian tidak berarti jika H, Nurhasan ada MMM, kemudian 
hadits dari Nabi itu setelah sampai pada H. Nurhasan Ubaidah pasti tetap asli/ 
murni. Olehkarena itu walaupun seandainya adamanqul-musnadmuttasil, ajaran 
itu tidak berarti sudah shahih. Mengapa?, karena masih memerlukan shahih 
(tsiqahnya) semua perawi. Oleh karena itu harus ada bukti dulu bahwa semua 
guru/rawi yang memusnad muttashilkanH. Nurhasan itu tsiqah/shahih. 

Jadi tidak ada jaminan jika sudah berguru kepada guru yg sambung 
menyambung sampai ke Rasulullah itu hasilnya pasti benar tanpa keshahihan 
semua guru/rawinya termasuk H. Nurhasan Ubaidah. 

Sejauh ini juga tidak ada bukti ;sah bahwa semua perawi/ guru yang 
memusnad muttashilkan H. Nurhasan itu shahih. Untuk bisa membuktikan 
perawi-perawi tersebut shahih atau tidak, harus ada Risalah dari masing-masing 



semua perawi/guru tersebut tentang nama, nasab, riwayat hidup, tanggal 
kelahiran/ kematian, sifat-sipat, perilaku, guru-guru/murid-muridnya, dll, dan 
yang terpenting harus ada kesaksian / pernyataan dari para Muhadditsin (ahli 
tentang ilmu-ilmu hadits) seperti halnya rijal dalam hadits. 

Dari situ baru bisa diteliti/dilacak shahih atau tidaknya perawi-perawi 

tsb. 

Dengan tidak adanya Risalah sah dari perawi/guru-guru tersebut, maka 
dari mana dan apa dasarnya bisa menyatakan bahwa perawi-perawi itu sah? 
(Bagaimana kita akan bisa membuktikan bahwa perawi-perawi.itu sah kalau 
alat untuk membuktikannya saj a tidak ada) 

Syarat ke 3 matannya shahih, tidak ada illat, tidak janggal. Syarat ini 
menuntut bahwa ajaran yang disampaikan H. Nurhasan Ubaidah itu sesuai (tidak 
menyimpang) dengan yang diajarkan Nabi. Dalam hal ini kita bisa bertanya. 
Kalau ajaran H, Nurhasan Ubaidah itu banyak menggunakan Hadits-hadits dha'if 
(lemah), sedangkan Nabi melarang meriwayatkan Hadits Dha'if (lemah), apakah 
itu sesuai dengan yang dilakukan atau diaj arkan Nabi? Apakah bukan malahan 
menodai? 

KESIMPULAN: 

1 . Tidak ada bukti s ah adanya s anad yang menghubung kan secara tidak terputus 
(musnad-muttashil) H. Nurhasan Ubaidah ke Rasulullah saw 

2. Tidak ada bukti sah bahwa perawi/guru yang ada dalam sanad (yang 
memusnadmuttashilkan) H. Nurhasan Ubaidah itu semuanya tsiqah/shahih. 

3 . Penggunaan Hadits-hadits dha'if (lemah) oleh H. Nurhasan Ubaidah adalah 
bertentangan dengan Nabi sebagai yang dijadikan sumber manqul, dimana 
Nabi melarang penggunaan Hadits-hadits dha'if (lemah). Hal ini 
menunjukkan tidak adanya manqul ke Rasulullah. 

4. Suatu pengakuan s aj a tidak s ah untuk dij adikan dalil. 

Karena tidak adanya bukti-bukti sah tersebut (selain pengakuan), maka: 

1 . Manqul-musnad-muttashilnya (kemanqulan) H, Nurhasan Ubaidah, baik 
secara dalil aqli maupun naqli tidak sah. 

2. Karena tidak sah, maka tidak boleh diamalkan dan tidak boleh diikuti. 



H.M.C. Shodq, Akar Kesesatan IDI I & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TV: Ke&kfon LP/ 1 Pikm Mcmzhjmi Pilil 

3 . Baik yang mengamalkan / mengajarkan maupun yang mengikuti sama-sama 
berdosa. 

Suatu indikasi jika beliau itu benar MMM ke Rasulullah saw, pasti tidak 
akan menggunakan hadits dha'if (lemah). Dengan cukup banyak Hadits-hadits 
dha'if (lemah) yang dipakai, menunjukkan bahwa MMM itu tidak benar, karena 
secara pasti Rasulullah saw melarang menggunakan hadits dha'if (lemah). 

Jadi, bagaimana H. Nurhasan Ubaidah bisa mewajibkan belajar ilmu 
agama itu hanyayang dari beliau, danbagaimanabisamenghukumi harambelajar 
agama ke luar jama'ah karena dianggap tidak manqul sedang kemanqulan 
Nurhasan itu sendiri tidak sah?. Ini berarti berbuat dosa sendiri, dituduhkan 
kepada orang lain. 

Dalam surat An Nisaa ayat 112, Allah swt berfirman: 

"Dan b arang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian 
dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia 
telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. " 

BAHAYA TAKFIR (MENGKAFIRKAN) 
DAN DAMPAKNYA 

Dengan bennunculannyajama'ah-jama'ah ataulembaga (aliran-aliran 
keagamaan) pada saat ini merebak pernyataan-pernyataan yang saling 
mengkafirkan antara satu sama lainnya. Begitu mudahnya seseorang/kelompok 
termasuk LDII (demi menjunjung dirinya yang paling Islam) menuduh kepada 
muslim/kelompok lainnya adalah "KAFIR bahkan "NAJIS 

Jika membaca Bukunya Drs. Nurhasimyang berjudul /mara Dan Jama 'ah 
Dalam Agama Islam serta buku-buku lainnya keluaran LDII tentang aj aran H. 
Nurhasan Ubaidah, banyak didapati pernyataan bahwa orang luar j ama' ahnya 
adalah Sesat/Kafir. Padahal banyak Hadits menerangkan bahwa barang siapa 
mengatakan kepada saudaranya adalah kafir, maka sungguh akan menj adi kafir 
s alah satu diantaranya. Jika yang dicap kafir itu adalah kafir, maka kekafiran itu 



akan sungguh menimpa kepada yang dicap kafir itu. Sebaliknya jika yang dicap 
kafir itu menurut Allah bukan kafir, maka yang mengatakan kafir itu akan terkena 
hukum menjadi kafir sendiri (Bukhari-Muslim-Tirmidzi) dari berbagai sumber 
meriwayatkan: 

' ' ' ' <L i. 

p " ' i> ' ' 

*» 

"DariAbdullah bin Umarra, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: 
Siapapun berkata kepada saudaranya: "wahai orang kafir maka ucapan tadi 
sungguh akan kembali kepada salah seorang dari keduanya, (jika yang 
dikatakan kafir itu tidak demikian maka kekafiran itu akan kembali kepada 
yang mengatakan " 

Tuduhan atau menuduh kafir itu begitu gampangnya seolah-olah tanpa 
beban dan resiko/dosa. 



Bukti-bukti Ajaran H. Nurhasan Ubaidah mengkafirkan orang-orang 
Islam yang di luar jam'ahnya: 

1. Secara berulang-ulang disebutkan, baik dalam bukunya Drs. Nurhasim 
maupun buku-buku lainnya, bahwa tiada/bukan Islam kecuali dengan 
berjama'ah (yang dimaksud adalah jama'ah H. Nurhasan Ubaiadah). Tiada/ 
bukan Islam itu artinya adalah kafir. 

2. Disebutkan dalam Bab Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama'ah 
halaman 8, bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang- 
orang diluar jama'ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh 
orang iman calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi. 

Lebih lanjut lihat hal. 78-79 sub a s/d e 



lllllll ■ H.M.C. Shodiq« Akar Kesesalan LDIi & Penipuan Triliunan Rupiah 



■ BAGIAN KESA TU; Kesikfan LDll Pzhm Mcmzhzmi Dalil 

Ada beberapa sebab mengapa takfir itu muncul dengan mudah 

1 . Karena dangkalnya dalam memahami agama. 

2. Fanatisme berlebihan, merasa diri/kelompoknya yang paling benar 

3 . Dipakainya Hadits dha'if / lemah sebagai pedoman 

4. Mengikuti hawa nafsu / kemauannya sendiri dalam menafsirkan Al Qur ' an 
maupun Hadits. 

5 . Adanya sifat-sifat sombong dan takabbur walaupun tidak disadarinya. 

Hal ini bisa dilihat dalam menafsirkan Hadits bahwa setelah Nabi umat 
Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, 72 ke neraka, dan hanya satu yang ke 
surga, yaitu Al Jama' ah. Kata-kata "yaitu Al- Jama' ah itu serta merta oleh masing- 
masing kelompok termasuk LDII, di klaim/ diaku adalah jama'ah/ kelompoknya. 
Bagaimana yang sebenarnya (sudah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya) 
Bahwa yang dimaksud dengan Al Jama'ah itu adalah golongan yang berpegang 
teguh pada apa yang Nabi dan shahabat-sohabatnya lakukan. Yang berpegang 
pada yang dilakukan Nabi dan shahabat-shahabatnya itu: 

- Al Jama'ah dalam arti Jama'atul Muslimin, bukan Jama'atun minal 
Muslimin/Jama'ah dari sebagian umat Islam (Bukhari-Muslim dari 
Khuzaifah). 

Yang tidak menyimpangi Al Qur 'an dan Hadits shahih, 

Yang tidak mengurangi/menambah/merob ah/membelokkan arah ayat 

dan Hadits, 

- Yang tidak menafsirkan ayat-ayat Al Qur'an dan Hadits menurut 

keinginannya, 

Yang tidak menggunakan Hadits-hadits Dha'if (lemah) untuk pedoman 

ibadah. 

Singkatnya adalah yang mengamalkan Al Qur ' an dan Hadits shahih secara 
benar-benar murni aqidah dan syari ' atnya, bukan sekedar dalam pernyataan- 
pernyataan saja. 

Yang tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut di atas, bukanlah Al Jama'ah 
sebagaimanyang dimaksud olehNabi, sekalipun mencantumkan namanya dengan 
"Al Jama'ah". 






BAHAYA TAKFIR/MENGKAFIRKAN 

Begitu besar bahaya takfir ( Mencap kafir ) itu antara lain: 
1 . Jika pernyataan takfir terjadi antara suami istri maka: 
a. Jika berpegang pada Al Baqoroh ayat 22 1 ? yang melarang pernikahan antara 
mukmin dengan wanita musyrik atau sebaliknya, maka pernikahan yang 
sudah berjalan tentunya juga diputus. 






{ Y Y N SjiJl) l^^^ilSI \J& 

(i Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musrik sebelum Mereka 
beriman. Dan janganlah kamu minikahkan orang-orang yang musrik 
(dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. " 

b. Tirmidzi dalam haditsny a meriwayatkan: 

S S S S S f s 



"Sesungguhnya Rasulullah bersabda: Seorang tidak mewarisi harta 
pusaka orang kafir dan orang-orang Kafir tidak mewarisi harta pusaka 
orang muslim". (H. R. Tirmidzi) 

Sehubungan dengan hal tersebut maka putuslah hak waris mewarisi antara 
suami dengan istri terhadap harta pusaka. Suami tidak mewarisi istri dan 
juga sebaliknya istri tidak mewaritsi suami. 

2. Jika takfir terj adi antara anak dengan orang tua maka: 

a. Hak anak untuk memperoleh warisan harta pusaka dari orang tuanya putus, 
demikian pula sebaliknya 






H.M.C. Shodiq> Akar Kesesatan LD! I & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcsthhw LP// Ptkm Memzhzmi Pjlil 

b. Putus hak/kewajiban untuk saling mendo'akan ataupun mensolati 
jenazahnya 

c. Muncul apa yang disebut anak durhaka atau orang tua yang zalim dan 
tidak bertanggung j awab. 

Jika apa yang tersebut dalam 1 dan 2 itu terjadi dalam keluarga, maka 
akan sulit tercipta keluarga yang sakinah-mawaddah-warohmah. 

3. Jika takfir ini melanda di masyarakat luas, maka akan dapat menimbulkan 

saling permusuhan 

4. Sebetulnya bahaya paling berat dari takfir itu justru bagi yang menyatakan 

kafir itu, karena predikat kafir itu bisaj adi berbalik kepada yang menuduh 
kafir. 

Adanya keluhan dari LDII mengenai adanya hujatan-hujatan terhadap 
Jama'ahnya sebagaimana diutarakan oleh penulis Ludhy Cahyono dalam kata 
pengantarnya pada buku "Islam Jama 'ah Dibalik Pengadilan Media Masa 
bukankah itu (suatu analisis) sebagian juga karena ulahnya sendiri yang begitu 
mudah menuduh orang luar jama'ah adalah Kafir, Najis, Setan, Musuh Allah 
dan sebagainya ?(sebagai dampak dari takfir yang mereka lontarkan). 

. Oleh karena itu Islam melarang untuk mengkafir-kafirkan orang, jika 
tidak benar-benar dilandasi dengan fakta dan dalil-dalil yang shahih 

Takfir ini adalah merupakan ciri-ciri golongan Khawarij yang dikutuk 
Nabi akan masuk neraka karena aqidahnya menyimpang. Padahal digambarkan 
oleh Nabi bacaan Qur 'annya, sholatnya, puasanya dan ibadah-ibadah lainnya 
luar bias a. 

Bahkan menurut riwayat Ibnu Majah, Khawarij ini akan menjadi 
anjingnya neraka karena aqidahnya yang menyimpang, termasuk kebiasaannya 
mengkafirkan orang-orang yang di luar golongannya. Tentunya kita tidak ingin 
termasuk golongan itu 

Di sini sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa aqidah itu begitu 
centralnya, sehingga jika aqidahnya menyimpang akan berdampak kemana-mana 
merusak amal ibadah-ibadah dhohirnya yang sekalipun kita lakukan dengan 
begitu tekun tetapi bisa menjadi sia-sia tidak menghasilkan amal yang sholeh. 

Oleh karena itu kita harus sangat berhati-hati dalam menggunakan dalil- 



dalil dan menafsirkannya, yang akan mempengaruhi aqidah-aqidah kita Boleh 
dikatakan tidak ada artinya kita menggebu-gebu beribadah selama aqidahnya 

dibiarkan menyimpang. 

Amal ibadah yang dinilai Allah itu bukan sekedar banyaknya tetapi 
kualitasny benarnya (lihat QS. Al Mulk 2) 

Sekalipun ini bukan sesuatu yang baik, tetapi kalau karena kemampuannya 
harus memilih, maka lebih baik syariatnya masih ada kekurangan (belum 
sempurna) tetapi aqidahnya benar dari pada syariatnya banyak tetapi aqidahnya 
keliru. Tentu saja yang paling baik adalah jika semuanya benar. 

Demikianlah bahayanya takfir itu sehingga kita perlu hati-hati untuk 
tidak mudah menuduh kafir kepada orang lain karena di s amping bisa merugikan 
orang lain, salah-salah juga bisa b erbalik merugikan diri sendiri. Apalagi tuduhan 
semacam itu didasarkan pada hadits Laa Islaama Illaa BilJama 'ati yang dha'if 
(lemah). 



PANDANGAN DAN ULASAN 



Dalam BAB ini akan sampaikan ulasan terhadap pandangan/pernyataan/ 
pengertian yang ada dalam aj aran H. Nurhasan Ubaidah sebagai berikut: 

Pengertian Tentang Jama'ah-Amir-Bai'at dan Ta'at 

Dalam ajaran H. Nurhasaan Ubaidah, istilah-istilah tersebut di atas di 
samping yang umum juga mempunyai pengertian khusus. Hal tersebut dapat 
disimak dari pernyataan-pernyataan atau penafsiran sebagai berikut: 

A. Jama'ah, adalah: 

Orang Islam yang sudah menetapi syari'at Islamnya (syahadat, sholat, 
zakat, puasa danhaji) disempurnakan dengan beramir, berbai'at, ta'at dan syukur 
karena Allah (baca buku Menjaga Kemurnian Qur'an Hadits Jama'ahhal. 6) 

B. Berjama'ah 

Adalah berbai'at, beramir, bertaat karena Allah menuju masuk surga 



HMC. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcs^khn LP/i Ptkm Mctvthtmi Pjlil 
Allah, selamat dari neraka Allah (Buku Drs. Nurhasim halaman 12). 

C. Keamiran 

Keamiran H. Nurhasan Ubaidah adalah sah dan karena itu, berdasarkan 
dalil haq harus ditetapi, dibantu, didukung dan dibela. (Buku Drs. Nurhasim 
hal. 47). 

D. Qur'an-Hadits-Jama'ah 

Qur ' an-Hadits- J ama' ah yang kita tetapi adalah hasil perjuangan Bp. 
H. Nurhasan Ubaidah. (Bab Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama'ah, 
hal. 1) 

E. Mengaji Al Qur 5 an dan Hadits itu harus/wajib dengan manqul 

Yang memilki manqd-musnad-muttasil itu hanya H. Nurhasan Ubaidah, 
oleh karena itu wajibnya manqul itu adalah kepada H. Nurhasan Ubaidah (Bab 
Polnya Ilmu Manqul). 

Dari pernyataan-pernyataan tersebut di atas, jika satu dengan lainnya 
dirangkaikan akan mempunyai kandungan makna yang lebih khusus yaitu: 

- Jama'ah itu adalah jama'ahnya H. Nurhasan Ubaidah (sekarang LDII). 
Artinya tidaklah bisa disebut j ama' ah jika bukan LDII. 

- Amir itu adalah H. Nurhasan Ubaidah Artinya bukan amir jika bukan H. 
Nurhas an Ub aidah. 

- Bai'at dan taat itu kepada H. Nurhasan Ubaidah, Artinya tidak ada bai'at dan 
taat jika bukan kepada H. Nurhasan Ubaidah 

- Qur 'an dan Hadits yang sah itu adalah yang dikeluarkan/diajarkan oleh H. 
Nurhasan (yang disebut Qur' an-Hadits- Jama'ah) 

Kesimpulan: Menurut pendapatnya, hanya jama'ah, amir, dan ajaran 
H. Nurhasan Ubaidahlah yang benar/sah. Di luar itu semuanya salah/ tidak sah, 
kafir masuk neraka. Inilah aqidah aj aran H. Nurhasan yang melandasi perilaku- 
prilaku ibadahnya. 



Dengan pengertian seperti itu maka H. Nurhasan Ubaidah menj adi s entral/ 
sumber dari semua peribadatan jama'ahLDII. Konsekuensinya, jika keamiran 
dan ajaran H. Nurhasan Ubaidah itu benar, maka bisa diharapakan aktifitas 
ibadah jama' ahnya sah. Tetapi jika keamiran dan ajarannya tidak sah, maka 
ibadah dari pengikutnya ikut tidak sah. 

Inilah bahaya dan resikonya bila ibadah itu bulat-bulat menginduk/ 
mengikuti seseorang, bukan mendasarkan kepada dalil-dalil yang shahih. 

Lebih lanjut kita bandingkan pengertian-pengertian menurut ajaran H. 
Nurhasan Ubaidah tersebut di atas dengan ketentuan-ketentuan/sabda Nabi 
(dalam Hadits) 



l.AL-JAMA'AH 

Yang memberikan istilah Al Jamaah (riwayat Abu Daud) itu adalahNabi. 
Oleh karena itu untuk mengartikan Al- Jama' ah juga harus dikembalikan kepada 
Nabi. 

Untuk mengetahui apa yang dimaksud Al Jama' ah menurut Nabi, mari 
kita perhatikan rangkaian sabda-sabda Nabi sebagai berikut: 

a. Ketika Rasulullah menjelaskan bahwa umatnya akan berfirqoh / berpecah 
menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk ke neraka dan hanya 1 (satu) 
golongan yang masuk surga. Rasulullah saw bersabda bahwa satu golongan 
yang akan masuk surga itu adalah: 

- Menurut riwayat Abu Daud adalah "Al Jama' ah. 

- Menurut riwayat Tirmidzi adalah golongan yang mengikuti (berpegang 
teguh) pada apa yang aku (Nabi) pegangi dan sahabat-sahabtku. Yang 
menjadi pegangan Nabi dan para sahabatnya itu adalah Al Qur'an dan 
Hadits shahih secara murni, tidak lebih tidak kurang tidak ada tambahan 
apa-apa, dan tidak menggunakan hadits-hadits dha'if (lemah). 

Bahwa pegangan Nabi dan shahabat-shahabatnya itu Al-Qur 'an dan 
Hadits saja (tanpa kata "Jama'ah atau kata yang lainnya) adalah sesuai sabda 
beliau: 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN 'KESA TU: Kes$hhn LP/l Ptkm Memihyvi Pjlil 

Rasulullah Bersabda: "Aku tinggalkan dua hal yang kamu tidak akan sesat 
selama-lamanya jika berpegang teguhkepada keduanya yaitu: Kitabullah 
(Al Qur *an) dan Sunnah Nabinya. (Hadits Malik) 

b. Nabi bersabda: 






Nabi bersabda: "Kamu pegangi Jama 'ah kaum Muslimin (jama 'ah dari 
seluruh umat Islam) dan Imam mereka, (bukan Jama 'tun minal Muslimin 
= Jama'ah dari sebagian Umat Islam). Aku bertanya: Jika tidak ada 
J ama'atul Muslimin dan Imamnya, maka jauhilah jirqah-jirqah itu 
semuanya walaupun kamu harus menggigit pada akar pohon hingga kamu 
dihampiri kematian, sedangkan engkau dalam keadaan demikian. " 

Sabda Nabi tersebut disampaikan dalam menjawab pertanyaan 
Khuzaifah: Maka apa yang engkau perintahkan kepadaku, apabila aku mengalami 
keadaan yang seperti itu? (keburukan dimana para penyeru di pintu-pintu 

jahanam). 

Wujud dari Jama' ah menurut Hadits itu adalah satu kesatuan umat Islam 
dengan satu Imam/Pimpinan sebagai penguasa tunggal dalam segala urusan umat 
(baik agama maupun pemerintahan). 

Dengan demikian yang dimaksud dengan Al Jama 5 ah itu adalah Jama'atul 
Muslimin (satu kesatuan seluruh umat Muslimin) dengan satu Imam sebagai 



penguasa tunggal bagi semua urusan umat. Bukan Jama'atun minal Muslimin 
(Jama'ah-jama'ah dari sebagian umat Muslimin dengan Imam sendiri-sendiri/ 
masing-masing) , yang berpegang pada Al Qur ' an dan Hadits shahih secara murni. 

Lebih singkatnya Al Jama'ah itu adalah golongan yang berpegang 
(mengamalkan) Al Qur ' an dan Hadits shahih secara murni, tanpa ditambah dan 
dikurangi. 

Jadi golongan yang akan masuk surga berdasarkan sabda-sabda Nabi itu 
adalah golongan yang merupakan satu kesatuan umat Islam dengan satu Imam, 
yang mengikuti/berpegang pada apa yang Nabi danpara shahabat lakukan yaitu 
Al Qur'an dan Hadits shahih secara murni. 

Bagaimana kalau tidak ada Jama'atul Muslimin dengan Imamnya? (Ini 
adalah pertanyaan Khuzaifah dalam lanjutan Hadits tersebut) Maka Nabi 
menjawab: 



eh ££m aCVJs. #£ S*\ ]& ¥h *oyM ii J>& JB 

s 

Nabi bersabda: "Maka jauhilah kelompok-kelompok itu semuanya 
meskipun kamu harus menggigit pada akar pohon hingga kamu dihampiri 
kematian sedangkan engkau dalam keadaan demikian. 

Setelah Nabi wafat, wujud jama'ah itu masih tetap, hanya saja 
kepemimpinannya dipegang oleh Khalifah (mulai dari Abu Bakar, Umar dan 
seterusnya) sebagai penerus Nabi yang diangkat melalui bai'at oleh umat Islam 
dan dilakukan melalui musyawarah. 

Jadi wujud Jama'ah yang dilakukan Nabi dan para shahabat itu adalah 
satu kesatuan Umat Islam (Jama'atul Muslimin) dengan satu Imam/Amir dalam 
posisi sebagai Khalifah. 

Dengan memperhatikan pengertian Al Jama' ah sebagaimana tersebut di 
atas, maka j ama' ah-j ama' ah / kelompok-kelompok yang kemudian membai' at 
amir/imammnya sebagai pemimpin masing-masing j ama' ah/kelompoknya, 
apalagi dengan mendasarkan pada hadits dha'if (lemah), bukanlah j ama' ah yang 



I H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LOII & Penipuan Trtliunan Rupiah 



:«■>:•»:•:«•:«•: 



BAGIAN KESA TV: Kesikhzn LP// Pjljm Mcmihzmi Pjlil 

disyari' atkan Nabi, walaupun namanya Al- Jama' ah. 

Jadi dari mana H. Nurhasan memberi arti Jama'ah itu adalah orang Islam 
yang sudah menjalankan syari'at Islam (lengkap) kemudian disempurnakan 
dengan beramir, berbakat, berta'at dan syukur karena Allah dan seperti yang 
dipraktekkan selama ini jika bukan dari Hadits LaalslaamalllaaBilJama 'ati 
yang dha'if (lemah) itu. Wajar sajakarena sandarannya Hadits dha'if (lemah) 
maka, hasilnya juga dha'if (lemah). 

Lebih lanjut Drs. Nurhasim dalam bukunya halaman 44 menyebutkan 
bahwa sudah ada Jama' ah yang berpedoman pada Qur'an dan Hadits sejak 1941 
(yang dirintis. H. Nurhasan Ubaidah). Bagaimana bisa dikatakan berdasarkan 
Qur 'an dan Hadits sementara pembentukan j ama' ah itu didasarkan pada hadits 
Laa Islaama Illaa BilJama 'ati yang jelas-jelas dha'if (lemah), sedangkan Nabi 
melarang bahkan mengutuk penggunaan Hadits-hadits dha'if (lemah). Apalagi 
dalam halaman 47 ia menyebutkan harus didukung, harus dibela. Nah kalau 
yang tidak sah begini harus dibela, Apakah yang membela itu tidak ikut salah?. 
Apakah itu bukannya justru bertentangan dengan sabda Nabi? 

Berpedoman kepada Hadits itu arti yang seharusnya adalah berpedoman 
pada Hadits shahih dan kaidah-kaidah Hadits, sehingga kalau kaidah Hadits 
menyatakan Hadits dha'if (lemah) atau yang tertolak itu tidak boleh dijadikan 
hujj ah/sandaran, maka mestinya tidak akan memakainya. Tetapi kalau 
kenyataannya Hadits-hadits dha'if (lemah) dipakai juga sebagai sandaran, maka 
sesungguhnya itu tidak berpedoman kepada Hadits. 

Untuk memahami kaidah-kaidah tersebut silahkan untuk dibuka kemb ali 
(Musthalahul Hadits = Ilmu tentang Hadits). 

Lebih dari itu dikatakan, Qur'an Hadits Jama'ah itu satu-satunyanya 
jalan ke surga. Berati semua orang yang tidak menetapi Qur'an Hadits Jama'ah 
adalah ke neraka. Nah, pengertian Jama'ah dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah 
itu perumusannya didasarkan pada "Laa Islaama Illaa bil Jama'ati (silahkan 
periksa Buku Drs Nurhasim halaman 12). Padahal "Laa Islaama Illaa Bil 
J ama 'ati itu Hadits dha'if (lemah) yang berat. Pengertian "Jama'ah atau sesuatu 
yang dirumuskan dengan hadits dha'if (lemah) itu hasilnya akan keliru. Jadi 
Qur'anHadits Jama'ah itu adalah Qur'an Hadits (J ama' ah yang keliru). Masa 
Qur'anHadits Jama'ah yang keliru merupakan satu-satunyajalanke surga. Semua 
kita bis a menganalisis, baik secara logika apalagi secara kaidah, tidak mungkin 



sesuatu yang keliru (j alan yang keliru) merupakan/menj adi satu-satunyanya j alan 
ke surga. Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dengan fatwa-fatwa yang berbau 

iklan ini. 

Ada pernyataan yang dikemukakan, Jika Hadits "Laa Islaa ma illa bil 
jama'ati ini dikatakan lemah, masih banyak ayat dan Hadits yang memerintahkan 
untuk berjama' ah (termasuk amir,bai'at dan taat). Pernyataan ini akanmeracuni 
aqidah. 

Adanya pernyataan itu terkesan bahwa: 

Seolah-olah tidak tahu bahwa yang dijadikan dasar berjama' ah b eramir, 
berbai'at dan taat itu adalah "Laa Islaama Illaa BilJama 'ati 
Seolah-olah tidak memahami kaidah-kaidah tentang Hadits 
Seolah-olah tidak tahu bahwa dalil-dalil lain tentang j ama'ah, amir, bai'at 
dan taat itu berbeda/lain perumusan maupun maksud dan pengamalannya 
dengan "Laa Islaama Illaa Bil Jama W/ Tidak ada dalil lain selain "Laa 
Islaama Illaa Bil Jama'ati yang menafikan / meniadakan Islam 
(mengkafirkan) kecuali dengan berjama' ah (jama'ahnya H. Nurhasan 
Ubaidah). Dalil-dalil lain tentang berjama'ah ? beramir ? berbai ? at dan taat 
itu perumusan dan pengamalannya didasarkan pada sabda-sabda Nabi 
sebagaimana telah disebutkan di muka, bukan dengan "Laa Islaama Illa 
biljama'ati. 

Pernyataan itu juga menunjukkan suatu sikap yang tidak 
mempermasalahkan pemakaian hadiis-hadits lemah/dha 'i/ dengan dalih masih 
ada dalil-dalil lain, sekalipun dalil-dalil lain itu nyata-nyata tidak senada/ 
tidak sama dengan hadits-hadits dha Hf (lemah) tersebut. 

Jadi berbeda sekali bahkan bertolak belakang antara pengertian "Laa 
Islaama Illa bil Jama'ati dengan dalil-dalil tentang Jama'ahyang ada, baik dalam 
Al Qur'an maupun Hadits. 

Di sini nampak jelas H. Nurhasan Ubaidah mengambil patokan/berdalih 
untuk berjama' ah, beramir, berbai'atdan taat itu dengan mengambil dalil-dalil 
lain yang shahih, tetapi dalam merumuskan dan mengamalkannya menggunakan 
"Laa Islaama Illaa bil Jama'ati" yang dha'if (lemah). 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDii & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TV: Ke&hhin LP// Ptkm Memahami Pjlil 

Jika pola dasar yang dijadikan pengertiannya keliru, tentu saja 
pengamalannya akan keliru pula (jika rumusnya keliru hasilnya juga keliru) 

Dalam rangka mengikuti Nabi dan Shahabat, seharusnya umat Islam 
berjuang untuk mewujudkan adanya satu kesatuan umat Islam dengan satu amir/ 
imam/khalifah. Akan tetapi kenyataannya lain, masing-masing telah membentuk 
kelompok dengan membai'at amir untuk masing-masing kelompok bahkan satu 
sama lain saling berselisih. Hal itu akan mempersulit dapat terlaksananya satu 
kesatuan umat Islam (Jama'atul Muslimin) dengan satu amir/khalifah 
sebagaimana yang dilakukan Nabi dan shahabat-shahabat beliau. 

Jadi kesimpulannya Al Jama'ah itu adalah Jama'atul Muslimin (satu 
kesatuan umat Islam) dengan Imam/pimpinan tunggal yang mengurusi seluruh 
kepentingan umat, b aik urusan agama, sosial, maupun pemertintahan. Jika tidak 
ada, dalam hal ini Nabi menyuruh menjauhi/ meninggalkan semua kelompok 
tersebut, (bukan malah masuk, membai'at amir/imam yang tidak memenuhi 
syarat-syarat, mengikuti danmembelannya) 

Bagaimana kalau sudah terlanjur? Jawabnya tentunya segera 
meninggalkan dan bertaubat. Apakah tidak takut terkena sanksi dalil "Barang 
siapa meninggalkan bai'at matinya seperti orang yang mati dalam keadaan 
jahiliyah?. Dalil itu berlaku untuk jama'ah dan bai'at sesuai yang dilakukan 
Nabi dan shahabat, sedangkan bai'at kepada amir- amir kelompok itu adalah 
bai'at yang tidak pada tempatnya (tidak memenuhi syarat-syarat pembabatan) 
sehinggajustru harus dicabut, jika tidak akan merupakan kesalahan. Hal tersebut 
di atas semua berdasarkan pada kaidah-kaidah Hadits. 



2.AMIR 

Istilah Amir dapat dijumpai baik dalam Al Qur'an maupun Hadits 
Misalnya; 

- Athi'ullaaha Waathi'ur Rasula Wa Ulil Amri Minkum, 
Inna Haadzal Amri Fii Quraisy. 

Amir juga disebut Imam, misalnya: 

- Talzamu Jama' atal Muslimin Waimamahum (Bukhari-Muslim) 
Juga disebut Khalifah, misalnya: 



- IdzaBuyi'aLikholifataini (Muslim) 

Dari segi bahasa Amir/Imarn/Khalifah berarti pemimpin/ ketua, dan 
berdasarkan istilah, Amir/Imam/Khalifah adalah penguasa tertinggi yang 
meneruskan Nabi bagi umat Islam (Kitab Imamah dan Khalifah Dalam Tinj auan 
Syar'i oleh Ali As-Saulus) 

Menurut jumhur dan berdasarkan realitas, Imaroh/ Imamah/ Khalifah 
Pada zaman Shahabat itu memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut: 

Pemimpin/penguasa tertinggi pengganti/penerus Nabi b agi umat Islam 
Pemimpin dalam segala urusan umat, baik agama maupun pemerintahan 
Memiliki wilayah tertentu yang riil 

Menj alankan hukum-hukum Islam sepenuhnya (termasuk raj am, qishos) 
Memimpin perang secara pisik dan lain-lain layaknya penguasa negara 
Dari golongan Quraisy (menurut Bukhari-Muslim) 

Dalam realitasnya para Amir/Mam/Khalifahyang menggantikan/penerus 
Nabi semua memenuhi kriteria-kriteria tersebut di atas. Jadi merupakanpemimpin 
satu kesatuan umat Islam, bukan kelompok. 

Jika memperhatikan kriteria-kriteria tersebut di atas jelas bahwa H. 
Nurhasan Ubaidah atau amir kelompok lainnya tidak memiliki syarat-syarat 
sebagai Amir/khalif ah sebagaimana yang ada /dilakukan para shahabat, sehingga 
tidak berhak dibai'at sebagai amir/imam/ khalifah apalagi pembai'atan itu 
dilakukan dengan dasar hadits dha'if (lemah) yang tidak disyari'atkan Nabi. 
Dengan demikian maka dari segi kaidah keamirannya tidak sah. 



3.BAFAT DAN TAAT 

Dari segi bahasa bai'at mempunyai banyak arti, diantaranya: 
-Uluran tangan sebagai tanda persetujuan transaksi jual beli, 
-Pemberian kekuasaan dan ketaatan 
-Perjanjian. 



Menurut Al Qur ? anbai ? at adalahjanji setia (Al Fath ayat 10 & 18) 

■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TV: Kesthfan LP/ I Pskm Mcmikjmi Djlil 

Menurut Sunnah bai'at adalah perjanjian atau kesepakatan. 

Secara terminologi, bai'at adalahperjanjian antara umat denganpenguasa, 
agar penguasa menjalankan pemerintahan menurut ketentuan syara' (Islam) dan 
umat menta' ati penguasa (Ibnu Khaldun). 

Intinya adalah penyerahan kekhalifahan kepada seorang Khalifah atau 
penguasa (yang merupakan hak umat) agar penguasa menjalankan semua urusan, 
baik agama maupun pemerintahan menurut syara', dimana dengan bai'at itu 
umat akan taat. 

Sama halnya dalam hal Al Jama'ah, Pengertian bai'at juga harus kita 
kembalikan kepada Nabi dan sahabat-sahabat. Untuk itu kita perhatikan 
bagaimana bai'at itu dilakukan Nabi dan Para sahabat: 

A. Pada Zaman Kenabian. 

l.Bai'atulAqobahI 

Isinya adalah tentang keimanan, ketaqwaan, perintah/ larangan Allah 
(tidak mempersekutukan Allah, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, 
tidak dusta, berbuat ma'ruf dan lain-lain). 

2.Bai'atulAqobahII 

, Isinya adalah tentang penyerahan dan tunduk kepada Nabi sebagai 
pemimpin pemerintahan Islam (membai'at untuk mendengar dan mentaati 
perintah-perintahnya, baik senang atau tidak, tidak mengutamakan 
kepentingan sendiri, tidak merebut kekuasaan/pemerintahan dan lain-lain) 



3. Bai'atul Ridwan. 

Isinya tentang janji setia untuk berperang melawan kaum Quraisy dan 
tidak akan lari dari perang. Disusul dengan bai'at-bait lainnya (Ada 12macam 
bai'at: Imam Nasa'Ijuz VII hal. 137). 

B. Pada Masa Shahabat (Setelah Nabi Wafat). 

Setelah Nabi wafat bai' at-bai'at itu dilakukan untuk pengangkatan Abu 






Bakar, Umar, dan seterusnya sebagai khalifah. 

Dari inti bai'at-bai'at yang dilakukan di zaman Nabi dan sahabat kita dapat 
mengetahui bahwa bai'at itu pada hakekatnya adalah perjanjian antara umat 
dengan khalifah/amir untuk menjalankan tugas kekhalifahan menurut ketentuan 
syara', dan umat akan taat mengikuti ^perintah-perintah khalifah/amir.. Tugas 
khalifah/amir disini meliputi pemerintahan dankeagamaan (bukan agama saja) ; 
imam yang hanya urus an agama ini adalah imam yang termasuk dalam j ama' atun 
minal muslimin (kelompok), yang tidak dibai'at. 



Semua khalifah/amir setelah Nabi adalah penguasa pemerintahan dan 
agama. 

Jadi pendapat Drs. Nurhasim dalam bukunya bahwa Imam (amir) itu 
dalam urusan agama bukan politik atau perang adalah bertentangan dengan yang 
dilakukan Nabi dan para sahabat. Apakah Bai' atul Ridwan (bai'at untuk perang) 
itu bukan urusan perang dan perj arijian damai Madinah itu bukan urusan politik, 
demikian pula bai'at kepada Abu Bakar dan khalifah-khalifah setelah Abu B akar 
untuk pengangkatan menj adi pemimpin pemerintahan itu bukan urusan politik, 
dan hanya agama saj a?. Tidakkah paham bahwa Abu Bakar itu terkenal sebagai 
diplomat ulung (urusan Politik) dan pemerintahannya dikenal dengan 
pemerintahan Syuro, begitu juga Umar itu terkenal sebagai panglima perang 
yang tangguh? ! . Dan apakah Drs Nurhasim lupa bahwa H. Nurhasan Ubaidah 
juga terkait dengan kegiatan politik, demikian pula dirinya yang juga menj ab at 
sebagai pimpinan slagorde Golkar untuk mensukseskan Operasi Pemilu Sekber 
Golkar? 

Lebih keliru lagi menerapkan dalil tentang bai'at untuk mewajibkan umat 
bai'at kepada H. Nurhasan Ubaidah (yang tidak memiliki syarat-syarat sebagai 
amir/khalifah) dan memberi vonis kepada orang yang tidak membai'at kepadanya 
itu akan mati jahiliyah. Dalil tentang bai'at itu diperlakukan kepada imam/amir 
dalam kapasitas sebagai Khalifah, bukan Imam kelompok. 

Barangkali istilah "Politik itu diartikan secara sempit seolah-olah sama 
dengan "partai Politik (yang konotasinya negatip). Mengatur masyarakat/umat 
itu adalah kegiatan politik dalam arti luas disamping agama. 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LD! I & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU'. Kesahan LD! I D*km Mcmihimi PjllL 

Jadi bai'at itu dilakukan pada saat kenabian dan para shahabat /penguasa 
/pemimpin yang memiliki syarat-syarat sebagai berikut: 

1 . Adalah sebagai penguasa tunggal 

2 . Mempunyai wilayah kekuas aan yang nyata 

3 . Mampu memimpin seluruh penduduk 

4. Dalam wilayah tersebut secara nyata ditegakkan hukum Islam 

5 . Keamanan pelaks anaan hukum dalam wilayah tersebut dilakukan oleh 
kaum muslimin. 

Tidak ada bai'at selain kepada amir-amir yang mempunyai syarat-syarat 
tersebut di atas yang terjadi dalam sejarah Islam (hal itu bisa diteliti). Dengan 
demikian bai'at kepada imam-imam j ama' ah (kelompok) yang tidak memiliki 
persyaratan-persyaratan tersebut di atas, adalah bukan b ai' at seb agaimana yang 
dimaksud Nabi dan para sahabatnya. 

Dikarenakan adanya kesalahan dalam memahami dalil-dalil tentang b ai' at, 
mereka menyesatkan umat Islam yang lain. Mereka mengajarkan bahwa setiap 
umat Islam harus melakukan bai' at kepada imam j ama'ah (kelompok) mereka. 
Jika tidak maka kalau mati, matinya jahiliah. Padahal perintah-perintah bai'at 
yang dimaksud oleh dalil itu bukan kepada imam-imam kelompok (j ama'ah) 
melainkan kepada khalifah/amir sebagai penguasa pemerintahan Islam. 

Tatkala tidak/belum ada pemerintahan yang berdasrkan syari' at Islam, 
bukan tuntutan bai'at secara langsrung, melainkan tuntutan untuk 
memperjuangkan tegaknya Negara / khilafah, kemudian mengangkat seorang 
khalifah. Di situlah bai' at itu dilakukan oleh umat Islam disusul dengan ketaatan. 
Bersamaan itu berlakulah dalil: 

Barang siapa mati dipundaknya tidak ada bai'at, maka ia mati, seperti 
matinya orang jahiliyah,(mengapa seperti j ahiliy ah? karena orang-orang 
jahiliyah tidak pernah melakukan bai'at dan tidak mengenal pemerintahan 
seperti zaman Nabi dan shahabat) cfen * 

"Barang siapa melanggar j anjiny a maka sesungguhnya ia telah melanggar 
j anjiny a sendiri seperti yang termaktub dalam Bai' atul Ridwan (janji setia 
untuk berperang dan tidak akan lari dari perang), yang kemudian Allah 
berfirman sebagaimana dalam Al Fath 10. 



Jadi bukan bai 'at seperti yang didasarkan pada dalil <c Laa Islaama 
Illaa BilJama 'ati, Dalil/hadits itu sudah jelas-jelas dha } if (lemah), tidak boleh 
dijadikan dasar dalam agama. Jika yang dijadikan dasar itu dalil-dalil yang 
tidak sah, maka hasilnya tentu tidak sah. 

Sebetulnya mudah jika mau mengikuti dalil-dalil yang shahih. Seharusnya 
semua umat Islam berjuang untuk bisa tegaknya khilafah sebagai satu-satunya 
pemerintahan Islam, sehingga umat Islam bisa melaksanakan bai' at. Akan tetapi 
dengan telah berfirqoh-friqoh dan masing-masing menganggap benarnya sendiri 
serta berj alan sendiri-sendiri maka sulit untuk terciptanya kekhalifahan sesuai 
ketentuan Nabi. Dengan perkataan lain umat Islam yang berfirqoh-firqoh itu 
telah menghalangi sendiri terlaksananya bai'at telah serta taat sesuai ketentuan 
Nabi. Dalam hal ketaatan, hal penting yang harus diingat itu adalah, bahwa 
adanya ketaatan itu bil ma'ruf (dalam hal kebaikan), sehingga tidak ada ketaatan 
dalam hal yang tidak benar/ munkar. Bil ma'ruf dalam hal ini adalah menurut 
Qur 'an dan Hadits shahih, bukan menurut Laa Islaama Illaa BilJama 'ati. 

Hanya saja karena dalam pandangan mereka, yang ma'ruf itu hanya 
yang menetapi aj aran H. Nurhasan Ubaidah, sedangkan yang di luar itu semua 
munkar, maka yang boleh ditaati itu hanya yang menetapi ajarannya H. Nurhasan 
Ubaidah, sehingga orang-orang luar jama'ah tidak boleh ditaati sekalipun itu 
orang tuanya atau suaminya. Di sinilah yang menjadi sumber dari semua 
permasalahan itu. Segala sesuatunya menjadi terbalik. 



4. SURAT AL FATH AYAT 10 

Surat Al Fath ayat 1 dijadikan dasar wajib bai'at (kepada H. Nurhasan 
Ubaidah) dan agar jama'ah tidak lepas daribai'atnya. 

Ini adalah contoh ayat Al Qur'an yang dibelokkan tafsirnya untuk 
dijadikan dasar bai'at kepada H. Nurhasan Ubaidah. Ayat ini tidak ada 
hubungannya dengan bai'at H. Nurhasan Ubaidah. 

Kaitan ayat ini adalah adanya seruan Nabi agar orang-orang mengadakan 
j anji setia kepada Nabi untuk berperang melawan orang-orang Quraisy dan j anji 
agar orang-orang tidak lari dari perang itu. Janji setia ini diadakan dibawah 
pohon dan dinamakan Baitur Ridwan. 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LD! I & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcs^khn LP/ 1 Pjkm Memihtmi Dalil 

Untuk lebih jelasnya mengenai maksud surat Al Fath ayat 1 ini dapat 
dilihat dari asbabunnujulnya secara ringkas sebagai berikut: Pada waktu Nabi 
ingin menjalankan ibadah Umroh, Nabi mengutus Utsman bin Affan untuk 
menyampaikan pesan Nabi kepada pemimpin Quraisy di Makkah bahwa Nabi 
akan ziarah ke B aitullah (bukan untuk Perang). Pemimpin Quraisy (Abu Sofyan) 
menyetujui maksud Nabi tersebut dan menyuruh Utsman untuk melakukan 
thawaf. Tetapi Utsman mengatakan tidak akan thawaf sebelum Nabi Thawaf. 
Karena pernyataannya itu, maka orang Quraisy menawan Utsman sebagai sandra. 
Akan tetapi berita yang sampai ke Nabi adalah Utsman telah dibunuh. Atas 
berita ini Nabi bersabda: 

y /y s s 

"Kita tidak akan tinggal diam hingga kita berperang dengan kaum itu. " 

Kemudian Nabi berseru untuk mengadakan janji setia untuk berperang 
dan j anj i untuk tidak lari dari perang. Dengan adanya j anji setia ini, orang-orang 
Quraisy ketakutan dan mengirim utusan kepadaNabi untuk mengadakan gencatan 
senj ata dan perdamaian. 

Berkaitan dengan janji setia ini Nabi bersabda: "Tidak akan masuk 
neraka orang-orang yang pernah mengikat janji di bawah pohon Baitur 
Ridwan ". 

Terhadap hal tersebut kemudian Alah berfirman dalam Al Fath 10 untuk 
memberi sanjungankepada mereka yang mengadakan j anji. (di Bai'atur Ridwan 
tsb): 







't- 

S S s' S S S S s 



^■"" , ^ 



"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Nabi), 
sesungguhnya mereka berjanji seti a kepada Allah TanganAllah di atas tangan 
mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia 



melanggar janjinya itu akan menimpa dirinya sendiri, dan barang siapa 
menetapi janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberi pahala yang 
besar •". (lihat kitab tafsir Ibnu Katsir, Juz IV hal. 390) 

Jadi yang dimaksud janji setia dalam Al Fath ayat 10 ini adalah janji 
setia kepada Nabi (berarti juga kepada Allah) ntuk berperang. Pengertian tangan 
Allah di atas tangan mereka adalah tangan yang mengadakan janji setia ini. 
Tidak ada hubungannya dengan H. NurhasanUbaidah. Jadi bagaimana mungkin 
ayat ini bisa dijadikan dasar bai'at kepada H. Nurhasan Ubaidah, jika bukan 
karena manipulasi tafsir? 

Jika Nabi memerintahkan untuk berbai ' at (dalam hal ini untuk berperang) 
kepada beliau itu memang haknya dan memenuhi syarat. Tetapi jika kemudian 
seseorang mengambil dasar itu agar orang membai'at dirinya tanpa hak dan 
tidak memenuhi syarat-syarat, maka itu adalah manipulasi. Dan bagaimana jika 
orang-orang lain juga akan meniru hai itu, apa yang akan terjadi? 

Di samping itu dalam rencana perang ini Nabi pun tidak memerintahkan 
semua orang untuk berbai' at, hanya yang sehat dan mampu. 



5. SURATAN NISAA'AYAT59 



"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah 
kepada Rasul dan ulil amri diantam kamu jika kalian berselisih pendapat 

tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah danRasul-Nya "(An- 

Nisaayat59) 

Pengertian ulil amri dalam ayat ini adalah pemimpin baik dari kalangan 
ulama maupun umara. (Tafsir Ibnu Katsir Juz I, hal. 741) 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LOII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Ke&hfan LP// Dalam Memahami Palil 

Ayat ini dijadikan dasar untuk taat kepada H. Nurhasan Ubaidah. Ayat 
ini memerintahkan agar orang-orang taat kepada para pemimpinnya. Tetapi 
keta'atan itu hanya ada dalam hal ma'ruf (kebaikan) dan tidak ada ketaatan 
dalam munkar. Hal ini sesuai dengan hadits Bukhori-Muslim sebagai berikut: 

DctriAbdullcth r a Dari Rasulullah, Ia bersabda: Seorang muslim wajib 
mendengar dan taat kepada penguasa terhadap segala sesuatu yang dia sukai 
maupun tidak dia sukai selama tidak diperintah untuk bermaksiat. Jika 
diperintah untuk bermaksiat, maka tidak ada lagi mendengar dan taat. (HR. 
Bukhori dan Muslim) 

Hal ini juga sesuai dengan asbabun nuzul dari ayat ini yaitu: Rasulullah 
saw mengutus pasukan yang dipimpin seorang Anshar. Tetapi Anshar ini 
mendapat kesulitan dalam memimpin mereka. Kemudian pemimpin tersebut 
mengatakan: "Bukankah Rasulullah telah menyuruh kalian agar mantaati aku?. 
Mereka mengiyakan. Kemudian pemimpin itu menyuruh mengambil kayu dan 
dib akar, dan pemimpin meminta agar mereka masuk ke api itu. Tetapi ada seorang 
pemuda yang berkata: "Sungguh kamu harus lari dari api itu dan menghadap 
Rasulullah saw Jika Rasulullah saw memerintahkan untuk memasuki api, maka 
masukilah. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: "Apabila kalian 
memasukinya, niscaya kalian tidak akan pernah bisa keluar dari api itu untuk 
selama-lamanya. Sesungguhnya ketaatan itu hanya menyangkut yang kema'ruf an 
(Tafsir Ibnu Katsir juz I hal. 739) 

Berdasarkan kepada hal tersebut di atas, maka ketaatan kepada H. 
Nurhasan Ubaidah itu hanya ada jika memenuhi syarat-syarat: 

1 . H. Nurhasan Ubaidah itu harus memenuhi syarat sebagai Ulil Amri. 
Pengertian amir dalam Ulil Amri ini adalah penguasa pemerintahan 
sebagaimana diuraikan dalam Bab Bai'at danTa'at. 

2. Amir (H. Nurhasan Ubaidah) ituharus benar-benar menjalankan tugas- 
tugasnya sebagai ulil amri dalam arti yang sesungguhnya dan perbuatan- 
perbuatan yang ma'ruf (baik) dan s ah, bukan munkar 

3. Pengikutnya harus tahu mana yang ma'ruf dan mana yang munkar 
(perkara yang keji). Jadi bukan asal ikut-ikutan. 



Mengenai amirnya, apakah ia menjalankan tugas-tugas sebagai ulil amri 
yang ma'ruf atau tidak?, Jawaban lengkapnya sudah ada pada pembahasan 
sebelumnya. Yang jelas telah menggunakan hadits dha'if (lemah) dannash-nash 
yang tidak shahih. 

Prihal pengikutnya. Apakah mereka benar-benar telah mengetahui 
dasarnya bai'at dan taat, mengetahui mana yang sah, mana yang tidak sah, 
mengetahui mana yang shahih dan mana yang dha'if (lemah)?. Jika tidak maka 
ituberarti asal ikut-ikutan saja (hal ini tentu dilarang). 

Untuk dapat mengetahui mana yang ma'ruf dan mana yang munkar, 
tentunya harus mau mengkaji atau meneliti. Untuk itu dibutuhkan ilmu yang 
benar. Ilmu yang benar adalah yang didasarkan pada dalil-dalil yang shahih, 
bukan asal dari gurunya, karena gurunya dalam hal-hal tertentu juga belum tentu 

benar. 

Dalamkenyataanya, kebanyakan mereka berkeyakinan, apapun yang dari 
H. Nurhasan itu semua benar. Hal ini dikaitkan dengan pernyataan, bahwa amir 
(H. Nurhasan Ubaidah) tidak mungkin salah. Sehingga dengan demikian 
konsekuensinya sesuai ajaran manqul semua perintahnya harus ditaati. Resikonya, 
jika amirnya (ternyata) s alah maka mereka ikut salah, ikut berdosa. 



6. SURAT ALI IMRAN AYAT 103 



> '' ' 



( s -r : j^ ji) 1$; «J Ci-M j£* \jUsf, 



S s s 



"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah 
kamu bercerai berai . " 

Surat di atas dijadikan dasar pendirian jama' ah /keamiran H. Nurhasan 

Ubaidah. 

Dalam buku yang berjudul "Imam Jama 'ah Dalam Agama Islam ", hal. 

1 8 dan 2 1 , Drs. Nurhasim menyebutkan: 

a. Firman Allah dalam Ali Imron ayat 103 adalah salah satu dalil yang 
mewajibkan berjama'ah (jama'ah H. Nurhasan Ubaidah / LDII) 






H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah 



BAGIAN KE5A TU- Kesuhfan LP! I Pikm Memahami Dalil 

b. Kata-kata Umar "Laa Islaamaa lila BU Jama'ati... " dst adalah 
merupakan penjelasan terhadap ayat di atas. 

D ari bahasan p ada Bab II diketahui bahwa apa yang disebut sebut sebagai 
"kata-kata/ucapan Umar itu adalah hadits dha'if (lemah) dan mauquf, tidak 
shahih, gugur dan tertolak (sehingga tidak sah/tidak bisa itu disebut sebagai 
ucapan Umar), dan tidak boleh dij adikan hujj ah, sedangkan Firman Allah adalah 
haq. Apakah mungkin sesuatu yang haq dari Allah itu dijelaskan/dilaksanakan 
dengan Hadits yang dha'if (lemah), yang dusta? 

Jika kita yakin bahwa wahyu yang haq itu tidak mungkin dicampuri / 
dijelaskan / dilaksanakan dengan yang dha'if (lemah), maka kita harus yakin 
pula bahwa Al Imron ayat 103 itu tidakmungkin penjelasannya/ pelaksanaannya 
ada pada apa yang disebut-sebut sebagai kata-kata Umar. 

Dengan demikian sama sekali tidak benar bahwa apa yang disebut ucapan 
Umar itu merupakan penjelasan dari Ali Imron ayat 1 03 . Bukan sekedar tidak 
benar saja, tetapi dosabesar karena mengotak-atik tafsir Ayat Al Qur 'an. 

Untuk mengetahui maksud dari Al Imron ayat 103 ini dapat dilihat dari 
Asbabun Nuzul dari ayat ini. 

Ayat ini turun berkaitan dengan adanya pertentangan antara kaum Aus 
dengan Khazraj. Gara-gara profokasi orang Yahudi sampai kedua kelompok ini 
berseteru dan akan melakukan perang di tanah lapang. Berita ini sampai ke 
Nabi, maka kemudian Nabi menemui mereka dan membacakan Surat Ali Imron 
ayat 103 itu. Setelah mendengar bacaan ayat tersebut mereka sadar dan menyesal, 
kemudian berdamai. 

Jadi makna ayat tersebut agar manusia berdamai/bersatu pada tali Allah, 
jangan berfirqoh, jangan berpecah belah. Nah, kenyataannya adanya j ama'ah- 
jama'ah yang menggunakan dasar "ucapan Umar yang katanya merupakan 
penjelasan/ pelaksanaan dari Ali Imron 103 agar bersatu itu malah saling 
"bertentangan dan saling mengkafirkan karena masing-masing menyatakan hanya 
jama'ahnya dan amirnya yang sah, padahal keduanya sama-sama mendasarkan 
pada dalil yang sama, yaitu ucapan Umar dan lain-lain untuk melaksanakan Ali 
Imron 1 03 . Logikanya kan tidak mungkin. Firman Allah yang memerintahkan 
agar bersatu, tetapi setelah sama-sama melaksanakan melalui "penjelasannya 
yaitu "ucapan Umar, yang terjadi malahan saling bertentangan. 



Setiap mukmin pasti yakin bahwa tidak akan ada firman Allah yang jika 
dilaksanakan akan menimbulkan kerusakan Hal ini adalah pertanda bahwa 
pernyataan yang mengatakan "ucapan Umar itu merupakan penjelasan/ 
pelaksanaan dari Surat Ali Imronayat 103 adalah tidak benar. 

Yang harus dipahami adalah bahwa "Laa Islaama yang disebut sebagai 
ucapan Umar itu Hadits dha'if (lemah), maka tidak sah dan gugur. 



7, MASALAH 73 GOLONGAN 

Hadits Nabi menyebutkan umat Islam akan berfirqoh (berpecah belah) 
menjadi 73 golongan, 72 golongan masuk Neraka danhanya 1 (satu) golongan 
yang masuk surga, yaitu: 

Menurut riwayat Abu Daud adalah Al Jama' ah 

Menurut Tirmidzi adalah Golongan yang mengikuti (berpegang teguh 

pada apayarig Nabi lakukan (pegangi) dan shahabat beliau. 

Dengan merujuk kepada Hadits tersebut orang LDII ingin meyakinkan 
bahwa yang masuk surga itu hanya Al Jama'ah yang menetapi Ucapan Umar: 
"Laa Islaama lila Biljama'ati dan seterusnya tidak lain adalah Jamahnya H. 
Nurhasan Ubaidah (LDII). Mereka begitu yakin akanhal ini sesuai dengan yang 
diajarkan amir atau guru-gurunya, sehingga mereka rela berkorban apapun untuk 
jama'ahnya. 

Boleh saja yakin, tetapi karena jelas itu dha'if (lemah), tidak sah, apa 
mau berkorban untuk kesalahan?. Apa memang benar atau salah itu harus 
didukung, harus dibela? Apakah benar itu tujuannya? 

Bagaimana jika (secara analisa) nanti akan muncul 73 golongan yang 
menetapi apa yang disebut sebagai ucapan Umar itu dengan masing-masing 
punya amir. Kemudian masing-masing juga menyatakan dirinya yang benar dan 
hanya dirinya yang berhak masuk surga?. Dapatkah salah satu diantara 73 
golongan itu memastikan bahwa hanya golongannya saja yang akan masuk surga, 
mengingat 72 golongan lainnya juga sama-sama menetapi Hadits (ucapan Umar 
dimaksud)? 

Jika hanya salah satu saja yang akan masuk surga, maka yang lainnya 






H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



wmm& 



BAGIAN KESA TU: Ke&hhn LP// Dtkm Mcmifami ' Pilil 

akan menganggap Allah tidak adil, padahal Allah Maha Adil dan mustahil Allah 
tidak adil. Sedangkan Rasulullah saw sudah memastikan satu golongan yang 
masuk surga itu adalah yang mengikuti apa yang Nabi lakukan dan para shahabat 
beliau. 

Apakah kemudian akan mengatakan bahwa yang menetapi hadits (ucapan 
Umar) itu hanya jama'ah LDII?. Ini tidak mungkin karena di Indonesia saja 
pada saat ini yang bers andarkan pada hadits "Laalslaamaa itu sedikitnya ada 
dua golongan. Apakah kemudian juga akan mengatakan yang lain itu tidak benar. 
Hal itu bisa saja. Tetapi sebaliknya yang lain itu juga bisa mengatakan bahwa 
LDII itu yang tidak benar. Al hasil yang ada hanyalah saling mengaku bahwa 
yang paling benar dan yang paling berhak masuk surga itu hanya jama'ah/ 
lembaganya. 



8. MEMPERJUANGKAN KEMURNIAN QUR' AN DAN HADITS 

Dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah terdapat fatwa untuk 
memperjuangkan kemurnian Qur 'an Hadits "Jama'ah. Fatwa itu bagus. Hanya 
saj a kalau salah pemahamannya akan salah pula pengamalannya. 

Pengertian memperjuangkan kemurnian Qur 'an dan Hadits itu seharusnya 
menjaga dan mengamalkan Qur'an dan. Hadits secara murni sesuai dengan 
aslinya, b aik matan maupun kandungan maknanya, tidak dimasuki hal-hal yang 
dha'if (lemah) / tidak shahih, tidak disalah tafsirkan, tidak diubah, dikurangi, 
maupun ditambah. 

Jika ternyata dalam prakteknya sengaj a menggunakan Hadits Laa Islaama 
lila BU Jama 'ati... " yang jelas-jelas dha'if (lemah) itu bahkan dipakai untuk 
sandaran pokok ibadah disamping banyak lagi Hadits-hadits dha'if (lemah) 
lainnya serta tafsir yang tidak benar (lihat halaman Khusus), maka itu berarti 
lisannya berteriak memperjuangj uangkan kemurnian Qur'an-Hadits, tetapi 
perbuatannya justru merusaknya. Ini adalah merupakan tanda-tanda munafiq, 
sedangkan perbuatannya itu sendiri adalah fusuq, dan pelakunya adalah fasiq. 

Ibadah dengan Hadits-hadits dha'if (lemah) yang tidak dilakukan Nabi 
bahkan dilarang, itubukansajaro'yu, tetapi mengada-ngada(bid'ah) dan dengan 
melanggar larangan Nabi itu berarti juga menentang Nabi. 



9. BELAJAR NGAJI DI LUAR JAMA'AH ITU AJAKAN SETAN 
MENUJU NERAKA (HARAM) 

Suatu hal yang seharusnya kita prihatin adalah kenyataan telah digunakan 
Hadits-hadits dha'if (lemah) dan itu dijadikan dasar pokok dalam ibadah. 

Penggunaaan Hadits dha'if (lemah) itu bertentangan dengan sabda Nabi 
"MaaAna Alaihi WaAshaabii yang berarti menyalahi/menyimpang dari hadis 
tersebut. Tetapi dalamkenyataannyajama'ahH. Nurhasan telah begitu terpola/ 
terpaku dengan suatu pemahaman/keyakinan b ahwa: 

H. Nurhasan Ubaidah itu amir yang sah yang harus didukung, dibela dan 
ditaati (padahal sebenarnya taat itu hanya dalam hal ma'ruf) 
Amir H. Nurhasan Ubaidah itu ahli dalam Qur ' an dan Hadits yang tidak 
ada tandingannya jika ahli mestinya tidak akan menggunakan Hadits dha'if 
(lemah) 
- Tidak mungkin amir itu salah (hal ini bertentangan dengan kaidah bahwa 
hanya Nabi yang maksum (terjaga) dari kesalahan) 
Ilmu yang boleh diamalkan itu hanya yang dari Amir Nurhasan Ubaidah. 
Semua yang di luar itu batil (sayangnya dia sendiri justru batal karena 
tidak sah). 

Belajar mengaji (mencari ilmu agama) di luar jama'ah itu ajakan syetan 
menuju neraka. 

Karena adanya keyakinan seperti itu, maka mereka sulit untuk bisa 
menerima keterangan bahwa hadits seperti "Laa Islaama Illaa Bil Jama 'ati 
dan lain-lainnya itu dha'if (lemah). Mereka begitu yakin bahwa semua yang dari 
H. Nurhasan Ubaidah itu pasti benar. Repotnya lagi adanya pemahaman bahwa 
belaj ar ngaj i di luar j ama' ah itu aj akan syetan untuk menuju neraka, j adi haram, 
ditambah lagi adanya pemahaman bahwa belajar agama itu harus dari guru, 
tetapi yang dimaksud guru disini hanya yang telah ditunjuk oleh amir atau 
penerusnya, jika bukan itu namanya bukan guru j adi tidak sah. Padahal ini berarti 
mengharamkan hal yang halal itu termasuk dosa besar. 

Dengan demikian dari mana akan memperoleh ilmu untuk meluruskan 
keyakinan yang keliru itu jika dari luar dilarang (haram), sedangkan ilmu yang 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KE5A TV: Kesikfan LP// Pjkm_ Memzhimi Pilil 

dari dalam telah membenarkan hal-hal yang sebenarnya keliru itu, maka kesalahan 
itu bisa lestari (akan terus berlangsung). Apakah akan menganggap jika guru 
dari dalam itu kalau salah kita tidak ikut salah hanya karena salah memahami 
dalil yang mereka pakai: 

"Barang siapa yang beramal dalam jama 'ah karena Allah, jika benar Allah 
akan menerima amalnya, dan jika keliru Allah akan mengampuninya, (padahal 
hadits ini dha'if (lemah). 

Mereka mengartikan jama' ah berdasarkan "LaalslaamalllaBilJama 'ah 
yang dha'if (lemah) itu, sehingga j ama' ah itu diartikan j amanahnya yang telah 
mereka tetapi (Jama' ah H. NurhasanUbaidah), padahal pengertian jama' ah itu 
seharusnya sesuai dengan "Maa ana 'alaihi wa ashaabii tadi, yang wujudnya 
adalah "Jama' atul Muslimin, satukesatuanumat Islam dengan satu imam sebagai 
penguasa tertinggi, (memang kalau dari dasar/ awalnya sudah keliru, maka ujung- 
ujungnya akan ikut keliru). 

Jangankan mengaji, mendengarkan ceramah agama atau membaca naskah 
agama dari orang luar j ama' ah saja dilarang. 

Apakah mereka tidak memahami bahwa kebenaran itu harus diambil dari mana 
saja, bahkan dari syetan (Hadits Qudsy tentang ayat Quraisy). Kalau dari syetan 
saja diambil, masa dari ulama besar hanya gara-gara orang luar jama'ah H. 
NurhasanUbaidah, diharamkan. 

Mengharamkan belajar/ngaji di luar ini disadari atau tidak merupakan 
tindakan pembodohan dan berfikir sempit terhadap jama' ahny a sehingga tidak 
memungkinkan memperoleh kebenaran dari luar, sehingga jika terjadi kesalahan, 
maka kesalahannya itu akan tetap berlanjut. Sebaliknya dalam hal mengaji kepada 
yang aqidahnya menyimpang, hal itu kan berarti mengaji untuk ikut menyimpang, 
sehingga bagaimana hal ini bisa berpahala?. Ini adalah sesuatu yang perlu 
direnungkan. 



10. ISTILAH "MENGARANG, PENDAPAT SENDIRI, RO'YU" 

Sering kita mendengar ungkapan seperti tersebut di atas. Biasanya terjadi 
dalam hal sesuatu yang ada unsur perbedaan. Bisa saj a hal itu benar, tetapi jika 
itu menjadi modus setiap berbeda terus dikatakan mengarang (ro'yu) tanpa 






meneliti lebih dulu, tentu itu keliru, apalagi kalau hanya sebagai suatu upaya 
untuk menolak apa yang tidak disetujui. Sebaliknya orang yang mengatakan 
"itu mengarang juga bisa dia sendiri yang sebetulnya mengarang. 

Misalnya saat kita s ampaikan ulasan bahwa Hadits "Laa Islaama illaa 
bil Jama'ati itu berdasarkan kaidah tidak sah, sehingga apa-apayang didasarkan 
dari Hadits itu tidak sah, maka ulasan itu dikatakan "mengarang dan dalil yang 
kita sampaikan itu dikatakan "karangan orang" ro'yu, bathil. Bahkan apa-apa 
yang tidak bersumber "Laa Islaama. Illaa bil jama'ati" dikatakan karangan. 
Sebaliknya mereka mengatakan, Qur'an Hadits yang sah itu hanya yang telah 
disahkan oleh amir Nurhasan Ubaidah. Padahal keamiran Nurhasan Ubaidah 
itu didasarkan pada Hadits dha'if (lemah) yang tidak sah sehingga tidak sah 
pula keamirannya, dan itu bukan mengarang. 

Dari contoh tersebut, mana yang sebetulnya mengarang? kiranya bisa 
kita analisis sendiri. Yang jelas ro'yu dalam arti mengikuti pendapatnya sendiri 
tanpa dalil yang shahih itu dilarang, dan sembarang mengatakan "itu karangan 
tanpa tahu betul dasar-dasarnya itu adalah tercela. Apa lagi kalau yang benar 
dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar itu menjadi berdosa. Merumuskan 
sesuatu dengan dalil yang tidak shahih itu pada dasarnya adalah mengarang. 
Jadi menyatakan kafir orang diluar jama'ahnyayang sumbernya dari hadits dha'if 
(lemah) itu adalah juga mengarang, tetapi ini tidak disadari. 

Saya hawatir jika istilah ro'yu itu dijadikan modus sekedar untuk 
menolak sesuatu yang tidak disetujui, maka mereka jadi benar-benar tidak tahu 
mana yang sebetulnya ro'yu dan mana yang dahi, sehingga yang dalil dikatakan 
ro'yu, sebaliknya yang ro'yu dikatakan dalil. Hal ini sepintas sederhana tetapi 
dampaknya bisa berbahaya karena bisa merusak aqidah. 



11. PENGARUH DALIL TERHDAP AQIDAH, PERILAKU IBADAH, 
DAN HASIL AMALAN (Dosa atau pahala ) 

Jika dalil yang dipakai salah, maka aqidah bisa ikut salah, dan Aqidah 
itu laksana j antung yang menggerakkan darah ke seluruh tubuh, sehingga anggota- 
anggota tubuh bisa beraktifitas. 

Begitulah aqidah menjadikan bagaimana perilaku ibadah itu dilakukan. 

ImmM ■ HMC. Shodiq» Akar Kesesalan LD I f & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesikhn LP// Dihm Mcmihzmi Pjlil 

Jika aqidah itu benar, maka perilaku ibadah itu diharapkan benar. Jika aqidahny a 
salah, maka perilaku ibadah itu akan salah. Aqidah itu fondasi yang diatasnya 
berdiri syari' at. Jika aqidah sebagai fondasi rusak/roboh, maka akan rusak semua 
syari'atyang ada di atas aqidah tersebut. 

Jika aqidah rusak/salah, maka beberapa kemungkinan bisa terj adi: 

1 . Sesuatu yang sebenarnya benar, bisa dianggap salah. 

2. Hal-hal yang sebenarnya keliru malah dipuja-puja. Orang-orang yang 
menurut syara 5 harus dihormati, malahan dizalimi. Bahkan yang muslim 
pun bisa dianggap kafir, sehingga seharusnya diperlakukan, sebagai 
muslim, diperlakukan sebagai kafir. 

3 . Ibadah yang seharusnya dihindari malah ditekuni, sebaliknya ibadah yang 
seharusnya dijalani, malah diingkari. 

4. Sesuatu yang berdosa dianggap berpahala, dan sesuatu yang berpahala 
malahan dianggap berdosa. Dan lain-lain (menjadi terbalik). 

Masih banyak lagi dampak dari aqidah itu yang intinya jika aqidahkeliru 
(terbalik), maka perilaku ibadah dan hasilnya pun terbalik pula. 

Oleh karena itu kalau aqidahnya keliru, maka semakin banyak perilaku 
ib adah dari aqidah yang keliru itu, hasilnyapun semakin banyak kelirunya. Contoh 
nyata adalah Khawarij, yang ibadah syari'atnya luar biasa tetapi dikutuk Nabi 
keluar dari Islam karena aqidahnyayang suka mengkafir-kafirkan orang-orang 
yang tidak mengikuti pahamnya. 

Begitulah bahayanya jika aqidah itu keliru. Olehkarena itu harus berhati- 
hati benar dalam mengambil dalil-dalil yang dapat mempengaruhi aqidah, yang 
pada ahirnya akan berpengaruh pada hasil ibadah. Percayalah kepada Qur ' an 
dan hadits yang shahih, dan jangan begitu saja percaya kepada siapapun tanpa 
meneliti kebenarannya. Kesalahan orang yang kita ikuti, akan menjadi kesalahan 
kita juga, dan dosa kita juga. 

12. AJARAN FATHONAH BITHONAH 

Di dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah terdapat ajaran yang disebut 
Fathonah Bithonah. Secara teori, intinya adalah diperbolehkan menyampaikan 



secara tidak transparan dalam hal-hal yang bila dikemukakan secara transparan 
akan dapat merugikan atau tujuan jama'ah tidak tercapai. Akan tetapi dalam 
prakteknya, Deng an istilah f athonah bit thonah itu telah melegalisir kebohongan, 
sehingga dengan alasan untuk kepentingan j ama' ah orang boleh bohong. Yang 
terjadi, dalam keluargapun boleh bohong. Antara suami/istri saling berbohong, 
dianggapnya tidak berdosa. Akibatnya rumah tangga pun bisa tidak harmonis. 
Fathonah Bithonah ini disadari atau tidak, akan menjadi benih kemunafikan. 

13. JAMINAN DAN PASTI MASUK SURGA 

Ada harapan yang sifatnya optmistis dalam ajaran H. Nurhasan Ubaidah 
yaitu adanya jaminan dan pasti masuk surga bagi yang mengikuti ajaran H. 
Nurhasan Ubaidah atau guru-gurunya. Hal ini dinyatakan secara jelas dalam 
pernyataan sebagai berikut: 

a. Allah memilih kita menjadi golongan yang selamat, mampu 
mengamalkan Islam sesuai tuntunan Rasulullah, secara murni (Qur 'an 
Hadits Jama'ah) mati 'dijamin' surga, selamat dari neraka.(Bab: 
Menjaga Kemurnian Qur 'an Hadits J ama 'ah, hal. 1) 

b. Qur'an-Hadits- Jama'ah adalah satu-satunyan kebenaran dan satu- 
satunya jalan ke surga. Berarti di luar Qur'an Hadits Jama'ah masuk 
neraka. (Bab: Menjaga Kemurnian Qur'an Hadits Jama'ah,ha\. 18) 

c. Qur'an Hadits Jama'ah yang kita tetapi hasil perjuangan Bpk. H. 
Nurhasan Ubaidah pasti surga. Tidak Qur'an Hadits Jama'ah keneraka 
(Bab: Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama'ah, hal.l) 

d. Kalau Qur 'an Hadits Jama'ah dikatakan sesat, maka sejagad rata salah 
semua (Menjaga Kemurnian Qur 'an Hadits Jama 'ah, hal 8). 

e. Diajak ngaji Qur'an dan Hadits jika tidak secara manqul (ke H. 
Nurhasan Ubaidah atau guru-gurunya) maka wajib dengan tegas 
menyatakan itu ajakan batal,, pengaruh Syetan, Iblis, Laknat, Jahanam 
ajakan ke neraka (berati haram). (Bab: Menjaga Kemurnian Qur 'an 
Hadits Jama'ah, hal. 10) 

Dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan yang senada tentang 
adanya jaminan pasti masuk surga bagi yang mengikuti ajaran H. Nurhasan 



wmm 



llllll ■ HMC. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 
1111 



BAGIAN KESA TV: Ke&hhin LPII Pzkm Memthzmi Pilil 

Ubaidah dan pasti neraka bagi yang tidakmengikuti. Inilah yang menjadi daya 
tarik orang untuk mengikuti ajaran ini, tetapi jika direnungkan, apalah artinya 
semua pernyataan itu, jika dalil yang dijadikan sandaran pernyataan-pernyataan 
itu adalah hadits dha'if (lemah), karena secara kaidah akhirnya semua akan 
gugur bersamaan dengan gugurnya dalil tersebut. Dan bagaimana seandainya 
orang tahu akan hal ini? 

Mungkin juga menyesal, tetapi mungkin ada juga yang tidak 
memperdulikan itu karena apapun yang terj adi memang sudah siap. 



APAKAH JAMINAN PASTI MASUK SURGA ITU TERCAPAI? 

Adanya harapan untuk masuk surga itu sebagai muslim tentu mendo' akan 
(sekalipun seandainya ini tidak diharapkan, karena orang luar dianggap kafir 
yang do'anya ditolak). Akan tetapi apakah itu akan dijamin/pasti masuk surga, 
j awabannya bisa dianalisis sebagai berikut: 

a. Yang memiliki surga itu Allah. Oleh karena itu siapa saja yang ingin 
masuk surga harus mengikuti aturan Allah. Aturan Allah itu sudahbaku. 
Tidak boleh diubah, ditambah, dikurangi. 

b. Allah maupun Rasulullah saw. tidak pernah menyuruh tanpa dalil, untuk 
mengikuti/berpegang pada Qur'an dan Hadits yang hanya dikeluarkan/ 
diajarkan oleh H. Nurhasan Ubaidah' yang disebut 'Qur'an Hadis 
Jama 'ah \ Rasulullah S. A. W. memerintahkan kepada siapa yang ingin 
selamat agar hanya berpegang pada Qur 'an dan Hadits saj a secara murni, 
tidak diubah, tidak dikurangi, tidak ditambah dengan tambahan kata- 
kata apapun. 

c. Yang digunakan untuk mengangkat H. Nurhasan Ubaidah menjadi amir 
adalah Hadits yang terbukti dha'if (lemah) berat. 

d. Nabi melarang dan mengutuk penggunaan Hadits dha'if (lemah) untuk 
dijadikan sandaran ibadah. 

e. Pernyataan-pernyataan: dijamin dan pasti, paling benar itu bukan 
Islamiyah tetapi Yahudiyah dmNashraniyah. Dalam Surat Al Baqarah 
ayat 111 Allah berfirman: 



* s s } s 



[S s S :;^\ )...JjU'j\ &'{tfy> tiJ&M j£-J# \JV> 



Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Tidak akan masuk 
surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani... 
Sedangkan orang Islam itu jika berbicara untuk masa yang akan datang 
menggunakan insya Allah sesuai Al Kahfi 24. 

f. Tidak ada dalil yang mengharamkan belajar/ngaji diluar jama'ah H. 
Nurhasan Ubaidah. Sebaliknya mengharamkan sesuatu yang halal atau 
sebaliknya itu berdosa (lihat Q S Al Maidah 87). 

g. Menetapi Qur'anHadits Jama'ah yang dirintis Bpk. H. Nurhasan Ubaidah 
yang didasarkanpada "ucapan Umar dikatakan satu-satunya jalan untuk 
menuju surga, sedangkan yang disebut ucapan Umar itu Haditsnya dha'if 
(lemah), dan Hadits dha'if (lemah) dilarang untuk dijadikan hujj ah. 
Maka akal sehat kita akan bertanya. "Mungkin- kah kita masuk surga 
dengan jalan yang dilarang? 

h. Semua fatwa-fatwa/ajaran- aj aran/ibadah-ibadah yang bersumber dari 
Hadits dha'if (lemah) akan gjugur dengan sendirinya bersamaan dengan 
gugurnya hadits dha'if (lemah) yang dipakai sebagai sandaran tersebut. 

i. Tidak boleh menyatakan dengan pasti bahwa si Fulan masuk surga atau 
neraka kecuali terhadap seseorang yang sudah dinyatakan oleh nash / 
dalil. 



HAL - HAL LAIN 

Hal-hal lain selain yang telah dibahas dalam tulisan ini, apapun 
permasalahnnyajika hal itu terkait/disandarkan/ bersumber dari Hadits "Laa 
Islaama lila BU Jama 'ati, dapat dijawab dengan suatu kaidah Segala sesuatu 
yang bersumber dari sesuatu yang dilarang (haram) maka hasilnya akan 
haram pula, Karena Laa islaama itu Hadits yang dilarang digunakan, maka 
semua mas alah yang bersumber/ dihasilkan/dirumuskan dari hadits itu hukumnya 
dilarang/tidak sah. 



•A'y^y'-A'y'-A- 



WmmM ■ HMC - Shodiq, Akar Ke sesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



Wk%%WkW$ 



BAGIAN KESA TU: Kestkfan LP// Ojkm Memzhjmi Pilil 

BUKU: ISLAM JAMA'AH DIBALIK PENGADILAN MEDIA MASA 
(Tulisan Ludhy Cahyana) 

Dilatarbelakangi pengamatannya bahwa Islam Jama'ah selalu dikucilkan 
bahkan tidak jarang mendapat tekanan fisik dan psikologis maka Sdr. Ludhy 
Cahyana melakukan penelitian yang dimunculkan dalam bukunya berjudul 
"ISLAM JAMA'AH DALAM PENGADILAN MEDIA MASA 

Tujuan penelitiannya adalah: 

1 . Untuk meneliti benarkah mereka (LDII) itu sesat? 

2. Untuk membongkar siasat Media Masayang menilai buruk LDII 

Untuk keperluan penelitian itu ia telah melakukan observasi selama dua 
tahun dan tinggal di Pesantren Kaliawen dan Burengan Kediri. Dalam 
pengamatannya, Media Masa telah berperan dalam menilai buruk LDII, dan 
telah dijadikan agen prasangka oleh sekelompok bekas anggota Lemkari, 
Departemen Agama, MUI dan golongan Islam lain. Media juga telah berupaya 
membentuk opini buruk terhadap LDII dimana pembacapun mengamini. Dalam 
pandangan penulis buku itu, LDII selalu berpegang pada Qur ? an dan Hadits, 
dan dalil Al-hadits yang dipakai tidak dapat dikatakan lemah. Ia berpendirian 
bahwa tak satupun memiliki otoritas menganggap yang lain itu sesat, apalagi 
pernyataan bahwa LDII sesat itu belum terbukti hukumnya. Ludhy Cahyana 
menyarankan agar energi untuk saling gebuk terhadap umat Islam dialihkan untuk 
hal-hal lain yang lebih penting, kemanusiaan, kebodohan, politik, tehnologi dan 
budaya. Pada akhir tulisannya, ia mengeluarkan statemen dalam bentuk 
pertanyaan: Pengamalan agama mereka selalu berusaha berdasarkan dengan dalil 
dari Al Qur'an dan Al Hadits. Apakah seperti mereka itu layak disebut sesat? 

Tertarik untuk mengulas hasil penelitian Sdr. Ludhy Cahyana dalam 
bukunya itu kesan yang diperoleh adalah bahwa penelitian itu belum (tidak) 
sampai menyentuh pada inti permasalahan yang ia teliti. Pada umumnya penelitian 
yang berkaitan dengan permasalahan atau hal-hal yang bermasalah setidak- 
tidaknya akan menyoroti apa yang menjadi masalah, mengapa hal itu 
dipermasalahkan dan siapa yang mempermasalahkan, kemudian mencarikan 
jawaban atau saran-saran bagaimana untuk mengatasi masalah tersebut agar 



tidak bermasalah lagi. 

Yang terjadi, terkesan sangat jelas bahwa penulis buku itu cenderung 
kepada upaya pembelaan kepada LDII dan keburu memprotes media masa dan 
masyarakat lain yang ia anggap mengucilkan atau melakukan penekanan- 
penekanan terhadap LDII. 

Ia memprotes media dan masyarakat sebagai berprasangka buruk terhadap 
LDII, tetapi ia telah ikut terperangkap berprasangka pula bahwa masyarakat/ 
pembaca adalah bodoh sehingga hanya mengamini media massa. Berprasangka 
bahwa pembaca (berarti semua) hanya mengamini (tentunya karena bodoh), itu 
tidak tepat. Upaya pembelaan Sdr. Ludhy ini ternyata diakui oleh Sdr. Eriyanto 
yang memberikan pengantar pada buku tersebut. 

Jika ia benar-benar ingin melakukan penelitian, maka yang perlu ia cari 
mestinya adalah jawaban yang sebenarnya mengapa LDII itu (istilah dia) 
dikucilkan atau ditekan? Dan benarkah LDII itu sesat? 

Sebetulnya mengapa LDII itu dipermasalahkan, tidak perlu diteliti lagi, 
karena sudah jelas dan faktual, yaitu akibat fatwa-fatwa/pernyataan- 
pernyataannya bahwa: 

1 . Yang sah disebut Islam itu hanyalah j ama' ah LDII (yang menurut mereka 
menetapi Qur'an Hadits Jama'ah) 

2. Orang-orang luar LDII itu adalah sesat, munkar, musuh Allah, kafir, calon 
penghuni neraka. Tidak boleh dikasihi, tidak boleh diikuti, tidak boleh 
dimakmumi, tidak boleh dido'akan, tidak boleh disolati jenazahnya, siapa 
pun itu termasuk anak, istri, suami, orang tuanya dan lain-lain 

3 . D an masih b any ak lainnya yang senada. 

Fatwa-fatwa/pernyatan tersebutlah yang menusuk hati/ menyulut umat 
muslim lain untuk bereaksi. Dengan perkataan lain adanya hal-hal yang dinilai 
memusuhi LDII tersebut muncul akibat ulah LDII sendiri. 

Fatwa-fatwa/pernyataan tersebutbertebaran dan terpampang diberbagai 
buku atau ajaran-ajaran LDII. Jadi disayangkan kalau observasinya selama 2 
tahun itu tidak sampai membaca atau mengetahui fatwa-fatwa itu. 

Jika saja Sdr Ludhy menemukan masalahnya ada di sini, barangkali Ia 
akan mencari sebabnya mengapa LDII mengeluarkan fatwa-fatwa/pernyataan- 
pernyataan seperti itu, dan jika ditelusuri lebih lanjut akan ditemukanlah sebabnya, 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Kesah fa n LP/f Pjhm Memahami Pjlil 

yaitu karena LDII secara fakta mendasarkan semua itu pada Hadits yang mereka 
sebut "Ucapan Umar yaitu "Laa Islaama Illaa Bil Jama'ati dan seterusnya yang 
juga mereka pakai sebagai dasar pembentukan j ama' ah, pengangkatan Amir H. 
NurhasanUbaidah, bai'at serta ta'atnya. 

Dari situ karena Hadits ini menjadi sentral dari ibadahnya, tentunya ia 
akan/perlu untuk meneliti Hadits itu shahih atau tidak dengan menggunakan 
parameter dalil-dalil yang shahih. Untuk keperluan itu ia akan mencari kitab- 
kitab tentang rijal dan kaidah-kaidah tentang Hadits sehingga sampailah pada 
kitab Thabctqotul Huffadz, MizanulI'tidal dan Musthalahul Hadits. 

Di sana ia akan ditemukan perawi-perawi hadits itu tsiqoh, shahih atau 
tidak, kedudukan hadits tersebut shahih atau tidak. Dari situ Sdr. Ludhy Cahyana 
akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari yang ia ingin teliti tentang 
LDII. Jadi untuk bisa menj awab penelitiannya, ia perlu lebih concern pada dalil- 
dalil shahih. Sementara yang ia lakukan adalah lebih banyak menggunakan teori- 
teori barat, sedangkan dalil-dalil yang ia angkat hanyalah melansir dalil-dalil 
yang telah dipakai LDII. 

Ia mengatakan bahwa dalil Hadits yang dipakai LDII tidak lemah, tetapi 
tanpa menyebutkan apa alasannya, sehingga secara ilmiah apalagi secara kaidah 
tidak dapat dipertanggungjawabkan. 

KESIMPULAN 

Penelitian sdr. Ludhy Cahyana masih sepotong-sepotong belum 
mencapai pada inti permasalahan yang ia ingin teliti (belum final). Juga belum 
menggunakan dalil-dalil yang selayaknya diterapkan, terburu larut dalam hal- 
hal yang sifatnya pembelaan dan memvonis media salah, sehingga belum 
memperoleh jawaban yang sebenarnya menj adi tujuan penelitiannya, akibatnya 
sehingga pula s aran-sarannyapun masih bisa dibilang klise. Oleh karena itubaik 
kiranya jika penelitian sdr. Ludhy Cahyana tersebut dapat diteruskan sampai 
final dengan menggunakan parameter dalil-dalil yang shahih. Dengan demikian 
diharapkan akan memperoleh j awaban yang sebenarnya dari tujuan penelitiannya 
(yang menurut istilah dia)"Benarkah mereka itu sesat? sehingga akan dapat 
memberikan saran-saran yang sangat berguna untuk menyelesaikan mas alah yang 
ada. 



RINGKASAN DAN KESIMPULAN 
A, RINGKASAN 

Dari seluruh tinjauan terhadap ajaran H. Nurhasan Ubaidah di atas pada 
intinya dapat disampaikan ringkasan sbb: 

1. Bahwa Hadis: (versi ajaran H. Nurhasan Ubaidah dibawah ini): 

y s s / s s s / / / / / /s / 

aslinya diriwayatkan oleh ad-Darimi. 

Hadis ini dlaif dengan tingkat sangat dlaif, dikarenakan: 

- Dari jalur sanadnya hadis itu sangat dlaif disebabkan para perowinya secara 
beruntun tidak shahih, sebagaimana dinyatakan dalam para Muhaditsin dalam 
"Thabaqatul Huffadz" dan "Mizanul FtidaT. 

- Dari j alur matan/sumbernya adalah mauquf, bukan dari Nabi. 

- Dalam versi H. Nurhasan Ubaidah hadis ad Darimi yang dlaif ini menjadi 
lebih dlaif lagi karena adanya illat, yaitu lafadh "Bai'at" yang disisipkan 
dalam matan hadis sehingga menambah materi/ma'na hadis. 

Dengan demikian Hadis tersebut berdasarkan kaiadah2 ilmu hadis adalah 
tidak shahih dan tertolak, tidak boleh dijadikan hujjah Jama'ah, keamiran H. 
Nurhasan serta bai'at dan taat kepadanya dibangun /didasarkan pada hadis dlaif 
ini (lihat halaman 3 -4 ). 



2. Laa Islaama Illaa bil lama' ati dst, bukan ucapan Umar dan 

bukan penjelasan Surat Al Imron 1 03» 

Berdasarkan tahrij hadis, Laa Islaama Illaa bil Jama'ati.. itu Hadis Dlaif 
yang sangat dlaif (tidak shahih). Hadis dlaif itu dilarang oleh Nabi. Maka mustahil 
itu merupakan ucapan Umar, dan mustahil firman Allah yang suci itu 



■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 

lillll 



BAGIAN KESA TV: Keghjw LP// Pjhm Memahami Dalil 

penjelasannya ada pada Hadis dlaif, sehingga mustahil Surat Al Imron 103 itu 
penjelasan/ pengamalannya ada pada Laa Islaama Illaa bil Jama' ati yang dlaif. 
Oleh karena itu tidak benar pernyataan H. Nurhasim dan Jama'ah LDII bahwa 
Laa Islaama Illaa bil Jama'ati itu adalah ucapan Umar dan merupakan penjelasan 
Surat Al Imron 103. 

3, Penggunaan Surat Al Fath 10 untuk dalil pembai'atan H. Nurhasan 
Ubaidah adalah manipulasi dalil yang berarti penyalah gunaan ayat- 
ayat Allah. 

Sesungguhnya Surat Al Fath 10 turun sehubungan dengan adanya 
Bai'atur-Ridhwan (Bai'at kepada Rosulullah saw. untuk berperang melawan 
Qurays dan tidak akan lari dari perang itu). Maksud Firman Allah dalam ayat 
itu: 

1. "Bahwasanya orang2 yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya 
mereka berjanji setia kepada Allah", maksudnya adalah : orang2 yang 
mengadakan janji setia kepada Rosulullah saw untuk berperang (bukan 
oang2 yang berj anji setia kepada H. Nurhasan Ubaidah) yang pada hakekatnya 
berj anji setia kepada Allah. 

2. Maksud kalimat "tangan Allah diatas tangan mereka" adalah tangan orang2 
yang mengadakan j anji setia untuk berperang itu. Sedangkan maksud kalimat 
"barang siapa melanggar janjinya niscaya akibat melanggar janji itu akan 
menimpa dirinya sendiri" adalah: janji kepada Rosulullah saw. untuk 
berperang dan tidak akan lari dari perang. 

Dalam hal ini Imam Ahmad meriwayatkan sabdaNabi ;"Tidak akanmasuk 
neraka seseorang yang pernah mengikat janji setia di bawah pohon ini" 
(maksudnya B ai ? atur-Ridhwan) . 

Jadi kesemuanya itu berkaitan dengan bai'at (Bai'atur-Ridwan), sama 
sekali tidak ada kaitannya dengan pembaiatan kepada H. Nurhasan Ubaidah, 
Jika kemudian ayat ini dijadikan dalil untuk pembai'atan H. Nurhasan Ubaidah, 
maka ini merupakan penyalahgunaan ayat atau dalil yang bukan pada tempatnya, 
sehinggabukan sajatidak syah, tetapi suatu perbuatan yang dilarang danberdosa. 



£>£: 



4. H. Nurhasan Ubaidah sendiri tidak memenuhi syarat untuk dibai'at. 

Bai'at imaroh itu dilakukan kepada orang yang dalam kedudukannya 
sebagai Khalifah /penguasa tertinggi dalam Jama'atul Muslimin.dan harus 
memenuhi syarat2 tertentu untuk itu (silahkan periksa kembali sej arah Nabi dan 
para Shohabat. Semua yang dibai'at itu adalah yang dalam kedudukan sebagai 
Khalifah) H. Nurhasan Ubaidah bukan Khalifah, dan tidak memiliki syarat2 
umum lainnya untuk dibai'at (lihat halaman 35-73-76 ). Sedangkan jama'ah H. 
Nurhasan Ubaidah itu sendiri juga bukan Jama'atul Muslimin sebagaimana yang 
dimaksud hadis Nabi yang diriwayat kan Buchori - Muslim dari Khuzaifah. 

Dalam hal syarat khusus H. Nurhasan Ubaidah juga tidak memenuhi 
syarat. Seorang amir/Imam Jama'atul Muslimin harus sepenuhnya berpegang pada 
Qur'an dan Hadis shahih secara murni. Tidak boleh menggunakan/mengamalkan 
Hadis2 dlaif, dalil2 yang tidak shahih, atau menggunakan dalil2 yang bukan 
pada tempatnya.dll. Singkatnya tidak bolehmenyimpang dari Qur'an dan Hadis 
shahih. Sedangkan H. Nurhasan Ubaidah secara gamblang dan fakta telah 
mengamalkan dan mengajarkan Hadis2 dlaif(bahkan untuk dijadikan pokok dasar 
aqidah, dan pengkafiran orang2 yangdiluar jama'ahnya, dll. yang jelas2 dilarang. 

Dengan kenyataan seperi itu H. Nurhasan Ubaidah secara kaidah tidak 
memenuhi syarat baik umum maupun khusus sehingga tidak berhak untuk dibai'at 
imaroh. Ini berarti orang2 yang membai'atnya pun menyalahi kaidah. 

5. Pengertian Al Jama'ah yang dimaksud Nabi itu bukanlah jama'ah 
kelompok (Jama'atun minal Muslimin), bukan jama'ah yang 
didasarkan pada Laa Islaama Illaa bil Jama'ati, bukan jama'ah H, 
Nurhasan Ubaidah, tetapi Jama'atul Muslimin sesuai sabda Nabi 
yang diriwayatkan Buchori-Muslim dari Khuzaifah (lihat halaman 
68 -69). 

Dengan demikian golongan yang akan masuk surga yang dalam Hadis 
Abu Daud disebut Al Jama'ah itu berdasarkan sabda Nabi adalah Jama'atul 
Muslimin, bukan golongan (Al Jama'ah) yang didasarkan pada hadis dlaif. 

6. Mengamalkan dalil2 berjama'ah, beramir, berbai'at dan taat, 

| ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDii & Penipuan Triliunan Rupiah 



iillli 



BAGIAN KESA TU'. Kc#hh*n LP// Pjhm Mcmitomi Pilll 

sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an dan Hadis2 Nabi itu 
seharusnya didasarkan/mengacu kepada sabda Nabi: 

a. Hadis Tirmidzi:, 



* \ / 

"Apa yang Aku dan para shohabat ada di atasnya' 3 . 

b. Buchori - Muslim: 

y y y y y y 

s y > » S + * S £ s fy ' l l 



• x 



Nabi bersabda: "Kamu pegangi Jama' ah kaum Muslimin (jama'ah dari 
seluruh umat Islam) dan Imam mereka, (bukan Jama 'tun minal Muslimin 
- Jama'ah dari sebagian Umat Islam). Aku bertanya: Jika tidak ada 
Jama' atul Muslimin dan Imamnya, maka jauhilah firqah-firqah itu 
semuanya walaupun kamu harus menggigit pada akar pohon hingga kamu 
dihampiri kematian, sedangkan engkau dalam keadaan demikian. " 

c. Hadis Thobaroni: 

y i s i t i } y y y y > e £ 

W I3i jX*j a^ illl Ji> aIJI J^j JB JIS jjjj^JI J^^tf 

• Jft y yy y 



^ yy 



u Dari Abu Said berkata, Nabi saw bersabda: Bila dilakukan pembai 'atan 
terhadap dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari 






keduanya. " Hadits Muslim 

Mengapa berjama'ah dan berbai'at itu harus mengacu kepada tiga Hadis 
tersebut diatas, bukan Laa Islaama illaa bil Jama'ati? 

- Karena Hadis Laa Islaama illaa bil Jama'ati. itu Hadis dlaif. Berdasarkan 
kaidah, hadis dlaif itu tidak boleh dan tidak syah dijadikanhujjah. Dari segi 
hukum dinilai tidak berlaku sehinggaharus dibuang.Dengan demikian tidak 
ada alasan untuk menyandarkan sesuatu pada Laa Islaama illaa bil 
Jama'ati,.. dst 

- Hadis2 sahih tentang berjama'ah itu ada pada tiga Hadis tersebut di atas 
bukan pada Laa Islaama lila bil Jama'ati. . . dst yang dlaif. 

- Menyatakan bahwa Laa Islaama Illaa bil Jama' ati itu hanya pendukung adalah 
bertentangan dengan fakta/pernyataan2-nya sendiri bahwa kewajiban 
berjama'ah, beramir, berbai'at dan ta'at, termasuk pengkafiran kepada 
golongan diluar jama'ahnya itu pada Laa Islaama Illaa bil Jama'atL.dst 
(lihat 6 pernyataan pada halaman 3 - 4 ), sehingga hal tersebut hanyalah 
berdalih. Sedangkan apa yang dikatakan masih banyak dalil lain tentang 
berjamaah, beramir, bai'at dan taat itu pengamalannya harus mengacu pada 
yang tersebut dalam a-b-c tersebut diatas. 

Orang2 yang ahli hadis tentunya tahu bahwa Laa Islaama Illaa bil Jama' ati 
itu adalah hadis dlaif, dan tahu pula bahwa hadis dlaif tidak boleh dijadikan 
sandaran beribadah, sehingga tidak akan menyandarkan pengamalan berjama'ah 
itu pada Laa Islaama ilaa bil Jama' ati. . . dst .kecuali memang sengaja menyalahi. 

7, Takfir (pengafiran) dengan mendasarkan Laa Islaama Illaa bil 
Jama'ati. ♦.dst.adalah merupakan penyimpangan aqidah dan 
perbuatan zalim yang berat 

Adalah menjadi aqidah jama'ah H, Nurhasan Ubaidah bahwa yang 
dimaksud orang Islam itu hanyalah orang Islam yang sudah menjalankan sy ari' at 
Islam disempurnakan dengan berjama'ah, beramir (H. Nurhasan Ubaidah), 
berbai'at dan ta'at (kepadanya). Artinya yang disebut Islam itu hanyalah orang 






■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan ILDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesalahan LP/l Pak n? Memahami Palil 



Islam yang menjadi Jama'anya H, Nurhasan Ubaidah. Dihiar itu menurut mereka 
bukan Islam (kafir), orang2 yang bermaksiat. Akan tetapi aqidah itu didasarkan 
pada Hadis Laa Islama Mata biljama'ati yang dlaif, sehingga tidak syah. 

Tidak ada dalil lambang menyatakan orang Islam yang diluarj ama' ah ( 
H. Nurhasan) itu kafir selain Laa Islaamaillaabil Jama'atLdst. Sedangkan Laa 
Islaamalllaabiljama'atiitudlaif. Dlaif itu tidak syah dan dilarang Nabi. Maka 
pengafiran kepada orang2 Islam yang diluar Jama'ah dengan menggunakan dahi 
Laa Islaama illaa bil Jair.a'ati itu bukan saja tidak syah, tetapi merupakan 
penyimpangan aqidah dan melanggar larangan Nabi. 

Sebaliknya Nabi betsabda " Siapa yang mengatakan kepada Saudaranya 
hai kafir, maka ucapan tadi sungguh akan kembali kepada salah seorang dari 
padanya" (jika yang dikatakan kafir itu tidak demikian maka kekafiran itu akan 
kembali kepada yang mengatakan, jadi bisa berbalik dan menzalimi dirinya 
sendiri). Oleh karena itu sikap dan memperlakukan orang2 Islam diluar Jama'ah 
sebagai orang kafir adalah perbutan zalim, baikkepada orang lain maupun dirinya 

sendiri. 

Karena keyakinan/ aqidah bahwa orang2 di luar Jama'ahnya itu adalah 

kafir, maksiat, maka jama'ahnya dilarang: 

- Dilarang mengikuti {jerintah2nya (agama), ajarannya, mendengarkan 
ceramah2nya, mengaji kepada mereka, bahkan membaca buku2 agamanya 
orang di luar jama'ah juga dilarang. 

- Dilarang mensholati jenazahnya ataumendo'akannya. 

- Dilarang menikah dengan mereka 

- Anak dilarang mengkuti perintah orang tuanya, sekalipun. Al Qur'an 
mewajibkan anak berbakti orang tua 

- Istri dilarang mematuhi suaminya (sekalipun Nabi menyatakan mengingkari 
suami adalah kufur dan banyak istri ke neraka karena ingkar pada suami, 
serta memerintahkan agar istri mematuhi suami). 

- Dan dilarang terhadap s emuahal yang tidak sesuai dengan ajarannya, sehingga 
akibat semua itu banyak hal menjadi terbalik, misalnya yang seharusnya 
ma'ruf dinilai munkar, yang harusnya dipatuhi menjadi diingkari, yang halal 
menjadi haram dan sebaliknya, yang seharusnya dihindari malah dijalani, 



yang mestinya dij alani 



tnalah dihindari, yang berpahala dinilai berdosa, justru 



yang berdosa dianggap berpahala. 



Dapat dibayangkan berapa banyak perbuatan zalim dengan pengafiran 
tersebut, dan dapat dibayangkan betapa lebih zalimnya jika pengafiran itu 
dilakukan terhadap keluarganya sendiri (anak, orang tua, istri, suami). 

8. Qur'an dan Hadis Jama'ah yang dirintis H. Nurhasan Ubaidah bukan 
satu2 nya jalan ke surga. 

Sudah menjadi aqidah jama'ah, bahwa Qur 'an dan Hadis Jama'ah yang 
dirintis H. Nurhasan Ubaidah adalah satu2 nya jalan menuju surga, oleh karena 
itu harus ditetapi, dibela dan diperjuangkan. Di luar Qur 'an Hadis Jama'ah pasti 



a. 



Menurut Drs Nurhasim dalam bukunya halaman 23 , berpegangan Qur 'an 
dan Hadis tanpa berbai'at, beramir dan bertaat. karena Allah tidak dapat disebut 
berpegangan Al Qur'an dan Hadis. 

Berpegangan Al Qur'an danHadis tanpa berbai'at, beramir dan berta'at, 
tanpa berjama'ah adalah sama dengan berpegangan Al Qur 'an dan Hadis tanpa 
bersholat, berzakat dan berpuasa, dan menurut Drs. Nurhasim ini jelas tidak 
benar. 

Bagaimana yang sebenarnya? 

Adalah lebih tidak benar lagi pernyataan Drs.Nurhasim itu, "bahwa 
berpegang Al Qur'an dan Hadis tanpa berbai'at. ..dst. . . adalah sama dengan 
berpegang Al Qur'an dan Hadis tanpasholat, zakat dan puasa": 

a. Sholat, zakat, puasa itu di Qur'annya jelas, di hadisnya jelas, semua jelas 
shahihnya, sedangkan berjama'ah. beramir, berbai'at berta'at menurut ajaran 
H. Nurhasan Ubaidah itu jelas didasarkan pada Laa Islaama illa bil 
jama'ati. . . dst. . . dan itu jelas pula dlaifhya (lihat halaman 3 - 4 dan 32-33 ). 
Masa yang dlaif disamakan dengan yang shahih?, itu jelas tidak benar, 

b. Kalimat pernyataan itu sendiri sudah tidak benar. 

Adalah tidak mungkin, berpegang Al Qur 'an dan Hadis tanpa sholat, zakat 
dan puasa. Orang yang benar2 berpegang Qur 'an dan Hadis (shahih) dapat 
dipastikan sholat, zakat dan puasa. Sebaliknya berpegang Al Qur'an dan 
Hadis itu seharusnya justru tanpa berbai'at, beramir dan bertaat yang 

^^||| ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TV: Kesthhn LP// Pikm Memahami Palit 

didasarkan Laa Islaama illaa bil jama'ati... yang dlaif. Justru ditambah 
berbai'at, beramir, bertaat yang dlaif itu Qur'an dan Hadis yang shahih 
malahan menjadi tidak shahih. 

Nabi telah berwasiat, agar selamat maka berpeganglah pada dua hal yaitu 
Al Qur'an dan Al Hadis (shahih).Ketetapan Al Qur'an dan Hadis itu sudah 
baku, tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Al Qur'an dan Hadis itu 
sudah lengkap memuat semua perintah2 atau larangan Allah dan Rosul, tanpa 
kurang sedikitpun. Jadi tidakada istilah tidak cukup. Dengan dimasukkannya 
Jama'ah (beramir, berbai'at dan bertaat) yang didasarkan pada hadis dlaif itu, 
maka Qur'an - Hadis menjadi ternoda dan cacat. Bahkan Nabi melarang 
meriwayatkan hadis dlaif itu, dan jika itu dilakukan dengan sengaja, maka Nabi 
menyebutnya sebagi pendusta. 

Dalam semua Hadis Nabi pun tidak pernah ada istilah Al Qur'an dan 
Hadis Jama'ah. Yang ada hanya Al Qur 'an dan Hadis. 

Ada perbedaan yang mendasar antara Al Qur'an Hadis menurut sabda 
Nabi tersebut diatas dengan Qur 'an Hadis Jama'ah yang dirintis H. Nurhasan 
Ubaidah. Qur'an Hadis Jama'ah itu Qur'an Hadis yang sudah ditambah/ 
dimasukkan di dalamnya a.l. : Unsur ber Jama' ah (berbai' at, beramir dan bertaat) 
yang didasarkan pada Hadis dlaif Laa Islaama Illaa bil Jama'ati. . . dst 

Dengan demikian Qur'an dan Hadis Jama'ah itu adalah Al Qur'an dan 
Hadis yang sudah dicampuri/dimasuki Laa Islaama illa bil Jama'ati (Hadis dlaif) 
sehingga menj adi ternoda dan cacat. Karena sudah ternoda dan cacat dan dilarang 
Nabi, maka tidak bis a dij adikan j alan menuju masuk surga. 

Oleh karena itu menj adi jelas bahwa ajaran H. Nurhasan yang menyatakan 
Al- Qur 'an dan Hadis Jama'ah itu merupakan satu2-nya j alan masuk surga adalah 
tidak benar dan dapat menyesatkan. 

Dan jika dikatakan yang paling sesuai dengan ajaran Nabi itu adalah Al 
Qur 'an dan Hadis Jama'ah, ini jelas tidak memahami apa itu Al Qur'an dan 
Hadis menurut sabda Nabi dan apa pula Al Qur 'an dan Hadis, Jama'ah yang 
dirintis H. Nurhasan Ubaidah. 

9. Pengakuan H. Nurhasan Ubaidah manqul-musnad-muttashil ke 
Rosulullah tidak didukung bukti2 yang shahih/syah: 



&&&&&:&&■ 



•' Manqul~musnad-muttashil menurut H. Nurhasan Ubaidah itu 
pengertiannya adalah mengaji Al Qur'an dan Hadis dari guru, yang diperoleh 
dari gurunya lagi, bersambung terus sampai ke Rosulullah saw. Tetapi manqulnya 
itu harus ke H. Nurhasan Ubaidah, karena menurutnya yang memiliki manqul, 
musnad, muttashil itu hanya dia. Jika tidak ke H. Nurhasan Ubaidah maka tidak 
syah. Akan tetapi semua pengakuan itu tidak didukung dengan bukti2 yang 
syah yaitu: 

a. Tidak ada bukti yang syah secara kaidah bahwa H. Nurhasan Ubaidah benar 
manqul-musnad-muttashil ke Rosulullah saw. 

b. Tidak ada bukti yang syah bahwa orang2/perowi yang disebut memusnad- 
muttasilkan H. Nurhasan Ubaidah itu tsiqoh/shahih. (memenuhi keabshahan 
sebagai perowi) 

c. Yang ada hanya pengakuan, dan pengakuan tidak dapat dij adikan dalil. 
Bukti bahwa sesungguhnya ia tidak manqul-musnad-muttasil itu dapat 
diketahui dengan mudah dan nyata. Contoh yang nyata, Nabi melarang 
meriwayatkan/mengamalkan Hadis2 dlaif atau dalil2 yang tidak shahih, 
sedangkan H. Nurhasan Ubaidah justrumenga malkan/menggunakan Hadis2 
dlaif dan dalil2 yang tidak shahih, bahkan dijadikan sandaran pokok dalam 
membangun j ama' ah dan keamirannya serta sebagai dasar mencap orang 
diluar jama'ahnya adalah kafir.Dengan demikian perbuatan H. Nurhasan 
Ubaidah itu jelas2 melanggar larangan Nabi, bahkan menentangnya. 
Menentang Nabi berati pula menentang Allah. 

Sebagai ukuran jika H. Nurhasan Ubaidah itu benar manqul-musnad- 
muttashil ke Rosulullah saw, maka ia akan selalu menyandarkan segala sesuatunya 
ke Rosululah saw.yang berarti harus meninggalkan hal2 yang oleh Rosulullah 
saw, dilarang, sehingga seharusnya tidak akan menggunakan hadis2 dlaif. 

Dengan kenyataan seperti tersebut diatas, maka menunjukkan/ 
membuktikan bahwa H. Nurhasan Ubaidah tidak manqul-musnad- muttashil ke 
Rosulullah saw. Menyataan bahwa manqul-musnad-muttashilnya itu syah harus 
dibuktikan dengan dalil2 yang shahih, Allah berfirman: 



gli$|;!;: ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 
lllll 

tsmm 



BAGIAN KESA 7V: Ke&hhin LP/J Pikm Mcmilwvi Pilil 



> > > ' > * > 



"Buktikan kebenaranmu itu jika kamu memang benar. " 

Tanpa ada bukti2 shahih maka tidak layak untuk menyatakan sesuatu itu 
benar/syah. Bahkan menyatakan bersandar kepada Nabi, tetapi dalam prakteknya 
justru melakukan hal2 yang dilarang Nabi (Hadis dlaif, dalil tidak shahih dll.) 
akan berarti yang diucapkan dengan yang dilakukan berbeda.. Hal ini menurut 
sabda Nabi merupakaan tanda-tanda kemunafikan yang sangat dibenci Allah. 

10. Mengharamkan belajar ngaji diluar jama'ah adalah mengharamkan 
hal yang halal, memb odohi diri sendiri dan meles tarikan kekeliruan. 

Belajar mencari ilmu/kebenaran agama itu tidak terbatas, dan bukan 
kepada SIAPA yang mengaj arkan, tetapi APA yang diaj arkan (shahih atau tidak) . 
Sudah dari dasarnya keamiran H. Nurhasan Ubaidah itu disandarkan pada hadis 
dlaif. Sedangkan mengamalkan Hadis dlaif itu dilarang dan tertolak, sehingga 
tentu saj a belaj ar kepada amir yang mengaj arkan ibadah yang didasarkan pada 
Hadis dlaif itu juga dilarang. 

Oleh karena itu menj adi terbalik jika mewajibkan belaj ar ilmu agama itu 
harus manqul kepada amir yang sandarannya hadis2 dlaif/dali!2 yang tidak shahih 
dan mengharamkan belajar ngaji keluar jiama' ah. Hal itu berarti mengharamkan 
yang halal, maka melanggar firman Allah: "Janganlah kamu haramkan apa2 
yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu" (AlMaidah87). Seharusnya 
malahan mencari ilmukemana saj a untuk pembanding dan memperoleh kebenaran 
yang sesungguhnya. 

Dengan dilarangnya belaj ar ilmu agama keluar j ama' ah, sedang kan ilmu 
yang diperoleh dari dalamjama'ahnya tentu saj a sifatnya membenarkan ajarannya 
sendiri, maka tertutuplah untuk memperoleh ilmu pembanding kebenaran dari 
luar sehingga tidak dapat mengkoreksi diri jika terjadi kesalahan, sehingga 
kesalahan itu tetap salah dan akan berkelanjutan sampai ke generasi seterusnya. 
Hal tersebut juga berarti membodohi para jama' ah sendiri. 






11. Ketaatan itu bil ma'ruf (dalam kema'rufan). Tidak ada keta'atan 
dalam hal yang tidak/bukan ma'ruf. 

Mengamalkan Hadis2 dlaif dan menggunakan dalil2 yang bukan mestinya 
(bukan pada tempat yang benar) itu bukan perbuatan ma'ruf maka dalam hal ini 
tidak ada keta'atan. 

H. Nurhasan Ubaidah yang dalam berjama'ah, beramir, berbai'at dan 
ta'at menggunakan hadis2 dlaif dan dali!2 tidak shahih, itu bukanlah kema'rufan, 
oleh karena itu tidak ada wajib keta'atan kepadanya.Sebaliknya mengikuti 
ajarannya/perintahnya untuk tidak mengikuti orang2/suami/istri/orang tua yang 
dituduh kafir hanya atas dasar hadis dlaif adalah perbuatan zalim, bahkan 
menzalimi diri sendiri. Dan jika itu dilakukan terhadap orang tuanya sendiri/ 
suami, itu adalah sangat zalim. 

POKOK- POKOK AJARAN H. NURHASAN UBAIDAH 

Pokok-pokok ajaran H. Nurhasan Ubaidah pada garis besarnya adalah 
sbb: 

a. Aj aranny a dib angun dengan aqidah b ahwa Islam itu harus diamalkan dengan 
berjama'ah, beramir, berbai'at danbertaat. Yang dimaksud amir disini adalah 
amir H. Nurhasan Ubaidah Islam yang tidak disempurnakan dengan 
berjam'ah, beramir, berbai'at dan taat (kepada H. Nurhasan)bukanlah 
Islam.Dengan perkatan lain yang dinamakan orang Islam itu hanyalah orang 
yangmengikuti ajaran H. Nurhasan Ubaidah. Orang2 yang di luar jama'ahnya 
dianggap kafir dan diperlakukan sebagai orang kafir. Akan tetapi dalil2 yang 
dijadikan sandaran aqidah tersebut adalah : Hadis2 yang jelas2 dlaif, ayat2 
yang ditafsiri secara salah, dalil2 yang bukan haknya atau ditempatkan bukan 
pada tempatnya sehinga tidak shahih. Dalil2 itu antara lain; 
a. 1. Hadis 2 dlaif: 

- Laa Islaama Illaabil Jama'atLdst. 

- Hadis2 dlaif lainnya (yang tersebut dalam halaman khusus) 
a.2. Ayat2 yang ditafsiri secara salah/dalil yang bukan haknya al: 

- Al Imron 103, dikatakan penjelasannya ada pada Hadis Laa illaa bil 



nmi 



% g H.M.C. Shodiqi Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TV: Kcszkfan LP/ f D$km Memahami Pilil 

jama'ati, oleh karena itu pengamalan ayat ini mendasarkan pada hadis 
ini, padahal hadis ini dlaif yang sangat dlaif, sehingga mustahil menjadi 
penjelasan Al Imron 103, suatu ayat Al Qur ? anyang shahih dan suci. 

- Al Fath 10. Ayat ini turun berkaitan dengan perintah bai'at kepada Nabi 
untuk berperang dan tidak lari dari perang melawan Qurays, Jadi bukan 
pada tempatnya dalil ini untuk dijadikan dasar pembai'atan kepada H. 
Nurhasan. 

- Al Mumtahanah 12. Intinya tentang bai'atnya wanita2 kepada Nabi 
(kedudukannya sama denganAl Fath 1 0). 

- Hadis: "Barang siapa mati sedangkan dilehernya tidak ada bai'at maka 
matinya akan mati dalam keadaan jahiliyah" Hadis ini berlaku jikamuncul 
Khalifah yang memang memenuhi: syarat2 sebagai Khalifah, dimana umat 
wajib bai'at kepada Khalifah tersebut. Menggunakan dalil ini untuk 
membai' atnya berari ia menempatkan diri sebagai khalifah, padahal ia 
bukam khalifah dan sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai khalifah. 

CATATAN: 

Dalam penggunaan dalil2, maka haruslah sesuai dengan konteksnya, dan 
dipenuhinya syarat2 untuk diberlakukannya dalil2 tersebut. Jadi tidak asal 
ada dalil kemudian dapat digunakan oleh siapapun dan untuk kebutuhan 
apapun. Jika demikian halnya maka Agama ini akan rusak. 

b. Aj ar an2nya, dilakukan dengan sistim wajib manqul yang hanya kepada H. 
Nurhasan Ubaidah, karena menurutnya yang manqul- musnad-muttasil ke 
Rosulullah saw. itu hanya dia. Namun bukti syah secara kaidah bahwa H. 
Nurhasan - Ubaidah manqul-musnad mutahil ke Rosulullah saw.itu tidak 
ada selain hanya pengakuan. 

Jama'ahnya juga dilarang belajar ilmu/mengaji kepada orang diluar 
jama'ahnya (haram). Ilmu agama tidak syah selain yang difatwakan atau 
telah disyahkan oleh amirnya. 

c. Disamping wajib manqul kepada H. Nurhasan Ubaidah juga wajib ta'at 
kepada amir (H. Nurhasan Ubaidah) dan dilarang melepaskan ketaatan, dari 
padanya. Melepaskan ketaatan akan dianggap murtad. Beberapa yang menj adi 



dasar a.l. : 

- Penggalan Al Fath 1 : "Barang siapa yang melanggar j anjinya, niscaya 
akibat melanggar janjinya itu akan menimpa dirinya sendiri"(diancam 
neraka)". Padahal jelas ancaman dalam ayat itu ditujukan kepada mereka 
yang melanggar janji perang melawan Qurayis.(bai'at yang memang 
memenuhi syarat). Bukan dalilnya untuk mengancam orang yang tidak 
taat kepada H. Nurhasan Ubaidah atau yang taatnyai menyalahi kaidah. 

- Hadis:Barang siapa melepaskan tangan dari ketaatan, maka akan bertemu 
Allah dihari qiyamat dalam keadaan tidak berhujjah. Perlu diperhatikan 
bahwa ketaatan itu bil ma'ruf, jadi tidak ada ketaatan dalam hal yang 
tidak ma'ruf, Sedangkan tindakan H. Nurhasan Ubaidah mengamalkan/ 
mengaj arkan Hadis2 dlarf/ dahi tidak shahih itu bukan ma'ruf. . Oleh karena 
itu dalam hal ini tidak ada wajib taat kepadanya. 

d. Ajarannya dibumbui dengan janji2 danharapan2 yang sangatmenarik (satu2- 
nya golongan yang diterima Allah dan dijamin masuksurga, dll.)akan tetapi 
sesungguhnya hal itu menyesatkan mengingat yang dijadikan sandaran tidak 
shahih, misalnya: 

- Hadis : bahwa beramal dalam jama'ah, maka jika benar amalnya akan 
diterima, dan jika keliru akan diampuni (Hadis ini daif). Dengan membai' at 
amir, maka amir tersebut nantinya akan menjadi saksi yang mngesahkan 
keislamannya/amalnya". Yang dijadikan dasar adalah Al Isro '71, yaitu laf adi 
"biimamihim" yang ditafsiri secara salah dengan "imam/amir mereka", 
padahal tafsir yang seharusnya adalah tersebut dalam Surat Yaa-Sin 12 yaitu 
"Kitab Catatan Amal". 

B. KESIMPULAN DAN SARAN 

Dari seluruh uraian yang telah disampaikan maka dapat disimpulkan 
bahwa : 

1 . Keamiran H. Nurhasan Ubaidah, bai'at dan ketaatan kepadanya serta 
kemanqulannya tidak memenuhi syarat kesahi han sehingga secara 



|||||| g HMC. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kcsihhin LP// Plkm Memthtmi Pilil 

kaidah adalah tidak syah. Dengan demikian maka kewajiban bai'at, 
dan taat kepadanya juga tidak ada, sehingga sanksi2 terhadap hal itu 
(mati dalam keadaan mati jahiliyah jika tidak berbai'at/melepaskan 
bai'at kepada/dari H. Nurhasan Ubaidah/penggantinya juga tidak 
berlaku, bahkan menyalahi kaidah. Meyaqini sesuatu yang tidak 
syahih sebagai sesuatu yang benar adalah merupakan penyimpangan 
aqidah. 

2. Dengan tidak syahnya keamiran dan kemanqulan H. Nurhasan 
Ubaidah itu maka menurut kaidah, ajaran2nya-pun tidak syah untuk 
diajarkan /diamalkan, dan tidak syah pula untuk diikuti baik yang 
mengajarkan, yang menyuruh dan yang membenarkan (mengijinkan) 
dan yang mengamalkan/mengikuti ajarannya, sama2 menyalahi 
kaidah (shahih Muslim). 

3. Semua fatwa/penetapan/penilaian/perumusan yang didasarkan pada 
Hadis Laa Islaama IUaa bil jama'ati walaa j a ma'ata illa bil imaaroti 
walaa imaarota illaa bil ai'ati walaa bai'ata illaa bitto'ati adalah tidak 
shah, dan pengkafiran terhadap orang2 diluar jama'ahnya juga tidak 
benar, bahkan disamping menzaBmi orang lain juga menzalimi diri 
sendiri. 

4. Tidak ada orang yang dapat menjamin masuk surga selain yang telah 
ditetapkan dalam nash . 

Orang masuk surga itu sesungguhnya karena Rahmat dan ampunan Allah 
Swt yang diperoleh dari perbuatan/amal sholehnya sendiri. Tidak ada orang 
yang dapat menj amin seseorang itu masuk surga selain yang telah ditentukan 
dalam nash. Orang/golongan yang berani menj amin tidak ada orang/golongan 
lain yang masuk surga selain golongannya sendiri itu adalah Yahudi dan 
Nasarani sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur 'an (Al Baqoroh 111) 
Oleh karena itu orang (selain yang disebutkan dalam nash) yang berani 
menjamin masuk surga itu adalah meniru-niru Yahudi dan Nasrani. Allah 
tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi mereka (Al - Baqoroh 1 20). 

5. Akar permasalahan dan penyimpangan ajaran serta aqidah H. 
Nurhasan Ubaidah adalah terutama disebabkan beberapa hal dibawah 
ini: 



W:»%Wftwt- 



a. Mendasarkan aj arannya pada Hadis2 dlaif yang dilarang untuk dijadikan 
hujjah, 

b. Mentafsirkan ayat secara salah/tidak sesuai dengan maksud dan makna 
yang sebenarnya dari ayat. 

c. Menggunakan dali!2 secara salah (menggunakan dalil2 bukan pada 
tempatnya atau bukan semestinya). 

d. Dalil2 yang shahih diplintir tafsir/penggunaannya sesuai dengan 
kemauannya. 



SARAN-SARAN 

Beberapa saran yang dapat disampaikan adalah : 

1 . Perlunya melakukan pengkajian ulang terhadap dalil-dalil yang dipakai untuk 
sandaran beribadah. 

Adalah bijaksanamelakukanpengkajiankembali terhadap dalil-dalil yang 
dijadikan sandaran ibadahnya dengan mengacu kepada Al Qur 'an dan Hadis 
shahih. baik sendiri-sendiri atau bersama-sama, dan kiranya akan lebih baik 
jika dilakukan oleh para ahli/antar tokoh-tokoh ulama guna memperoleh 
kebenaran yang didukung dengan dalil-dalil yang shahih. Hasil kajian itu 
hendaknya dijadikan dasar dalam ibadah untuk selanjutnya. Ditinggalkan 
yang keliru disertai taubat, dan diteruskan hal-hal yang memang benar. 
Walaupun bagi orang awam tidak mudah untuk menguasai seluruh dalil- 
dalil, akan tetapi dalil-dalil yang menjadi pokok dasar aqidah atau syari'at 
memang wajib dipahami secarabenar, jika tidak, kekeliruan-kekeliruan yang 
tidak disengaja atau ketidak tahuannya tetapi berakibat fatal mudah terjadi. 

Keengganan melakukan hal itu akan merugikan diri sendiri. Adalah 
sayangjikakerjakerasnya beribadah rusak akibat aqidah yang keliru, ibarat 
membangun bangunan bertingkat-tingkat yang indah tetapi diatas fondasi 
yang miring, atau kropos, maka bangunan itu akhirnya akan roboh juga. Oleh 
karena itu j angan menutup diri dari petunjuk Allah, akibat sikapnya sendiri 
yang menganggap dirinya paling benar, tidak mau belajar/menerima masukan 
orang lain/luar, karena dengan menutup diri itu Allah akan benar-benar 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah 






BAGIAN KESA TU: Ke&hfan LP/ f Dikm Memifoml PM 

menutup penglihatan, pendengaran dan hati mereka dari kebenaran. 

2. Para guru, pengajar agama hendaknya berhati-hati dalam menyampaikan 
ajarannya, jangan sampai mengajarkan hal-hal yang salah atau tidak shahih. 

Hendaknya diingat Hadis Muslim dari Huroiroh : Bahwa orang yang 
mengaj ak/mengaj arkan/menyuruh untuk mengamalkan sesuatu aj aran akan 
dibebani suatu tanggung jawab terhadap semua yang diajarkannya itu. Jika 
yang diajarkan itu benar, ia akan memperoleh pahala, sebaliknya jika keliru, 
maka akan terbebani dosa dari yang diajarkannya itu sebanyak dosanya orang 
yang mengikuti ajarannya, tidak kurang-sedikitpun. (Semakin banyak orang 
yang mengikuti aj arannya yang keliru akan semakin banyak dosanya). 

Sebaliknya bagi orang yang mengikuti ajaran/orang yang mencari ilmu, 
harus berupaya untuk tahu bahwa ajaran/ilmu yang diperoleh itu benar-benar 
shahih, jangan sekedar taqlid semata (menerima/percaya begitu saja ajaran 
yang diperolehnya tanpa tahu itu benar atau salah), karena jika aj aran/ilmu 
yang diterima itu salah kemudian diamalkan, maka amal ibadahnya pun 
tidak akan diterima, bahkan lebih dari itu bisa berdosa. 

3. Jangan meremehkan atau menganggap tidak bermasalah atas penggunaan 
hadis-hadis dlaif atau dalil-dalil tidak shahih. 

H. Nurhasan Ubaidah itu oleh jama'ahnya dikatakan ahli hadis yang tidak 
ada tandingannya, Jika demikian maka mustahil jika tidak mengetahui bahwa 
hadis-hadis dlaif dan tidak tahu bahwa Hadis dlaif itu tidak boleh dipakai 
sebagai hujj ah. Dengan adanyakenyataanbahwaH. Nurhasan mengajarkan 
dan mengamalkan hadis-hadis dlaif dan dalil tidak shahih, maka menunjukkan 
bahwa H. Nurhasan Ubaidah memang sengaja dan merasa tidak bermasalah 
menggunakan hadis-hadis dlaif untuk digunakan sebagai sandaran ibadah 
(contoh untuk itu lihat Halaman Khusus). Sedangkan Nabi bersabda: "Barang 
siapa meriwayatkan Hadis, sedangkan ia tahu itu bukan dariku (hadis 
dlaif), maka ia adalah pendusta ". Jadi yang mengatakan pendusta itu adalah 
Nabi. 

Penggunaan hadis-hadis dlaif ini akan berbahaya jika dilakukan oleh 
Pemimpin/tokoh agama karena tentu .saja akan membawa j amanahnya ikut 
melanggar larangan Nabi itu dan ikut sebagai pendusta pula. 



Lebih berbahaya lagi kalau Hadis dlaif itu digunakan pada posisi yang 
sangat sentral yang dampaknya kemana-mana, seperti digunakan untuk dalil 
keabsahan berjama'ah, beramir, berbai'at dan berta'at yang merupakan 
sentral dari peribadahan. Ibarat mata air yang mengalir ke sungai-hadis dan 
menj adi sumber minum b anyak orang maka jika mata air itu terkena racun, 
orang-hadis yang minum air itu semua akan terkena racun. Belum lagi jika 
hadis-hadis dlaif itu dij adikan dasar untuk mengkafirkan oran lain. 



PENUTUP 

Tulisan ini penulis tutup dengan firman Allah berikut ini: 

z' * SSS } 4 S <* ) S 4 

"Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu 
berfikir" 

s/ s 

"Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar" 

Sesuai dengan maksud firman Allah tersebut, adalah begitu pentingnya 
untuk senantiasa mengevaluasi, mengkaji apakah ibadah kita ini sudah benar.Kita 
tidak boleh asal menerima ajaran dengan alasan karena itu dari orang yang 
ditokohkan (taqlid semata tanpa menge-tahui keshahihan ajaran tersebut), dan 
tidak boleh asal mengata - kan:"sudah benar" tanpa menguji/membuktikan bahwa 
itu memang benar dengan dalil-dalil yang shahih (Al Qur'an dan Hadis yang 
shahih) 

Apalagi mengingat pada saat ini banyak acaran/aliran dimana Qur 'an dan Hadis 
telah dipermainkan/dijadikan tameng bahwa ajarannya itu yang benar, tetapi 
(setelah diteliti) ternyata justru menyimpang dari Qur'an dan Hadis shahih, sangat 
jauh dari slogan-slogan indah yang mereka dengung-dengungkan, yang ujung- 
ujungnya menyesaatkan. 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KESA TV: Kesikfan LP// Pjkm Memihmi £?/// 

Mengikuti guru bukan sesuatu yang keliru, bahkan memang seharusnya. 
Akan tetapi hanya dengan taqlid semata tanpa tahu ilmunya yang benar akan 
berbahaya, jika ternyata gurunya sendirijuga keliru. 

Oleh karena itu kita perlu memahami kaidah-kaidah yang menjadikan 
kita tahu sesuatu dalil itu shahih atau tidak, lebih-lebih lagi dalil-dalil yang 
menyangkut aqidah, karena aqidah itu yang menjadi fondasi dan mewarnai 
syari'at Jika aqidahnya salah maka ibadah-ibadah syari'atyang didasarkan pada 
aqidah tersebut akan rusak. 

Meyakini sesuatu yang tidak syah itu sebagi benar adalah merupakan 
penyimpangan aqidah. Penyimpangan aqidah, berarti ibadahnya akan rusak pula. 

Kita juga harus mengevaluasi diri, apakah ibadah kita ini berada pada 
jalur yang benar atau salah, sehingga tahu apakah kerja berat ibadah kita ini 
betul-betul akanmenambah amal sholeh atau bahkan sebaliknya akan mencelakan 
diri/ menamb ah dos a. 

Janganlah sampai karena kelengahan kita itu, kita berada pada jalur yang 
menyimpang, sehingga kerj a keras ibadah kita menjadi sia-sia. 

Demikian pula janganlah sampai kita ini dikunci mati oleh Allah hati dan 
pendengaranya, dan penglihatannya ditutup dari kebenaran sekalipun setiap saat 
membaca ayat-ayat Allah danmendengarkan-nya, tetapi semua itu tidak mampu 
menjadikan mengerti akan kebenaran karena hati, pendengaran dan 
penglihatannya telah diselimuti olehkepalsuandankebohonngan akibat kesalahan 
sendiri sengaj a menggunakan hadis-hadis dlaif (lemah) dan dalil-dalil yang tidak 
shahih (Al Baqoroh 7 ) 

Dalam tulisan ini telah dikaji, b ahwa Laa Islaama Illaa bil Jama ? ati itu 
adalah Hadis dlaif, tidak shahih, yang dilarang untuk sandaran ibadah. Nabi 
melarang untuk meriwayatkan hadis dlaif, apalagi mengamalkan/dipakai sebagai 
sandaran ibadah. Dengan demikian mengamalkan Hadis tersebut merupakan 
penyimpangan aqidah dan melanggar larangan Nabi. 

Dalam hal ini Allah berfirman: 

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah (kerjakanlah) dan apa yang 
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. " (Al Hasyr 7) 

Nabi pun bersabda: 



■:•:•:•:•:•:•:•:•: :•:-:■:-:• 



"Barang siapa meriwayatkan Hadis, sedangkan ia tahu itu bukan dariku (hadis 
dlaij), maka ia adalah pendusta. " 

Allah berfirman: 

"Kecelakaan besar bagi tiap-tiap pendusta dan banyak dosa. " (AlJatsiah 7) 

Nabi juga bersabda: 

"Barang siapa beramal/ibadah yang tiada contoh dariku maka tertolak. " 

Adalah jelas sekali firman Allah dan sabda Nabi tersebut diatas, untuk 
menjadi peringatan kita agar tidak semudah itu dan tidak menganggap tidak 
bermas alah menggunakan hadis-hadis dlaif . 

Di bagian akhir tulisan ini penulis ingin menekankan perlunya disadari 
apa sebenarnya tujuan ibadah ini. Jika tujuannya untuk memperoleh ridlo Allah 
untuk menuju surga, maka patokan/acuan yang harus dipegang adalah "Maa 
anaa 'alaihi waashabiy", mengikuti tuntunan Rosulullah saw. 
Mengikuti tuntunan Rosulullah saw.itu artinya, apa-apa yang Rosulullah saw 
perintahkan harus dikerj akan dan apa- apa yang dilarang harus ditinggalkan. 

Hadis-hadis dlaif itu tidak dicontohkan Nabi bahkan dilarang, oleh karena 
itu harus ditinggalkan. 

Menyatakan mengikuti Nabi/memperjuangkan kemurnian Hadis, tetapi praktek 
ibadahnya menggunakan/mendasarkan Hadis-hadis dlaif itu berati tidak 
mengikuti (larangan) Nabi, oleh Nabi itu disebut sebagai pendusta. 

Mengamalkan berjama'ah itu acuannya adalah Hadis Buchori-Muslim 
dari Khuzaifah sebagaimana tersebut dalam halaman 68-69, 
suatu kesatuan seluruh umat Islam dengan Khalifah sebagai penguasa tunggal 
yang menyangkut seluruh kepentingan umat baik agama maupun pemerintahn, 
dan seluruh umat Islam harus (fardlu kifayah) berjuang kearahsana.Bukan dengan 
membangun kelompok-kelompok sendiri, amir sendiri yang satu sama lain saling 
bertentangan dan mengaku benarnya sendiri-sendiri yang akibatnya malahan 
merusak tercapainya kesatuan umat. 

Jika ingin mendalami lebih lanjut permasalahan ajaran ini, sebagai acuan 
dapat penulis sampaikan beberapa referensi sbb : 






HMC. Shodiq ( Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah 



:-:-:-:■»;■:•:■:•:•:•:■:-: 



BAGIAN KESATU: Kesjhjw LP/ 1 D&m Memjhjmi Piii/ 

MustHalahulHadits, 
Kitab Hadis ad Darimi, 
■ - ThobaqotilHuffad 

Mizanul FtidalJuz I ■ 
Mizanul I 'tidal Juz II 

Kitab2 Rijal, Jarh wa Ta'dil, Nasikh dan Mansukh, , 
- Tafsir2 Al Qur ' an (Ibnu Khasir, Syeikh Kutub, dll) ; 
Kitab2 Hadis Shahih. 
Kitab2 Hadis Sunan 

Silsilatul-Ahadits adh-Dhaifah wal Maaudhu'ah wa Atsa ruhas 
Sayyi'fil-Umma (Muh. Nashiruddin al-Albani) I s/d IV 
Ath-Thariq ila Jama'atil Muslimin (Hussain bin Muhammad) 
Risalah para shohabat Nabi 

Al Bai' at fil fikri as Siyaasi al Islami: DR.Mahmud al Khalidi 
Aqidah al Imamah : Ali Ahmad As Saulus (tarjamah Ali Solihan 
Zamakksyari). 
Buku-buku/naskah agama keluaran LDII dan Jama'ah-jama'ah lain. 

Dan lain-lain 

Suatu hal yang harus diingat, sesuai dengan firman Allah tersebut diatas, 
maka orang yang menyatakan dirinya benar harus dapat membuktikan bahwa 
itu benar berdasarkan dalil-dalil Qur'an dan Hadis.shahih. (bukan anggapannya 
sendiri). Jika tidak dapat membuktikan, maka sama sekali ia tidak berhak 
menyatakan bahwa dirinya benar, dan jika tetap bertahan maka sesungguhnya 
orang itu adalah pembohong yang sedangmenimbun dosa-dosanya sendiri yang 
akan dijadikannya menimbun dirinya di hari akhir nanti. Na'uudubillaahi 

mindalika. 

Akhirnya kita sudah harus pada posisi yang dapat membuktikan 
bahwa ibadah kita ini sudah berada pada jalur yang benar hingga akan 
menjadi amal sholeh yang dapat menyelamatkan, jangan sebaliknya kerja 
berat ibadah ini bahkan akan mence- lakakan diri/menambah dosa karena 
berada pada jalur yang salah, Tertipu dengan hal-hal yang kelihatannya 
indah tetapi sesungguhnya dalamnya bengkok dan rapuh. Insyaa Allah. 

Penulis bermohon, semoga Allah memberi pahala terhadap setitik yang 



benar dari tulisan ini dan mengampuni terhadap yang keliru. 

Akhir kalam penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Illaahi Robbi, 
bahwasanya penulis dapat menyelesaikan tulisan ini walaupun masih sangat 
sederhana dan perlu penysempurnaan. 

Semoga Allah senantiasa menunjukkan kepada kita pada jalan yang Ia 
ridloi dan diselamatkan dari hal-hal yang keliru, Amin. 






H.M.C, Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KESA TU: Kesikfan LP/f Dtkm Memtfami £?/// 

LEMBARAN KHUSUS 

Beberapa Contoh Hadits Dhaif (Lemah), Maudhu' (Palsu) Yang Dipakai 

Dasar Ajaran H. Nurhasan Ubaidah 

1. 

/ s S S S S /s s s s s s 

s s 

"Tiadalah Islam kecuali dengan berjama'ah, tiadalah berjama'ah 
kecuali dengan beramir, tiadalah beramir kecuali dengan bai'at, tiadalah 
bai 'at kecuali dengan taat". (Penjelasan-penjelasannya ini sudah lengkap di 
muka). 



2. 



'* * s* ' +~ I s <* Al (A 



(r d :^j>.^\X^).JJi»\\^^^Jj3\^^\^^\^\JC. . t 



/• ^ • • z' 



"Sesungguhnya para sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang. 
Darimana saja kalian mengambil pendapatnya berarti telah mendapat 
petunjuk" (Riwayat Al Baihaqi, Ibnu Abdil Bar dan Ibnu Hazm, dari Abi Sihab 
dari Hamzah Jazri). 

Hadits ini maudhu' (palsu). Sanad Hadits ini tidak shahih, dan tidak ada 
satu pun perawinya yang meriwayatkan dari Nafi' yang dapat dijadikan hujjah 

Hamzah adalah Ibnu Abi Hamzah: 

- Daru Qunthi menyatakan, Hamzah riwayat- ayatnya ditinggalkan 

- Ibnul Adi menyatakan, semua riwayat-ayat Hamzah maudhu' 

- Ibnu Hibban mengatakan, Hamzah selalu menyalahi perawi-perawi tsiqoh, 
dan seolah-olah sengaj a meriwayatkan Hadits maudhu' 



3. 









/X^\^X^o\s^j*fy • v 



• • 



"Barang siapa mati, sedang ia tidak (dalam keadaan) tidak ber imam, 
maka matinya dalam keadaan Jahiliyah (H. R, Ahmad) 

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Demi Allah yang disabdakan 
Rasulullah tidak demikian. Tidak ada sumber aslinya Hadits yang bermatan 
demikian. 

Hadits ini telah disalahgunakan oleh kelompok-kelompok/ j ama'ah- 
jama'ah Islam untuk dijadikan alat wajibnya mengimami pemimpinnya, misalnya 
Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku dirinya jadi Nabi, dan lain-lain 

4. 



• • •• 



"Barang siapa berkata (menafsirkan) tentang Al. Qur'an menurut 
pendapatnya sendiri saja, maka hendaklah dia bersiap-siap menempati tempat 
duduknya di neraka, (riwayat Tirmidzi, Ahmad dari Abdul A'la Abi Amir ats, 
Tsa'labi, dari Sa'id bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas) 

Hadits ini dha'if (lemah). Ad-Dzahabi mengatakan Ats. Tsa'labi 
dimasukkan ke dalam orang-orang yang dha'if (lemah). 
Imam Ahmad dan AbuZu'rah mendha'ifkan Ats-Tsa'labi. 



5. 






"Tidaklah halal bagi 3 (tiga) orang yang berada di tanah tidak bertuan, 
kecuali haruslah mengangkat seorang di antara mereka menjadi pemimpin ". 
(Riwayat Ahmad dari Ibnu Lahai'ah, dari Abdullah bin Huroiroh, dari Abi Sali 
al Jaysani, dari Abdullah bin Amr) 

-Hadits ini dha'if (lemah), tidak bisa dipakai sebagai hujj ah. 
-Ibnu Lahi'ah dinyatakan dha'if (lemah) oleh Jumhur Muhadditsin. 

IraSISI ■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Titliunan Rupiah 



fflmm 



BAGIAN KESA TV: Ke&hhin LP// Pihm Memifom/ Pjltl 

"Allah menolak amalan pelaku-pelaku bid'ah hingga ia tinggalkan 
per b uatan b i d 'ah itu. " (Riwayat Ibnu Maj ah, Ibnu Abi Aashim, Ad- D ailami, 
dari AbiAsy-Syeik, dari BisyrbinManshur, dari Abi Zaid, dari Abi Al Mughiroh, 
dari Abdullah JbnuAbbasr. a.). 

Hadits ini munkar, dengan adanya perawi-perawi yang tidak dikenal. 

Adz Dzahabi mengatakan bahwa Abi Zaid adalah perawi tak dikenal 
Juga dua perawi lainnya. Hal ini dikuatkan oleh Al-Bushairi. Abu Za'rah 
mengatakan bahwa ia tidak mengenal Abi Zaid, tidak pula gurunya, juga Bisyr. 



7. 









6 s s s i 



• ^^\^iy^\^y^ l^lCjSl^^J 



s / s 



"Allah SWT tidak menerima dari pelaku bid'ah: puasa, shalat, sedekah, 
haji umroh, jihad, tidak ibadah dan tidak pula amalan kebaikannya, ia akan 
keluar dari Islam seperti keluarnya sehelai rambut dari adonan terigu (Riwayat 
Ibnu Maj ah dari: Muhammad bin Mihshan, dari Ibrahim bin Abi Ablah, dari 
Abdullah bin Ad Daimi, dari Huzaifah) 

Hadits ini Maudhu' (palsu) dan sanadnya dinyatakan lebih buruk dari 
Hadits No. 6. 

Muhammad bin Mihshan dinyatakan sebagai pendusta oleh Abu Hatim, 
dan Ibnu Ma'in, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Muhammad bin 
Mihshan dinyatakan sebagai pendusta oleh ahli hadits. 



4SH55M40S$ 



' " '*.' <. >. ' ' 



p p i p \ 

s s s s s s s s / . s 

"Barang siapa beramal di dalam jarna 'ah karena Allah, jika benar 
maka Allah menerima amalnya itu, dan jika keliru Allah mengampuni 
kepadanya. Dan barang siapa beramal mencari firqoh lantas benar, Allah 
tidak mau menerima dari amalnya itu, dan jika keliru, maka duduklah ditempat 
duduknya didalam neraka (H.R. Ath-Thabrani) 

Dalam sanadnya Hadits itu ada Muhammad bin Kholid al Hanafi, Ibnu 
Hajar menyatakan bahwa Muhammad bin Holid adalah dha'if (lemah). 

Catatan: Hadits no.2 s/d 7 dinukil (feri kitab Silsilatul Ahaadits Adh-Dhaifah 
walMaudhu 'ah WaAtsaruha As Sayyi 'Fil Ummah: M.N. Al Albani. 

Cukup banyak Hadits-hadits dha'if (lemah) dan maudhu' (dusta) yang 
dijadikan dasar untuk beribadah. Padahal jangankan banyak sedangkan satu 
saja sudah dilarang. Apalagi kalau satu itu menjadi pusat dari sandaran (sandaran 
pokok)"maka dampaknya akan ke mana-mana sehingga jangan diracuni oleh 
pemikiran bahwa itu cuma sedikit, masih banyak yang shahih. 

Satu mata air, kalau mata air itu akan mengairi keberbagai sungai, dan 
sungai itu akan mengairi berbagai parit, kemudian parit itu akan mengairi tempat- 
tempat dimana manusia-manusia minum, bila sumber mata airnya itu terkena 
racun, maka sekian banyak manusia akan terkena racun tersebut. Begitulah 
gambaran, walau hanya satu dalil Hadits yang tidak sah, jika dalil itu menjadi 
sandaran pokok dalam ibadah, maka dampaknya akan ke berbagai lini ibadah. 
Satu saja dalil yang tidak sah, berbagai lini ibadah akan menjadi tidak sah. 
Bahkan bisa lebih dari yang kita perkirakan. 

Begitu pula Hadits "Laa Islaama Illaa BU Jama 'ati itu (telah diuraikan 
dimuka) adalah menjadi sandaran penting dalam ibadah jama' ah H. Nurhasan 
Ubaidah. (( Laa Islaama lila BU Jama 'ati itu telah menjadi sumber/sandaran 



Wmm ■ HMC Sn °diq. Akar Kesesalan LDfl & Penipuan Trlliunan Rupiah 



wmm 



BACIAN KESATU: Kestkhin LDfi Pikm Mernihmi Pllil 

pokok/tolok ukur dalam menentukan sesuatu. Dalam praktek boleh dikatakan 
hampir segala masalah dinilai, diukur, diartikan/ditafsiri berdasarkan dalil "Laa 
Islaamalllaa BilJama 'ati, sehingga kalau dalil sandarannya itu salah, semua 
yang dinilai, diukur, diartikan/ ditafsiri berdasarkan dahi itu maka hasilnya akan 
salah. 

Sebagai contoh, dalil 'ZaalslaamalllaaBilJama'atiitu.telefodija&km 
dasar untuk mengukur atau menentukan: 

Mana yang Islam, mana yang bukan Islam. 

Mana yang j ama'h mana yang bukan j ama' ah 

Mana yang amir, mana yang Bukan 

Mana yang harus dibaiat 

Mana yang harus ditaati, mana yang tidak boleh ditaati, 

Mana yang ma'ruf mana yang munkar, 

Mana yang dosa, mana yang pahala 

Dan seterusnya. 

Dari hal mana yang Islam dan bukan Islam saja dampaknya sudah akan 
ke mana-mana: Siapa yang boleh menjadi Imam (sholat), siapa yang tidak, siapa 
yang boleh dido'akan siapa yang tidak, yang disolati janazahnya siapa yg tidak. 
Siapa yang boleh dijadikan suami/istri siapa yang tidak, siapa yang menjadi ahli 
waris, siapa yang tidak dan seterusnya, (yang bukan Islam itu berarti kafir; Itu 
didasarkan dari lafadh <c Laa Islaama lila BilJ ama 'ati. Dari situ berkembang, 
bercabang dan beranting ke mana-mana. Menjadi aqidah dalam menyikapi 
terhadap orang-orang diluar jama'anya dengan menyatakan kafir). 

Dari hal mana yang ma'ruf dan mana yang munkar serta siapa yang harus 
ditaati dan siapa yang tidak boleh ditaati, akan menentukan siapa-siapa yang 
boleh ditaati, siapa yang tidak boleh ditaati' 

Ini hanya sekedar contoh, yang jika diteruskan bisa tak terhingga kalau 
yang dijadikan dasar penilaian atau penentuan itu keliru, maka semua hasil 
penilaian atau penentuannya akan keliru juga. Misalnya: Yang Islam jadi bukan 
Islam, yang ma'ruf jadi munkar, yang harusnya ditaati malahan diingkari/ 
ditentang, yang mestinya tidak dibai'at malahan dibai'at, yang mestinya tidak 
diikuti malah dipuja-puja, yang dosa dinilai berpahala dan seterusnya. 






Jika "Laa Islaama lila BilJama'ati itu dha'if (lemah) berarti dilarang 
dipakai, maka berarti sesuatu yang didasarkan/diukur/ dirumuskan dengan "Laa 
Islaa ma Illaa bil lama' ati itu kan juga tidak boleh dipakai. "Padahal Laa Islaa 
ma Illaa bil Jama'ati ituperawi-perawmya secara beruntun tidak shahih, sehingga 
jelas-jelas Hadits itu dha'if (lemah) dengan tingkatan yang berat. 

Jadi konsekuensinya ibadah-ibadah yang didasarkan pada Hadits yang 
dha'if (lemah) itu, mau atau tidak mau akan terkena hukum sama dengan dalil 
yang dipakai dasar ibadahnya. 

Oleh karena itu sangat bij aksana kalau hal ini direnungkan benar-benar. 
Meremehkan atau membiarkan hal ini akan berakibat fatal. 



Contoh Tafsir Yang Tidak Benar Dan 
Penempatan Dalil Yang Keliru: 



Allah berfirman: 



• y y £y y \ ' 4 * * ' 



y y y y yy yy yy ^ 

f yy y 9 



[VN^^fO.ttrtPW 



"Suatu hari dimana Kami panggil tiap umat dengan Imam/ 
Pemimpinnya. " 

Lafadz "Imaamihim diterjemahkan dengan "imam/amir jama'ah, lebih 
khusus lagi amir H, Nurhasan Ubaidah, 

Hal ini jelas salah. Perlu diperhatikan, aturan menafsirkan ayat Al Qur 'an 
itu, yang pertama-tama adalah tafsir ayat dengan ayat yang lain. Sesudah itu 
tafsir ayat dengan Hadits, Jika tidak ada baru dengan kaidah-kaidah tafsir. 
Penjelasan lafadz ini ada dalam surat Yasin ayat 12, yaitu: 






|§|§P$: ■ H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LD! I & Penipuan Triliunan Rupiah 
Httl 



BAGIAN KESA TU; Kcs^khn LP// Pikm Memahimi Pilll 






? S f ss 



"Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang nyata (Lauh 
Mahfuz)." ' 

Kemudian dalam Hadits Bukhari diterangkan bahwa pada hari Qiyamat 
setiap umat akan didatangkan/dipanggil bersama Nabi masing-masing 

Jadi dengan memperhatikan Surat Yaa Syiin ayat 12 dan Hadits Bukhari 
itu makna dari lafadz Bi Imaamihim itu adalah bahwa di hari qiamat setiap 
umat (termasuk H. Nurhasan Ubaidah) akan didatangkan bersama (disaksikan) 
Nabinya masing-masing dan Kitab In-duk Catatan Amalnya disamping Malaikat 
yang mencatat amalnya. 

Jadi, Bi Imaamihim di sini bukan imam/amir dalam pengertian imam 
jama'ah, lebih khusus lagi imam/amir H. Nurhasan Ubaidah. Disebabkan cara 
menafsirkan yang demikian, maka muncullah kewajiban mengangkat amir (dalam 
hal ini H. Nurhasan Ubaidah) untuk dijadikan saksi di hari Qiamat dengan 
mendasarkan Hadits yang dha'if (lemah) pula bahwa kalau tidak mengenal amir 
(waktu hidup), maka matinya akanmatijahiliyah dan tidak akan ada saksi yang 
membenarkan ibadahnya. 

Jadi mentafsirkannya sudah salah, tindak lanjutnya dengan dasar Hadits 
yang dha'if pula, maka terjadilah kesalahan yang beruntun. 

Tidak usah takut tidak ada yang menyaksikan amal baiknya di hari Qiamat, 
kemudian mengangkat amir/imam untuk menjadi saksi nanti di hari qiamat 
dengan cara yang salah, Kitab Induk (catatan seluruh amal) manusia itu pasti 
akan menjadi saksi dan tidak akan pernah bohong, termasuk seluruh anggauta 
tubuh. Contoh lain adalah Qur'an Surat Ali hnron ayat 1 03: 

Yang penjelasannya dikatakan ada pada ucapan Umar: "Laalslaama 
Illaa BilJama'ati, Walaa Jama'ata Illaa BU Imaroti Walaa Imarota Illaa BU 
Bai 'ati Walaa Bai y ata lila Bittho } ati ". 



##*&£$**%, 



Drs. Nurhasan menyatakan ucapan Umar itu merupkan penjelasan (tafsir) 
dari Qur ? an Surat Ali Imran ayat 103. Hal ini jelas keliru, karena yang disebut- 
sebut ucapan Umar itu adalah Hadits Dha'if (lemah) (yang berarti tertolak/gugur) 
sehingga yang dikatakan ucapan Umar itu secara sar ? i tidak ada 

Tentang Contoh Dalil-Dalil Yang Salah Tempat Antara Lain: 

Dalil tentang Bai'at dan taat yang seharusnya dilakukan terhadap imam/ 
amir dalam pengertian khalifah sebagai pemimpin/penguasa pemerintahan yang 
berdasarkan syari'at Islam dimana Hukum-hukum Islam diterapkan dalam 
pemerintahan itu dan dilaksanakan dengan sepenuhnya, dipakai dasar untuk 
membai'at H. Nurhasan Ubaidah. 

Cukup kiranya contoh-contoh tersebut untuk memberi gambaran adanya 
Hadits-hadits dha'if (lemah), kesalahan-kesalahan dalam tafsir Al Qur'an, 
maupun penempatan dalil yang tidakbenar dijadikan dasar untuk beribadah. 

Memang cukup banyak dalil-dalil yang digunakan untuk memperkuat 
keabsahan amir/jama' ah/ajaran H. Nurhasan Ubaidah terlepas dari shahihatau 
tidaknya, sampai-sampai dalil (ayat) bahwa: "Jangan mengira orang itu sudah 
beriman sebelum diuji (menurut istilah Drs. Nurhasim "digegeri (Lihat QS. Al 
Ankabut ayat 2-3) dipakai dalil untuk membuktikan bahwa keamiran H. Nurhasan 
Ubaidah sah. 

Dalam hati penulis bertanya-tanya, ketika membaca hal itu di buku Drs. 
Nurhasimhal. 49-50. Dia mengatakan bahwa Keamiran Bpk. H. Nurhasansudah 
diuji, sudah digegeri, hasilnya ternyata lulus dari ujian dan penggegeran itu. 
Sudah digegeri kok dijadikan dalil untuk keabsahan amir. Lagi pula apakah 
benar itu sudah lulus menurut Allah, juga wallaahu a'lam, karena Allah yang 
menguji dan Allah pula yang menilai lulus tidaknya (bukan Drs. Nurhasim), 
begitu pula apakah itu merupakan pertolongan atau jangan-jangan itu istidroj 
juga wallaahu a'lam. 

Bahwa orang-orang yang beriman (bukan hanya dia saja) itu diuji adalah 
1 00% benar. Akan tetapi berfikir bahwa yang sudah "lulus digegeri (berarti oleh 
manusia) pasti benar itu adalah keliru. Banyak contoh sesuatu yang (istilahnya) 
"digegeri dan menurut persepsinya sudah "lulus tetapi dilihat dari kaidah hal itu 
sebenarnya adalah keliru atau menurut kaidah "tidak lulus (salah). 






B H.M.C, Shodiq t Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 

lllil 



BAGIAN KESA W: Kesihhin LP// Pikm Mcmihimi Pjlij 

Jadi janganlah beranggapan kalau sudah lulus digegeri itu pasti benar. 
Dengan demikian penafsiran dan penempatan ayat tersebut untuk bukti sahnya 
keamiran H. Nurhasan Ubaidah, tidak tepat. 

Di bagian lain (dalam Bab : Meningkatkan Perjuangan Qur 'an Hadits 
Jama 'ah hal. 4) disebutkan yang intinya: bahwa jama' ah ini telah mendapat 
pertolongan Allah, terbukti berkembang pesat di Jawa, luar Jawa bahkan manca 
negara. Kalau berkembang dalam hal dhohirnya dijadikan bukti adanya 
pertolongan Allah dan itu sebagai bukti bahwa itu benar, maka Yahudi dan 
Nasrani itu jauh lebih berkembang, khususnya Nasrani yang ada di Indonesia 
itu, dibandingkan dulu sekarang ini jauh lebih berkembang baik dalam jumlah 
maupun kekuatan ataupun materinya. Apa ini berarti benar dan mendapat 
pertolongan Allah? Kalau ini dijadikan ukuran, maka berarti Nasrani lebih benar 
dibandingkan jama' ah Nurhasan Ubaidah. 



♦ 




HMC. Shodiq, Akar Kesesatan LDI! & Penipuan Triiiunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukti-Bukti Penipuw LPII 



mmaw, 



BAGIAN KEDUA 

BUKTI-BUKTI 

PEMIPDAN LD11 



Daftar Korban Penipuan Investasi LDII 

dari Radar Minggu Jombang 



No 


Nama Korban 


Alamat 


Jumlah uang 


1 


Keluarga B. 
Swandono 


Ada di Redaksi 


Rp. 600 juta 


2 


Jendral 
Purnawirawan 


Madiun 


Rp. 4 milyar 


3 


Di Polres Pare 


- 


Rp. 2 milyar 


4 


Di Polwil Kediri 


- 


Rp. 1.5 milyar 


5 


Suyanto 


Wonokerto, 
Plemahan 


Rp. 600 juta 


6 


Kuntjoro 


- 


Rp. 150 juta 


7 


Abdul Aziz 


DesaBendet, Kec. 
Diwek 


Rp. 12 juta 


8 


Wakidjan alias 
Kijan 


Wonokepang, 
Kec. Balongbendo 


Rp. 36.5 juta 


9 


Korban di 
Lengkong 


- 


Rp. 90 juta 


10 


Winarno 


Desa Sidowareg, 
Plemahan, Kediri 


Rp. 23 juta 


11 


Basuki 


Camat, Plemahan. 
Kab. Kediri 


Rp. 6 50 juta 


12 


Kades 
Mojokerep 


- 


Rp. 1 milyar 


13 


Di Desa 

Sidowareg 
menurut catatan 
Kades Agus 




Tak kurang dari 
Rp. 200 juta 



1 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUAi Bukti-Bukti Penipuan LP/J 



14 


H. Masyhudi 


Desa Tawang, 
Kec, Purwoasri, 
Kab. Kediri 


Rp. 600 juta 


15 


Korban di 
Mojokerto 


- 


Rp. 3 6 juta 


16 


Korban di Kediri 


- 


Rp. 500 juta 


17 


Korban di 
lingkungan 
Pertamina LD II 




Rp. 1 Milyar 


18 


Sajuri 


- 


Rp. 50 juta 


19 


Asmadi 


Jl Kawak Utara 
Kediri 


Rp. 600 juta 


20 


Mudianto 


DesaWonorejo, 
Kec. Wates, Kdiri 


Rp. 70 juta 


21 


Endang 
Kustiningsih 


Tepurejo, Kediri 


Rp. 20 juta 


22 


Korban 


di Mojokerto 


Rp. 2.3 milyar 


23 


Korban 


di Tulung Agung 


Rp. 6 00 juta 


24 


Korban adalah 
TKI/TKW 


di Blitar 


Rp. 600 juta 


25 


Di Tulung 
Agung 


- 


Rp. 80 milyar 



Catatan: 

* yang menerima uang adalah Umi Salamah Istri Abdu Dhahir 

* * yang menerima uang adalah M. Ontorejo, cucu KH. Nurhasan Al Ubaidah 

alias Oong. 



111111 



HATI-HATI TAWARAN INVESTASI! 

Harap hati-hati, akhir-akhir ini banyak modus penipuan menggunakan berbagai 
kedok. Ada yang berkedok Yayasan sosial seperti Amalillah di Jawa Timur dan 
Yamisa di Jawa Barat sebagaimana yang sudah diungkap polisi di berbagai daerah. 
Tapi tak jarang pula ada usaha penipuan berkedok investasi bisnis dengan janji 
keuntungan yang menggiurkan sebagaimana yang dialami keluarga saya. Ceriteranya 
begini. Saya punya saudara yang tinggal di Surabaya, pada sekitar bulan Juni 2002, 
didatangi oleh seorang dari Kediri yang sudah dikenal sebelumnaya, namanya pak 
Haji M tinggal di wilayah Kec. Purwoasri, Kediri dan dikenal sebagai tokoh LDII 
setempat. 

Omong-punya omong, intinya keluarga saya "diprospek" oleh HM dengan janji 
pemberian keuntungan 5% dari investasi yang ditanamkan pada perhitungan setiap 
bulan. Singkat cerita, keluarga saya tergerak hatinya, menyerahkan uang Rp. 600 
Juta sebagai investasi. 

Dalam perjalanan pada bulan awal keuntungannya 5%, diberikan, begitu juga 
pembagian keuntungan pada bulan 2 (dua) bulan berikutnya. Tapi pada bulan ke 4 
(empat) tepatnya bulan September, pengelola mulai "mbulet". Bukan Cuma tak 
mau memberi keuntungan, tapi terkesan mau menghindar. 

Urus punya urus, setelah ditelusuri, ternyata HM mengaku urusan investasi ini 
masih "mbulet" ditingkat "bos" yang bermarkas di ponpes LDII Burengan Kediri. 
Sejak itu, keluarga saya mondar-mandir ke Ponpes Burengan. Ibaratnya, jalan di 
Ponpes LDII ini "Lebek" olehkaki keluarga saya . 

Yang sangat mengecewakan "bos" di Ponpes Burenganberusaha menghindar. 
Dari sini keluarga saya kian gelisah. Apalagi ada isu, di luar Jama'ah LDII, hukumnya 
halal bagi mereka. 



H MC. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah 



iiliiiiiii 



BAGIAN KEPUA; Bukii-Bukti Pepipum LP/I 

Persoalan ini baru terselesaikan pada 25 Januari 2003. Itupun tidak dikembalikan 
berupa uang modal Rp. 600 juta, tapi berupa barang mewah seharga 250 juta dan 
sebidang tanah. Dari taksir harga barang tersebut, keluarga saya masih dirugikan 
sekitar 80 Juta. Belum termasuk kerugian janji keuntungan 5% tiap bulan yang 
tidak dipenuhi. 

Pengalaman jadi korban penipuan ini sengaja kami beberkan dengan harapan 
agar tidak ada lagi korban-korban lain. Sebab tidak mungkin "pencari mangsa >f 
kali ini juga berada di sekitar kita dengan berbagai dalihnya siap "mencaplok" 
kita. Sisi lain, korban penipuan sebagaimana yang dialami keluarga saya ini, juga 
diderita oleh beberapa orang lain. Baik itu dari keluarga besar jama'ah LDII, maupun 
non jama'ah LDII. Untuk itu saran kami, segera urus tuntas uang Anda sebelum 
menemui kesulitan. Saya juga berharap, Tabloid Radar Minggu juga berkenan mau 
menampung keluhan para korban penipuan ini sekaligus ikut memperjuangkan 
tuntasnya perkara ini melalui tim advokasinya. Terimakasih atas bantuannya. 

B. Swandono. Alamat ada di Redaksi 



Jawaban dari Radar Minggu 

Insya Allah, Tabloid Radar Minggu tak keberatan menampung keluhan para 
korban penipuan sebagaimana isi surat pembaca tersebut. Untuk itu silahkan hubungi 
Redaksi. Jl. KaptenTendeanNo.35 Jombang, Telp (0321)869234, temui sdr. Eko 
Zulianto SH dengan membawa foto copy identitas diri dan bukti penipuannya. 

Radar Minggu, EdisiXI, Jum 7 at21 Februari 2003 






KORBANNYA PARA PEJABAT, 
KONGLOMERAT DAN JENDRAL? 

Banyak hal menarik di balik kasus dugaan penipuan berkedok investasi di 
lingkungan LD II. Radar Minggu bermaksud menurunkan laporan secara 
bersambung mulai edisi ini, Yang menarik kali ini, dugaan penipuan yang mencapai 
triliyunan rupiah, ternyata bukan hanya orang "awam" tapi para pejabat, penegak 
hukum dan konglomerat. Berikut hasil investigasi Tim Radar Minggu. 

Kuntjoro, penasihat di Ponpes LDII Burengan, Kediri, mengungkapkan bahwa 
korban kasus dugaan penipuan berkedok investasi ini bukan cuma orang awam. 
Tapi banyak juga dari kalangan pejabat sipil, penegak hukum, bahkan ada juga 
Jendral Purnawirawan. Jendral Purnawirawan dimaksud adalahberasal dari Madiun 
yang disebutnya "tertipu " sekitar Rp. 4 milyar. 

Kepada Radar Minggu yang menemui di komplek Ponpes LDII Burengan, 
Kuntjoro, mantan Kades Tengger, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri ini, juga 
menyebutkan sejumlah Kapolsek dan Kades di Pare, Kediri, dan Koperasi Polwil 
Kediri juga menjadi korban. Di Polres Pare, korbannya mencapai sekitar Rp.2 milyar. 
Sedangkan di Polwil Kediri, sekitar Rp. 1 .5 milyar. 

Menurut Kuntjoro, kasus ini sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan 
organisasi LDII. Secara kelembagaan, dieditpun berkait dengan kasus ini LDII siap 
melayani. Tapi diakui, karena para pelakunya adalah tokoh-tokoh LDII, otomatis 
dapat merepotkan organisasi. 

"Sejak awal saya pribadi sudah tidak setuju "bisnis" tersebut," tukas Ketua 
KUD Sri Handayani, Wilayah Kec. Kunjungan itu. 

Tapi, meski tidak setuju dengan i( bisnis" investasi itu, pihaknya tidak bisa 
berbuat apa-apa. Karena itu, setiap ada korban yang mengadu kepadanya, Kuntjoro 
cuma dapat menyarankan untuk menempuh jalan sesuka hatinya. "Wis embuh, kok 
gebuki, opo kok apakan, terserah," ujar Suyanto, Wonokerto, Plemahan menirukan 
ucapan Kuntjoro ketika ia bersama dua rekannya yang menagih ke Ponpes LDII 
Burengan. Yang ditagih Suyanto sekitar Rp. 600 juta. 

Meski Kuntjoro tak setuju dengan "proyek" investasi ini, ternyata ia juga 
mengaku menjadi korban, jumlahnya cuma Rp. 150 juta. Yang menyerahkan uang 
bukan langsung dirinya, tapi istrinya. Tak disebutkan istri yang mana, yang muda 






lilin 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triltunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukti-Bukii Penipuan LP/l 

atau yang tua. Yang jelas sejak tambah istri, Kuntjoroyang dulu sering nonkrong di 
Pasar Kunjang, kini lebih istiqomah di Ponpes Burengan, sebagi penasehat 

Radar Minggu, Edisi XI, Minggu ke-S April 2003 



KELUH KESAH PENGEPUL TINGKAT BAWAH 

Para Korban dugaan penipuan berkedok investasi di lingkungan LDII, mulai 
menggeliat resah. Mereka tak mau tahu larinya uang tersebut bermuara di mana. 
Karena itu, sasaran "pengejaran " tak mau ke mana-mana. Yang mereka ketahui, 
cuma pengepul, penerima uang pertama, alias pengepul tingkat bawah. 

Hal itu untuk memperluas urusan, agar tidak diombang-ambingkan. Artinya, 
orang yang pertama menerima uang dari korban itulah yang harus memepertanggung 
jawabkan, bukan harus orang lain. Soal ada fihak lain diatas pengepul, sepenuhnya 
urusan pengepul, bukan urursan korban. "Jika tidak punya prinsip demikian, korban 
bisa dipingpong yang ujung-ujungnya bisa semakin ruwet," tukas Agus Kades 
Sidowareg, Kecamatan Plemahan. 

Dalam kasus ini, Agus titip uang Rp. 10 juta kepada Moh Tohar, Kades 
Mojokerep, Kecamatan Papar. Setelah ada tanda-tanda "mbulet", Agus cuma 
"ngepres" Tohar agar mengembalikan. Agus tidak mau menerima alasan macam- 
macam. Agus tidak mahu tahu uang tersebut diterimakan kepada " Jendral petak" 
atau "Jendral belang". Nggak mau tahu apakah uang tersebut dibawakan ke Raja 
Jin atau Ratu Syetan . Yang penting, Tohar harus mengembalikan uangnya. Ternyata, 
"jurus" Agus membuahkan hasil. 

Agaknya, jurus Agus inilah yang digunakan para korban di Kediri untuk 
mempertanggungjawabkan pengepul. Praktis, para pengepul di tingkat bawah 
kelabakan. Tak ayal, untuk menuruti desakan korban, terpaksa harus memberikan 
barang miliknya, tak peduli berupa apapun. 

Tohar mengungkapkan, akibat "pengkhianatan" pengepul atasannya, pihaknya 
sekarang boleh dibilang hancur lebur . Hancur namanya lebur usaha dan barang 
miliknya. Katanya dulu punya usaha pertanian berikut sejumlah kendaraan, kini 
sudah tak ada lagi. Semua barang tersebut "disita" para korban yang titip "investasi" 
kepadanya. Tohar mengaku tinggal punya rumah . Itupun sertifikatnya "disandra 
Ponpes LDII Burengan. 



■>■> 



wmzms- 



"Boleh dibilang kini saya sudah tidak punya apa-apa," keluh Tohar kader muda 
LDIL "Tolong deh, bantu saya," tambahnya sembari menghela nafas dalam-dalam. 
Sore itu tatakala Radar Minggu bertandang ke rumah Tohar, di luar sudah ada tamu 
menunggu akan menagih. Tamu berkendaraan kijang tersebut diketahui dari 
karyawan PG. 

Begitu juga "jeritan" Basuki, Camat Plemahan. Sebelumnya, saat terbuai iming- 
iming keuntungan berinvestasi di lingkungan LDII, Camat Basuki juga menampung 
titipan uang kawan-kawannya. Kini, setelah urusannya ruwet, hari-hari yang dilalui 
bagai sudah tidak ada keceriaan lagi. Seolah ia cuma membayangkan, betapa 
hambarnya bila tak segera dapat mengembalikan sejumlah uang yang pernah 
dititipkan kepadanya. 

Haji Royan, pengepul di Jombang, lebih "ngenes" lagi. Tokoh LDII yang 
bernukim di sekitar Ponpes LDII Gadingmangu, Kecamatan Perak, keluhannya 
cukup menyayat. Katanya, jangankan mengembalikan uang para korban, untuk 
membeli obat sakit yang diderita, H. Royan mengaku sudah tidak mampu lagi. 
"Mohon maaf, bila teh yang anda minum ini tidak begitu manis, itu karena hari-hari 
ini saya sudah tidak mampu membeli gula," keluhnya kepada Radar Minggu. 

Tohar, Basuki, Royan hanya sebuah contoh pengepul tingkat bawah yang hari- 
hari ini penuh keluh kesah. Tentu, masih banyak pengepul tingkat bawah lainnya 
yang tak lepas dari derita, buah keserakahan pengepul atasannya. Yang menjadi 
pertanyaan, mengapa tokoh LDII di tingkat pusat tak segera mau menuntaskan kasus 
yang melilit anggota Jama'ahnya ditingkat bawah? Kalau begitu, apa arti sebuah 
ikatan persaudaraan dalam Jama'ah yang dilukiskan satu tubuh? 

Radar Minggu, Edisi XI, Jum 'at 21 Februari 2003 



PT. LIMA UTAMA, PENGEPUL JOMBANG 

Selain di Kediri, korban penipuan berkedok investasi di lingkungan LDII ini juga 
u bergelimpangan " di daerah lain. 

Di Mojokerto, penipuan berkedok investasi ini berlangsung sejak tahun 2001. 
Menurut catatan, cikal bakal "proyek" ini berawal dari pertemuan tanggal 3 Maret 
2000 pukul 14,00 di rumah H. Loso, tokoh LDII di Desa Brangkal, Mojokerto. 
Dalam perjalanannya, bukan cuma menelan korban uang tapi ada pula korban 






WmM ■ HMC - Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



:>•><:■<:■><<<><■■: 



BACIAN KEPUA-. Bukti-Bukti Penipuan LP// 

penipuan ini yang dipenjarakan di Mojokerto. (Baca: Konspirasi Mafia "Membeli" 
Penjara). 

Di Jombang, tak kalah maraknya. Selain H Royan dan H Mustafa di 
Gadingmangu, Kecamatan Perak, PT Lima. Utama Abadi, pimpinan Abdul Ghafur 
juga sebagai pengepul. Dalam operasinya, PT Lima Utama Abadi yang berkantor 
pusat di Jl. Raya Ngeplak No.230, Perak, Jombang, ini menugaskan Divisi 
Operasional, Muchtarom dibantu Drs. Ngadimin dan Moh. Abdullah, SH. 

Salah satu korban PT Lima Abadi di Jombang adalah Abdul Aziz, penduduk 
Desa Bendet, Kecamatan Diwek. Pedagang bensin berusia 40 tahun ini 
"berinvestasi" sebesar Rp. 12 juta yang dituangkan dalam surat perjanjian kerjasama 
bagi hasil, tertanggal 3 Juli 2002. Surat bernomor 36/03,bermateraiRp. 6000 dan 
ditandatangani H Abdul Ghafur , pimpinan. PT Lima Utama, disebut pula tabungan 
masa depan/ Persiapan Haji. 

Di Sidoarjo, para korban penipuan ini juga mulai menggeliat resah. Salah 
satunya yang mulai berani "menyanyi" adalah Wakidjan alias Kidjan. Penduduk 
Wonokepang, Kecamatan Balongbendo, ini tertipu sekitar Rp. 36.5 juta. Rinciannya, 
sekitar 16.5 juta dititipkankepada Tawar Mulyono, Direktur Operasional CVRorry 
Persada. Sedang yang 20 juta dititipkan kepada H Munir A, Mojosari, berkwitansi 
tertanggal 20 Maret 2002. 

Di Gresik, Tawar Mulyono, Kades Lebanisuko, Kecamatan Wringin Anom, 
sebagai pengepul Direktur Operasional CV. Rorry Persada yang juga Pimpinan 
Umum Tabloid Suara Baru, saat ini dikejar-kejar para korbannya. Bos UD. Kurnia 
Jaya Motor, Lebanisuko ini bukan cuma mengepul uang korban dari Kabupaten 
Gresik, melainkan banyak pula korbannya dari berbagai daerah. Menurut pengakuan 
istrinya, uang yang dihimpun Tawar Mulyono mencapai 20 Milyar. 

Di Nganjuk, menurut catatan sementara, korban yang paling banyak berada di 
sekitar Kecamatan Lengkong dan Jati Kalem, selain di sekitar Kertosono. Umumnya, 
korban di daerah Nganjuk masih enggan mengungkapkan keluhannya. Sebab mereka 
saat ini masih berharap turun tangannya Kyai Sepuh, H Dhohir , penguasa LDII 
Kertosono. "Tapi Kyai Sepuh H. Dhohir cuci tangan, ya kami akan menempuh 
jalan sendiri," ungkap korban di Lengkong yang mengaku tertipu sekitar 90 juta. 

Di Surabaya dan Sekitarnya, saat ini muncul sebuah upaya rekayasa. Salah 
seorang korban mengungkapkan kepada Radar Minggu, bahwa beberapa korban 
dan pengepul membuat pernyataan bahwa sejumlah uang "investasi" tersebut 
seluruhnya diserahkan kepada Maryoso alias Mbah Gombel. 



Padahal, sejak kasus ini terungkap ke permukaan, sekitar Lebaran Iedul Fitri 
1423H, Maryoso alias Mbah Gombel "hilang" misterius. (Baca: Misteri Mbah 
Gombel dari Jl Pandan) . 

Ada dugaan, "rekayasa Surabaya" ini sengaja dibuat untuk menghindari kejaran 
para korban. Sebab dengan rekayasa tersebut, diharapkan seluruh penanggung 
"dosanya" adalah Maryoso, penduduk Jl. RayaPandan No. 17, Wates, Mojokerto. 
Mereka mengira persembunyian "boneka mafia" yang cuma berpendidikan SD ini 
tak akan dapat dilacak. "Padahal, siapa Maryoso dan dimana sekarang ini tak sulit 
melacaknya," tutur pria asal Lamongan. 

Radar Minggu, Edisi XI, Jum *at 21 Februari 2003 



CAMAT KORBAN RP. 650 JUTA 

Boleh dibilang, kasus berkedok investasi di lingkungan LDIIini, di Jawa Timur 
sudah bukan rahasia lagi. Operasionalnya mulai merebak sejak sekitar 2001 saat 
itu sejumlah tokoh LDI I gencar mensosialisasikan "proyek" tersebut melalui 
berbagai kegiatan di lingkungan organisasinya. Setelah berhasil meyakinkan umat 
Jama'ahnya, para pelaku "proyek" investasi juga merambah ke luar anggota 
jama'ah. 

Umumnya, para korban mengaku ikut "bisnis" tersebut lantaran terayu oleh 
iming-iming janji bagi hasil keuntungan 5-10% tiap bulan dari modal yang 
ditanamkan. Modus operandinya cukup lihai. Sekitar 2-4 bulan awal penanaman 
modal, janji bagi hasil keuntungan diberikan secara tunai. Siapa yang nggak senang 
di saat krisis moneter, dapat bagi hasil keuntungan sebesar itu," ujar Agus, Kades 
Sidowareg, Plemahan, Kediri, Jawa Timur. 

Tapi, pada bulan-bulan berikutnya, janji bagi hasil keuntungan tersebut cuma 
sekedar janji. Bahkan kesepakatan tentang modal yang bisa diambil sewaktu-waktu 
bila diperlukan, ternyata dipersulit. Ibaratnya, kasus ini bagai benang ruwet. Para 
pengepul saling lempar tanggung jawab. 

"Saya sekarang ini amat sangat judeg, mangkel, sedih, bingung campur jadi 
satu," keluh Winarno, penduduk Desa Sidowareg yang mengaku tertipu sekitar Rp.23 
juta. Rasanya saya sudah capek , kesal ngurus baik-baik," tambahnya. 






W&mm ■ H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDIi & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

Perasaan amat sangat "judeg" Winarno bisa dimaklumi. Pasalnya, semula ia 
membayangkan, dengan ikut investasi ini setidaknya ia berharap dapat 
mengembangkan usahanya. Ceriteranya, setelah terayu investasi, Winarno segera 
menjual dua Rice Milling Unit (RMU) keliling atau yang lebih dikenal dengan 
sebutan selep keliling. Namun setelah uangnya diinvestasikan, bagi hasil keuntungan 
tak dapat dinikmati, modal pokoknya pun sulit ditarik kembali. 

Lain Winarno lain pula kisah Basuki, Camat Plemahan, Kabupaten Kediri. Ada 
gambaran yang dilukiskan kawan-kawan dekatnya bahwa di antara sejumlah camat 
di Kediri saat ini yang paling susah adalah camat Basuki. Masalahnya, camat ini 
tertipu sekitar 650 juta. Dan yang membuat camat Basuki sangat sedih, sejumlah 
uang tersebut bukan miliknya sendiri, tapi sebagian besar titipannya kerabat, 
perangkat Desa dan kawan-kawan sejawat. 

Contohnya, uang sekitar 650 juta itu oleh Camat Basuki dititipkan pada dua 
pengepul. Yakni, sekitar Rp. 3 03 juta dititipkan kepada seorang pengepul di ponpes 
LDIIKrian. Sedang sekitar Rp. 3 47 juta dititpkan kepada Bambang, sebelumnya 
dikenal sebagai kemenakan Kyai Sepuh, KH Dhohir, Kertosono. 

Selain Camat Plemahan, Basuki, sejumlah camat lain juga menjadi korban 
dugaan penipuan berkedok investasi ini. Dil antaranya Camat Pare, Syaiful, Camat 
Semen, Agus, dan Camat Kujang. Para camat ini sebagian besar titip uangnya kepada 
Moh. Tohar, Kades Mojokerep. Sebagai Pengepul, Kades Mojokerep mengaku 
menjadi korban pengepul atasannya lebih dari Rp. Milyar. 

Di Desa Sidowareg, menurut catatan Kades Agus, tak kurang dari nilai Rp. 
200 juta uang rakyatnya "dikuras" penipu berkedok investasi. Di antara para 
korbannya, Sunyoto, sekitar Rp. 90 juta, titip kepada Amir di Tugurejo, Kec. 
Gampengrejo. Romli tertipu sekitar Rp. 60 juta, dan Winarso sekitar Rp. 28 juta. 
Keduanya titip di Kertosono. Belum lagi korban kecil-kecil bernilai sekitar Rp. 3 
juta sampai Rp. 5 juta. 

Di Desa Ringinpitu, Kecamatan Plemahan, penduduknya juga banyak menjadi 
korban penipuan ini. Nilainya tak kurang dari Rp. 200 juta. Antara lain, Kades 
Gangsar tertipu sekitar Rp. 25 juta. Pengusaha penggilingan padi, sekitar 100 juta, 
Ji'un, karyawan P2 AT sekitar Rp 3 juta, dan Nyonya Sutikno sekitar Rp. 80 juta. 
Yang tersebut terakhir, gara-gara penipuan investasi ini berbuntut proses perceraian. 
Mantan TKW dari Hongkong ini sekarang sudah tidak punya apa-apa, lantaran 
seluruh jerih payahnya selama itu dijual untuk investasi di lingkungan LDIL 

Kades dan Kasun Mejono, Kecamatan Plemahan, juga tertipu lebih dari Rp. 



100 juta. Kades Darungan sekitar Rp. lOjuta. Mereka ini titip kepada Muhammad 
Tohar, Kades Mojokerep. Sedang Naning, Karyawati pabrik pengolahan kayu Serba 
Guna, tertipu sekitar Rp. 200 juta. Wanita yang tinggal di Desa Pamenang, 
Kecamatan Pagu, ini titip kepada pengusaha mebel di Desa Pelem. 

Sejumlah nama korban tersebut di atas, cuma sekedar contoh. Masih banyak 
korban lainnya di Kediri . Hari-hari ini masih dihimpun tim investigasi Radar 
Minggu bekerja sama dengan Paguyuban Pamong Praja Indonesia (P3 1) Kabupaten 
Kediri yang dikoordinir Sugeng Widodo, BE, Kades Jombangan, Kecamatan Papar. 
Contoh sementara, uang rakyat Kediri yang dikeruk "penipu" berkedok investasi 
ini jumlahnya tak kurang dari 50 milyar. 

Para korban mengaku tertarik investasi di lingkungan LD II ini lantaran iming- 
iming prosentase bagi hasil keuntungan yang cukup menggiurkan. Selain itu, banyak 
korban, khususnya non anggota Jama'ah LDII, yang tertarik lantaran gebyar potret 
kebesaran organisasi LDII berikut gambaran bonafiditas tokoh-tokohnya. 
"Sebelumnya, saya kira tokoh-tokoh LDII itu dapat dipercaya, eh, ternyata kok 
pengkhianat," ungkap korban yang mengaku tertipu sekitar Rp 600 juta. (Tim) 

Radar Minggu (Laporan Khusus), Edisi XV, Minggu ke-3 April 2003 



LDH BAGAI DIGUNCANG BADAI 

Terkait Dugaan Penipuan Investasi Tri liyunan Rupiah berkedok Investasi Ibarat 
pohon, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) saat ini bagai diguncang badai. 
Pasalnya, umat di tingkat bawah sampai tokohnya, diduga terlibat kasus penipuan 
berkedok investasi yang jumlahnya mencapai tr i liyunan rupiah. Berikut ini hasil 
investigasi R adar Minggu. 

Korban "penipuan " berkedok investasi di lingkungan LDII mulai menyeruak 
resah. Pasalnya, sejumlah modal yang ditanamkan berikut jasa bunga, sudah sekitar 
tujuh bulan terakhir ini diurus, semakin tak kunjung ada harapan penyelesaian. 
Mereka bagai "dipingpong", tak jelas ujung pengembaliannya. 

Namun demikian, para korban masih enggan melaporkan kasus ini kepada 
polisi. Alasannya macam-macam. Bagi korban di luar anggota Jama'ah LDH, proses 
hukum di kepolisian dikhawatirkan malah "mempersulit" proses pengembaliannya. 
Banyak yang trauma dengan istilah "Gudel ilang, Kebo nyusul" (Anak kerbau hilang, 



■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 
mmmm 



BAGIAN KEDUA: Bu kti-Bukti Penipuan LP// 

kerbau nyusul hilang pula). Sedang bagi korban dari anggota Jama'ah LD II, 
alasannya cuma takut dituduh menghacurkancitra organisasinya sendiri. Karena 
itu, kelompok korban ini masih banyak yang menutup diri. Mereka takut dicap 
"murtad" dan dikucilkan dari tata pergaulan berJama'ah usaha semacam konsorsium 
ini. 

Namun mereka tetap berharap, dana investasi yang sudah terlanjur disetor 
kepada kelompok atasannya, dapat segera terkembalikan. 

"Demi citra organisasi, sebenarnya harus ada langkah penyelesaian kasus ini", 
tukas salah seorang korban, tinggal di Surabaya, yang mengaku titip sekitar 2.8 
milyar. Sebab katanya, secara hukum bisa saja organisasi "melepas tangan", tapi 
kasus ini bila dibiarkan secara liar, citra organisasi bisa lebih hancur karenanya. 
"Para pemegang kekuasaan di tingkat pucuk pimpinan organisasi perlu segera 
mengambil langkah penyelesaian", tambahnya. 

Terlepas mau lapor polisi atau tidak, kasus dugaan penipuan berkedok investasi 
ini sudah merebak luas, khususnya di lingkungan warga LDII. Ceritanya, kasus ini 
bermula dari gagasan pendirian Usaha Bersama (UB) yang dikelola para petinggi 
LDII. Usaha semacam konsorsium ini disosialisasikan secara gencar oleh para 
petinggi organisasi melalui berbagai pertemuan rutin maupun insidental. 

Intinya, para tokoh LDII ini mengajak warga ikut serta menangkap peluang 
investasi tersebut. Tawaran yang dijanjikan cukup sederhana. Barangsiapa yang 
mau menanamkan modalnya, dijanjikan keuntungan sekitar 5 persen yang dapat 
dinikmati setiap bulan. Modal yang ditanamkan juga dapat diambil sewaktu-waktu 
bilamana diperlukan. 

Tak ayal, warga LDII yang terkenal "amat sangat patuh" terhadap "Amirnya" 
ini menyambutnya tanpa pikir panjang. "Seman" para tokoh LDII ini ditelan mentah- 
mentah. Bahkan, mereka rela berkorban untuk mematuhi ajakan pemimpinnya. 
Sebagai contoh, seperti yang dilakukan seorang janda di Desa Jajar, Kecamatan 
Papar, Kabupaten Kediri, rela menjual sawah 200 ha, satu-satunya sumber mata 
pencaharian. Begitu juga yang dialami Pak Ludin di Kediri yang menjual rumah 
milik satu-satunya senilai Rp. 500 juta. Kini, Pak Ludin tinggal di sebuah rumah 
kontrakan bersama keluarganya. 

Dalam waktu relatif singkat, meski tanpa dibentuk secara formal, tersusunlah 
jaringan dari bawah sampai atas. Di Jawa Timur, uangnya bermuara di sejumlah 
pimpinan ponpes LDII, seperti di ponpes Gadingmangu (Jombang), Burengan 
(Kediri), Kertosono (Nganjuk) dan di Mojosari (Mojokerto). Selainku, dihimpun 



pula oleh Kades Lembanisuko, Ringin Anom, Gresik, Tawar Mulyono. Modus 
operandinya sangat sederhana. Mata rantai jaringannya, kurang rapi. Tak ada 
peringkat secara struktural. Tak pula dibatasi secara wilayah. Salah satu contoh, 
sebagaimana dilakukan Muhammad Tohar (34) Kades Mojokerep, Kecamatan 
Plemahan, Kediri. Kades muda ini mendapat titipan uang dari sejumlah kawannya 
sekitar Rp. 1 milyar. 

Sejumlah uang tersebut, kata Moh. Tohar dititipkan kepada enam tokoh LDII 
di Kediri, Jombang dan Gresik. Rinciannya, ImamRochmaniNgadilewih, Kediri, 
sebanyak Rp. 45 juta, SyaifuddinZuhri Purwoasri, Kediri Rp. 225 juta, H. Tamsir 
Rasyid Pandansari, Purwoasri, Kediri Rp. 50 juta. H. Royan Gadingmangu, Perak, 
Jombang, Rp. 102.000 juta, dan kepada Tawar Mulyono, Lebanisuko, RinginAnom, 
Gresik, senilai Rp. 535 juta. 

Kasus terkuak ke permukaan sekitar bulan Januari 2003 . Waktu itu ada salah 
seorang korban yang berhasil menarik kembali uangnya dari H. Iwan, Pimpinan 
Ponpes Burengan, Kediri. Korban ini, seorang dokter, tinggal di Surabaya dan bukan 
anggota LDII. 

Ceriteranya, pada bulan Mei- Juni 2002, dokter ini sepakat menanam modal 
melalui H. Masyhudi (49), Desa Tawang, Kec. Purwoasri, Kabupaten Kediri, 
sebanyak 600 juta. Kesepakatannya, H. Masyhudi menjanjikan keuntungan 5 persen 
yang akan diterimakan setiap bulan. Setelah dua bulan berjalan lancar, ternyata 
janji pemberian keuntungan bulanan, diingkari. 

Tentu korban mulai curiga. Sekitar bulan September 2002, korban mulai 
berusaha melacaknya. Yang diurus bukan cuma bagi hasil keuntungan yang macet, 
tapi berusaha menarik kembali modalnya. Korban "mencium" gelagat tidak beres 
dalam "proyek" investasi ini. Akhirnya, pada 29 Nopember 2002, H. Masyhudi 
membuat pernyataan sanggup mengembalikan uang korban Rp. 600 juta pada 
Januari 2003. 

Namun, pada bulan yang dijanjikan tersebut, tidak ada realisasi. Bahkan 
Masyhudi mengungkapkan uang tersebut masih "mbulet" di tangan atasannya, H. 
Eryanto Sulistiawan, SH, Pimpinan Ponpes LDII Burengan, Kediri, yang juga 
menantu H. Dhohir, puncak Pimpinan LDII. Dari situlah, setelah diurus berkali- 
kali ke Ponpes Burengan, akhirnya H. Iwan, panggilan akrab Eryanto Sulistiawan, 
menyerahkan mobil Toyota Altis senilai Rp. 250 juta kepada korban. H. Masyhudi 
juga menyerahkan sebidang tanah pekarangan bernilai sekitar Rp. 250 juta. 
Kekurangan pengembalian modal tersebut dijanjikan Masyhudi akan dibayar paling 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LD!! & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bu kti-Bukii Penipuan LP/i 

akhir bulan Oktober 2003 . 

Lain Masyhudi, lain pula cerita tentangH. Tawar Mulyono, Kades Lesbanisuko, 
Ringinanom, Kabupaten Gresik, ini juga dikenal sebagai "pengepul" dana investasi. 
Sejak Pebruari 2003 pengusaha yang juga pemimpin umum Tabloid "Suara Baru" 
ini juga "diburu" para korbannya. Ada kabar, H. Kontjoro, mantan Kades Tengger, 
Kecamatan Kunjang, Kediri, yang kini pengurus Ponpes LDII Burengan berjanji 
akan mempertemukan H. Tawar Mulyono dengan sejumlah korban pada hari Ahad, 
23 Maret 2003 . Namun, pertemuan di Ponpes Burengan tersebut gagal, lantaran H. 
Tawar Mulyono tidak muncul. 

Para korban juga "mengejar" Tawar Mulyono di rumahnya, Lebanisuko, namun 
pencarian terakhir ini sulit ketemu. Yang ada cuma istrinya, yang saat itu lagi hamil 
tua. Kata istrinya, Tawar Mulyono lagi ngurus uang-uang tersebut. Disebutkan, dari 
sekitar 20 milyar yang menjadi tanggung jawab H. Tawar Mulyono, sudah 
terselesaikan sekitar separonya. 

Dari sini Tawar Mulyono terkesan bingung. Untuk mengatasi kebingungan 
sekaligus upaya meredam keresahan para korban, Tawar Mulyono menyebarkan 
surat yang disebutnya surat pernyataan sikap tim pusat. Surat yang ditanda tangani 
H. Tawar Mulyono itu intinya berharap para korban untuk bersabar, sebab kasus 
tersebut sudah ditangani tim pusat. Para korban juga diharap untuk berdo 'a kepada 
Allah. "S emoga uang saudara-saudara sekalian dikembalikan oleh Allah swt lewat 
para perantara, team-team yang ada di pusat", tulis Tawar Mulyono. 

''Bisnis " dengan dalih investasi ini diduga berawal dari Mojokerto. Ceriteranya, 
pada tanggal 3 Maret 2000, sebanyak 1 5 tokoh LDII berkumpul di rumah H. Loso, 
DesaBrangkal. Intinya, membahas bisnis rekening listrik bekerjasama dengan PLN 
Mojokerto. Untuk itu dibutuhkan dana dari masyarakat agar bisnis tersebut dapat 
meluas ke seluruh wilayah Jawa Timur. Terakhir, bisnis jaringan investasi ini bukan 
cuma berdalih untuk listrik tapi beraneka macam. 

Bagaimana liku-liku "penipuan" investasi ini, agaknya masih banyakyang harus 
disibak. Diantaranya, korban bisnis ini bukan cuma uang tapi ada pula korban malah 
diteror, bahkan dipenjarakan di Mojokerto., Diduga ada persekongkolan antara bos 
"mafia " ini dengan oknum penegak hukum. Menarik pula untuk dikuak, bahwa 
korban penipuan ini bukan cuma masyarakat "awam" tapi banyak pula dari kalangan 
pejabat tinggi di daerah dan pusat. 

Radar Minggu, Edisi XIV, Minggu ke-I April 2003 






MENYIBAK KASUS "INVESTASI" SEPUTAR LDII 
PENGEPUL'TNVESTASPBERUSAHA MELARIKAN 

DIRI 



Setelah beberapa bulan terakhir tak kunjung ada penyelesaian, para korban 

penipuan berkedok investasi di lingkungan LDII, banyak yang nekat "memaksa" 
pengepul. Akibatnya, banyak pengepul yang berusaha sembunyi bahkan melarikan 
diri. 

Seperti yang terjadi pada Zamhari Amin, pengepul "investasi" di Bangil, 
Pasuruan. Zamhari yang diduga mengeruk "investasi" milyaran rupiah dari para 
korban, sejak April ini menurut tetangganya sudah tidak pernah kelihatan di 
rumahnya. 

Tokoh LDII yang baru saja membangun rumah mewah dan tampak belum 
sempurna ini dikenal oleh para tetangga sebagai orang yang kaya baru (OKB). 
Sebelumnya, Zamhari cuma sebagai pedagang kecil-kecilan. OKB ini tampak 
kemapanannya sejak sekitar awal tahun 2002, saat ramai-ramainya "bisnis" investasi 
di lingkungan LDII, 

Kini, rumah mewah yang diperkirakan menelan biaya ratusan juta rupiah itu 
ditinggalkan kosong oleh pemiliknya. Suasana tampak lengang. Semua pintunya 
tertutup rapat. Para tetangganya tak ada yang tahu, ke mana perginya tuan rumah 
beserta istri dan anak-anaknya ini. Yang diketahui, sejak sekitar dua bulan terakhir, 
banyak orang mencari yang khabarnya urusan "investasi" . 

Di Mojosari, Mojokerto, terdapat pula beberapa orang pengepul "investasi" di 
lingkungan LDII. Salah satunya adalah Muh. Mukminin, tokoh LDII ini, selain 
pengepul "investasi" berupa uang bernilai milyaran rupiah, juga menyediakan 
barang berupa sepeda motor. 

Modusnya, Muh. Mukminin "mengangkat" petugas lapangan mencari calon 
pembeli. Calon pembeli dirayu untuk "menginvestasikan" uangnya seharga sepeda 
motor. Setelah dibayar, sepeda motor dikirim sesuai pesanan. Janjinya, BPKB akan 
diberikan plus uang seharga sepeda motor yang pernah dibayar, setelah dua tahun 
berjalan. 

Ternyata, "bisnis" investasi sepeda motor yang dilakukan oleh Muh. Mukminin 






■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 
mmmm 



BAGIAN KEPUA: Bu kti-Bukti Penipuan LP/l 

menjadi masalah. Pasalnya, sejumlah sepeda motor yang diterimakan kepada 
"konsumen", terakhir diketahui hasil kriditan dari sebuah dealer. Para korbanbaru 
tahu setelah ada tagihan dari dealer sepeda motor tersebut. 

Setelah diurus para korban, Muh. Mukminin melarikan diri beserta istri dan 
anak-anaknya. Empat rumah mewah yang dibangun kala itu, ditinggal begitu saja. 
Sanak famili dan tetangganya tak ada yang tahu, ke mana perginya tokoh LDII ini. 

Menurut catatan Radar Minggu, berdasar kwitansi yang ada, sejak bulan Mei 
s/d Desember 2002 Muh. Mukminin berhasil "memperdayai" sekitar 46 korban. 
Uang yang dikeruk dari praktek ini tak kurang dari Rp. 400 juta. Para korban hari- 
hari terakhir ini masih "memburu" Muh. Mukminin. Harapannya, bisa ketemu dan 
ada penyelesaian. Bila tak mau muncul, para korban akan menyelesaikan dengan 
caranya sendiri. 

Selain Zamhari Amin dan Muh. Mukminin, di Mojosari, Mojokerto, ada pula 
pengepul bernama Abdul Aziz. A. Abdul Aziz, menurut para tetangganya belum 
melarikan diri. Ia Cuma cukup sembunyi bila ada yang menagih. Kalau terpaksa 
ketemu, anak muda ini cuma menyandarkan diri pada ayahnya. Sebab menurutnya, 
ia cuma manandatangani kwitansi. Tapi soal uang, seluruhnya "dikantongi" ayahnya. 
Jumlah uang yang dikeruk, mencapai milyaran rupiah. 

TokohLDII terkenal diMojosariinibilaketemudenganparakorban, senantiasa 
berkilah, masih menunggu pencairan dana dari ponpes LDII Burengan, Kediri. 
Betulkah uang dari Mojosari ini dihimpun di Ponpes LDII Burengan, masih belum 
jelas. Sebab pengepul di Mojosari ini belum menunjukkan kwitansi, bukti setoran 
ke Ponpes LDII Burengan. 

Pengepul "investasi" di lingkungan LDII Jombang juga tak jauh beda dengan 
yang dilakukan oleh kawan "seprofesi" di luar daerah ini. H. Abdul Ghofur, bos 
PT. Lima Utara Abadi sebagai pengepul "investasi", jugaberusaha menyembunyikan 
diri. Hari-hari terakhir ini, rumah dan kantornya, dijalan raya Ngemplak, Perak, 
Jombang, nyaris tak pernah sepi dari para koibanyang nagih. 

Tapi, OKB dari Desa Pucangsimo, Bandar Kedungmulyo ini, sulit ditemui. 
Kata karyawannya, Abdul Ghofur jarang di rumah. Kalaupun pulang, paling-paling 
cuma sebentar dan biasanya pada malam hari. Kini, bangunan besar milik Abdul 
Ghofur yang sedang dikerjakan, dibiarkan mangkrak. "Banyak barang-barang yang 
disita para korban", tukas kawan dekatnya. 

Muchtarom, divisi operasional pengepul "investasi" PT Lima Utama Abadi, 
kepada Radar Minggu bercerita bahwa uang yang berhasil dihimpun, langsung 






diserahkan kepada "bosnya". Guru SDN Kalangsemanding ini, tak ingat berapa 
uang yang sudah disetorkan kepada PT. Lima Utama Abadi. "Saya hanya sebagai 
petugas lapangan", ujar penduduk Dusun Mlaten, Desa Gadingmangu, Perak, 
Jombang, Jawa Timur ini. 

Yang berusaha melarikan diri tentu bukan hanya Zamhari Amin, Muh. 
Mukminin, Abdul Aziz, dan Abdul Gfaafur saja. Tentu pengepul yang lain juga 
melakukan hal yang sama. Masalahnya, satu sisi merasa tak bisa berkutik 
mengahadapi kejaran para korban. Sisi lain, uang yang sudah tersetorkan ke 
atasannya, belum ada titik-titik penyelesaian. 

"Mungkin sementara lebih baik menghindar dari pada jadi korban konyol akibat 
amukan korban", tukas H. Moh. Tohar, Kades Mojokerep, Kecamatan Plemahan, 
seraya menceriterakan pengalaman pahit kawannya dari Solo. 

Katanya, orang Solo itu lari "nagih" ke Ponpes LDII Burengan, setelah "dioyak- 
oyak" korban bahkan kena palu sampai merempui dahinya. "Apakah kita ini akan 
dibiarkan jadi korban, sementara para "petinggi" yang juga ikut menikmati kok 
masih tenang-tenang saja". Keluh H. Moh. Bahar. 

Radar Minggu (Laporan Khusus), Edisi XVI Akhir April 2003 



SELINTAS JEJAK-JEJAK LDII 

Lembaga Dakwah Islam Indonesia Indonesia (LDII) saat ini sedang diuji. Soal 
ujiannya bukan datang dari siapa-siapa, tapi dari para "petingginya" sendiri. Yang 
diuji bukan cuma para anggota j ama'ahnya tapi eksistensi organisasi terancam 
degradasi. 

Betapa tidak? Saat ini, para tokoh LDII diduga kuat terlibat kasus penipuan 
berkedok investasi. Nilai yang berhasil dikeruk para tokoh LDII ini mencapai 
triliyunan rupiah. Yang menjadi korban bukan cuma anggota jama'ahnya. Tapi, 
banyak pula di luar jama'ahnya. 

Karena kasus ini belum ada penanganan secara hukum, praktis keadaannya 
bagai api dalam sekam. Agaknya, para korban masih ada keengganan untuk melapor 
kepada polisi, macam-macam alasannya. Tapi setidaknya ada dua alasan yang pokok. 

Pertama, bila korban dari anggota jama' ah LDII, amat sangat takut pihaknya 
disebut "murtad". Mereka juga takut "dicap" merongrong citra organisasi. Akibat 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Trlliunan Rupiah 






■.v.v.v.-.-.-.-.-.-.v 



BAGIAN KEPU A: Bu kii-BuIdi Penipuan LP/t 

doktrin yang kuat untuk taat kepada Amir, akhirnya mereka cuma berani mengeluh, 
meski dirinya secara nyata telah tertipu. 

Kedua, bagi korban di luar anggota Jama'ah LD II, mereka enggan lapor ke 
polisi lantaran takut justru uangnya tak kembali. Mereka trauma dengan istilah: 
"Gudel ilang, kebo nyusul" . Artinya, selama ini mereka punya kesan bahwa, bila 
kehilangan sesuatu kemudian lapor polisi, belum tentu barang yang hilang bisa 
ketemu tapi justru bisa tambah kehilangannya. 

Terlepas para korban ini mau melapor ke polisi atau tidak, agaknya kasus 
penipuan berkedok investasi di lingkunganLDII ini sangat menarik untuk dikaji. 
Semula, banyak orang terpesona melihat perkembangan LD II dalam berbagai 
aspeknya. Misalnya, soal ketaatan anggota Jama'ah kepada Amir. Keberhasilan 
"doktrin" ini membuahkan berbagai hasil. Diantaranya, tegar dalam pendirian. Salah 
satu contoh, tak ada anggota Jama'ah LDII yang tak berani mengibarkan bendera 
organisasinya meski di lingkungan berbeda paham. 

Anggota Jama'ah LDII juga terkenal patuh mengatur waktu mengaji. Boleh 
dibilang, wawasan mengaji adalah kebutuhan hidupnya. Sehingga yang namanya 
mushalla atau masjid LDII tak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Kegiatan ini 
senantiasa semarak. Bukan Cuma diikuti anak-anak, tapi para remaja bahkan lanjut 
usia. Boleh dibilang setiap anggota Jama'ah LDII, tiada hari tanpa kegiatan mengaji. 

Dari pemahaman ilmu yang didapat dari mengaji, tak ayal dapat membuahkan 
kesadaran diri. Salah satu contoh kesadaran anggota Jama'ah LDII yang tampak 
adalah kesadaran untuk berinfaq. Ada istilah infaqberdasar "kesanggupan" yang 
dihitung dari jumlah penghasilan. Ada pula istilah "lomba" infaqpada setiap jum'at. 
Para anggota Jama'ah LDII punya tradisi usai shalat jum'at, saling melempar uang 
infaq di belakang imam. Bila Jama'ahnya banyak, tumpukan uang tanpak 
"menggunung" . Tapi, soal urusan zakat, masih belumjelas. Padahal, zakat hukumnya 
wajib, sedang infaq hukumnya sunnah. 

Begitu juga, kesadaran tentang penyembelihan hewan qurban setiap hari raya 
idul Adha. Boleh dibilang, gerakan berqurban yang dilakukan LDII sementara ini 
jauh lebih berhasil dibanding organisasi lain. Sayangnya, pembagian daging hewan 
qurban tersebut tak banyak menyentuh anggota masyarakat, di luar Jama'ahnya, 
tak perlu diperhatikan. Praktis, interaksi sosial tak terbangun. Bahkan terkesan 

"eksklusif." 

Solidaritas ikatan tali ber Jama'ah memang tak perlu diragukan lagi. Ada doktrin 
yang ditanamkan kepada setiap anggota Jama'ah dalam mempererat ikatan tali 



berJama'ah ini. Intinya, dari Jama'ah untuk Jama'ah. Salah satu contoh 
penjabarannya, setiap anggota Jama'ah LDII wajib "sambung" dengan sesama 
anggota Jama'ah LDII dalam segala urusan. Baik itu urusan ibadah, perniagaan, 
jasa, pekerjaan, perjalanan, dan lain sebagainya. Termasuk urusan shalat dan haji. 

Dari penanaman kesadaran melalui "bai'at" membuahkan "fanatisme" cukup 
dapat mengantar LDII sebagai organisasi "tersolid" sementara ini. Dalam perjalanan, 
organisasi yang didirikan oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis ini boleh dibilang tak 
lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Berkali-kali "diguncang" badai, tapi 
perkembangannya merayap pelan namun pasti. 

Guncangan terberat terjadi pada tahun 1 97 1 waktu itu Jaksa Agung menerbitkan 
SK No.089/DA/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971 yang melarang aktivitas 
organisasi ini lantaran dinilai bertentangan dengan atau menodai ajaran-ajaran agama 
Islam. Sebelumnya, larangan juga bermunculan dari berbagai daerah. Misalnya dari 
Pangdam VIII/Brawijaya (1967), Kodim 730 Gunung Kidul (1968), Kodim 0608 
Bogor (1968), Pakem Bandung 1968), Pakem Jabar (1968), Pangdam V Jaya (1 968), 
Pakem Balikpapan (1969), Walikota Pfekanbaru (1969), KoremKedu (1969). 



"KETIAK" GOLKAR 

Meski ada goncangan bertubi-tubi, organisasi ini pandai memainkan siasat. 
Agaknya, ia bermain dalam hukum. Artinya, secara hukum yang dilarang adalah 
nama organisasi. Karena itu, dalam menyiasati larangan tersebut, tak segan-segan 
gonta ganti nama. 

Pernah bernama Jajasan Pendidikan D Jama'ah (JPID), Islam murni, Jama'ah 
Pengajian Al Hadits, Jamah Aimrul Mukminin, Jama'ah Qur'an Hadis, Jama'ah Al 
Hidayah, Yayasan Pendidikan Nasional (Yapenas). Terakhir bernama Lembaga 
Dakwah Islam Indonesia (LDII). Sebelumnya, mamakai nama Lembaga Kekaiyaan 
Islam (Lemkari). 

Rintangan lagi, tatkala banyak mata menyoroti, organisasi ini kemudian 
berlindung di bawah "ketiak" Golkar sejak pemilu 1977 sampai dengan 1997 
"Tumplekblek" mendukung Golkar. Praktis, selama Orde Baru, leluasalah aktivitas 
mereka. 

Seiring dengan itu, bangunan sarana pendidikan dan ibadahnya pun bermegah- 
megahan. Jumlah umatnyapun kian berkembang. Para tokoh dan Amirnya pun, 
kehidupannya tampak mapan. Amal usahanya yang menitik beratkan pada 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

pemberdayaan ekonomi, menyeruak berkembang di berbagai sektor. 

Kini, diakui atau tidak, organisasi yangbernamaLDII ini sedang "diguncang 
badai" lagi. Secara organisatoris bisa saja para petinggi LDII mencoba memisahkan 
kasus ini dengan organisasi. Tapi siapapun tahu bahwa uang hasil penipuan berkedok 
investasi ini muaranya adalah kepada sejumlah ptinggi organisasi. 

Yang menarik, mengapa para petinggi LDII yang notabene juga terlibat langsung 
ikut mengeruk dana investasi ini sepertinya tak mau peduli?. Apakah mereka 
menganggap bahwa umat di bawahnya masih mudah dipermainkan?. Tapi bukankah 
para korban juga banyak dari luar anggota lama' ah LDII?. 

Bila LDII tak ingin hancur, ada baiknya para petinggi organisasi ini segera 
menyelesaikan kasus yang kini diderita oleh para korban. Bila tidak, yang jelas 
nama besar LDII menjadi pertaruhan. Sebagai konsekwensi logis, para tokoh dari 
petinggi LDII juga akan dituding sebagai "pengkhianat" ummat. Maukah anda dicap 
pengkhianat?. (H. NanangH.Kaharudin) 

Radar Minggu (Laporan Khusus), edisi XV, Minggu ke-3 April 2003 



MENYIBAK KASUS "INVESTASI" SEPUTAR LDII 
"ANGIN SURGA" MULAI BERHEMBUS 

Awan gelap yang selama ini menyelimuti kasus "investasi " di lingkungan LDII, 
kini mulai ada tanda-tanda tersibak Istilahnya, kini badai ada angin "surga" 
yang mulai berhembus. Setidaknya, itulah catatan kecil dari kunjungan rombongan 
sejumlah "Petinggi" LDII yang bertandang ke Kantor Redaksi Radar Minggu. 
Intinya, mereka sepakat untuk menyelesaikan secara tuntas. Betulkah? Radar 
Minggu menyajikan berita ini dalam laporan utama, dilengkapi berita terkait dalam 
laporan khusus. 

Kasus penipuan berkedok investasi di lingkungan Lembaga Dakwah Islam 
Indonesia (LDII) mulai ada harapan penyelesaian. Para "petinggi" organisasi ini 
berjanji sepakat akan menyelesaikan kasus tersebut. Saat ini sudah dibentak tim 
untuk mendata dan merumuskan langkah-langkah sekaligus menentukan skala 
prioritasnya. 

Harapan penyelesaian ini terungkap saat rombongan pimpinan organisasi dan 
pengurus Ponpes LDII bertandang ke Kantor Redaksi Radar Minggu, Kamis, 17 



April 2003 . Mereka yang datang siang itu, H. Didik Tondo Susilo, BE, SH, Sekertaris 
DPD LDII Kabupaten Jombang, H. Usman Arief, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, 
H. Jumikan Karimunsani, pengasuh Ponpes Gadingmangu, Perak, Jombang, dan 
H. Kuncoro Kaseno, SE Pimpinan Ponpes LDII Burengan Kediri. Ikut mendampingi 
rombongan ini, Ir. Eddy M dari Kediri. 

Diungkapkan, sebenarnya secara kelembagaan LDII tidak terkait dengan kasus 
tersebut. Namun karena Banyak oknum LDII yang terlibat, baik sebagai korban 
maupun pengepul, terpaksa organisasi "kepatokan". Dari sini, pimpinan organisasi 
terpaksa harus ikut turun tangan menyelesaikan . "Hari-hari ini tim sedang bekerja 
dalam rangka penyelesaian", tukas RH. Koentjoro, SE, mantan Kades Tengger, 
Kecamatan Kunjang, yang kini sebagai pengurus Ponpes LDII Burengan Kediri. 
(Baca: DPD LDII Jatim tak digubris). 

Diperkirakan, proses penyelesaian kasus ini akan memakan waktu cukup lama. 
Tak bisa secepat kilat. Masalahnya, banyak di antara para pengepul yang 
"menghilang". Karena itu, praktis dalam proses pendataannya juga akan menghadapi 
kendala. Belum lagi, bila tim ingin "menyita" aset yang bersangkutan, tak ayal akan 
mengalami kesulitan. (Para Pengepul Berusaha Melarikan Diri) 

Kata Koentjoro, dalam proses penyelsaian kasus ini, tim tetap mengedepankan 
aturan hukum. Karena itu, tak bisa "grusa-grusu", apalagi main sita secara 
sembarangan. Kaitan ini, ia meminta pengertian parakorban untuk bersabar, jangan 
sampai ada penilaian bahwa tim sengaja mengolor-ngolor waktu apalagi ada kesan 
mempersulit. 

"Percayalah pada tim, insya Allah dalam waktu yang tidak lama akan segera 
ada jalan keluar", tandas Koentjoro yang didukung oleh sejumlah rombongannya. 
Prinsipnya, lanjut ia, para pengurus sepakat dalam waktu yang sesingkatnya- 
singkatnya dapat segera menyelesaikan kasus ini. Disebutkan, sesuai kesepakatan 
tim, sementara ini yang perlu segera mendapat penyelesaian adalah para korban 
dari anggota LDII, diharap dapat bersabar sejenak. Semua langkah tersebut, 
pertimbangannya semata-mata demi nama baik organisasi. 

Sebelumnya, Radar Minggu selama dua edisi (edisi 14 & 15) menurunkan berita 
tentang kasus dugaan penipuan berkedok investasi di lingkungan LDII. Uang yang 
dikeruk dari masyarakat dalam "proyek" investasi ini mencapai triliyunan rupiah. 
Korbannya, bukan cuma orang awam, tapi para pejabat, konglomerat, bahkan para 
Perwira dan Jenderal. Pengepulnya, para tokoh LDII di daerah-daerah. 

Radar Minggu, edisi XVI, Akhir April 2003 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



ws 



BAGIAN KEPUAt Bukti-Bukii Penipuan LP/l 



LDH KEDIRI DAN JOMBANG PROTES 

Assalamu alaikum wk wb. 

Sehubungan dengan berita yang saudara muat dalam Radar Minggu edisi XIV 
dan XV serta yang menurut rencananya akan saudaraberitakan secarabersambung 
yaitu mengenai pemberitaan yang sangat mendiskreditkan Organisasi Lemga 
Dakwah Islam Indonesia secara Institusi/kelembagaan maka dengan ini kami 
menyampaikan klarifikasi sebagai berikut: 

1 . Mengacu pada Surat Dewan Dakwah Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam 
Indoesia Propinsi Jawa Timur Nomor: SUM-02/M71/2002, tertanggal 8 Januari 
2002 dalam surat tersebut dijelaskan bahwa: 

(A). DPD LD II Prop. Jatim tidak pernah merekomendasikan atau memfasilitasi 
semua bentuk bisnis yang tidak jelas legalitasnya serta secara institusional 
tidak pernah melakukan usaha-usaha bisnis tersebut sebagaimana yang 
saudaraberitakan. 

(B). Apabila ada warga LDH yang terlibat dalam bisnis yang saudaraberitakan 
adalah tanggung jawab pribadi yang bersangkutan dan bukan tanggung jawab 
Institusi LDII," berarti akibat yang ditimbulkannya adalah tanggung jawab 
pribadi yang bersangkutan. 

2. Berita yang saudara tulis dapat diasumsikan bahwa berita tersebut sangat 
tendensius dan tidak Profesional bahkan cenderung dapat dikatakan kalau berita 
tersebut bersifat provokatif, sebagai: 

(A). Pada pemberitaan edisi XIV Minggu ke 1 April 2003 tertulis "LDII Bagai 

Diguncang Badai" dengan isi tulisan terkait dugaan penipuan , tapi 

dalam halaman tersebut terpampang gambar Masjid Luhur Nur Hasan - 
Perak Jombang. Ada apa dengan gambar Masjid tersebut? 

(B). Pada pemberitaan edisi XV Minggu ke 2 April 2003 tertulis "Korbannya 
Para Pejabat. . . ." Tapi dalam halaman tersebut terpampang ratusan abang 
becak dan PKL ramai-ramai menutup jalan Mojopahit Mojokerto. Yang secara 
nyata tidak ada hubungannya dengan Head line berita. Ada apa dengan 
gambar tersebut? 

3 . Dalam pemberitaan saudara tidak proporsional dan tidak.balance karena saudara 
sudah berani menyebut-nyebut LDII tetapi sampai saat ini Saudara belum pernah 
mengklarifikasi maslaah tersebut kepada Pengurus LDII secara institusional. 



4. Berita bisnis yang diduga ada unsur penipuan yang dilakukan oknum LDII telah 
Saudara manfaatkan untuk menyudutkan organisasi LDII dan menyinggung 
perasaan warga LDII pada umumnya karena itu kami merasa sangat keberatan. 

5. Sehubungan dengan hal tersebut di atas hendaknya Pimpinan Redaksi lebih 
berhati-hati dalam memberitakan suatu berita khususnya yang berhubungan 
dengan organisasi LDII. Silahkan Anda BEBAS BERTERIAK namun di kiri 
kanan Anda mungkin ada yang tidak senang dengan teriakan Anda yang tidak 
profesional, arogansi serta cenderung memvonis tanpa proses pengadilan 
(Bertentangan dengan nurani UU Nomor 40 Tahun 199 tentang Pers serta Kode 
Etik Wartawan Indinesia /KEWI) 

6. Kami minta pemberitaan edisi berikutnya Pimpinan Redaksi lebih selektif, 
konfirmatif, dan tidak memvonis. 

Demikian atas perhatiannya disampaikan terima kasih. 
Wassalamualaikum wr. wb. 

Hormat Kami 

Pimpinan Ponpes LDII Kota Kediri Pengasuh Ponpes Gading Perak Jombang 

H, Kuncoro Kaseno, SE H. Jumikan Karimunsani 

DPD LDII KOTA KEDIRI PD LDII KAB. JOMBANG 

S ekretaris Sekretaris 

( H. USMAN ARIF ) (H. DIDIK TONDO SUSILO, BE, SH) 

Radar Minggu, edisi XVI, Akhir April 2003 



PENJELASAN REDAKSI 

Terimakasih atas klarifikasinya. Namun demikian, perlu kami jelaskan hal-hal 
sebagai berikut; 

Point h Betul, DPD LDII Propinsi Jawa Timur menerbitkan surat sebagaimana 
saudara maksud. Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa bisnis "investasi" ini justru 
tetap jalan bahkan kian marak di kalangan warga LDII meski ada surat tersebut? 






B H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 
mmmm 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

Apakah para "petinggi'' LDII tidak tahu atau tidak mau tahu adanya surat DPD 
tersebut? Sebab Radar Minggu punya bukti sejumlah "petinggi" LDII terlibat 
langsung dalam "bisnis" ini. Sosialisasi dan prakteknya pun tak lepas dari fasilitas 
LDII , seperti melalui pertemuan resmi organisasi, pengajian Jama'ah di masjid 
dan musholla LDII. Dengan demikian, bukankah hal ini bisa disebut bahwa secara 
tersurat memang LDII tidak terlibat. Tapi, secara tersirat, takbisa dielakkan. Tentu, 
pemahaman ini perlu menggunakan nurani bukan emosi. 

Point 2. Silahkan anda berasumsi tendensius, tidak profesional dan sangat 
provokatif tentang berita seputar kasus di LDII yang dimuat Radar Mingu edisi 
XIV dan XV . Itu, adalah hak anda. Tapi, Radar Minggu tak punya niatan dan 
tujuan sebagaimana asumsi anda. Tentang foto Masjid Luhur Nurhasan dan foto 
demo abang becak, bukan urusan anda, tapi urusan Redaksi. 

Poin 3. Radar Minggu amat fahambahwa secara institusi, LDII tidak terlibat 
dalam kasus ini. Karena itu, untuk sementara berita yang diturunkan, belum perlu 
klarifikasi dengan pengurus LDII. Sementara ini cukup klarifikasi, konfirmasi atau 
"tabayun" dengan sumber berita, korban-korban, pengepul dan bukti-bukti yang 
ada. 

Point 4. Siapapun boleh keberatan atas pemberitaan Radar Minggu, termasuk 
anda! Yang jelas Radar Minggu tak bermaksud menyudutkan atau menyinggung 
siapapun. Soal ada yang tersudut atau yang tersinggung adalah sebuah kewajaran 
dari perasaan. 

Point 5, Kehati-hatian penyajian berita adalah prinsip bagi Radar Minggu. 
Bukan cuma berita yang berkaitan dengan LDII, tapi untuk semua berita. Karena 
itu, etika penulisan, sangat dijunjung tinggi, termasuk menghindari kata memvonis 
dengan mengedepankan azas praduga tak bersalah. Soal setelah tersaji dinilai 
bertentangan dengan nurani UU no. 40/1 99 9 tentang Pers serta Kode Etik Wartawan, 
itu adalah sebuah resiko pekerjaan. 

Point 6. Terimakasih atas saran-sarannya. Sebab kami mafhum, kritik dan saran 
adalah "obat" yang amat sangat dibutuhkan manusia agar terhindar dari segala 
penyakit yang bersumber dari nafsu. 

REDAKSI 

Radar Minggu, edisi XVI, Akhir April 2003 






"FATWA" DPD LDD JATIM TAK DIGUBRIS 

Praktek dugaan penipuan berkedok "investasi" di lingkungan LD II yang marak 
pada seputar tahun 2002, dipastikan pelakunya tak pernah "taat" pada Surat Edaran 
Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Jawa 
Timur. Artinya, "fatwa" DPD LDII Propinsi Jawa Timur tentang hal itu, tak pernah 
"digubris" oleh tokoh-tokoh LDIL 

Masalahnya, meski DPD LDII Jatim sudah menerbitkan surat pemberitahuan 
sejak Januari 2002, tapi tokoh-tokoh LDII tetap beroperasi mencari mangsa, 
mengeruk "investasi" ini terjadi setelah DPD LDII Jatim melayangkan surat kepada 
seluruh ketua DPD LDII Kabupaten /Kota se Jawa Timur. 

Tak jelas, mengapa tokoh-tokoh LDII yang bertindak sebagai pengepul 
"investasi" ini tak mau "menggubris" Surat Edaran DPD LDII Jatim?. Ada dugaan, 
tokoh-tokoh LDII tersebut lebih percaya kepada para Kyai LDII non struktural , 
dibanding pengurus resmi organisasi. 

Tapi, ada pula dugaan lain. Yakni, Surat Edaran tersebut sengaja dibuat untuk 
"mencuci" keterlibatan organisasi dalam kasus ini Artinya, meski kasus ini 
melibatkan tokoh-tokoh LDII, tapi secara struktural organisasi bisa mencuci diri. 
"Orang Jawa bilang , sedakep awe-awe" (pura-pura tidak tahu), tukas korban di 
Mojokerto yang mengaku tertipu sekitar Rp.36 juta. 

Terlepas dari duga-menduga tentang surat edaran DPD LDII Jatim ini, yang 
jelas para pengepul investasi ini baru mulai terhenti sekitar bulan September 2002. 
Waktu itu, beberapa korban ada yang mulai curiga. Pasalnya bagi hasil yang 
dijanjikan, sudah mulai diingkari. Kecurigaan kian memuncak tatkala ada korban 
yang berusaha menarik kembali investasinya, ternyata juga dipersulit. 

Dari sini, para korban mulai menilai surat DPD LDII Jatim tersebut tak punya 
nilai sama sekali. Bahkan ada yang menilai, surat tersebut bernuansa "rekayasa", 
penuh basa-basi. Masalahnya, andai bukan basa-basi, mestinya para "petinggi" LDII 
tak akan terlibat lebih jauh dalam kasus ini. "Lha wong organisasi melarang, kok 
tokoh-tokohnya malah giat "nyaploki" korbannya", ujar korban di Kediri yang 
mengaku menyerahkan uang sekitar Rp. 500 juta, kepada Tawar Mulyono Gresik. 

Tapi, terlepas apakah surat tersebut dinilai cuma sekedar "macan" kertas atau 
apapun, yang jelas DPD LDII Jatim memang betul-betul menerbitkan; pemberitaan 
tentang bisnis yang tidak jelas legalitasnya. Surat yang tembusannya dikirim kepada 






H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bu kii-Bukti Penipuan LPII 

DPD LDII di Jakrta ini ditanda tangani oleh Ir. H. Chriswanto Santoso MSc sebagai 
ketua dan Drs H. Bambang Purnomo MM, MBA sebagai Sekretaris. 

Berikut, kutipan lengkap isi surat DPD LDII Jatim: 

Sehubungan dengan semakin maraknya berbagai macam bisnis yang 
berkemabng di Jawa Timur, baik yang berkedok yayasan, berkedok multi level 
marketing (MLM), atau kerjasama bisnis dengan instansi lain yang tidak jelas 
legalitasnya dan cenderung meresahan masyarakat , maka DPD Lembaga Dakwah 
Islam Indonesia (LDII) Propinsi Jawa Timur merasa perlu memberikan penjelasan 
kepada seluruh jajarannya sebagai berikut: 

1 . Bahwa DPD LD II Jawa Timur tidak pernah merekomendasi atau mempasilitasi 
semua bentuk bisnis tidak jelas legalitasnya tersebut di atas. 

2. LDII sebagai Lebaga Dakwah Islam, secara institusional melakukan usaha-usaha 
bisnis seperti tersebut diatas yang tidak jelas legalitasnya. 

3. Apabila ada warga LDII yang terlibat dalam bisnis tidak jelas tersebut, maka 
semua akibat yang ditimbulkannya, LDII tidak bertanggung jawab dan menjadi 
tanggung jawab pribadi yang bersangkutan. 

4. Seluruh jajaran LDII di Jawa Timur agar mensosialisasikan informasi ini dan 
mengarahkan kepada seluruh warga LDII untuk tidak terlibat bisnis yang tidak 
jelas legalistasnysa tersebut dan selalu berpegang kepada aturan organisasi serta 
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. 

Demikian pemberitahuan ini untuk diindahkan dan disosialisasikan, (tim) 

Radar Minggu , Edisi XVI, Akhir April 2003 



SIAPAKAH KH NURHASAN AL UBAIDAH? 

Siapakah KH. Nurhasan Al Ubaidahyang fotonya terpampang di setiap rumah 
warga LDII?. Pertanyaannya bukan sekedar siapa KH. Nurhasan Al Ubaidah. Tapi 
ada tambahan kalimat yang fotonya terpampang di rumah warga LDII. Pertanyaan 
lengkap ini terdapat pada sebuah buku Direktori LDII edisi ke dua yang diterbitkan 
Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII). 

Direktori LDII yang terbit tahun 2002 itu tampil dalam bentuk tanya jawab. 
Yang dihimpun dalam buku "saku " ini. Yakni, tanya jawab tentang LDII sebagai 
ormas Islam. Tanya jawab tentang ibadah dan ukhuwah. Terakhir tanya jawab tentang 






-isu-isu negatif. Sedang pertanyaan tentang siapakah KH. Nurhasan Al Ubaidah, 
masuk dalam kelompok tanya jawab tentang ibadah dan ukhuwah. 

Tentu, pertanyaan tentang KH. Nurhasan Al Ubaidah masuk bagian ibadah 
atau non ibadah, tak perlu dipersoalkan/Yang menarik, adalah jawaban dari 
pertanyaan termuat dalam halaman 16 tersebut. Intinya, KH Nurhasan Al Ubaidah 
tak disebut sebagai pendiri LD II, tapi cuma sebagai pendiri Ponpes LD II Burengan 
Kodya Kediri. 

Disebutkan, KH. Nurhasan Al Ubaidah adalah pendiri Ponpes LD II Banjaran, 
Burengan, Kediri. Seorang ulamabesar yang belajar ilmu agama selama 11 tahun 
di Makkah dan Madinah. Menguasai Al Qur'an, qiraah Sab'ah dan menguasai 49' 
kitab-kitab hadits lengkap dengan ilmu alatnya. Diantara guru-gurunya tersebut nama 
Imam Abu Sammah, Syekh UmarHamdan, Syekh Yusuf, dll. "Oleh sebab itu warga 
LDII menempatkan beliau sebagai ulamabesar", tulis penyusun Direktori LDII. 

Tak jelas, mengapa KH Nurhasan Al Ubaidah tak disebut sebagai penda'i LDII. 
Padahal, andai mau jujur dalam penulisan sejarah perjalanan organisasi ini, boleh 
dibilang, tanpa KH. Nurhasan Al Ubaidah tak akan ada LDII. Artinya, siapapun 
yang mencatat bahwa pendiri "aliran" yang kini bernama LDII ini adalah KH 
Nurhasan Al Ubaidah. Bukan sekedar pendiri ponpes LDII Burengan. Bisa 
dibayangkan, andai masih hidup, betapa besar marahnya, bila ia tahu bahwa sejarah 
perjuangannya dip linti r-plintir oleh generasi penerusnya. Tidak ditulis dengan 
sebenarnya. 

PENDIRI LDII 

Bertolak dari pertanyaan, siapa KH Nurhasan Al Ubaidah yang fotonya 
menghiasi setiap rumah warga LDII saat ini, tentu perlu dijawab secara tegas tanpa 
harus ada yang ditutup-tutupi. Sebab, sejarah perjalanan LDII, sebelumnya sudah 
banyak yang membukukan. Semua penulis sepakat menempatkan KH Nurhasan Al 
Ubaidah bukan sekedar sebagai pendiri: Ponpes LDII Burengan, tapi sebagai pendiri 
organisasi ini. Ini terlihat dalam buku yang ditulis oleh orang "dalam" seperti Drs. 
Nurhasyim, maupun yang ditulis orang "luar" seperti Drs. Imran AM, Drs. Ubaidilah 
AM dari Bangil. Begitu juga yang diungkap Anshari Thayib, yang kini wartawan 
Surya dan RE Djumali Kartorahardjo. 

Praktis, semua sepakat bahwa pendiri organisasi ini adalah Haji Nurhasan Al 
Ubaidah Lubis. Ulama besar LDII yang lahir pada tahun 1908 di Dusun Bangi, 
Desa Woromarto, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri ini namanya juga 



■ H.M.C. Shodiq< Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

diabadikan sebagai nama masjid LDII termegah di Jombang ini lengkapnya bernama 
Masjid Luhur Nurhasan. 

Anak ke dua dari tujuh orang putra H. Abdul Aziz bin H. Tholib bin H. Irsyad 
ini kecilnya bernama Muhammad MadigoL Terakhir, dalam urusan silsilah keluarga 
besar "Mbah Betur" pertemuan keluarga besar Mbah Betur setiap tahun sekali ini 
tanpa pandang aliran dan pandang usia. Semua berhak mendapat "bingkisan'', 
termasuk "hadiah" menunaikan haji secara bergilir, berdasarkan skala prioritas. 
Orang menyebut acara pertemuan keluarga besar "Mbah Betur" ini sebagai 
"Kampanye" simpatik setelah sekian lama sebagian keluarga terjebak dalam aliran 
eksklusif. 

Perjalanan tokoh yang satu ini boleh dibilang cukup fantatis dan spektakuler. 
Nama H Nurhasan disandang setelah menunaikan ibadah haji yang pertama. 
Tambahan nama Al Ubaidah diberikan setelah menunaikan ibadah haji yang kedua. 
Karena dianggap memiliki kemampuan yang luar biasa, olehpengikut-pengikutnya 
ditambah dengan Lubis, singkatan dari "Luar Biasa". Disamping itu, karena 
"dinobatkan" sebagai pemimpin, nama imam dan Amir melekat padanya. 
Lengkapnya, tokoh ini bernama haji Nurhasan Al Ubaidah Lubis Amir. 

Banyak yang menyebut, pendiri aliran Islam Jama'ah ini memiliki ilmu 
"kanoragan" yang tinggi disamping mampu "menundukkan" jin. Dalam perjalanan 
awal aliran ini, sering mempertontonkan "keajaiban" luar biasa di depan umum. 
Sebelum "tren" menari ular seperti sekarang, pengikut aliran ini sudah terbiasa 
"makan" ular berbisa di atas panggung saat pertunjukan pencak silat. Dan, macam- 
macam keanehan lainnya. 

Menurut beberapa catatan, pendidikan H Nurhasan Al Ubaidah ditempuh dari 
pesantren ke pesantren. Diantaranya, pernah mondok di Semelo, Perak, Jombang, 
Ponpes Rejoso, Peterongan, Jombang, Ponpes Masaran, Solo, dan terakhir di 
Madrasah Darul Hadits Makkah Saudi Arabia. RE Djumali Kertorahardjo dalam 
catatan bukunya menyebutkan bahwa pada umumnya pendidikan H. Nurhasan Al 
Ubaidah, tidak dapat dituntaskan. 

Tatkala belajar di Mekah, tokoh "kharismatik" di lingkungan LDII berguru 
kepada seorang ulamabernama SyeikhUmar Hamdan. Syeikhini murid dari Sayid 
Ahmad Barzanji. Sayid ini murid dari Sayid Ismail Barzanji dan seterusnya 
bersambung-sambung sampai Nabi Muhammad saw. Dalam buku Direktori LDII 
disebutkan, KH. Nurhasan Al Ubaidah belajar ilmu agama di Makkah dan Madinah 
selama 1 1 tahun. Diantara guru-gurunya: Imam Abu Sammah, Syeikh Umar Hamdan 



dan Syeikh Yusuf dll. 

Sepulang dari Makkah H. Nurhasan Al Ubaidah mengajarkan agama Islam di 
kampungnya, terutama kepada sanak familinya, Kemudian ia dibaiat oleh dua orang 
Kepala Desa H. Sanusi, Kepala Desa Bangi Woromarto, dan H. Nur Asmawi, Kades 
Papar. Ia dibai'at sebagai Amirul Mukminin. Sebab salah satu titik utama ajaran 
Islam Jama'ah adalah bai'at yang diberi judul "Menunda bai'at Merugikan Diri 
Sendiri dan Keluarga". 

Tokoh "legendaris" di lingkunga LDH yang meninggal pada dekade 80-an akibat 
kecelakaan kendaraan di Cirebon sepulang dari Jakarta ini dikenal sangat gigih 
dalam memperjuangkan prinsip-prinsip dasar ajaran alirannya. Di antarnya prinsip 
dasar Jama'ah tentang keamiran, bai'at, Jama'ah, Sanad, Manqul dan infaq. Tak 
ayal, gencarnya penyebaran ajaran aliran ini menimbulkan berbagai kontroversi. 
Pintarnya, kontroversi itu "disiasati" dengan kerelaan "gonta- ganti" nama. 

MANIPULASI 

Namun teramat sangat sayang manakala perjuangan panjang yang penuh resiko 
dan tantangan dari "Sang Pejuang' itu ada yang berusaha menghapus dari catatan 
perjalanan LDII yang kini sudah berkembang besar. Salah satu contoh konkritnya 
, nama Imam KH. Nurhasan Al Ubaidah Lubis Amir tak "diakui" sebagai pendiri 
LDII. Bahkan dalam buku Direktori cuma disebut sebagai pendiri Ponpes LDII 
Burengan, Kota Kediri. Ikhwal ini bisa disebut sebagai manipulasi sejarah. 

Yang memprihatinkan lagi, Direktori LDII yang dilengkapi sambutan Ketua 
Umum DPP LDII priode 1998-2003, KH DR. Ir, Abdullah Syam, MSc, APU dan 
sambutan KH. Kasmudi As Siddiqi, atas nama ulama LDII tidak "mengakui" Islam 
Jama'ah sebagai "embrio" LDII. Bahkan dengan tegas disebutkan LDII tidak ada 
hubungannya dengan Islam Jama'ah dan penerus ajaran Islam Jama'ah. 

Menurutnya, LDII adalah ormas Islam besar dengan latar belakang anggota 
yang sangat beragam, dalam bidang pendidikan, profesi, status sosial maupun 
aspirasi kelompok keagamaan. Termasuk, mereka yang dulunya "dianggap" 
melaksanakan ajaran Islam Jama'ah. "Adanya orang-orang mantan Islam Jama'ah 
inilah yang kemudian menimbulkan citra seolah-olah LDII sebagai penerus Islam 
Jama'ah" tulisannya. 

Disebutkan, LDII pertama kali berdiri pada tahun 1 972, dengan nama Yayasan 
Lembaga Karyawan Islam. Pada Mubes 1981, nama tersebut diganti menjadi 
LEMKAEJ. Karena nama Lemkari sama dengan akronim Lembaga Karate-do 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BACIAN KEPUA: BukH-Bukii Pcnipum LP/l 

; Indonesia, Mendagri Rudini berharap nama Lemkari diganti. Pada Mubes 1990, 
akhirnya ormas ini menjadi LD II. 

Namun demikian, meski LDII disebutnya tak ada kaitan dengan Islam Jama'ah, 
tapi beberapa eiri khas Islam Jama'ah masih melekat pada LDII saat ini. Salah 
satunya tentang "manqul" dan "sanad". Dalam Direktori LDII itu disebutkan, dalam 
ilmu hadis, manqul berarti belajar Hadits dari guru yang mempunyai "Isnad"sampai 
kepada Nabi Muhammad saw. 

Yang menjadi pertanyaan, siapakah di LDII yang punya isnad kepada Nabi 
Muhammad saw?. Tak lain adalah, pendiri Islam Jama'ah, Imam KH Nurhasan Al 
v^aidah Lubis Amir yang dicatat sebagai pernahberguru kepada ulama Makkah,. 
Syeikh Umar Hamdan sebagaimana terurai di atas. Mau apa lagi LDII? 

■ Radar Minggu, edisi 'XVI, Akhir April 2003 



SURAT YUDA D ARI PENJARA 

Kasus b isnis berkedok investasi .yang menggpncang LDII. ini, ternyata- awalnya 
muncul dari 'Mojokerto sekitar tahun 2000. Sejak awal sudah ada yang pro dan 
kontra. Tragisnya, yang kontra diusahakan untuk "dihabisi". Salah satu korbannya 
adalah Muhammad Yudha, Ketua PAC LDII Mentikan, Mojokerto. 
Kini Moh. Yuda menjalani hukuman 8 tahun di LP Mojokerto lantaran menentang 
bisnis "kotor" para petinggi organisasinya. Bagaimana kisah Moh. Yudha sampai 
meringkuk di penjara, insya Allah dapat disimak di Radar Minggu, edisi depan. 
Kali ini, Cuma surat Moh. Yudha dari penjara yang bisa tersaji secara lengkap. 
Inilah selengkapnya surat Moh. Yudha yang ditujukan kepada "Petinggi" LDII 

Kepada: 
Yth. Bapak KH. Abdul Dhohir Amirul Mukminin 
dan para wakilnya 
Di Tempat 

Assalamu alaikum wr wb 

Alhamdulillah sampai hari ini kami tetap Jama' ah sehat, segar, waras dan tak 
lupa kami panjatkan syukur kepada Allah. Dan syukur saya kepada dulur-dulur 






Jama'ah atas bantuan, dukungan moral dalam perjuangan kami untuk amal sholih 
membongkar "BISNIS MARIYOSO" yang berkedok Agama dan UB LDII baik 
dari parapengurus Jama'ah atau orang jama'ah dan juga bantuan, dukungan dari 
luar Jam'ah terutama kepada Kepala Rutan Mojokerto Bpk, H. Rohmat Efendi, 
SH. Juga Tokoh-tokoh Agama dan masyarakat lainnya. 

Kami yakin 100%, demi Allah, kebenaran mengalahkan kebatilan. Dengan 
segala daya upaya agar bisa memenjarakan Moh. Yudha (orang jama'ah kecil dan 
miskin), H. Loso Cs. menghabiskan uang milyaran rupiah, supaya persekongkolan 
dengan oknum polisi, Jaksa dan Hakim berjalan mulus. Sesuai rencana jahatnya 
tak ubahnya seperti syetan Amerika berperang melawan Usamahbin Laden. Al 
Hamdulillah Allah sudah membuka barang kebenaran "BISNIS MARIYOSO" 
mulai tampak jatuh dan hancur Allarm Akbar . . . 3X . 

Dari sinilah Allah mungkin akan memfilterisasi (menyaring) orang-orang 
jama'ah, apakah kita ini orang jama'ah perjuangan, jama'ah pengecut, jama'ah 
yang gila harta ataukah jama'ah oportunis (bunglon). Sungguh sangat disayangkan 
yang terlibat "Bisnis Mariyoso" banyak para pengurus jama'ah dan pengurus 
organisasi LDII yang semestinya jadi pengayom dan panutan jama'ah. Melihat 
perkembangan banyak orang jama'ah yang memanfaatkan situasi (mencari 
keuntungan) dengan cara meminta atau meminjam harta benda pada Mariyoso sambil 
berharap nanti kalau bisnis Mariyoso dibubarkan lumayan tidak usah 
mengembalikan. 

Dan kenyataan sekarang H. Mariyoso beserta anak istrinya lari jadi buronan 
Polisi dan Kejaksaan, sedangkan Jaksa Tamsul, SH (yang menuntut saya 8 tahun 
penjara) sekarang ditahan di Surabaya karena kasus suap dari orang Mariyoso (H. 
Mujahidin dan H. Loso) Rp. 2. 5 Milyar supaya Yudha dijebloskan ke dalam tahanan 
8 tahun dan H. Loso bebas demi hukum sedangkan pengawal Jaksa Tamsul, SH 
melarikan diri takut tersangkut kasus suap-menyuap ini,., sangatlah kejam 
menghalalkan segala cara. 

Setelah saya amati barulah saya tulis sekaligus sebagai laporan kapada bapak 
imam tentang sepak terjang beberapa warga jama'ah yang memang kebetulan 
menangani kasus ini baik dari unsur kepolisian ataupun unsur yang lain yang memang 
mendapat amanat menyelesaikan kasus ini ternyata hanya menambah kerancuan 
karena mereka berjalan tanpa ada kontrol dari organisasi atau para Kyai yang benar- 
benar netral atau bersih dari bisnis Mariyoso sehingga mereka ini dianggap oleh 
sebagian jama' ah sebagai oportunis yang dalam lapangan mereka juga bukan orang 



HMC. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAC/AN KEPUA: Bu kii-Bukii Penipuan LP/I 

yang bersih dari bisnis PLN Mariyoso tersebut, baik terlibat secara langsung maupun 
tidak langsung / lewat sanak familinya, termasuk juga ikut mengamankan harta 
benda yang pernah diberikan oleh Mariyoso kepada sanak familinya, yang mana 
suatu saat nanti apabila bisnis PLN Mariyoso hancur, lumayan sudah dapat harta 
benda (seolah-olah harta Mariyoso Cs seperti harta jarahan) 

Dengan perkembangan ini kami dan dulur-dulur jama'ah jadi ingat ucapan 
seorang pengurus Desa pada waktu Musyawarah Pengurus di Daerah Brangkal 
Mojokerto dengan keras beliau ini mengatakan "Orang yang tidak senang dengan 
bisnis Mariyoso sama dengan binatang Srigala berbulu domba", kat-katakeji seolah 
sudah biasa diumbar di depan podium, kebohongan demi kebohongan seakan sudah 
menjadi kebiasaan, memvonis atau mengecap seseorang dengan ucapan munafik, 
khawarij, khorijul minal jama'ah, darahnya halal untuk dibunuh; kata-kata seperti 
itu begitu sering diperdendangkan orang-orang yang kebetulan memiliki pengaruh 
/ dapukan dalam jama'ah. 

Dengan kejadian di atas cukup sudah kami tidak akan lupa dan memaafkan 
perkara ini sampai mati kami . . . kita sudah mengaji Al Qur ' an dan Al Hadis mengerti 
mana pahala dan dosa. 

Bersama ini kami bukakan rentetan peristiwa Badai Fitnah yang sangat 
menyakitkan yang dilakukan oleh orang yang didapuk sebagai ahli hukum dalam 
jama'ah. 

Beberapa hadis Nabi (Himpunan Hadis Kanzul Umal) dan sabda Nabi yang 
artinya: "Tanda-tanda rusaknya imamah, jika para ahli hukum menghukumi suatu 
perkara mengambil hartanya dan meletakan Al Qur'an dan Hadis serta 
memenangkan orang yang punya harta banyak ..." Astaghflrullah. 

Diriwayatkan juga dari Al Hakim oleh Jabir dalam himpunan Kanzil Umal hal. 
70 nomor hadis 14888 "Barangsiapayang berusaha mendukung/menyenangkan/ 
membuat supaya Amirnya tersebut senang/gembira dengan sesuatu atau barang, 
yang barang tersebut bisa membuat atau menyebabkan Allah murka (maksudnya 
barang tersebut barang haram) maka orang tersebut akan dikeluarkan dari Agama 
Allah. 

1 . Pada waktu bulan puasa tahun 2000 sehabis shalat Subuh di Masjid Brangkal 
H. LOSO bernasihat, "Bahwa Yudha dan Totok itu farokol jama'ah". 

2. Drs TOYIBUN (penerobos pusat), Yudha itu dihalalkan untuk dibunuh. 

3 . Hj. CHUSNUL KHOTIMAH (penerobos pusat), bisnis Maroyoso itu dihukumi 



Pak Amir halal dan Yudha itu iri. 

4. Ir. SUDIRTO Ngagel Surabaya, Yudha mencuri uang wartel H. LOSO Rp. 100 
juta. 

5. KH. KASMUDI, Bisnis Mariyoso itu halal dan menguntungkan orangjama'ah 
dan yang tidak suka bisnis Mariyoso itu orang iri, seperti Yudha diberi H. LOSO 
uang tidak mau malah merampok. 

6. H. MUJAHIDIN menyuruh JOKO MULYONO untuk membunuh Moh. Yudha 
tanpa jejak dan disaksikan Pak Santo Syafi'I Pengurus Daerah Brangkal. 

7. Dihajarnya Moh. Ulfan jama'ah dari Krian pendamping KH. Bustamil Madura 
oleh tukang pukul Serka Marinir Girnari (adik Pak naif Bangsal) sampai dibawa 
ke rumah sakit dan diancam akan dibunuh jika mencampuri bisnis MARIYOSO 
dan lapor ke pengurus jama'ah disuruh sabar. 

8. IMAM MALIKI oknum polisi Polres Mojokerto (orang jama'ah) Beking 
Mariyoso, pada waktu menangkap saya, memukul kepala saya dari belakang 
dan mengancam, "Yudha kamu melaporkan saya beking Mariyoso di Plores 
Mojokerto, aku mampu membunuhmu dan membeli kamu. . . " 

9. PerintahH. LOSO daripusat lewat H. Bambang Imam Desa Brangkal datang 
pada keluarga kami supaya Yudha dicopot dari ketua PAC LDII Mojokerto karena 
dituduh telah melaporkan Bapak dan wakil ke Polda Jatim, Alhamdulillah setelah 
diselidiki ternyata yang lapor ulama sepuh dari Gading dikarenakan beliau ini 
tidak rela jama'ah yang dibangun dengan susah payah tapi dirusak Mariyoso 
Cs, dan yang ikut menabur berita bohong tersebut adalah KH Kasmudi. Jadi 
yang melaporkan itu bukan Yudha . . . dengan kejadian ini tak satupun pengurus 
Jama'ah/pengurus organisasi LDII meminta maaf . . . diam seribu bahasa. 

Beberapa kejadian di atas apabukti kurang kuat? ... Apa tindakan para pengurus 
jama'ah dan para pengurus orgaisasiLDH? ... diam dan sembunyi. 

Kepada Bapak yang kami cintai, amal sholeh mengambil tindakan dengan cepat 
dan tegas pada Mariyoso dan kroni-kroninya, perkara ini sangat besar. Uang orang 
jama'ah dan orang luar Jama'ah berjumlah ratusan milyar. Kami tak sedih dan tak 
takut Kami dihukum 8 tahun, justru yang kami sedihkan dan kami takutkan, 
bagaimana tanggung jawab Bapak yang kami cintai di depan Allah nanti dalam 
perkara ini ... . Berat, sangatlah berat. 

Sekian dulu jeritan hati kami, bilamana ada kata-kata yang kurang berkenan, 
kami mohon maaf sebesar-besarnya, Alhamdulillah Jazakumullahu khairon katsiro. 



H.M.C. Shodq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Trillunan Rupiah 






BAGIAN KEPUA: Bu kti~Bukii Penipuan LP// 

Kepada istriku Siswanti, sabar dan banyaklah berdo'a, inilah cobaan dalam 
jama'ah. Demi Allah, Allah akan menghancurkan kebatilan dan memenangkan 

kebenaran 

Hormat Kami 
(Moh.Yudha) 



SISTEM STRUKTUR KERAJAAN 
"ISLAM JAMA'AH" 354 

Bila anda menemukan kode 354 di manapun, itulah nomor sandi "istimewa" yang 
dimiliki keluarga Besar Islam Jama 'ah yang kini bernama LDIL Saking 
"cintanya", nomor sandi itu dituliskan di mana-mana. Termasuk untuk nomor 
jalan masjid Luhur Nurhasan, Gadingmangu, Kecamatan Perak, Jombang, meski 
bangunan masjid tersebut andai diurut bukan nomor 354. Ada apa dengan nomor 
tersebut? 

Angka 354 bukan sembarang angka. Tapi, angka ini punya nilai yang tinggi 
bagi warga LDIL Sebab, angka "sandi" ini erat kaitannnya dengan upaya sosialisasi 
sekaligus pelestarian ajaran Islam Jama'ahyang dibangun oleh pendirinya, KH. 
Nurhasan Al Ubaidah. Pendiri "kerajaan" Islam Jama'ah ini berharap, angka sandi 
"istimewa" tersebut betul-betul dipegang teguh oleh penganut aliran organisasi yang 
kini bernama LDII, dimanapun dan dalam keadaan apapun . 

Mengapa? Angka 354 tersebut merupakan sistem doktrin fundamental warga 
LDII. Dalam sebuah makalah Ust. KH Bambang Irawan Hafiluddin berjudul : 
Hakikat GPK "Kerajaan Islam Jama'ah LDII Dinasti Nurhasan Ubaidah Madigol 
Al Kadz-dzab " yang disampaikan dalam, forum diskusi Majlis Taklim Sidney, 
Australia, 1 Nopember 1997, Angka sandi doktrim 354 itu dibeberkan secara jelas. 
Bambang Irawan Hafiluddin adalah mantan "Gembong" LDII selama 23 tahun, 
sejak tahun 1960 dan baru keluar pada tahun 1983. 

Sandi angka 3 54 itu, sebut Bambang Irawan, sebagai Sistem Struktur Kerajaan 
Islam Jama'ah. Rincian dasarnya, 3 berarti Qur 'an, Hadis, Jama'ah. Angka 5 berarti 
program 5 Bab berisi janji/sumpah baiat kepada sang Amir, yaitu: 1. Mengaji, 2. 
Mengenal, 3. Membela, 4. Sambung Jama'ah dan 5. Taat Amir. Sedang angka 4 
berarti tali pengikat iman yang terdiri dari: SyukurpadaAmir, mengagungkan Amir, 



bersungguh-sungguh, danberdo'a. 

Disamping itu ada doktrin gerakan yang dikenal dengan doktrin 5 pokok 
gerakan. Doktrin senantiasa ditekankan dalam setiap kesempatan pertemuan im* 
disebutnya wajib. Lima doktrin wajib itu adalah: 1 . Mangui, 2. Baiat, 3 . Keamiran 
Jama'ah 4. Struktur Kerajaan Jama'ah, 5. Taat kepada Amir, 

Selain berpegang pada angka sandi 3 54 dan doktrim 5 pokok gerakan, dalam 
LDII juga memiliki "siasat" gerakan yang disebut "Taqiyah" (berbohong). Taqiyah 
ini mereka namakan Fathonah, BithonahBudi Luhur, Luhuring Budi. Para kadernya 
dilatih danberstandar ganda dalam rangka membela jama'ah. 

Dalam sebuah kitab himpunan hadis koleksi Islam Jama'ah bernama Kitabul 
Imamah halaman 225 terdapat sebuah hadis terjemehannya berbunyi; Tidak halal 
bagi tiga orang berada di bumi Falah (kosong), melainkan mereka menjadikan amir 
(pimpinan) kepada salah satu mereka untuk memimpin mereka (HR. Ahmad). 

Hadis tersebut di atas ditafsirkan oleh H. Nuninas Al Ubaidah sebagai berikut: 
Setiap muslim di dunia ini tidak halal hidupnya alias haram. Makannya haram, 
minumnya haram, bernafasnya haram, bahkan semua shalat dan amal ibadahnyapun 
haram, seperti makan daging babi. Kecuali ia mengangkat atau membai'at seorang 
Imam, baru hidupnya dan amal ibadahnya halal. 

Tafsir H. Nurhasan Al Ubaidah berikutnya: Dan setiap muslim yang hidupnya 
masih haram karena belum baiat, maka hartanya halal untuk dicuri dan darahnya 
pun halal, karena selama ia belum baiat mengangkat seorang imam, statusnya sama 
dengan orang kafir, dan Islamnya tidak syah; termasuk syahadat, shalat, zakat, puasa, 
dan ibadah hajinya tidak syah. 

Tafsir H. Nurhasan Al Ubaidah tentang hadis tersebut di atas disampaikan oleh 
Deby Murti Nasution dalam sebuah makalah yang berjudul Islam Jama'ah dengan 
penyimpangannya, tafsir Nurhasan Al Ubaidah terhadap sebuah hadis di atas adalah 
salah satu contoh penafsiran ngawur dari Amirul Mukminin Islamjama'ah. 

Ada salah satu doktrin H. Nurhasan Al Ubaidah yang cukup "menyesatkan" 
yakni tentang infaq wajib yakni zakat. Kata Deby Murti Nasution, H. nurhasan Al 
Ubaidah menetapkan bahwa dirinyalah yang berhak menerima dan 
menggunakannya, bukan 8 asnaf sebagaimana ketentuan syariat Islam. Ironisnya 
lagi, besarnya infaq pukul rata 10%, tak peduli kaya atau miskin. Tanpa 
memperhatikan nisab. 

"Tanpa malau-malu Amirul Mukminin Nurhasahan Al Ubaidah menyatakan 
bahwa harta tersebut merupakan hak imam, sedang Jama'ah tidak berhak untuk 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



J* 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukii Penipuan LP// 

menanyakannya, pokonya taat saja, tandas Deby Mutu* Nasution tentang Nurhasan 
Ubaidah; katanya lagi, siapa yang berani-berani mempertanyakannya, berarti 
melawan imam dan wajib masuk neraka. 

Syarat utama untuk menjadi Muhajir adalah membeli sebidang tanah dengan 
membangun rumah di atasnya di Desa Gadingmangu, Kecamatan Perak, Kabupaten 
Jombang. Desa ini ditetapkan imam sebagai Darul Hijrah bagi anggota Islam 
Jama'ah. Tanah dengan rumah tersebut tidak boleh dijual, tapi diserahkan 
sepenuhnya kepada imam dan menjadi milik imam sesuai kemitmennya sebagai 
muhajir. Istilahnya, Muhajir adalah "elit" di lingkungan warga LDH 

Bertolak dari ungkapan tersebut di atas, timbul beberapa pertanyaan dengan 
kasus "investasi" yang mengguncang LDII saat ini. Mungkinkah kasus ini merupakan 
realisasi dari program jangka panjangnya para "Imam" Islam Jama'ah sekaligus 
mengukur tingkat ketaatan umat pengikutnya? . Mencermati modus operandi kasus 
ini, korban awalnya adalah para anggota Jama'ah LDII. Bisa jadi anggota LDII 
diuji oleh imammnya tentang doktrin 354. Khususnya tentang sejauhmana 
pembelaan warga LDII kepada Imamnya. Protes, teriak, berontak apa tidak, bila 
hartanya "dikeruk" para petingginya. 

Pertanyaan tersebut berkaitan dengan ajaran yang dikembangkan oleh pendiri 
Islam Jama 'ah, bahwa di dalam harta anggota, terdapat hak Imam. Bila ajran tersebut 
dijadikan pegangan oleh warga LDII, pantas para korban bisnis berkedok investasi 
ini masih banyak yang bungkam diri. Padahal, kata mereka, LDII bukan Islam 
Jama'ah, lho kok pegang doktrin Islam Jama'ah? 

Bagi korban di luar anggota LDII, mungkinkah juga sebagai test case para 
imam Islam Jama'ah yang menghalalkan harta dan darah non anggota Jama'ah? 

Bila sejumlah pertanyaan tersebut di atas benar, tentu semua ini terpulang kepada 
para korban, khususnya para anggota LDII. Bila LDII tidak mau disebut sebagai 
penerus ajaran Islam Jama'ah, tentu mereka akan berani mengatakan bahwa yang 
benar itu benar dan yang salah itu adalah salah. Warga LDII tentu tidak harus 
berpegang pada ajaran taqiyah nya Islam Jama'ah. 

Bagaimana para petinggi LDII? Bila penyelesaian kasus yang meresahkan 
masyarakat, khususnya warga LDII ini tetap menggunakan pola Islam Jama'ah, 
apa bedanya LDII dengan Islam Jama'ah? 

Masalahnya sekarang masihkah para petinggi LDII mempertaruhkan organisasi 
untuk melindungi "petinggi"? (H. NanangH, Kaharudin) 

Radar Minggu, Edisi XVII Awal Mei 2003 






TAJUK: OBRAL JANJI PETINGGI LDII 

Para "petinggi" LDII Cuma obral janji, itulah judul berita utama TabloidRadar 
Minggu edisi XVII Makna judul itu sama sekali tidak mengada-ada. Tapi itulah 
kenyataan keluhan para korban kasus bisnis "investasi" di lingkungan LDII 
(Lembaga Dakwah Islam Indonesia). 

Keluhan korban penipuan berkedok bisnis investasi ini juga bukan mengada- 
ada. Pasalnya sudah sejak sekitar September 2001 hingga kini, upaya pengembalian 
uang "investasi" yang dikelola tokoh-tokoh LDII Cuma menuai janji. Ya, cuma 
janji -janji yang tak pernah ditepati. Mereka cuma bohong, ingkar janji. 

Praktis, para korban yang nilai kerugiannya mencapai triliyunan rupiah, terakhir 
ini bukan cuma mengeluh. Tapi, bisa disebut sudah meradang, menjerit. Bahkan 
yang membuat lolongan jeritan mereka kian menjadi-jadi, diantaranya ingkar janji 
para petinggi LDII yang tak pernah ada realisasi. Apalagi para tokoh LDII yang 
terlibat kasus ini banyak yang sudah melarikan diri. Atau setidaknya banyak yang 
menyembunyikan diri. 

Mencermati kaus ini, banyak hal yang menarik di baliknya. Tatkala awal kasus 
ini dibongkar Radar Minggu, sebuah tabloid "kecil" yang terbit di Jombang, banyak 
"petinggi" LDII yangberkilahbahwa kasus ini tidak ada kaitannya dengan organisasi. 
Para "petinggi" LDII Kediri dan Jombang berikut pimpinan Ponpes LDII dari dua 
daerah itu "mencak-mencak" protes, datang ke kantor Radar Minggu. 

Intinya, para "petinggi" LDII mencoba menjelaskan bahwa yang terlibat kasus 
bisnis investasi ini adalah para oknum LDII, bukan organisasi LDII. Organisasi 
LDII dilukiskan sebagai organisasi yang "bersih" dari kasus ini. Sebuah kasus yang 
berkaitan dengan uang yang diakui atau tidak, benar-benar mengguncang "tubuh" 

LDII. 

Pertanyaannya sekarang, benarkah organisasi LDII bersih dari keterlibatan kasus 
bisnis investasi ini?. Jawabnya bisa beragam. Bila "proyek" bisnis investasi ini 
berhasil mulus dan tak menjadi kasus seperti sekarang ini, bisa jadi para petinggi 
LDII akan menepuk dada dan "mengklaim" bahwa keberhasilan itu adalah 
keberhasilannya. Begitu juga kontribusi manfaatnya juga akan dinikmati oleh 
organisasi, baik langsung atau tidak, melalui parapengurus dan anggota Jama'ahnya. 

Yang perlu digaris bawahi lagi, siapapun tahu betul bahwa penggagas, 



■ H.M.C. Shodq, Akar Kesesataru LDII & Penipuan Trifiunan Rupiah 



»:•»>:«•:•;*! 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukti Penipuan LP// 

pembentuk, pengoperasi, pemamfaat dan bahkan penikmat "bisnis" ini adalh tokoh- 
tokoh LDII. Aliran dana "investasi" ini pun, muaranya kepada tokoh-tokoh LDII, 
baik itu tokoh struktural maupun non struktural yang ada di berbagai ponpes LDII. 
Seperti Ponpes LDII Burengan, Kediri, Ponpes LDII Kertosono, Nganjuk, Ponpes 
LDII Gadingmangu, Jombang, dan lain sebagainya. 

Artinya siapa pun tahu betapa gencar dan gigihnya para tokoh LDII kala itu 
dalam menjalankna "bisnis" investasi ini. Bahkan saking gigihnya, para tokoh ini 
tak segan-segan "menghabisi" orang yang menghalangi bisnisnya. Tak terkecuali 
"saudara" dalam satu Jama'ah sendiri, seperti yang terjadi di Mojokerto. Salah satu 
di antaranya, yang dialami Moh. Yudha, Ketua PAC LDII Mentikan, Mojokerto, 
yang kini dijatuhi hukuman 8 tahun penjara, gara-gara dianggap merintangi "bisnis" 
investasi ini. 

Ada baiknya, sekarang para petinggi LDII tak perlu memperdebatkan apakah 
organisasi ini terlibat atau tidak dalam kasus bisnis investasi ini. Kalau itu yang 
diperdebatkan, cuma buang-buang energi. Cuma saling berkilah. Bahkan bila 
berlarut-larut, bisa jadi malah menghancurkan nama organisasi. 

Saat ini, yang diperlukan cuma kesungguhan para petinggi organisasi untuk 
menuntaskan kasus ini, soal teknisnya, tentu para petinggi LDII ini tak perlu digurui. 
Bagi yang membangkang, tentu tak sulit bagi para petinggi LDII untuk memberikan 
sangsi. Bla masih membangkang lagi, kantor polisi masih ada di negeri ini. 

Bila ada alasan bahwa banyak para pengepul yang melarikan diri, bagi LDII 
tak sulit untuk melacaknya. Kecuali, yang bersangkutan betul-betul keluar dari 
anggota jama'ah. Jika tidak anggota LDII pasti "sambung" dengan komunitas sesama 
warga LDII, dimana pun berada. Itu pasti! 

Sekali lagi, masalahnya tergantung kesungguhan para petinggi LDII. 
Kesungguhan ini tak Cuma sekedar retorika janji-janji, tapi penting bukti. Bila bukti 
peneyelesaian tak kunjung terealisasi, jangan salahkan bila ada yang menuding 
bahkan para petinggi organisasi ini memang sangaja membangun konspirasi dalam 
bisnis investasi ini. (redaksi) 

Radar Minggu, Edisi XVII, awal Mei 2003 



SURAT DARI TULUNGAGUNG: 
LDH JUGA ADA YANG "SONTOLOYO" 

Pengantar Redaksi: 

Surat dari Sdr. M. Nurfadhilah, Kalidawir, Tulungagung, tentang LDII ini akan 
dimuat secara lengkap. Namun karena cukup panjang, terpaksa disajikan dalam 
dua edisi, XVII dan XVIII. Mohon maklum 

Kepada: 

Yth. Pimpin an Redaksi Radar Minggu 

Jl, Kapten Tendean 35 Jombang Jatim. 

Pemred RM Yth.! 

Barangkali baru pertama kali ini saya menulis "surat terbuka" kepada RM. 

Pertama untuk saya, boleh jadi tid&k untuk yang lain, sebab sebagai pemred 
Tabloid yang mulai tumbuh, redaksi tentu menerima banyak surat, baik yang memuji, 
mencela maupun sekedar "ucapan selamat". Itu wajar-wajar saja. 

Pemred RM Yth. 

Saya datang sebagai seorang pembaca, yang kebetulan malam Kamis lalu, saya 
mendapat kiriman RM secara cuma-cuma. Masalahnya, kala itu seperti biasanya, 
kami mengaji di sebuah mesjid yang letaknya 500 m arah timur tempat tinggal 
saya. Sepulang dari masjid, beberapa orang menjumpai beberapa lembar koran, 
yang kami kira hanya orang yang sudah habis membacanya, lantas dibuang di pinggir 
jalan. Dugaan kami meleset. Nyatanya bukan koran "sembarangan", namun tabloid 
yang akhir-akhir ini begitu gencarnya memuat berita perihal "investasi" di seputar 
LDII. Saya sangat kaget, sebab baru kali ini ada media yang sangat terbuka dan 
berani membuat tulisan yang (kalau menurut saya) sangat sensitif dan menarik 
perhatian banyak orang. 

Sebagai seorang warga LDII, sebenarnya saya tidak terlalu terkejut. Sejak saya 
masih kecil dulu, saya pernah ikut mengaji orang tua laki-laki saya, sekarang sudah 
meninggal. Di tengah jalan ada orang melempar batu. Bapak saya bilang, itu sudah 
biasa. Jangan terpengaruh. Ternyata Bapak saya benar. Teror kemudian datang silih 
berganti ke rumah orang tua saya. Bahkan Bapak dan teman-temannya beberapa 
kali masuk "penjara" di kantor polisi (sekarang Polsek). Hal serupa dialami oleh 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukti Penipuan LP// 

beberapa orang lainnya di Tulungagung, karena mengamalkan agama yang kata 
orang-orang yang membencinya adalah agama sesat, agama menyesatkan, agama 
"biadab berbaju putih", dan lain sebagainya, sebutan yang sering membikin telinga 
menjadi merah! Tak apa. Saya tetap teguh. Agama jalan terus. Dan orang yang 
merintangi juga tak mau berhenti. Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih bisa 
bernafas dan saya tidak merasa risih hidup berdampingan dengan orang-orang yang 
"berseberangan" dengan saya, baik manakala saya di rumah, di tengah masyarakat 
maupun dijalan, di tengah pasar, terminal, pelabuhan dan lain sebagainya. Saya 
tahu bahwa mereka tidak sefaham dengan saya. Namun "hormat saya" pada mereka 
juga tak berkurang, walau saya juga pemeluk agama yang cukup "wajar" di antara 
teman-teman seagama. Saya menyadari itulah dunia, penuh dengan tingkah polah 
manusia yang satu sama lain kadangkala "berbenturan kepentingan" . Asal tidak 
saling mengganggu, saya pikir tidak usah dirisaukan! . 

Pemred RMYth.! 

Dalam laporan khusus yang tertulis dalam RM edisi XVI, pada bagian siapa 
KH Nurhasan Al Ubaidah, RM begitu piawai dalam "membedah" tubuh LD II, 
sampai-sampai RM "memvonis" walau anda menghindari kata-kata demikian, 
bahwa LD II identik dengan Islam Jama'ah, karena dalam LDII ada "manqul" dan 
"sanad", dua ciri khas yang melekat dalam Islam Jama'ah. Pendapat demikian 
(mengutip kata RM) barangkali hanya perasaan saja. Padahal, sesuatu yang 
nampaknya serupa belum dan tidak tentu sama selamanya. Ambil contoh. Pemred 
adalah anak kesayangan Pak Bahrul. Apa yang ada pada Pak Bahrul tentu "foto 
copy" dengan jelasnya dalam diri Pemred RM ini. Mulai bentuk wajah, tebalnya 
alis, kumis, dagu, perut, tangan, kaki dan warna rambut, semuanya "tercurah" dari 
Pak bahrul tadi. Orang Jawa bilang j ibles, plek, persis! Lantas timbul pertanyaan. 
Siapakah Bahrul yang asli? Tentu semua orang sepakat bahwa bahrul yang asli 
adalah orang tua Pemred RM, sedangkan pak Nanang, H. Kaharuddin adalah 
puteranya. Itu jelas kalau ada orang yang mengatakan bahwa Pak Bahrul adalah 
Pak Nanang dan Pak Nanang adalah Pak Bahrul, tentu banyak orang yang tidak 
sependapat! Setuju, kan, Red?! (bersambung edisi depan) 

Pemred RMYth, 

Sebagai orang yang sejak kecl berkecimpung dalam organisasi keagamaan 
semacam LDII, tentunya saya juga sadar bahwa tipe dan tabiat orang memang 



berbeda-beda. Tak aneh jika dalam warga LDII itu sendiri itu juga aneka ragam 
tingkah lakunya. Ada yang tekun beribadah, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada 
juga yang "sontoloyo" . Lucunya, justru yang sontoloyo inilah yang sering jadi bahan 
paling empuk, paling gres, paling enak untuk dijadikan dasar menghakimi LDII 
sebagai institusi. Padahal seharusnya tidak demikian. Orang (yang paling baik) tentu 
harus pintar membedakan mana yang oknum, mana yang baik-baik. Dalam polisi 
atau alat penegak hukum saja ada pula orang-orang demikian. Sayang, kalau yang 
berbuat warga LDII yang "nggedabuT selalu diekpos siang-malam, mulai Ahingga 
Z. Sedangkan yang baik (jumlahnya jauh lebih besar) malah dicuekin, seakan timbul 
kesan bahwa berita LDII orang-orang rakus, orang yang tidak menjunjung tinggi 
martabat dan kebesaran LDII itu sendiri. Tentu saja ini tidak adil, tidak layak dan 
tidak pantas untuk ditiru. Tapi, itulah faktanya. 

Pemred RMYth. 

Teman saya punya pemimpin yang tentu saja dihormati oleh murid-murid dan 
anak buahnya. Sayang sang pemimpin tersebut memiliki tingkah laku, perbuatan, 
yang jelas melenceng dari ajaran moral yang setiap hari didengung-dengungkan. 
Tapi apa yang dikerjakan murid-muridnya? Murid-muridnya tak berani minta sang 
guru untuk kembali ke jalan yang benar. Sang guru dibiarkan demikian saja hingga 
sang guru wafat beberapa tahun silam. 

Banyak kasus serupa terjadi. Padahal mereka adalah pemimpin umat. Toh 
realitasnya tak ada media massa yang orang per orang yang menghujat. Coba kalau 
hal ini terjadi pada warga LDII, tentu orang akan geger karenanya. 

Radar Minggu, edisi XVII, Awal Mei 2003 



PARA "PETINGGI" LDII CUMA OBRAL JANJI 

Apa betul, di LDII ada doktrin boleh berbohong (taqiyah), dengan fathonah 
bithonah? Bila tidak, mengapa kasus investasi yang melanda LDII tidak segera 
diselesaikan?. Berikut hasil investigasi Radar Minggu. 

Mengapa para prtinggi LDII (lembaga Dakwah Islam Indonesia) cuma obral 
janji? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan janji para petinggi LDII tatkala 
berkunjung ke kantor Redaksi Radar Minggu. Kala itu, para petinggi LDII yang 
berjumlah enam orang itu berjanji akan segera menyelesaikan kasus "investigasi" 
a^U| t " men gg unc a n g M LDn ini - (Baca: Radar Minggu edisi XVI, akhir April 2003 
I HMC. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



IllPi 



BAGIAN KEPUA-. Bu k+i-Bukti Penipuan LP/I 

dengan judul: "Angin surga Mulai Berhembus "). 

Ke enam petinggi LDII itu terdiri dari H Didik Tondo Susilo BE SH (Sekretaris 
DPD LDII Kab. Jombang), H Usman Arif (Sekretaris DPD LDII kota Kediri), H. 
Jumikan Karimunsani (pengasuh ponpes LDII Gadingmang, Jombang) dan H. 
Kuntjoro Kaseno, SE (Pimp Ponpes LDII Burengan, Kediri) yang disebut terahir, 
Kuntjoro adalah salah satu Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII masa Bakti 
1998-2003. 

Tatkala bertandang ke kantor Redaksi Radar Minggu, Kamis 17 April 2003 
itu, para petinggi LDII ini dengan nada serius menceriterakan langkah-langkahyang 
ditempuh tim untuk menyelesaikan kasus "investasi" seputar LDII ini. Katanya, 
jadwal kerjanya tim bukan pada dasar hitungan hari, tapi sudah menggunakan jam. 

Kenyataannya?. Para petinggi LDII itu Cuma obral janji bohong belaka, ungkap 
korbandari Mojokerto yang mengaku tertipu Rp. 2. 3 milyar. Warga LDII ini mnegaku 
hampir tak dapat menahan kesabarannya. Pasalnya, setiap nagih ke ponpes LDII 
Burengan atau ke ponpes LDII Kertososno, Cuma disuguhi janji-janji. 

Korban lain bahkan menuduh para petinggi LDII yang "dikirim" ke Redaksi 
Radar Minggu itu sekedar siasat basa-basi, seolah-olah para petinggi organisasi 
tanggap terhadap keluhan warganya. Bila tidak, mestinya sudah ada yang dislesaikan. 
Nyatanya, sejak beberapa bulan lalu hingga terakhir ini, cuma janji-janji melulu" 
ungkap korban di Tulungagung yang mengaku tertipu sekitar Rp. 6.5 milyar, sekitar 
Rp. 3 milyar diantaranya masuk ke PT Lima Utama Abadi, Perak, Jombang. 

Janji yang tak pernah ada realisasi ini menimbulkan beberapa dugaan penafsiran. 
Di antaranya, bisa jadi para petinggi LDII sengaja mengulur-ngulur waktu agar 
dapat mengambil "keuntungan". Sisi lain, ada yang menduga bahwa kebohongan 
mereka erat kaitannya dengan "cerita doktrin LDII yang dinamakan fathonah 
bithonah budi luhur luhuring budi". Itulah yang disebut taqiyah, sebagaimana yang 
diungkapkan mantan dedengkot LDII, KH. Bambang IrawanHafiluddin. 

Tapi terlepas dari duga menduga sebagaimana tersebut di atas, yang jelas para 
korban sangat berharap uluran tangan para petinggi LDII. Masalahnya, di samping 
mereka adalah pemimpin organisasi, mereka juga tahu bahkan menikmati proyek 
investasi ini. "Omong kosong kalau mereka ngomong tidak tahu proyek investasi 
ini". Tukas korban di Jombang seraya menceriterakan awal mula "proyek investasi" 
yang muncul dari Brangkal, Mojokerto. 

Waktu itu, ceriteranya, warga LDII yang tidak setuu dengan pelaksanaan proyek 
investasi ini dihukumi oleh Kyai LDII di Mojokerto sebagai keluar dari Jama'ah 



dan halal darahnya. Kala itu, para petinggi LDII di Mojokerto tak segan-segan 
"memburu" nyawa dengan menjebloskan ke penjara bagi yang menentangnya. 
(Baca: Surat Yudha Dari Penjara, hal.4) 

Kini kasus bisnis investasi seputar LDII sudah mulai tersibak. Korbannya bukan 
cuma warga LDII, tapi banyak pula non LDII. Jumlah uang masyarakat yang terkeruk 
dari bisnis berkedok investasi mencapai itriliyunan rupiah. Semua korban berharap 
uang yang pernah diinvestasikan dapat diambil kembali. 

Keterangan yang dihimpun Radar Minggu menyebutkan sementara ini korban 
yang paling banyak terdapat di Blitar . Nilainya mencapai sekitar Rp. 1 3 milyar. 
Sebagian korbannya adalah TKI/TKW. "Di Tulungagung uang yang terkeruk bisnis, 
yang berkedok investasi ini tak kurang dari Rp. 80 milyar", kata korban yang 
mengaku tertipu sekitar Rp. 6 milyar. Di Kediri tak kurang dari Rp. 50 milyar . 
Korbannya, banyak pula dari kaiyawan Pabrik Rokok Gudang Garam, perangkat 
desa, camat dan aparat penegak hukum., 

Dari Kediri dan Mojokerto dilaporkan, bila para petinggi LDII tidak segera 
memulai menyelesaikan kasus ini, banyak korban yang berusaha nekat dengan 
caranya sendiri. "Kalau para petinggi LDII masih sayang organisasi dan asetnya, 
tak ada langkah yang pas kecuali mengembalikan uang para korban", tandas Suyanto, 
penduduk Pandansari, Kec. Purwoasri. 

Tanpa langkah itu, kata korban yang mengaku tertipu Rp, 80 juta ini, para 
petinggi LDII bisa dicap sebagai "pengkhianat". Korban tak butuh rapat-rapat yang 
hasilnya cuma janji-janji belaka, tapi yang dibutuhkan adalah kepastian 
pengembaliannya", ujar Suyanto dengan nada kesal. "Apa ingin, aset para petinggi 
LDII "dijarah" para korban?", tanyanyamenambahkan. Yang menjengkelkan, kata 
koban di Nganjuk, sementara para korban kelimpungan, sedang para petinggi 
organisasi ber "happy ria" dengan hasil "penipuannya" Mereka dikatakan bersenang- 
senang dengan sejumlah istrinya, naik mobil "mendut-mendut" , sedang para 
pengepul tingkat bawah tak berani pulang ke rumah lantaran dikejar-kejar para 
korban. "Ini kan sebuah kedzaliman", komentar warga LDII yang mengaku tertipu 
Rp. 90 juta. 

Warga LDII ini merasa sangat risih mendengar beberapa "plesetan", setelah 
organisasi ini "terlilit' kasus bisnis berkedok investasi. Di antaranya plesetan yang 
cukup risih didengar telinganya adalah tentang akronim LDII. Katanya, bila kasus 
ini tak segera terselesaikan,apa mau LDII disebut Lintah Darat Islam Indonesia, 

Radar Minggu Edisi XVII Awal Mei 2003 






■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triltunan Rupiah 



liiilll 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukti Penipuan LP/I 



ISTRI KYAI SEPUH LDU 
TERLIBAT LANGSUNG 

Sampai terakhir ini, tak ada yang dapat memastikan, kapan kasus dugaan 
penipuan berkedok investasi seputar LDII mulai diselesaikan. Para petinggi 
organisasi, masih cuma sebatas obral janji Diperkirakan, penyelesaian masih 
panjang lagi lantaran anak, cucu, cicit, KH. Nurhasan Al Ubaidah juga terlibat. 
Termasuh istri Kyai Sepuh Abd Dhohir terlibat sebagai pengepul. 

Banyak yang tidak menyangkabahwa istri Kyai "Sepuh" -sebutan kyia tertinggi 
di LDII-Abd Dhohir, bernama Hj Umi Salamah Abd Dhohir, terlibat sebagai 
pengepul uang "investasi" seputar LDII. Tapi, memang itulah kenyataannya. Salah 
satu bukti keterlibatan tersebut tertera dalam surat kesepakatan bersama, tatkala 
menerima uang dari orang Kertosono, senilai Rp. 169 juta, dan Rp. 70 juta. 

Surat yang ditandatangani Hj. Umi Salamah Abd. Dhohir diatas materai masing- 
masing Rp. 6 ribu itu terjadi pada 2002 dengan saksi Tarwiji . Inti surat tersebut, H. 
Umi Salamah Abd. Dhohir beralamat dijalan HOS Cokroaminoto 195 Kediri, 
Telp.0354-695436, disebut sebagai pengelola modal. 

Dalam surat tersebut, pengelola modal menjanjikan keuntungan 5% dari modal 
yang ditanam. Pembagian keuntunagn ini diterimakan setiap bulan. Caranya, bila 
menanam modal selambat-lambatnya tanggal 2, maka keuntungan + (plus) modal 
dapat diambil antara tanggal 24 sampai dengan 27. Keamanan modal, ditanggung 
sepenuhnya (100%) oleh pihak kedua selaku pengelola usaha. Modal juga dapat 
diambil sewaktu-waktu, dengan memberi tahu satu minggu sebelumnya. 

Diperkirakan, dengan bekal nama besar Kyai "Sepuh" Abd. Dhohir, suaminya 
Hj. Umi Salamah Abd. Dhohir berhasil "mengeruk" uang investasi dari umat 
mencapai ratusan juta rupiah. 

Begitu juga yang dilakukan putera Kyai "Sepuh" Abd. Dhohir yang ada di 
Gadingmangu, Perak, Jombang, H. Abu Khasan Muzaqi bin H Abd Dhohir, juga 
sebagai pengepul uang investasi. Cucu Kyai Nurhasan Al Ubaidah, pendiri Islam 
lama' ah ini dalam modus operandinya juga menyediakan blangko surat kesepakatan 
bersama (SKB). 

SKB milik Abu Khasan ini juga mirip dengan milik Hj Umi Salamah, ibunya. 
Bedanya, SKB milik Abu Khasan dilengkap keterangan bahwa usaha pihak kedua 
adalah dalam bidang penebusan rekening listrik dan usaha-usaha yang halal. 



Disebutkan pula, bahwa jika menanam modal selambat-lambatnya tanggal 1 5 maka 
keuntungan + (plus) modal dapat diambail antara tanggal 10 sampai 12. 

SKB Abu Khasan ini sebagaimana tertulis ketika menerima uang dari orang 
Kertososno senilai lebih dari Rp. 250 juta pada bulan Juni 2002. Diperkirakan H. 
Abu Khasan Muzaqi bin Abd Dhohir berhasil meraup uang investasi untuk mencapai 
milyaran rupiah. 

Lain lagi yang dilakukan H. Mujib HanafiTH. Abdillah Sulton Ubaidah penduduk 
Temporejo, Pesantren, Kota Kediri, yang disebut-sebut sebagai cicit KH. Nur Hasan 
Al Ubaidah ini menyediakan blangko yang disebutnya surat perjanjian, bukan SKB. 
Kepala penjualan pelumas/oli pertamina PT. Panjalu Tirta Lumas & Syarikah oli 
ini lebih banyak "memangsa" teman-temannya di lingkungan Pertamina. 

"Dari korban di lingkungan Pertamina Kediri saja, Mujib diperkirakan 
mengantongi uang lebih dari Rp. 1 mdlyar", kata Sajuri, pengawas SPBU yang 
mengaku tertipu sekitar Rp. 50 juta sejak 23 Juli 2002. 

Sejumlah nama korban Mujib Hanafi yang sementara dapat dihimpun Radar 
Minggu, di antaranya selain Sajuri adalah Usmadi, pensiunan Pertamina, tinggal di 
jl. Kuwak Utara, kotaKediri ini tertipuRp.30 juta pada 20 Juni 2002 terdapat pula 
nama Mudianto, sopir, tinggal di Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten 
Kediri, tertipu Rp. 70 juta. 

Mujib Hanafi juga "melalap" uang tetangganya sendiri. Di antaranya, Endang 
Kustiningsih (36th), dan Ahmad Jalil (39) keduanya penduduk Temporejo, 
Pesanteren, Kota Kediri. Endang Kustiningsih "ditipu" Rp 20 juta pada Juli dan 
Oktober 2002. Sedang Ahmad Jalil "dikemplang" Rp. 95 juta secara bertahap pada 
Juni sampai dengan Agustus 2002. 

Dalam modus operandinya, Mujib Hanafi menyediakan blangko surat 
perjanjian. Intinya, bagi hasil keuntungan, diambil satu bulan sekali dari tanggal 
penanaman. Bila Sisa Hasil Usaha tidak diambil, akan diakumulasikan dengan modal 
pokok. Bila pemilik modal bermaksud mengambil modalnya, harus sepuluh hari 
sesudah menerima bagi hasil keuntungan. Penambahan modal dimulai tanggal 20- 
30. Bagi hasil keuntungan yang dijanjikan, tidak sama, antara 4 s/d 5%. 

Kata beberapa korban, sejak "mbuletnya" proyek investasi tipuan ini, H. Mujib 
Hanafi selalu menghindar. Pernah, pada 25 Oktober 2002, mengirim surat kepada 
para pemilik modal . Intinya, Mujib Hanafi menjanjikan akan memberi SHU Bulan 
November dan Desember 2002 akhir Desember 2002 berikut penyerahan modal. 

Ternyata, janji Mujib Hanafi cuma bohong belaka. Terakhir, kata parakorban, 



H.M.C. Shodq, Akar Kesesatan ILDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukti-Bukti Penipuan LP/I 

Mujib Hanafi berkilah bahwa pengembalian modal tersebut menunggu pencairan 
dari Gatutkoco, juga sebagai pengepul investasi yang jumlahnya puluhan milyar 
rupiah. Bertolak dari sini, Sajuri sepakat bersama kawan senasibnya akan menggelar 
demo ke Ponpes LD II. "Siapa yang tahan didholimi seperti ini", ungkap Sajuri 
seraya menyorot ongkang-ongkangnya para pengepul, bagai merasa tak berdosa 
sama sekali. 

Saudara kandung Gatotkoco bernama M. Ontorejo lebih "gila" lagi kiprahnya 
dalam mengeruk uang investasi tipuan ini. Cucu Kyai Nurhasan Al Ubaidah (dari 
Hj . Suaidau, istri H. Tohir Yusuf) ini disebut sebgai pengepul besar. Oong panggilan 
akrab Onterejo ini diperkirakan meraup ratusan milyar rupiah. 

Salah satu bukti copy kuitansi yang ada di Radar Minggu, Oong pernah 
menerima uang titipan investasi tipuan senilai Rp. 22.959.800.000 (Duapuluhdua 
milyar, sembilan ratus lima puluh sembilah juta, delapan ratus ribu rupiah. Uang 
sebesar itu, diterima Oong pada Januari 2003 . 

Radar Minggu, edisi XVIII, Awal Juni 2003 



"KONSPIRASI MAFIA MEMBELI PENJARA" 

Langkah awalnya, mirip cerita film mafia. Siapapun yang dianggap penghalang, 
akan dilenyapkan. Berbagai ragam rekayasa dilakukan. Termasuk, kasus Napi Yudha, 
mirip konspirasi mafia dalam membeli penjara. 

Tayangan cerita film mafia, agaknya cukup tepat untuk menggambarkan awal 
rekayasa modus operandi kasus dugaan penipuan berkedok investas yang kini 
mengguncang LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Para manusia yang disebut 
"hubud~dun ya " ini tak segan-segan menghabisi lawan maupun kawan, bahkan 
saudaranya sendiri yang dianggap sebagai penghalang hasrat nafsunya. Tak peduli, 
saudara seiman, seJama'ah, seagama. 

"Petaka" yang menimpa Muhammad Yudha, adalah salah satu contoh kasusnya. 
Pria kelahiran Mojokerto, 23 Desember 1967, ini adalah Ketua Pimpinan Anak 
cabang (PAC) LDII di Mentikan, Kota Madya Mojokerto. Sebagai aktivis, apalagi 
pengurus, ia faham betul "ruwet rentangnya" organisasi. Termasuk, seluk beluk 
rencana "proyek" investasi tipuan yang melibatkan para petinggi organisasinya. 

Proyek investasi "tipuan" yang kini korbannya tersebar di seluruh Indonesia 
bahkan sampai luar negeri dengan nilai triliyunan rupiah itu ternyata gagasan awalnya 



muncul dari Brangkal Mojokerto. Tepatnya di rumah H. Loso, Kyai LDII yang 
kondang di daerah Mojokerto dan sekitarnya. Pertemuan awalnya, pada 3 Maret 
2000 ? dihadiri 15 orang. Diantaranya, H. Loso, sebagai tuan Rumah. Sutiyoso, SH 
(Pegawai Pengadilan Negeri Mojokerto), dari desa Brangkal . Susanto Syafii, 
Brangkal. Mariyoso (Gombel), Jl. Raya Pandan 17 Perumnas Wates Mojokerto. 
Mulyono, Pakem, Trowulan. Drs H. Hari, Mengeloh; H. Bambang, Gading; Dinoyo, 
H. Kusmiadi, Murukan. Naip (pegawai satpam PLN), Brangkal. Moh. Yudha, 
Mentikan; Wanito, Kangkungan. Babar Suprayogo, Pulorejo. Yoyok, Pulorejo; dan 
Edy, Prajuritkulon. 

Moh Yudha, termasuk salah satu anggota Jama'ah LDII yang menentang keras 
praktik penipuan berkedok investasi ini. Tentu, perlawanannya menentang arus di 
lingkungan Jama'ahnya, tak sesederhanayang dibayangkan. Semula, hanya berdebat 
dengan "logika" bisnis yang diterapkan proyek investasi tersebut. Artinya, Moh 
Yudha menilai banyak kejanggalan dalam proyek investasi yang dikembangkan para 
petinggi LDII ini. Salah satunya, janji keuntungan yang cukup "aduhai", antara 10 
s/d 25%. 

Dalam perkembangannya, Proyek investasi tipuan ini jalan terus. Sisi lain, Yudha 
tetap menentangnya. Alasannya sederhana, cuma "ngeman" citra organisasi. Tak 
ayal, penentangan Yudha terhadap "kejahatan" ini dinilai macam-macam. Yudha 
dianggap macam-macam. Yudha dianggap iri, dengki, bahkan Kyai LDII H. Loso, 
Brangkal, membuat fatwa bahwa Yudha dan kawan-kawannya yang menetang 
praktik bisnis kotor itu dinilai "Faroqol Jama'ah". Yudha dianggap keluar dari 
Jama'ah, yang berarti halal untuk dibunuh (Baca: Surat Yudha dari Penjara, RM 
edisi XVII) 

Diperlukan sekejam itu, Yudha tetap tak surut menentang. Dalam perjalanan 
perjuangannya, tentu tetap ada yang pro. Khususnya, teman seJama'ah LDII seperti 
totok, subagio, Ulfan, dan sejumlah kawan-kawan lainnya. Prakts, Yudha tak 
sendirian dalam memperjuangkan keheranan. 

Tapi, Bos "mafia" dari para petinggi LDII juga kian tak senang. Rekayasa pun 
dibangun untuk menghadang Yudha. Setiap pertemuan atau pengajian diciptakan 
opini Jama'ah untuk membenci dan mengucilkan Yudha, lantaran fatwa Amir atau 
Imam. Maklum, ketaatan luar biasa terhadap amir atau imam sudah menjadi tradisi 
di LDII. 

Bukan Cuma itu, agar proyek investasi tipuan ini berjalan mulus, diciptakan 

pula langkah-langkah "inspirasi" ala mafia. Kunci utamanya, uang. Manusia-manusia 

dSll§ gai mempertuhankan uang- Dengauang, diharap untuk mengatur segalanya. 

| H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah . 



WM$mz 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

Termasuk untuk memenjarakan Yudha. 

Ceriteranya, Pada 4 Desember 2000, ada kasus perampokan di rumah Maryoso, 
bos "investasi" tipuan, di Jl. Pandan 17, Wates, Mjokerto. Bersama Polisi diciptakan 
kesan bahwa maryoso alias Gombel, selamat dari serangan perampok. Seolah 
Gombel orang kebal. Seluruh media meliput dan memberitakan besar-besaran. 
Barang yang digondol perampok, berupa uang Rp. 200 juta dan mobil Phanter, 

Akhirnya Babar Kusmiadi, warga LDII, dituduh sebgai pelaku perampokan di 
rumah bos "mafia". Babar Suprayogo akhirnya dihukum 8 tahun, dan Kusniadi 
dijatuhi hukuman 3 tahun penjara oleh Majelis Hakim di PN Mojokerto. 

Menurut sumber radar Minggu, kasus perampokan di rumah Maryoso itu 
sebenarnya tidak murni perampokan. Tapi, tetap berkait dengan kasus investasi 
seputar LDII ini. Ceriteranya, banyak korban yang gagal menagih kepada Maryoso, 
akhirnya sepakat menggunakan Babar sebagai juru "tagih", diajak pula 10 orang 
Banser NU untuk mendampingi drama perampokan tersebut. 

Celakanya, Babar ingkar janji. Ia tidak menemui korban atau melapor ke Polres 
Mojokerto. Tapi, justru ia melarikan diri ke rumah istrinya di Pasuruan. Habislah 
riwayat "pengkhianat" . 

Berhasil menjebloskan Babar dan Kusrniadi ke penjara, tampaknyabos "mafia" 
belum merasa puas, bila tak "menghabisi" seluruh penghalang bisnis jahatnya. Ada 
dugaan, bos "mafia" berhasil "membeli" Batar untuk "nyokot" Yudha dalam kasus 
perampokan di rumah bos besar, Maryoso. Ini, merupakan buntut dari penentangan 
Yudha yang tetap ngotot akan membongkar bisnis kotor Maryoso. Waktu itu, Yudha 
melaporkan dugaan penipuan Maryoso senilai lebih Rp. 1 milyar kepada polisi. 

Keinginan bos "mafia" untuk menghabisi Yudha terkabulkan. Babar "Ngoceh" 
di depan majlis Hakim, tentang keterlibatan Moh. Yudha dalam kasus perampokan 
di rumah Gombel. Pada 30 Desember 2001, Yudha resmi ditangkap polres 
Mojokerto. Selama proses sidang, Moh. Yudha didampingi penasihat hukum 
Sudarmadi, SR Majlis Hakim yang diketuai Herman Alisitondi, SH akhirnya 
menghukum Moh. Yudha dengan 8 tahun penjara. 

Kabar beredar di Mojokerto, untuk dapat menghukum Moh. Yudha, bos "mafia" 
penipu Gombel, menghabiskan dana tak kurang dari 2.5 milyar. Untuk siapa saja 
uang sebanyak itu?. Maryoso alias Mbah Gombel saat ini lagi menghilang. Sekedar 
untuk memperlengkap kisah Moh. Yudha , baca Radar Minggu edisi XVII, sebelum 
ini. Ada baiknya pula, baca pledoi Moh. Yudha yang disajikan di bagian lain halaman 
ini secara lengkap. Judulnya, ada apalagi dibalik ini semua?. 

Radar Minggu edisiXVIII, AwalJuni 20.03. ....... 



ADA APA DIBALIK INI SEMUA? 

Kepada Yth. 

Bapak Majelis Hakim Perkara No. 165/Pid.B/2002/PN.Mkt 

Pengadilan Negeri Mojokerto 

Assalamualaikum wr. wb. 

Yang bertanda tangan di bawah ini, Saya: 

Nama ' :MochamadYudha 

Tempat/tgl. Lahir : Mojokerto, 23 Desember 1 967 

Agama ; Islam 

Pekerjaan : Swasta 

Alamat : Jl. Brawijaya No. 1 03 Mojokerto 

Terdakwa yang didakwa melakukan pidana pencurian yang disertai dengan 
kekerasan seperti yang dimaksud dalam perkara pidana nomor: 165/Pid.B/2002/ 
PN.Mkt, ijinkan saya menyampaikan pembelaan atas tuduhan yang didakwakan 
kepada saya. 

Adapun pembelaan saya sebagai berikut: 

Bahwa saya, Mariyoso, Chusnul Khotimah, H. Loso, Totok Subagyo, Barbar 
adalah satu Jama'ah yang biasa disebutLDII. 

Dalam Jama' ah tersebut dituntut untuk mengamalkan ajaran agama yang wajib 
melakukan amar ma'ruf nahi munkar. 

Bahwa dalam rangka menjalankan ibadah yang memerangi kejahatan, bersama 
dua teman saya, yaitu Joko Mulyono dan Agus Supriyadi telah melaporkan adanya 
tindakan pidana penipuan dan penggelapan dengan dalih kerjasama bisnis dengan 
PLN yang dilakukan olehMariyoso dan kawan-kawannya. 

Setelah kami melaporkan adanya tindak pidana penipuan tersebut justru kami 
mendapatkan teror yang mengancam nyawa saya secara bertubi-tubi. 

Bapak-bapak Hakim yang terhormat, akibat dari laporan saya tersebut saat ini 
saya harus menghadapi dakwaan Jaksa Penuntut Umum (Bapak Tamsul, SH) yang 
mana saya didakwa ikut terlibat tindak pidana perampokan di rumah Mariyoso, 
padahal saya betul-betul tidak terlibat dengan peristiwa tersebut. Meskipun saya 
banyak mendengar informasi di kalangan Jama'ah LDII bahwa niatan Babar dan 



ffiiSS;»;;;:» 



H.M.C. Shodiqi Akar Kesesalan LDII & Penipuan Trlliunan Rupiah 



imi 



BAGIAN KEPUAt Bukti-Bukti Pcnipun LP/l 

kawan-kawannya tersebut untuk menagih uang bisnis PLN yang dibawa Mariyoso 
(Gombel), oleh karenanya kami bersimpati atas peristiwa itu. 

Setelah terjadi peristiwa di rumah Mariyoso, saya ditangkap oleh polisi (Ibu 
Murni Kamariyah), dan saya diperiksa dan akhirnya saya dilepas karena tidak ada 
bukti terlibat tindak pidana perampokan yang memang tidak saya lakukan. Apalagi 
tiduduh sebagi otak perampokan tersebut. Oleh karenanya saya bersedia diajak 
kerjasama oleh pihak Polisi untuk membongkar kejahatan yang dilakukan oleh 
grupnya Mariyoso . 

Alangkanh terkejutnya saya ketika ditangkap lagi dan didakwa terlibat 
perampokan di rumah Mariyoso. 

Kalangan jama'ah yang sepaham dengan kami juga mengatakan bahwa menurut 
orang-orang yang saya laporkan keberadaan saya menghalang-halangi bisnis 
pembayaran rekening PLN tersebut, maka dari itu keberadaan saya hanis 
dilenyapkan. Salah satunya dengan membuat skenario seakan-akan saya terlibat 
perampokan tersebut. 

Waktu saksi Mariyoso dipanggil dipersidangan namun yang bersangkutan tidak 
hadir, padahal kehadiran Mariyoso sangat saya nantikan, mengingat Mariyoso adalah 
orang yang secara pasti mengertahui permasalahan ini yang sesungguhnya. 

Kenapa Mariyoso tidak dipaksa hadir?' Bukankah hal tersebut diatur oleh 
undang-undang? Ada apa sebenarnya dibalik ini semua?. 

Alangkah terkejutnya saya, anak-istri saya, saudara-saudara saya dan Jama'ah 
yang sepaham dengan kami ketika pak jaksa menuntut hukuman penjara selama 8 
(delapan) tahun. Apakah seberat itu hukuman yang harus saya terima gara-gara 
saya dan kawan-kawan saya melaporkan adanya dugaan tindak pidana penipuan. 

Apakah dengan cara seperti itu saya harus dilenyapkan, setelah percobaan 
pembunuhan terhadap diri saya gagal dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak 
saya kenal. Bapak-bapak Hakim yang Mulia, saya tidak bisa berbuat apa-apa 
menghadapi tuntutan ini, sebab alasan-alasan yang saya kemukakan di pesidangan 
dianggap tidak ada artinya dan saya dianggap berbohong. 

Akhirnya saya dan beserta keluarga, Jama'ah LDII yang sepaham dengan saya, 
mohon kepada Bapak-Bapak Hakim yang mengadili perkara saya ini, berkenan 
memahami dan mengerti dengan kondisi saya. 

Haruskah saya menjalani hukuman atas perbuatan pidana yang tidak saya 
perbuat, Pak? Saya tidak terlibat perampokan di rumah Mariyoso, saya juga tidak 
ikut menikmati hasilnya. 



Dengan kejadian yang menimpadiri saya, maka saat ini banyak orangyang 
tidak berani melaporkan kejahatan/penipuan yang dilakukan oleh grupnya Mariyoso, 
sebab mereka takut akan menerima resiko seperti yang saya alami. 

S emuanya akan kami serahkan kepada Tuhan yang selalu melindungi umatnya 
yang tidak bersalah, ke mana saya harus mengadu dan mencari perlindungan atas 
diri saya dan keluarga saya? 

Kalaupun saya dianggap salah, di mana letak kesalahan saya dan kami mohon 
ampun dan hukuman seringan-ringannya. 

Atas perhatian bapak Hakim, kami ucapkan terima kasih. 

Wassalamu'alaikumwr. wb. 
Mojokerto, 8 Agustus 2002 
Hormat kami 

MochamadYudha 

Radar Minggu edisi XVIII, Awal Juni 2003 



TANAH PONPES LDH BURENGAN 
HASIL '«SEROBOTAN"? 

Ada cerita, tanah yang kini ditempati komplek Ponpes LDII Burengan, Kediri, 
adalah hasil rekayasa "serobotan ". Pemilik tanah yang semula berniat menolong, 
ternyata akhirnya "dikemplang" H, NurhasanAl Ubaidah, Pendiri Islam Jama'ah. 

Pemilik tanah seluas sekitar 2 ha„ KH. Ghozali, tinggal di Banjaran Gg. 1/37, 
Kediri. Tentu, Kyai yang tegas tapi lugu ini tak bisa membaca "kelicikan" hati H. 
Nurhasan. Niatnya, semata-mata cuma ingin menolong. Sebab, saat itu Nurhaan 
baru saja terusir dari rumah kontrakannya. Tapi, niat baik KH Ghozali ternyata 
berakhir dengan silang sengketa berkepanjangan. Bak pepatah: "Air susu dibalas 
air tuba". Kisah lengkapnya begini: Sekitar tahun 1952, ketika H. Nurhaan dan 
istrinya Al Suntikan pindah dari desa Bangi ke Burengan, ia cuma menyewa rumah 
kecil di desa itu. Menurut Subroto, bekas anak angkat H. Nurhasan yang kini keluar 
dari Islam Jama'ah, tahun itu belum boleh disebut sebagai pondok. Nurhasan hanya 
mengaji biasa dari rumah ke rumah. Suami istri H. Nurhasan tinggal di rumah sewa 

■ H.M.C. Shodiq« Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bu kti-Bukti Penipuan LP/f 

itu sampai pada pertengahan tahun 1954. Pemilik rumah sewa itu, agaknya tak 
mengizinkan H Nurhasan tetap tinggal di situ. Ia harus pergi. Tentu saja H Nurhasan 
yang tak menduga bakal disuruh pergi dari rumah sewanya menj adi bingung. 

Akhirnya, Nurhasan melirik KH. Ghozali yang mempunyai tanah kosong di 
sebelah rumah yang disewanya itu. Nurhasan lalu menyuruh istrinya, Al Suntikah 
menghadap KH. Ghozali. Agaknya nasib Nurhasan sedang baik. "Ya kalau 7 bulan 
samapai 1 tahun saja silahkan", ujar KH. Ghozali kepada istri Nurhasan. 

Tapi, sekitar 5 bulan setelah kejadian itu, tiba-tiba saja KH. Ghozali timbul 
keinginan naik haji. Ia datang ke gubuk H Nurhasan yang dibangun di tanahnya. 
Ghozali bilang: "Saya ini ingin naik haji. Karena sudah ke sana ke mari mencari 
uang gagal, tanah ini akan saya jual". Mendengar itu H. Nurhasan menjawab bahwa 
akan dibeli sendiri. "Boleh, asal uangnya bulan ini juga", ujar Ghozali. Keduanya 
sepakat mengadakan jual beli. 

Tapi, sejak ia minta bantuan tinggal di tanah itu, Nurhasan sudah mulai timbul 
niat jeleknya. Meskipun ia sudah berjanji membayar harga tanah yang dibelinya 
itu, ia cuma membayar dengan janji-janji saja tiap kali ditagih. Sampai akhirnya ia 
berhasil mendapat biaya dari usaha lain untuk naik haji. Pulang dari Makkah, ia 
datang lagi menagih. Hasilnya tetap nol. 

Suatu hari, menjelang shalat Jum'at, H. Nurhasan menyuruh seorang anak 
memberitahu Ghozali bahwa uang harga tanah itu akan dibayar hari ini juga. Ghozali 
diharap segera datang ke Burengan. Namun ketika shalat Jum'at sudah dekat, Ghozali 
baru ke rumah Nurhasan sehabis shalat Sampai di sana Nurhasan sudah tidak ada. 
"Pak H. Ghozali tadi ditunggu-tunggu. Karena tak datang, suami saya pergi ke 
Jombang", ujar Suntikah. "Lalu kapan datang?", tanya Ghozali. "Wah, tak tahu 
pak", jawab Suntikah. 

"Agaknya istrinya orang baik-baik. Melihat suaminya hanya berjanji terus kalau 
ditagih, ia menjual tanah di Mojowarno, Jombang. Mestinya uang itu akan diserahkan 
kepada saya untuk melunasi pembelian tanah itu. Tapi, oleh suaminya ternyata tak 
diserahkan", ujar Ghozali. 

Lantaran Nurhasan agaknya tak mempunyai itikad baik lagi, berdasar saran 
beberapa temannya, Ghozali, kini 69 tahun; menyerahkan persoalannya ke 
Pengadilan Negeri Kediri. Karena tak mampumengurus sendiri, Ghozali memberi 
kuasa kepada Chanafi, penduduk Desa Jamsaren, tetangga desanya. Perkara gugatan 
perdata antara Ghozali dengan Al Suntikah, istri Nurhasan yang bernomor regester 
249/1 960 Pdt itu, akhirnya dimenangkan oleh Ghozali dengan Keputusan Pengadilan 



Negeri Kediri tanggal 23 Agustus 1 96 L Agaknya Nurhasan tak menerima keputusan 
itu. Ia naik banding bahkan sampai ke kasasi. Namun, baik pengadilan Tinggi 
Surabaya (dengan Keputusan No. 78/1962 Pdt Tertanggal 19 Juli 1962) dan 
Mahkamah Agung (dengan Keputusan No. 349K/Sip. 1963 tertanggal 12 Oktober 
1963) tetap mengukuhkan Keputusan Pengadilan Negeri tersebut KH. Ghozali 
menang. Setelah usahanya lewat pengadilan sampai Mahkamah Agung gagal, 
agaknya H. Nurhasan mengajak damai. Bahkan untuk upaya damai ini, H. Nurhasan 
mengajak Prof. Kasman Singodimejo, tokoh Muhammadiyah dan bekas jaksa Agung 
RI. Ketika Kasman diperkenalkan oleh Nurhasan kepada KH. Ghozali, Kyai 
Banjaran itu cuma menjawab: "Pak Kasman tentu sudah mendapat verslag dari H. 
Nurhasan yang saya tidak mendengar. Jadi kalau Pak Kasman akan membantu 
perdamaian ini, saya tak keberatan. Tapi, Pak Kasman harus mendengar juga Verslag 
dari saya yang tidak didengar pula oleh H. Nurhasan", ujar KH. Ghozali. Prof. 
Kasman Dimejo setuju. Keduanya lalu masuk ke ruang dalam dan berbincang- 
bincang. Setelah selesai, keduanya kembali ke ruang muka. 

H. Nurhasan mengulang pernyataannya untuk damai. Pernyataan itu didukung 
dan lebih ditegaskan lagi oleh Prof. Kasman perlunya menyelesaikan kasus ini secara 
kekeluargaan. "Damai ya damai, asal saya tidak dirugikan", jawab Ghozali. Akhirnya 
keduanya sepakat untuk mengadakan jual beli. Termasuk ganti rugi penempatan 
selama ini, H. Nurhasan berjanji segera membayar sebanyak Rp. 2. 5 juta. Namun, 
sampai bertahun-tahun lagi, ternya H. Nurhasan tak pernah menepati janjinya. 

B erdasarkan keputusan Mahkamah Agung itu, Ghozali berkali-kali menanyakan 
masalahnya kepada Pengadilan Negeri Kediri. Bahkan pada tanggal 23 Maret 1964, 
Ghozali oleh Pengadilan Negeri Kediri diharuskan membayar biaya eksekusi sebesar 
Rp, 5000,- . Tapi, toh eksekusi keputusan Mahkamah Agung itu tetap belum 
dilaksanakan. Dan Nurhasan juga tetap tak bersedia mengosongkan tanah yang 
ditempatinya- bahkan sudah mulai dibangun Pondok Darul Hadis yang agak besar. 

Kemudian, tanggal 19 Oktober 1970, Ghozali oleh Pengadilan Negeri Kediri 
diharuskan lagi membayar Rp. 2 1 .000, sebagai tambahan persekot eksekusi. Meski 
begitu, eksekusi atas putusan Mahkamah Agung tak kunjung terjadi. Barulah pada 
tanggal 5 Januari 1973, Pengadilan Negeri Kediri dalam surat keterangan yang 
ditanda tangani oleh Soegijo Soemarjo, SH. menyatakan eksekusi akan dilaksanakan 
selambat-lambatnya 20 hari setelah peringatan terakhir. Peringatan terakhir kepada 
Nurhasan diberikan pada tanggal 4 Januari 1973 . 

Ghozali menunggu saat itu dengan harap-harap cemas. Ternyata ia belum 






HMC. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukti- Bukti Penipuan LP/I 

saatnya bergembira. Pengadilan Negeri ternyata tak melaksanakan eksekusi itu 
seperti dinyatakan sendiri. Karena bosan berhubungan dengan pengadilan Negeri 
Kediri, Ghozali mengirim surat ke Pengadilan Tinggi Jatim di Surabaya. Menerima 
surat itu, Ketua Pengadilan Tinggi Surabaya R. Djoko Soegijanto, SH mengirim 
surat kepada Ketua Pengadilan Negeri Kediri. Surat nomor 363 l/941/78/62Pdt 
tertanggal 29 Desember 1 973 itu mengharap Ketua Pengadilan Negeri Kediri segera 
melaksanakan Keputusan Mahkamah Agung. 

Ganti Gugat 

Ternyata bukan kembalinya tanah yang diterima oleh Ghozali. Sebab, tahun itu 
pula agaknya Drs. BahroniHartanto, atas nama ketua Yayasan Lemkari -yang merasa 
diberi tanah oleh Nurhasan ganti menggugat Ghozali. Alasannya, Drs. Bahroni 
Hartanto yang kemudian diserahi tanah sengketa itu oleh Nurhasan, berhak 
melakukan perlawanan atas gugatan KH. Ghozali. Anehnya, Pengadilan Negeri 
Kediri dan perkara nomor 31/1973 yang diputus tanggal 27 Agustus 1974 
menyatakan menerima sepenuhnya perlawanan Bahroni. Bahkan, ketika Ghozali 
naik banding ke Pengadilan Tinggi Jatim, keputusannya tak berubah. Pengadilan 
Tinggi Jatim dengan keputusannya tanggal 26 Juli 1977 atas perkara No.191/ 
1 977Pdt, tetap mengukuhkan keputusan Pengadilan Negeri Kediri itu. 

Mengapa masalahnya menjadi seruwet begini? Agaknya ini merupakan hasil 
permainan antara Chanafi, bekas kuasa Ghozali dengan Nurhasan. Sebetulnya, 
dengan suratnya tanggal 14 Juli 1964, Chanafi telah mengundurkan diri sebagai 
kuasa KH. Ghozali lantaran masalahnya dianggap selesai. 

Tapi lucunya, akta jual beli yang digunakan oleh H. Nurhasan untuk melakukan 
perlawanan gugatan ini, justru dilakukan oleh Chanafi dan Nurhasan, di depan 
pejabat Pembuat Akta Tanah - camat Pesantren Soenarjo, menurut akta no. 78/ 
1970 tertanggal 16 Desember 1970 itu, Chamafi masih bertindak atas nama KH. 
Ghozali. Ternyata surat kuasa yang dipakai untuk melakukan jual beli (sekurang- 
kurangnya menandatangani akta jual beli di hadapan Camat Pesantren) adalah surat 
kuasa yang dibuat tanggal 3 Agustus 1 960 -ketika KH. Ghozali membawa soal 
sengketa itu ke pengadilan . KH. Ghozali ternyata melihat ada beberapa kejanggalan: 
a. Ia ingat betul bahwa surat kuasa itu dibuat untuk keperlauan khusus, yaitu 
mewakilinya dalam kasus perdata antara KH Ghozali. Tapi, justru dalam surat 
kuasa -yang kemudian digunakan sebagai alat bukti oleh H. Nurhasan untuk 
balik menggugat, ada tambahan: menjual barang-barang tersebut di atas. Kata- 

mm§m 



kata ini tampak sekali sebagai tambahan yang tak sah, lantaran diketik dengan 
mesin ketik yang berlainan dan secara kasar menindas bekas ketikan lainnya. 

b. Menurut saya, kata Ghozali, "surat kuasa harus diberikan untuk keperluan 
pengadilan saja. Kalau surat kuasa menjual seharusnya kan ada tersendiri", 
tambahnya pula. 

c. Jual beli yang dilakukan oleh Chanafi, yang menyatakan mewakili atau atas 
nama KH. Ghozali dengan menggunakan surat kuasa yang telah diubah itu, 
terjadi 6 tahun setelah Chanafl membuat surat pengunduran diri atau penyerahan 
kembali kuasanya. Padahal penyerahan kembali kuasa mewakili KH. Ghozali 
ckn Al Suntikan. 

Dari memori kasasi, KH. Ghozali juga melihat keganjilan lain. "Sidangnya 
kok tidak di ruang sidang, tapi di ruang kerja Ketua Pengadilan Negeri", ujar KH, 
Ghozali. Pihak KH. Ghozali seolah-olah tak diberi kesempatan membantah serta 
menunjuk kelemahan-kelemahan serta pemalsuan alat bukti. Sidang berjalan begitu 
cepat. 

Kini, satu-satunya harapan KH. Ghozali hanyalah kasasi. "Saya serahkan 
masalah ini sepenuhnya kepada Allah", ujar KH. Ghozali tampak agak sedih. "Mau 
apalagi", tambahnya. Agaknya KH. Ghozali berharap betul, dalam kasus kasasi 
perkara perdatanya dengan H. Nurhasan ini, Mahkamah Agung akan lebih teliti 
memeriksa alat-alat bukti perkara. Di samping, sebetulnya Mahkah Agung sekaligus 
bisa mengoreksi keputusan Pengadilan di bawahnya, lantaran keputusan Mahkamah 
Agung No. 349K/Sip/1963, sudah mempunyai keputusan hukum yang pasti dan 
merupakan keputusan hukum tingkat akhir. Memori kasasi ini oleh KH. Ghozali 
telah diterima oleh Panitera Kepala Pengadilan Negeri Kediri, Soeratinah tanggal 8 
Nopemberl977. 

Di samping tuntutan agar hak milik atas tanah itu segera dikembalikan 
kepadanya, dalam memori kasasi itu Ghozali juga menuntut ganti rugi -kerugian 
materiil hak kebendaan selama 14 tahun sebesar Rp.4.200.000, dan kerugian moril 
serta harga diri sebagai ulama sebesar Rp. 3 juta. Agaknya, meski memori kasasi 
ini sudah dikirim 2 tahun yang lalu, namun Ghozali masih hasrus terus menunggu. 
"Saya selalu berdo ' a kepada Allah, jangan dipanggil kehadirat-Nya sebelum perkara 
ini selesai", ujarnya sedih. 

Kini, KH Ghozali telah pulang ke rahmatullah. Perjuangan panjangnya untuk 
mengambil kembali hak atas tanahnya, belum terkesampaian gara-gara sebuah 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDIi & Penipuan Triliunan Rupiah 



llllll 



BAGIAN KEDUA: Bukti-Bukti Penipuan LP/I 

"pengkhianatan". Ya, penghianatan rekayasa hukum di era orde baru, tatkala Islam 
Jama'ah berlindung di ketiak Golkar. Yang menjadi pertanyaan, selicik itukah KH. 
Nurhasan Al Ubaidah, Ulama besar yang fotonya terpampang dirumah-rumah warga 

LDII? 

H. Nanang H. Kaharuddin -disarikan dari berbagai sumber 
Radar Minggu edisi XVIII, Awal Juni 2003 



PETINGGI LDII BERTINDAK DISKRIMINATIF (I) 

Rencana penyelesaian secara diskriminatif para petinggi LDII ini memang cukup 
menggelisahkan para korban. Para petinggi LDII dinilai berupaya berkelit dengan 
menjadikan Mariyoso sebagai "topfigur" kasus ini. Sebab catatan para korban, 
Mariyoso Cuma lulusan SD dengan posisi ekonomi yang kurang mapan. 

Yang jadi pertanyaan lagi, Apa mungkin, kasus investasi yang bernilai triiyunan 
rupiah ini "bigbosnya" cuma berpendidikan SD. Para korban menduga, di balik 
Mariyoso pasti ada "bigbos" sejati. Apalgi, sejak kasus ini muncul ke permukaan, 
Mariyoso sengaja dihilangkan untuk mengatur perkara. "Bila betul begitu, kasus 
ini persis adegan cerita film mafia", ungkap korban di Mojokerto. 

Anak, Cucu, Cicit 

Sebelumnya, Radar Minggu edisi XVIII menurunkan laporan keterlibatan 
"Keluarga Dalam", termasuk istri Kyai "Sepuh" LDII dalamkasus dugaan penipuan 
berkedok investasi ini. Keluarga Dalem "Kerajaa" Islam lama' ah ini termasuk anak, 
cucu, cicit KH. Nurhasan Al Ubaidah, pendiri, dinasti ini. 

Mereka itu, di antaranya, Hj. Umi Salamah Abd Dhohir, istri Kyai "Sepuh" 
LDII. Salah satu bukti keterlibatan tersebut tertera dalam surat kesepakatan bersama, 
tatkala menerima uang dari orang Kertososno, senilai Rp. 169 juta dan Rp.70 juta. 

Surat yang ditandatangani oleh Hj. Umi Salamah Abd. Dhohir di atas materai 
masing-masing Rp. 6.000 itu terjadi pada 2002 dengan saksi Tarwiji. Inti surat 
tersebut, Hj. Umi Salamah Abd. Dhohir beralamat di JL. HOS Cokroaminoto 1 95 
Kediri, Telp. 0354-695436, sebagai pengelola modal. Dalam surat tersebut, 
pengelola modal menjanjikan keuntungan 5% dari modal yang ditanam. 

Diperkirakan, dengan bekal namabesar Kyai "Sepuh" Abd. Dhohir, suaminya, 
Hj. Umi Salamah berhasil "mengeruk" uang investasi dari umat mencapai ratusan 



WwWft&jft; 



juta rupiah. 

Begitu juga yang dilakuakan putra Kyai "Sepuh" Abd. Dhohir yang ada di 
Gadingmangu, Perak, Jombang. H. AbuKhasanMuzaqibinH. Abd. Dhohir Juga 
sebagai pengepul uang investasi ini. Cucu KH. Nurhasan Al Ubaidah, pendiri Islam 
lama' ah ini dalam modus operandinya juga menyediakan blangko surat kesepakatan 
bersama (SKB). SKB milik Abu Khasan ini juga mirip dengan milik Hj. Umi 
Salamah, ibunya. 

Selain Hj. Umi Salamah dan Abu Khasan, terdapat sejumlah nama "keluarga 
Dalam" lainnya yang mengeruk uang jama'ah LDII dan non LD II ini. Mereka itu 
di antaranya, M. Ontorejo, cucu KH. Nurhasan Al Ubaidah, Oong, panggilan akrab 
Ontorejo ini, diduga mengeruk uang ratusan milyar. 

Salah satu bukti kwitansi, Oong pertnah menerima uang investasi "tipuan" 
senilai Rp. 22 Milyar, 959juta, 800 ribu. Uang tersebut diterima Oong dari Mustafa, 
pengepul di Gadingmangu, Perak, Jombang, pada Januari 2003 . 

Ada pula nama H. Mujib Hanafi / H. Abdillah Sulton Ubaidah. Penduduk 
Temporejo, Pesantren, Kota, Kediri, yang disebut-sebut sebagi "cicit" KH. Nurhasan 
Al Ubaidah ini juga meraup uang milyaran rupiah dari para korban. Kepala Penjualan 
Pelumas Oli Pertamina PT. Panjalu Tirta Lumas dan syarekah Olie ini lebih banyak 
"memangsa" teman-temannya di lingkungan Pertamina. Mujib Hanafi mengaku 
uang investasi tersebut disetorkan kepada Gatutkoco, pamannya yang juga cucu 
KH. Nurhasan Al Ubaidah. 

Menurut sumber Radar Minggu, seluruh Keluarga dalam "Kerajaan" Islam 
Jama 'ah, terlibat dalam kasus investasi tipuan ini, kecuali Kyai "Sepuh" LDII, KH. 
Abd. Dhohirt dan Abdullah, putra bungsunya, yang punya kesibukan "fly" tersendiri. 
Tapi, meski Kyai Sepuh, Abd Dhohir tidak terlibat, sejumlah istri dan anaknya tak 
ada yang lepas dari proyek investasi ini. Menurut catatan, dari istri "prameswari', 
Al Suntikan Amirul Mukminin KH. Nurhasan Al Ubaidah menurunkan 4 putra dan 
1 putri. Para pewaris tahta "kerajaari" ini masing-masing, adalah Abdul Dhohir, 
Abd. Slalam, Moh. Daud, Sumaida'uistriM. Yusuf, dan Abdullah. 

Radar Minggu (Laporan Utama), edisi XIX, Medio Juni 2003 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BACIAN KEDUA: Bukti-Bukti Penipuan LP/I 

PETINGGI LDII BERTINDAK DISKRIMINATIF (H) 

• Kasus yang melibatkan " Keluarga Dalam" akan diselesaikan dulu. 

• Ada Indikasi Kuat "Berkelit" Maryoso sebagai Kambing Hitam 

Para petinggi LDII mulai menampakkan tanda-tanda "berkelit" dalam kasus 
investasi yang mengguncang organisasi ini. Maryoso warga LDII Mojokerto disebut 
sebagi "tokoh" utama kasus ini. Padahal pria yang Cuma tamatan SD ini sudah 
lama "hilang". Mungkinkah para petinggi LDII "cuci" tangan dengan mengalihkan 
perhatian kepada Maryoso, persis adegan cerita film mafia ? 

Dari perkembangan pembicaraan tingkat 'petinggi 5 LDII ada tanda-tanda 
diskriminasi dalam penyelesaian kasus dugaan penipuan berkedok investasi yang 
melibatkan "keluarga dalam" dinasti Kerajaan Nur Hasan al-Ubaidah akan 
didahulukan penyelesaiannya. Artinya kasus yang melibatkan keluarga kiyai "sepuh" 
LDII KH. Abdul Dhohir ada tanda-tanda akan diselesaikan lebih dahulu. 

Tak jelas apa motivasi langkah ini namun dari sumber Radar Minggu 
meyebutkan, ikhwal ini ditempuh dalam rangka upaya menyelamatkan "kelurga 
dalam" dari sorotan lama' ah dan Masyarakat. Bisa jadibila "keluarga dalam" sudah 
terlepas dari "jeratan" kasus investasi para petinggi LDII akanberupaya cuci tangan. 

Ungkapan ini erat kaitannya dengan hasil pertemuan para petinggi LDII dengan 
sejumlah korban pada awal Juni di Ponpes LDII Burengan Kediri. KH. Kuntjoro 
dan Yusuf, tim penyelesai kasus investasi, kepada beberapa korban menyatakan 
dengan tegas bahwa uang investasi yang disetor kelompok Maryoso, pihak LDII 
tidak mau ikut campur. 

Disebutkan, kelompok Maryoso memiliki 5 (lima) kaki tangan sebagai "Ring" 
pertama. Mereka adalah Eko, Janur, Isnan Rahman (Pengurus Ponpes LDII Pandean, 
Kediri ) dan Abd Ghafur, Direktur PT Lima Utama Biro Perjalanan Umrahberkantor 
di Jl. Raya Ngemplak, Perak, Jombang. Para pengepul LDII ini sudah pada kabur. 
Termasuk bos PT. Lima Utama yang kabar terakhir sejumlah assetnya di Perak 
sudah dipindah tangankan. Kabarnya Abd. Gharur bersembunyi di sekitar terminal 

bus Bungurasih. 

KataKuntjoro, penyelesaian kasus Investasi di a.n. Maryoso diperkirakan baru 
dimulai sekitar Juli-Agustus 2003 , yang akan diselesaikan bukan Cuma korban yang 
ada di Jawa. Tapi sejumlah korban di luar Jawa diceritakan pihaknya baru saja 
membuat pernyataan kesanggupan menyeleseaikan pada Agustus 2003 dengan 



sejumlah "juru tagih". Diantaranya sekitar Rp 1 Milyar korban di Bengkulu, Rp 2 
Milyar korban yang ada di Pontianak dan sekitar 2,5 Milyar korban yang ada di 
Jakarta. 

MAFIA 

Sejumlah Korban menyayangkan ungkapan para petinggi LDII tersebut, sebab 
rencana langkah para petinggi LDII tersebut sama dengan bertindak "diskriminatif . 
Masalahnya para korban utamanya korban di tingkat bawah, tak tahu yang namanya 
Maryoso atau bukan Maryoso, yang diketahui para pengepul itu adalah jama'ah 
LDII. 

Bila para petinggi LDII ini bertindak diskriminatif, apalagi yang diutamakan 
adalah yang ada kaitannya langsung dengan "keluarga dalam", para korban 
menyatakan tak akan tinggal diam . "Jika bulan Agustus 2003 nanti para petinggi 
LDII betul-betul diskriminatif, kami akan melangkah sesuai dengan kemauan kami, 
tukas korban di Sidoarjo yang juga dibenarkan sejumlah korban lain yangberkunjung 
ke Radar Minggu. 

Tak terkecuali problematika warga Kediri yang saat ini sedang dirundung 
kemalangan karena kasus penipuan berkedok investasi. Menurut catatan, uang rakyat 
Kediri yang df'sedot" orang LDII ini jumlahnya " milyaran rupaiah". 

Nah, betapa sayang bila para petinggi pemerintahan di Kediri, tak punya 
kesepakatan terhadap nasib warganya., Begitu pula wakil rakyat yang duduk di komisi 
DPRD yang terhormat tentu banyak bertanya, apakah para pemimpin ini hanya 
mau peduli kepada rakyat dikala mereka butuh?. Sebenarnya sangat tidak afdhol 
ucapan sementara seorang pejabat yang mengatakan, tidak perlu menangani kasus 
ini, manakala tidak ada laporan dari korban. Sikap yang diambil oleh para korban, 
mengapa para korban enggan melapor, apa sebabnya ? 

Menurut data yang berhasil dihimpun Radar Minggu, beberapa camat yang 
ada di wilayah Kabupaten Kediri banyak yang menjadi korban investasi. Ada pula 
beberapa camat yang mengaku uang yang di investasikan bukanlah uang miliknya 
prib adi, titipan dari beberapa kepala Desa. Apakah ini tidak memerlukan perhatian 
khusus untuk diklarifikasi?. Apakah uang-uang yang dititipkan itu uang pribadi atau 
uang subsidi?. Yang dikembangkan ataukah uang yang lain, ini yang perlu dijawab. 

Para camat yang menjadi korban investasi tersebut antara lain, Camat Plemehan, 
istri Camat Mojo, Istri Camat Purwoasri, Camat Pare, Camat Gurah, Camat Ploso 
Klaten, Camat Semen berikut para kepala desa yang ada di wilayah Kabupaten 



H.M.C. Shodiq» Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGAN KEDUA: Bukti-Bukti Penipuan LD/i 

Kediri juga menjadi korban investasi LD II. Yang lebih mengherankan dan 
membingungkan, kenapa jajaran kepolisian juga menjadi korban investasi. 

Selain para pejabat dan staf yang ada di jajaran pemerintahan, karyawan di 
lingkungan perum dan perusahan yang berskala nasional juga ikut tertipu antara 
lain karyawan Pertamina, PT. Gudang Garam, karyawan PGNgadirejo, karyawan 
PG Lestari, dan Karyawan BNI 46 Kediri juga ikut diglembuk. 

Lepas dari "ngemplang" atau tidaknya tim penyelesaian investasi LD II yang 
dibentuk oleh petinggi-petinggi LD II serta munculnya krisis kepercayaan dan te- 
tek bengeknya akan lebih bijak seandainya pejabat yang terkait mau menjemput 
bola dalam menangani berbagai permasalahanyang ada di masyarakat tanpa kecuali 
permasalahan investasi LD II tersebut, karena data di lapangan menyebutkan para 
korban investasi kebanyakan masyarakat keci yang kehidupannya pas-pasan, dan 
yang lebih menghawatirkan, tindakan korban investasi dari lingkungan Pertamina 
yang uangnya dikelola oleh H. Mujib Hanafi / H. Abdullah Sulthon Ubaidah kepala 
penjuaalan pelumas olie Pertamina PT. Panj alu Tirta Lumas & Syarekah Olie. Bila 
uang warga Kediri tidak di kembalikan, mereka akan mengambil alih Bina Syarekah. 
Seandainya ini terjadi, apakah tidak mungkin terganggu sirkulasi transportasi BBM 
khususnya untuk daerah Kediri dan sekitarnya? Coba direnungkan. 



JERITAN KORBAN INVESTASI LDII DI KEDIRI 



Andai tanpa sihir, para korban dengan penipuan investasi seputar LDII tentu 
sudah tak kuasa menahan amarah. Betapa tidak, para korban yang semula berharap 
tambahan rizki, justru pada akhirnya cuma menggantung harapan belaka. Uang 
terlanjur melayang pikiran tak tenang, mata menerawang, bahkan ada korban yang 
kebutuhan hidupnya harus ditopang orang. 

Seperti yang dialami oleh Dullah Hasyim, warga Kediri. Uang pensiunan 
Gudang Garam sebesar Rp. 90.000.000,- dikemplang oleh oknum LDII Heru 
Darsan, karyawan Gudang Garam Kediri, mulai bulan Juli 2002. Hasyim tidak 
pernah menerima apa-apa dari Heru Darsan. Setiap minta uangnya Hasyim selalu 
pulang membawa janji kebohongan belaka. Hasyim yang kini kehidupannya terjepit, 
kehidupan sehari-harinya ditopang oleh saudara-saudarnya di Nganjuk. Selain itu 



ia juga sudah punya tanggungan hutang pada teman-teman sejawat hanya untuk 
melanjutkan kehidupan sehari-hari bersama keluargannya. 

Hal serupa dialami oleh sejumlah PNS di Kab/Kodya Kediri, mereka sejak 
bulan September 2002 tidak menerima gaji, menurut pengakuan mereka, tidak akan 
menerima gaji selama 2 tahun mendatang. Karena habis dipotong oleh pinjaman 
dari Bank Jatim dan koperasi kantornya. Seandainya permasalahan investasi LDII 
yang diglembuk oleh salah satubendahara kantornya tidak cepat diselesaikan, mereka 
tidak tahu, apakah akan dipecat atau diapakan oleh atasannya karena tidak bisa 
bayar bunga bank dan mengangsur angsuran koperasinya. 

Keadaan salah satu karyawan Dinas Kehewanan Kabupaten Kediri yang 
menyerahkan uang pinjaman berjumlah Rp. 30.000.000- membuat terenyuh Radar 
Minggu, Adalah MR X (karena tidak mau disebutkan namanya), awalnya MR X 
tidak percaya dengan janji rekan sekantornya yang kebetulan sebagai jama'ah LDII. 
Dengan rayuan dan janji-janji muluk-muluk ia menyarankan Mr. X agar meminjam 
uang di bank dan koprasi untuk diinvestasikan padanya. Sebelum surat rekomendasi 
pinjaman ditanda tangani oleh atasanya, Mr. Xyang didampingi pengepul yang 
lapar ingin memangsa rekannya, dengan cara meyakinkan, menjelaskan pada 
atasannya bahwa Mr. X pasti akan mampu mengangsur pinjaman tersebut setelah 
SHU diterimakan. Maka percayalah sang atasan, dan akhirnya cairlah pinjaman itu 
setelah rekomendasi pinjaman didapat, bendahara kantornyapun dengan antusias 
mengantar Mr. X ke bank untuk mengambil uang. Di dalam bank, Mr. X tidak 
memegang uang sedikitpun, karena yang menghitung dan menerima sang bendahara 
kantor itu. 

Tapi pada kenyataannya, lebih dari satu tahun Mr. X tidak pernah menerima 
uang yang dijanjikan oleh bendahara kantor tersebut dan yang lebih menyeskkan 
dada, Mr. X tidak pernah menerima gaji bulanan selayaknya pegawai negeri lain, 
malah setiap bulan Mr. X juga harus dibebani kewajiban membayar bunga bank 
dan cicilan koperasi di kantornya. Padahal selama dua tahun mendatang ia tidak 
akan menerima gaji sepeserpun, karena gajinya habis dipotong oleh bank. Dengan 
terbata-bata Mr. X menuturkan pada Radar. Uang dari mana untuk membayar 
kekurangan tersebut, Pak?. Untuk makan saja, saya harus membanting tulang ekstra 
keras, kadang jadi buruh tani, kadangjadi buruh bangunan, istriku jadi tukang cuci 
tetangga sebelah, ratapnya. 

Dari sini kita bisa lihat betapa sengsaranya nasib yang menimpa korban investasi 
LDII, dan ratapan ini bukanlah mengada-ngada, tapi satu kenyataan yang harus 



■*•»:■:■••:•:•:■:■;•:« 



H.M.C. Shodiq> Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



lll!!! 



BAGIAN KEPUA: Bu kti-Bukii Penipuan LP/l 

dialami oleh salah satu korban dari sekian korban yang tak berdaya. Hal serupa 
dialami oleh Mujianto Kepala Desa Sukorejo kec. Gampengrejo Kediri, ia sampai 
mengidap struk gara-gara uangnya dikemplang oleh H. Agus Salam pengusaha olie 
di wilayah desa Paron Kediri. Agus selalu berjanji akan mengembalikan uang 
investasi, jika tanahnya yang ada di Batu Malang laku terjual, tapi sampai saat ini 
janjinya hanya berbuah bohong belaka. 

Raungan para korban yang sudah serak suaranya ini nampaknya harus 
diperhatikan oleh semua pihak, bukan untuk dikasihani tapi untuk mengambil 
langkahbijak atas kasus yangbenar-benar menyengsarakan rakyat kecil ini. Apakah 
kita tidak terketuk nurani kita, jika saja melihat saudara kita tertimpa musibah sebesar 

ini. 

Radar Minggu Edisi XIX Medio Juni 2003 



KERAJAAN LDH GO INTERNASIONAL 

Perkembangan kerajaan Islam Jama'ah yang didirikan oleh Nurhasan Al 
Ubaidah boleh dibilang luar biasa. Jajahannya bukan cuma bumi Indonesia tapi 
merambah ke manca negara. Istilah kerennya go Internasional. Bagaimana 
sejarahnya, Radar Minggu membeberkan catatannya dari berbagai sumber berikut 

ini. 

Pendiri kerajaan ini KH. Nurhasan Al Ubaidah. Nama kecilnya Madekol atau 
Madigol, lahir tahun 1915 atau ada yang menyebut tahn 1908 di pelosok desa 
bernama Bangi, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Pemilik 
kerajaan ini bergelar Amirul Mukminin, putra kedua dari tujuh anak H, Abdul 
Aziz bin H. Tholib Bin H. Irsyad 

Ada tiga desa yang dipakai sebagai awal pemancangan bendera kerajaan 
Madigol. Pertama Desa Burengan Kota Kediri. Desa Gadingmangu kecamatan 
Perak, Jombang, berikutnya Desa Pelem, Kecamatan Kertosono, Nganjuk. 
Seluruhnya di Propinsi Jawa Timur. Semula tak ada yang menyangka bila pusat 
kerajaan yang dibangun di atas tanah sengketa milik KH. Ghozali di Burengan itu 
akan mampu manjelajah sampai manca negara. 

Ceritanya, sekitar tahun 1940 sepulang Sang Madigol dari pemukimannya di 
Tanah Suci selama .1 tahun, saat itulah masa awal dia menyampaikan ilmu mangui, 






musnad muttasil, yaitu ilmu Al Qur 'anmanqul dan ilmu Hadits manqul dari Madigol 
atau biasa disebut "Qur 'an Hadits Manqul". Pada tahapan ini ia mengajarkan ilmu 
qiroat dan ilmu bela diri pencak silat kanuragan 

Di samping itu ia terus mengembangkan hobi utamanya, yaitu hobi kawin cerai, 
terutama mengincar janda-janda kaya, Hobi utama tersebut benar-benar ia tekuni 
dan nikmati sampai ia mati (1982). Kurang lebih 4 bulan sebelum mati, dia menikahi 
perawan Madura yang berusia kurang lebih 15 tahun. Hobi lainnya adalah 
mengkafirkan dan mencaci parakyai alim ulama diluarkerajaanjama'ahnya, dengan 
cacian dan sumpah serapah yang sangat kotor dan cabul. 

Masa membangun asrama pangajian Darul Hadits berikut pesantren- 
pesantrennya di Jombang, Kediri, dan di jalan Petojo Sabangan, Jakarta, sampai 
dengan Sang Madigol mendapat konsep asal Doktrin Imamah dan Jama'ah ( Baiat, 
Amir, Jama'ah, Ta'at ) dari Imam dan Kholifah Dunia Jam' atul Muslimin Hizbullah 
yaitu Imam Wali Al Fatah yang dibai'at pada tahunl953 di Jakarta oleh para 
jama'ah dan oleh Sang Madigol sendiri. Pada masa itu Wali Al Fatah adalah Kepala 
Biro Politik Kementrian Dalam Negri RI (zaman Bung Karno). Si Bambang 
Hafiludin penulis makalah ini juga pernah ikut berbaiat kapada Wali Al Fatah sekitar 
tahun 1960 di Jakarta (padahal sebelumnya Si Bambang Irawan ini sudah berbai'at 
kepada Sang Madigol di Jawa Timur) 

Tentang Wali Al Fatah dan Jendral Ali Murtopo itu bisa di baca dalam buku 
Wali Al Fatah berjudul "Al-Khilafah 'AlaMinhajin Nubuwwah" 

Masa pendalaman Manqul Qur 'an Hadits tentang konsep bai' at, amir, jama' ah, 
ta'at; itu sampai tahun 1 960, yaitu ketika ratusan jama'ah pengajian asrama Manqul 
Qur'an Hadits di Desa Gading Mangu menangis meminta Sang Madigol mau 
dibai'at dan ditetapkan jadi Amirul Mukminin. Mereka semuanya sanggup ta'at, 
dikuatkan dengan masing-masing berjabatan tangan dengan Madigol, sambil 
mengucapkan Syahadat, sholawat dan kata-kata sakti. Ucapan bai'atnya masing- 
masing yaitu; Sami'na wa atho'na, sebagaimana pernyataan sumpah setia menetapi 
program 5 bab atau system 354. Belakangan yang menjadi petugas utama untuk 
mendoktrin menggiring dan menjebak agar sebanyak-banyaknya orang mau 
berbai'at kepada dia adalah si Bambang Irawan Haf iluddin yang sejak itu jadi 
antek besar sang Madigol 

Masa bergabungnya si Bambang Irawan Haiiluddin (kemudian diikuti oleh Drs. 
Nur Hasyim, Raden Edi Masiadi, Notaris Mudiomo, dan Hasyim Rifa'i ) sampai 
dengan masa pembinaan aktif oleh mendiang Jendral Sudjono Hoemardani dan 



:*:W#x3x*m 



B H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukti Penipuan LP/I 

Jendral Ali Murtopo berikut para Opsusnya yaitu masa pembinaan dengan naungan 
surat sakti B APDLU SEKBER GOLKAR: SKNo.KEP270/7/BAPILU/SBK/1971 
dan Radiogram PANGKOPKAMTIB No.TR 105/ KOPKAM/III/197 1 atau masa 
LEMKARI sampai dengan saat LEMK ARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh 
Penguasa Jawa Timur atas desakan MUI Jawa Timur di bawah pimpinan KH. 
Misbach. 

Masa Lemkari diganti oleh Rudini (Mendagri 1990/1991) menjadi LDII 
(Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yaitu masa mabuk kemenangan karena berhasil 
go Internasional, masa. sukses besar setelah antek-antek Madigol berhasil menembus 
Singapura. Malaysia, Saudi Arabia balikan kota Suci Makkah, kemudian menembus 
Amerika Serikat dan Eropa, balikan sekarang Australia dengan siasat Taqiyahnya : 
Fathonah, Bithonah, Budi Luhur Luhuring Budi yang lebih-lebih tega hati dan 
canggih. 

Tokoh Pendukung 

Tokoh Pendukung yang ikut membesarkan system struktur organisasi, gunung 
esnya, yaitu system penierintahan/kerajaan Negara dalam Negara. 

Di atas puncak tertinggi sebagai penguasa dan pemilik kerajaan adalah 
imam Amirul Mukminin. Sejak wafatnya Sang Madigol, tahta itu dijabat aktif 
langsung oleh Abdu Dholiir bin Madigol didampingi oleh adik-adik kandungnya 
yaitu: Abdul Aziz, Abdus Salam, Muhammad Daud, Sumaida'u serta suaminya 
yakni Muhammad Yusuf sebagai Bendahara Kerajaan dan si Bungsu Abdullah. 
Sang Amir selalu dijaga dan dikawal oleh semacam Paswalpres yang diberi 
nama Paku Bumi. 

Wakil empat terdiri dari empat tokoh kerajaan, yaitu Ahmad Sholeh, Carik 
Afandi, Su'udi Ridwan, dan Drs. M. Nurzain (setelah meninggal diganti Nurdin) 
Wakil Amir Daerah, Wakil Amir Desa, dan Wakil Amir Kelompok. 

Di samping itu ada Wakil Amir Khusus ABRI anggota gerakan GPK kerajaan 
itu yang dari ABRI (Jama'ah ABRI, Kopasus, Brimob, PGT, AURI, Marinir Kostrad 
dll) dan Wakil Khusus Muhajirin. Selain itu ada juga tim empat serangkai yang 
terdiri dari para Wakil Amir, para Agniya (orang kaya), para pengurus Organisasi 
(LDII, Pramuka, CAI dll.) dan para Mubaligh. Semua itu digerakkan dengan disiplin 
dan mobilitas tinggi, bergerak terus dan beroprasi terus (haroki manhaji) di bawah 
komando "Sistem Struktur Kerajaan 354" menjadi kekuatan sihir manqul, berupa. 
barat, amir, jama'ah, ta'at yang selalu ditutup rapat-rapat dengan system Taqiyyah, 



Fathonah, Bithonah, Budi Luhur Luhuring Budi karena Allah. 

Pengembangan dan perluasan daerah kekuasaan LDII telah meliputi seluruh 

propinsi di Indonesia bahkan merambah ke luar negeri yakni; Australia, Amerika 
Serikat, Eropa, Singapura, Malaysia dan Arab Saudi. Lebih dari itu mereka sudah 
mempunyai istana dan markas yang besar di kota Suci Mekkah Al Mukarromah 
yang berfungsi sebagai pusat kegiatan Da' wah GPK ini terutama pada musim Haji 
dan Umrah sekaligus sebagai tempat mengulang dan mengukuhkan sumpali bai'at 
parajama'ahnya. Setiap tahun mereka selalu berkumpul yakni beribu-ribu jama' ah 
GPK kerajaan LDII dari seluruh penjuru dunia termasuk para TKI/TKW yang 
melaksanakan haji bersama Sang Amir. 

Adapun istana dan markas besar GPK tersebut di antaranya di kawasan 
Ja 'fariyah di belakang makam Ummul Mukminin Siti Khodijah RA. Dan di kawasan 
Khut Aziziyah Makkah di dekat Mina. 

PENGGALANGAN DANA 

Penggalangan dana dari para pengikut sangat-sangat diutamakan sekali, balikan 
dijadikan ukuran kesetiaan dan kesungguhan dari baiat setia jama'ah. Penggalangan 
dana terdiri dari infaq mutlak wajib yaitu 10% dari setiap pendapatan/penghasilan 
apapun infak pengajian Jum'atan, ramadlanan, lailatul Qodar, hari raya dan lain- 
lain. Selain itu infak pembelaan fi sabilillah untuk membangun pesantren, markas, 
masjid dan lain-lain atau untuk uang sogokan/sumbangan yang diberikan untuk 
mengamankan Kerajaan LDII. 

Infaq soda qoh juga menjadi rangkaiannya, yakni berupa penyerahan bahan- 
bahan in-natura kepada Sang Amir (berupa bahan makanan, pakaian dll) zakat, 
hibah, waqaf, dan pembagian warisan dari rakyat kerajaan Jama'ahnya LDII. Saham 
Haji, saham PT/CV usaha bisnis perkebunan teh dan pabrik beras huller, poni-poni 
bensin, pasar/toko ruko, mix farming, teh hijau cap pohon korma, real estate dan 
KBIH (kelompok bimbingan Haji Nurul Aini dan Lima Utama) 

Begitu juga usaha-usaha lain (usaha-usaha khusus yang dirahasiakan) begitu 
canggih dan suksesnya dalam taktik dan siasat menagament system mafia yang 
dikelola dan direkayasa, sehingga pada setiap bulannya rakyat kerajaan jama'ah 
ini mengumpulkan harta upeti sebesar kurang lebih Rp.3 Milyar untuk Sang 
Imam/ Amirul mukminin Abdu Dhohir bin MadigoL 

(Nanang HK) Radar Minggu edisi XIX, Medio Juni 2003 



H.M.C. Shodiq> Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/l 



KASUS INVESTASI DI LDII, POLRI HARUS TANGGAP 

Oleh : Habib, SH, SPn y Mhum 

Penanganan secara pidana. 

Bila dicermati, kasus LDII ini secara pidana, kasus ini termasuk klarifikasi 
kejahatan Krah Putih (White Collor Crime). "Ini adalah sebuah penipuan kelas 
atas, kebohongan publik kelas atas dan rekayasa kelas atas. Yang para pelakunya 
orang melek hukum, sangat profesional, serta para pelaku memposisikan secara 
berlapis-lapis. Ada Lapis I, Lapis II, Lapis III dan seterusnya, sehingga antara lapis 
I dan lapis III dibuat sedemikian rupa, seakan-akan terputus dan bisa diputus jika 
diperlukan". 

Inilah bentuk konspirasi dan kejahatan kelas atas yang menjadi tren saat ini. 
Terhadap kasus ini, mestinya Kapolri dan jajarannya segera tanggap, dikarenakan, 
kasus ini akan bisa berdampak SARA. Penanganan aspek hukum, harus segera 
dilakukan secara pidana, siapa pelakunya, siapa yang menyuruh melakukan (aktor 
intelektualnya), siapa yang membantu melakukan perbuatan penipuan dan 
penggelapan tersebut. 

Perlu juga dicatat, kasus ini bukanlah delik aduan, yang penanganannya 
menunggu adanya pengaduan, karena korbannya juga para pejabat. Dimana yang 
bersangkutan bilamana melapor atau mengadu akan menjadi bumerang terhadap 
harta kekayaannya. Mereka takut indentitasnya terkuak, dan takut diinterograsi dari 
mana harta itu diperoleh. Tetapi, tidak sedikit para korbannya juga masyarakat yang 
tak berdaya yangnotabennya awam hukum. Begitu juga korban dalam kasus investasi 
LDII ini, sebagian besar orang-orang terpandang. Ada politisi, Tokoh masyarakat, 
PNS, anggota polisi, para purnawirawan, termasuk perangkat Desa dan Camat dan 
keluarga. 

Tentunya terhadap kasus ini, seharusnya segera ditangani secara tuntas, baik 
secara pidana, perdata dan sebagainya. Dampak kasus ini tidak dapat dianggap kecil, 
karena kasus ini bisa berdampak lebih dahsyat dari pada kasus bom Bali bila mana 
dibiarkan begitu saja. Jika Polri telah mampu menunjukkan profesionalismenya 
dalam mengungkap kasus bom Bali, menjadi terang benderang dan menemukan 
siapa pelakunya, siapa penyandang dananya, siapa aktor intelektualnya, sehingga 
masyarakat angkat topi pada Polri. 

Demikian pula dengan kasus investasi seputar LDII ini, tentunya masyarakat 



juga mengharap keseriusan Polri dan j ajarannya untuk bisa mengungkap, sekaligus 
menanganinya secara profesional. Mampu mengungkap siapa pelaku, siapa aktor 
intelektualnya, dan siapa saja yang membantu melakukan investasi berbuah 
kebohongan ini, bahkan yang lebih penting, harus bisa menguak siapa yang 
diuntungkan dalam kasus ini. 

Memang dalam menangani kasus ini, perlu mendapat dukungan masyarakat, 
dalam penanganannya secara intergral. Agar penanganan kasus ini akan semakin 
sempurna, bilamana melibatkan pihak-pihak terkait yang meliputi, tokoh agama, 
politisi, pimpinan bank, termasuk Gubernur Bank Indonesia. Terutama untuk 
melacak kemana larinya dana-dana tersebut, apakah benar untuk investasi, ataukah 
digelapkan. Karena tidak menutup kemungkinan, uang-uang tersebut sudah dilarikan 
keluar negeri, atau bahkan sudah dilakukan Money Loundry (pencucuian uang). 
Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 15 tahun 2002 tentang Tindak 
Pidana Pencucian Uang, khususnya pasal 2 dan Undang-Undang tersebut mulai 
berlaku 17 April 2002 . Sehingga uang tersebut sudah asset yang berupa benda- 
benda tetap yang diatasnamakan orang tertentu dan dinikmati oleh segelintir orang. 

Penanganan secara Perdata 

Hubungan hukum anatar para korban dan pelaku investasi, tentunya perlu 
dicermati secara serius. Apakah hubungan hukum antara korban dengan pelaku itu 
berbentuk pinjam meminjam dana, ataukah penanaman saham, atau pula berbentuk 
hubungan lainnya. 

Dalam hubungan hukum pinjam meminjam uang, secara umum bisa dilihat 
adanya kreditor, debitor, kemungkinan juga avalis atauborg. Secara lazim, supaya 
kreditor (korban) memperoleh perlindungan hukum dan jaminan kepastian hukum, 
tentunya debitor menyerahkan jaminan kepada kreditor. Jaminan ini bisa berupa 
hak tanah, barang bergerak, surat-surat kendaraan dan lain sebagainya. Manakala 
debitor tidak memiliki jaminan yang cukup, bisa pula pihak ketiga bertindak selaku 
peminjam (borg) atau avalis terhadap hutang-hutang debitor kepada kreditor. 

Memang tidak dapat disimpulkan secara pasti, hubungan macam apakah yang 
terjadi pada kasus investasi di LDII tersebut. Tetapi bila ditelusuri, bisa juga bentuk 
hubungan hukum yang terjadi semacam ini. Dengan alasan pertama, para korban 
dijanjikan bunga terhadap investasi kurang lebih 15%-30%„ yang kedua, bunga 
dapat diambil pada setiap bulan setelah dikurangi infaq~infaq dan lain-lain,, sehingga 
korban (investor) dijanjikan keuntungan bersih kurang dari 10%, yang ketiga, uang 



■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukli Penipuan LP// 

pokok sewaktu-waktu dapat diambil/ditarik kembali. 

Terhadap investasi LD II ini bisa juga, aset-aset LD II secara organisasi sebagai 
borg (selaku avalis), karena masyarakat mau meminjamkan / menahan saham berupa 
uang, sebagai jaminan adalah Pengurus/Petinggi/Kyai Sepuh LDII, kejadian.ini 
adalah dalam komunitas LD II. 

Sedangkan jika dilihat dari hubungan penanaman saham, seorang investor bisa 
juga dalam berinvestasi dalam bentuk menanamkan saham dalam perusahaan, 
lazimnya penanaman saham semacam ini investor memperoleh kartu saham. 
Penanaman saham dalam perusahaan dapat langsung ke dalam perusahaan atau 
dapat pula melalui penanaman saham di Bursa Efek (baik BES atau BEJ). Tentunya 
saham ini dapat naik turun sesuai dengan harga dari saham-saham tersebut. 

Penanganan terhadap kasus investasi LDII ini, para korban dapat melakukan 
gugatan Class Action. Yang digugat tentunya adalah pengurus LDII (selaku avialis) 
atau dapat juga gugatan secara langsung kepada pengepul-pengepul dengan meminta 
pengadilan untuk melakukan Sita Jaminan (CB) 

Penanganan secara politik 

Dampak dari kasus investasi LDDI ini, tidak dapat dianggap sederhana; 
Seharusnya kasus ini ditangani secara politik, artinya DPRD dapat mengambil peran 
serta melalui proses penyelidikan dengan memanggil para pelaku: pelaku-pelakunya 
dan orang-orang yang membantu melakukan investasi fiktif ini. Jika langkah politik 
dilakukan untuk menangani kasus ini, akan membantu pihak-pihak yang berwenang 
dalam mengungkap kasus investasi seputar LDII tersebut. 

Bahkan dalam kasus ini, Bupati dan Walikota "tidak boleh acuh tak acuh" 
terhadap kasus investasi seputar LDII. Secara moral, selaku Kepala Daerah dan 
Wali Kota , harus berusaha semaksimal mungkin dalam menangani dan 
menyelesaikan kasus yang sudah cukup meresahkan ini, karena menyangkut hajat 
dan kepentingan masyarakat umum. Andai kata Bupati dan Wali Kota dapat 
mencegah investasi fiktif ini, modal sebesar niilyaran rupiah di setiap daerah yang 
dikeruk oknum-oknun LDII itu, tentu dapat mendongkrak perekonomian daerah 
setempat. 

Salah satu contoh yang ada di Kediri, menurut perkiraan para korban, uang 
yang dikeruk dengan dalih investasi di LDII ini, mencapai sekitar 900 milyar rupiah. 
Suatu jumlah yang cukup besar . Bila dihitung, jumlah uang yang nggak "dunung" 
itu lebih besar 2 (dua) kali dari APBD Kab. Kediri. Karenanya secara moral, Bupati 



dan Wali Kota harus bertanggung jawab! Lebih lanjut Fraksi DPRD dapat meminta 
pertanggungjawaban Bupati dan Wali Kota, (Penulis Adalah: Pengacara /Praktisi 
Hukum di Kediri) 

Radar Minggu, Edisi XX, Awal Juli 2003 



POLAH TINGKAH PARA NASABAH 

Agaknya banyak sudah cara yang dilakukan para nasabah menagih janji para 
petinggi LDII dalam kasus "tipuan" investasi. Di Pondok Pesantren LDII Kertosono 
pernah digruduk dua truk "Marinir" dari Surabaya. Di Ponpes LDII Burengan, 
pernah ada clurit korban dari Madura yang ditancapkan di meja petinggi LDII, 
Pestol di gletakkan di meja pengurus LDII, kaca mobil mewah akan dipecah, sampai 
nganuiknya Reynolt mantan "preman". Seperti yang pernah diceriterakan oleh Benny 
Suwandono. 

Ceriteranya begini, Benny Suwandono yang juga cucu Kuncoro Kaseno, merasa 
kesal karena selalu diombang-ambingkan pengurus LDII setiap hendak mencairkan 
dana investasi pamannya sebesar Rp. 600 juta. Selama 3 bulan lebih Benny terlunta- 
lunta mengurusi dananya. Karena batas kesabarannya habis, Benny datangan ke 
Burengan dengan membawa kentongam besar (milik Balai Desa) sambil mengamuk, 
seraya meminta uang pamannya, H. Nasrun, 600 juta agar dikembalikan. 

"H. Iwan menantu Kyai Sepuh KH. Dhohir adalah orang yang paling 
bertanggung jawab dalam hal ini". Demikian yang dikatakan Benny. Saat bertemu 
dengan Iwan di Pondok Pesantren Burengan Kediri itulah Benny menumpahkan 
kekesalannya dan menghujat Iwan sebagai penipu dan kata kotor lainnya. Kuncoro 
selaku bempernya kasus ini, menjadi mediator, dan berhasil menyelesaikannya, 
dengan memberikan satu unit mobil Toyota Altis 2002, dan beberapa bidang tanah 
senilai 250 juta milik H. Wahyudi. 

Selain itu, amarahnya Benny itu muncul karena ia juga pernah diancam oleh 
oknum dan juga "Paku Bumi" nya LDII (pasukan khusus). Mereka mengatakan, 
"Apakah kamu tidak takut dengan jutaan orang yang berada di belakang LDII". 
Begitu katanya. Dengan tegas sedikit pun Bany tidak takut, karena yang berada di 
belakang Benny selain Allah, adajutaan korban yang menjerit, yang siap menerkam 
LDII. 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukii Penipuan LP/I 

Lebih jauh Benny menuturkan, "Jika ancaman itu ditujukan kepada saya pribadi 
(waktu itu sama dengan wartawan), itu tidak masalah, bahkan itu merupakan 
penghormatan profesi, tapi kalau ancaman itu ditujukan kepada keluarga saya, saya 
siap luluh lantakkan 6.000 orang di Burenganbersama. diri saya". Benny menuturkan. 

Begitu juga Reynolt, mantan preman yang masuk LDII karena ingin bertobat. 
Mencak-mencak dan menghujat LDII, sarang penyamun dan penipu. Alasan Reynolt 
marah karena ditipu oleh para petinggi LDII, dan merasa kesal dengan polah tingkah 
para tim penyelesaian investasi. Selalu berjanji di saat diminta uang yang pernah 
disetorkannya yang berjumlah ratusan juta rupiah. 

Sementara korban dari Madura, tanpa banyak cingeong masuk ke dalam pondok 
untuk menemui pengurus, dan langsung menancapkan cluritnya di meja pengurus, 
seraya menghujat dengan logat Maduranya. 

Yang tidak pernah terekpos adalah kehadiran anggota Marinir dari Surabaya 
yang nggruduk Ponpes LDII Kertosono itu, para Marinir yang mengemban tugas 
dari koperasinya, akan mengamuk dan memporak-porandakan lingkungan Pondok, 
seandainya saja para petinggi LDII yang ada di Kertosono tidak kooperatif, 
keberadaan Ponpes LDII Kertososno, yang notabene nya tempat bermukim para 
Kyai Sepuh LDII akan tinggal nama saja. 

Lain sikap korban Koperasi Marinir, lain pula dengan korban di lingkungan 
Koperasi Polwil Kediri. Walalun sudah habis kesabarannya, anggota tersebut masih 
bisa bersikap bijak. Petugas tersebut, langsung masuk dan duduk di hadapan tim 
penyelesaian investasi. Pada saat itu juga dia mengeluarkan "pestol", dan 
menaruhnya di hadapan tim dari LDII sambali berkata, "ini pistol saya, saya ke sini 
disuruh oleh atasan saya. Kalu uang dari Polwil, tidak dikembalikan sekarang, Bapak 
boleh tembak saya sekarang juga. Pokoknya saya lebih baik mati dari pada pulang 
tidak membawa uang". Begitu katanya. Setelah itu, Tim baru mengambil sikap dan 
mengembalikan uang investasi yang diminta oleh petugas tersebut. 

Keterkaitan denga polah tingkah para korban investasi, dengan surat yang 
dikeluarkan oleh Kuncoro Kaseno adalah, seperti kejadian yang pernah dialami 
oleh Pengacara Sudyanto SH, tim advokat suami istri yang merasa tertipu sebesar 
100 juta rupiah. Saat itu, Kuncoro juga. menerbitkan surat pernyataan kesanggupan 
mengembalikan dana, pada tgl 16 Juni 2003. 

Setelah jatuh tempo, Sudyanto SH, mendatangi Kuncoro di Ponpes Burengan. 
Apa yang didapat saat itu adalah kekecewaan belaka. Karena Kuncoro menyanggah 
maksud yang tersirat pada surat pernyataan yang ditandatanganinya. "Sebenarnya 



kesanggupan saya bukan seperti itu, dan kontek perjanjian itu bukan begitu". Kata 
Kuncoro. Akhirnya dalam pertemuan di Ponpes LDII Burengan tersebut disepakati 
bahwa, Kuncoro minta waktu 4 bulan lagi, sampai detik ini uang tersebut sepeser 
pun belum cair. 

Tetapi, suami istri tersebut pernah mendatangi H. Munir si penerima dana 
investasi dan mengatakan , akan memakai caranya sendiri jika H. Munir tidak segera 
mencairkan dananya. H. Munir saat ini jiwanya merasa terancam dan merasa tidak 
aman. Tentunya masih banyak lagi pengepul yang bernasib sama seperti yang dialami 
H. Munir. Di mana tanggungjawabmu petinggi-petinggi LDII? 

Yang menjadi pertanyaan. Apakah mungkin, sikap yang diambil tim penyelesian 
investasi tersebut akan sama seperti yang pernah diterapkan beberapa bulan lalu?. 
Dan Apakah sikap yang diambil oleh tim penyelesaian yang dibentuk oleh LDII 
mempunyai tendensi lain? Apa jawaban Kuncoro saat dikonfirmasi oleh Radar 
Minggu, "Forever will be will be'\ yang terjadi terjadilah. 

Radar Minggu , edisi XX, Awai Juli 2003 



TANPA PENGADUAN PUN DAPAT DIPROSES 

Khasiul Hidayat SH, staf pengajar victimologi -Perlindungan Korban- Fakutas 
Hukum Undar mengatakan, "Pada kasus -kasus tertentu dalam kejahatan yang 
berkedok investasi memang peranan korban sangat besar. Penegak Hukum dalam 
menyikapi persoalan tersebut biasanya tidak pro aktif mengunjungi korban. Agaknya, 
penegak hukum melihat kasus investasi di LDII ini lebih ekstra hati-hati lagi. Karena 
dianggapnya permasalahan investasi LDII tersebut adalah maslah "keluarga", dan 
bukan masalah hukum, selama mereka tidak membuat pengaduan. 

Padahal, menurut Khasful Hidayat, secara jelas kejahatan yang dilakukan oleh 
oknum-oknum pimpinan LDII tersebut bukanlah suatu kejahatan yang harus sada 
pengaduan. Akan tetapi adalah suatu ddik biasa tanpa pengaduan pun dapat diproses 
secara hukum. Maka, jika. kesadaran aparat penegak hukum dalam mensikapi kasus 
ini menunggu adanya laporan, maka pastilah akan berjatuhan korban -korban yang 
lebih parah. Seharusnya, aparat penegak hukum harus secara proaktif mensikapi 
permasalahan tersebut, sehingga dapat "mengeliminir' korban-korban dari 
masyarakat yang awam hukum" katanya. 



H.M.C. Shodig, Akar Kesesalan LDI! & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA; Bukii-Bukti Penipuan LD/I 

Sementara Gus Firjaun dari FKB, Anggota Komisi B, DPRD Kota Kediri 
mengatakan, "Sejak awal saya kurang setuju dengan investai ini, dan permasalahan 
ini seharusnya bisa diselesaikan secara "arif sebelum menuju ke lembaga hukum. 
Karena masalah ini super sangat sensitif, ada unsur agama dan lain-lain". Katanya. 

Letkol (Pur) H. Sujitno, wakil ketua DPRD Kab. Kediri mengatakan , "Kasus 
ini sudah cukup meresahkan masyarakat, Bupati Sutrisno seyogyanya bisa 
mengeliminir dampak dari kasus tersebut, dan segera menyelesaikannya, dengan 
baik" Katanya. Begitu juga H. Zainal Arifin, Anggota Komisi B DPRD Kab. Kediri. 
Anggota DPRD dari FKB ini menilai kasus investasi di lingkunagn LD II itu sudah 
melanggar aturan pemerintah dan agama. "Bila kasus ini tidak segera diselesaikan, 
saya khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan saya akan usulkan 
DPRD untuk membentuk "Pansus". Tandas Zainal. 

Wakil Bupati Jombang, Drs. H. Suyanto juga mengaku tertarik untuk 
mencermati kasus di LDII ini. "Kok sampai begitu ya", tukas Suyanto keheranan, 
menanggapi pemberitaan Radar Minggu. Intinya, Ketua DPC PDIP Kab. Jombang 
ini heran banyaknya uang yang jadi korban. Sisi lain, heran para korban kok tidak 
berani melapor kepada aparat secara resmi. 

Keheranan Suyanto ini, juga bisa jadi keheranan banyak orang. Korban yang 
jelas-jelas dirugikan cuma resah, gelisah bagai api dalam sekam. Tak berani 
mengungkap, apalagi lapor secara resmi kepada aparat.. Begitu juga aparat, abdi 
rakyat agaknya tidak ada yang punya untuk menetramkan dan melindungi dari 
permainan investasi di LDII ini. Mereka bagai "tersihir". Mereka bagai terpedaya 
oleh jin. Yang menjadi pertanyaan, betulkah para petinggi LDII memelihara jin dan 
mengamalkan ilmu sihir? Pertanyaan ini erat kaitannya dengan cerita klasik di aliran 
Islam lama' a h yang merupakan embrio LDII. 

Radar Minggu , edisi XX, AwalJuli 2003 



PENYIMPANGAN IJTIHAD NURHASAN 

Dalam aliran Islam janur ah, ada banyak penyimpangan Syariah. Hal ini akibat 
dari penyimpangan ijtihad yang dilakukan oleh pendiri aliran ini, Imam KH Nur 
Hasan Al Ubaidah Amir Lubis. Salah satunya adalah penyimpangan ijtihad tentang 
"infaq", sebagaimana yang dibeberkan Deby Murti Nasution dalam sebuah seminar 



tahun 1977 di Sydney, Australia. 

Mantan "gembong" LD II selama 10 tahun menjadi muballig ini terpaksa keluar 
pada tahun 1983. Alasannya, pencipta lagu yang tergabung dalam grup God Bless 
ini, tak setuju dengan keamiran dan baiat yang pernah dipertentangkan dengan para 
Amirnya. 

Diungkapkan sebetulnya masih banyak lagi pendapat-pendapat H. Nurhasan 
yang menyimpang dari syariat dan ditelan mentah-mentah oleh para pengikutnya. 
Di antaranya apa yang mereka sebut dengan ijtihad - Imam. 

H. Nurhasan mengatakan bahwa Imam- dalam hal ini dirinya wajib melakukan 
ijtihad untuk kepentingan jama'ahnya. Dalilnya, Sabda Rasulullah saw, artinya 
"Siapa saja penguasa yang menguasai suatu persoalan dari umatku, kemudian 
ia tidak memberi nasihat dan ijtihad bagi mereka sebagaimana ia menasihati dan 
b er susah payah untuk -kepeniinagn- dirinya, maka pasti Allah telungkupkan 
wajahnya di Neraka pada hari kiamat", (HR. Tabrani) 

Hadits ini terdapat dalam kitab Kanzul Ummal edisi I. J. dengan judul kitabul 
Imarahhal21. 

Selanjutnya H. Nurhasan mengatakan bahwa berdasar hadits ini, ia sebagai 
imam harus memberikan nasihat dan ijtihad kepada jama'ah, sebab kalau tidak, ia 
akan dimasukkan ke dalam neraka. 

Sebaliknya, jama'ah harus mendengar dan taat kepada nasihat dan ijtihadnya. 
Karena kalau jama'ah tidak mau taat, pasti akan masuk neraka. 

Adapun yang dimaksud dengan ijtihad menurut H. Nurhasan ialah ide atau 
ilham Imam untuk membuat peraturan atau undang-undang, baik yang bersifat 
sebagai pelaksana dari ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi, maupun peraturan- 
peraturan atau undang-undang yang berdiri sendiri sebagai fatwa Imam. 

Misalnya, dalam Al Qur an banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai 
kewajiban infaq, seperti dalam surat AJ Baqarah (2): 3, yang artinya: "Dan sebagian 
dari apa yang kami beri rezeki kepada mereka, mereka menginfaqkannya". 

Menurut H. Nurhasan, lafadz infaq di dalam ayat ini -dan juga ayat-ayat yang 
lain- ialah setoran atau pemberian hatrta dari jama'ah kepada Imam. Sedangkan 
besarnya setoran ditetapkan oleh H, Nurhasan ialah 10% dari setiap rezeki yang 
diterima oleh masing-masing jama'ah. Danini sudah merupakan ijtihad imam yang 
harus ditaati. Dan Imam sudah melaksanakan kewajibannya untuk berijtihad, dan 
berarti Imam sudah bebas dari neraka. Tinggal terserah kepada jama'ah, kalau 
mau masuk sorga, ya harus taat kepada ijtihad Imam, yaitu harus setor 10% dari 



H.M.C. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEDUA: Bu kii-Bukii Penipuan LP// 

setiap rezki yang diperoleh. 

Padahal, yang dimaksud infaq dalam ayat ini menurut Ibnu Katsir dalam 
Tafsirnya, mencakup dua aspek, yaitu: 

1 . Berbuat baik kepada semua makhluk, yaitu dengan memberi manfaat yang besar 
bagi mereka. 

2. Zakat mafrudhah atau yang diwajibkan. (lihat Tafsir Ibnu Katsir juz I, hal.42) 

Adapun zakat mafrudhah sudah diatur tata caranya menurut syari 'at yaitu harta 
yang sudah mencapai nisabnya. 

Syariat menetapkan bahwa zakat sebagai infaq yang wajib ditetapkan dua 
setengah persen (2.5%) atau seperempat puluh dari harta yang telah mencapai satu 
nisab, yaitu 20 dinar uang emas atau 200 dirham uang perak, dan dibayar satu 
tahun sekali, sementara H. Nurhasan menetapkan 1 0% setiap ada rezki. Jadi umpama 
ada anggota IJ yang mendapat Rezki sepuluh kali satu hari, maka ia wajib menyetor 
1 9% dari semua jumlah tersebut. . 

Kemudian Al Qur'an menetapkan bahwa infaq wajib atau zakat itu harus 
dibagikan kepada 8 asnaf,, seperti disebutkan dalam surat At Taubah (9):60. Yaitu, 
orang-oraang faqir, orang-orang misskin, Para Amil (pengurus zakat), Kaum 
Muallaf, untuk membebaskan atau memerdekakan budak, orang yang keberatan 
hutang, Fie Sabilillah dan Musafir. 

Inilah 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat. Dan zakat atau infaq 
wajib itu diambil dari orang-orang yang kaya sebagaimana sabda Rasulullah saw. 
Yang artinya: 

"(Zakat) itu diambil dari orang-orang kaya kaya di kalangan mereka.. ". 

Sementara itu, H. Nurhasan menetapkan bahwa dirinyalah yang berhak 
menerima infaq dan menggunakannya. Danketetapan 10% itu diberlakukan oleh 
H. Nurhasan kepada semua anggota yang kaya dan miskin. Dan tanpa malu-malu 
H. Nurhasan mengatakan bahwa harta tersebut merupakan haknya Imam, sedangkan 
jama'ah tidak berhak untuk menanyakannya, pokoknya taat saja. Siapayang berani 
-berani mempertanyakannya, berarti melawan Imam dan wajib masuk neraka. 

Yang menjadi pertanyaan sekarang, betulkah LDII masih memegang erat 
"pengertian" infaq sebagaimana ijtihad KH. Nurhasan Al Ubaidahyang menyebut 
bahwa di dalam harta jama'ah itu terdapat hak Amir atau Imam? 



Agaknya, kenyataan LDII sebagai "pewaris" ajaran Islam jama'ah tak dapat 
dibantah. Salah satunya, yang saat ini sedang dipraktekkan para petinggi LDII dalam 
pengumpulan dana dari umat dengan istilah "investasi". Tatkala "penipuan" berdalih 
investasi mengalami keruwetan, tak ada warga LDII yang berani mempersalahkan 
secara hukum. 

Terkesan, warga LDII cuma pasrah dan takut kepada para petingginya. Meski 
dirinya merasa tertipu, jengkel dan "menjerit". Tapi seolah mereka menyadari adanya 
doktrin dari pendiri Islam Jama'ah bahwa dalam harta, mereka terdapat hak Imam 
atauAmir. 

Dengan kata lain meski merasa tertipu jutaan bahkan milyaran, mereka tak 
berani berkutik manakala ada "fatwa" dari para petinggi. Bila. ada yang berani 
menyoal, resikonya terkucilkan balikan dianggap murtad, suatu sebutan yang paling 
ditakutkan wargga LDII. 

Bukan cuma itu, meski kasus investasi LDII ini sudah jelas, tapi warga dan 
para petingginya berusaha keras untuk menutup-nutupinya. Balikan dengan dalih 
"pembelaan" sebagai salah satu doktrin Islam Jama'ah yang "wajib" diamalkan. 
Kini warga LDII bagai sapi perahan lagi. Mereka diminta "membela" organisasinya 
yang sedang ditimpa musibah "investasi 5 . Seorang warga LDII dipinta untuk 
"meminjami" dan yang kemudian disetor kepada para petinggi organisasi. 

Sebuah acara untuk memperdayai umat demi kepentingan para petinggi LDII. 
Artinya, umat dibebani ikut menanggung kasus investasi, tapi para prtinggi yang 
menikmati uang investasi justru ongkang-ongkang bagai merasa "tak berdosa" sama 
sekali. Organisasi macam apa ini? 

Radar Minggu (Liputan Khusus) edisi XX, Awal Juli 2003 



SURAT PEMBACA: 
DDII BUKAN LDII 

Masyarakat Jombang patut bersyukur kepada Allah swt. akan keberadaan 
kelembagaan dakwah yang bersifat indepedence yang sebenarnya keberadaannya 
di Kab. Jombang sudah lama berdiri, hanya karena, lemahnya, sosialisasi maka peran 
yang ada dalam masyarakat kurang teraktualisasi, sehingga tidak mustahil banyak 
masyarakat yang tidak tahu. Baru setelah berdirinya bangunan Masjid yang dibangun 



H.M.C. Shodq. Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEPUAt BukH-Bukii Penipuan LP/I 

di wilayah pinggiran kota Jombang, tepatnya di Desa Jambu pinggir jalan raya utara 
rel kereta api, kurang lebih 500 m barat stasiun Jombang, masyarakat mulai tahu 
tentang sejatinya kelembagaan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) tersebut. 

Melalui tulisan ini dipandang perlu bagi informasi yang benar agar masyarakat 
Jombang bisa memahami dan lebih bisa memiliki aset umat, baik yang berupa fisik 
dan bisa mendukung dari program-programnya. Sehingga kelembagaan DDII di 
Jombang adalah bagian khazanah kekayaan Jombang. Informasi DDII sebenarnya 
mudah didapatkan, mengingat banyaknya sumber informasi baik dari elektronik 
atau referensi-referensi, yang paling sederhana dan insya Allah datangnya valid 
dan mudah diperoleh di perpustakaan sekolah misalnya. 

Pada buku ''ENSIKLOPEDI ISLAM" dan buku tersebut hampir semua sekolah 
memiliki, di sana terdapat informasi "DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH 
INDOESIA" (DDII). Adalah organisasi atau lembaga dakwah yang didirikan pada 
tanggal 26 Februari 1 967. Organisasi ini lahir dari hasil musyawarah ulama Jakarta 
Raya yang dirangkaikan dengan pertemuan halal bihalal untuk perkembangan 
dakwah Islamiyah pada masa transisi politik setelah peristiwa penberontakan G30S/ 
PKI. Organisasi ini memiliki gedung sekretariat yang bertempat di bekas kantor 
Masyumi di Jl. Kramat Raya 45 Jakarta, dan memiliki sebuah masjid, Masjid Al 
Furqan di tempat yang sama. Pertemuan pada tanggal 26 Pebruaru 1 967 tersebut 
dihadiri oleh ulama dan pemuka agama yang umumnya bekas warga Masyumi, di 
antaranya M. Natsir, mantan Ketua Umum Mas}aimi 1949-1958 dan Perdana 
Menteri RI pada tahun 1950-1951, Dr. HM. Rasyidi, mantan Menteri Agama RI 
pertama, KH. Tauiiqurrahman, H. MansurDaa,id DatokPalimokayo dan H. Nawawi 
Duski. 

Berdasarkan akta Notaris Syahrian Abdul Mauan No.4 tanggal 9 Mei 1 967, 
DDII didirikan sebagi yayasan yang bertujuan untuk mendorong, memperbaiki dan 
mengembangkan dakwah Islam di Indonesia dengan dasar taqwa dankeridhaan 
Allah swt. Organisasi ini dalam menjalankan kegiatannya menjalin hubungan dengan 
beberapa organisasi internasional, seperti Rabhitah Alam Al Islami yang berpusat 
di Makkah, dan Muktamar Alam Islami (World Muslim Congress) yang berpusat 
di Karachi serta Dewam Imam Masjid se Dunia (Al Masjid Al A'laal Masjid Al 
Alami) yang berpusat di Makkah. DDII menghendaki para khatib yang bergabung 
dengannya mengemukakan ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur 5 an dan Hadits 
tanpa terikat dan taqlid pada madzhab tertentu, dan berusaha mengantisipasi ajaran- 
ajaran yang dianggap menyimpang agar umat yang menjadi sasaran dakwah tidak 



tersesat. DDIII juga mengelola usaha penerbitan baik majalah atau buletin, serial 
khutbah dan penerbitan buku-buku. 

DDII, banyak memberikan rekomendasi lembagaan keagamaan dan pengiriman 
siswa ke luar negeri. Pada umumnya DDII mengirim siswa /mahasiswa ke Timur 
Tengah melalui DDII. Perlu diketahui bahwa bangunan masjid di Jombang adalah 
bantuan dari muhsinin Kuwait. Semoga Allah meridhoi 

Drs. Syarifudin, MM 
(Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kab. Jombang). 



KH. NURHASAN AL UBAIDAH 
DIKAWAL PASUKAN JIN 

Awal ceritanya, Kasim, penduduk Kepanjen, Malang, merasa kehilangan dua 
puterinya, Sumiati dan adiknya. Lengkap ceritanya begini : 

Sukardi anak tertua Kasim, sudah lama menjadi santri Pondok Pesantren Darul 
Hadis di Kertosono. Ketika pulang kampung, ia bermaksud mengajak Sumiati dan 
seorang adiknya ikut mondok. Ayahnya setuju. Dipikir, sambil menunggu hari 
perkawinannya yang tak lama lagi. Oleh Sukardi diantar ayahnya, Sumiati dibawa 
ke Pondok Gadingmangu, Perak, Jombang. 

Beberapa minggu menjelang akad nikah, Kasim bermaksud memanggil 
anaknya. Namun, Sukardi yang mendengar niat ayahnya menikahkan adiknya dengan 
orang bukan anggota Islam lama' ah tak setuju. Ia melapor kepada Amir, H. 
Nurhasan. Karena itu, H. Nurhasan segera memerintahkan kepada Suraji, Kepala 
pengajaran Pondok Gadingmangu, untuk segera memindahkan Sumiati dan adiknya 
ke Pondok Kertosono. Sehingga ketika Kasim sampai di Gadingmangu Perak, 
Jombang, Sumiati dan adiknya telah tiada. 

Pimpinan Pondok Gadingmangu menyatakan tak tahu menahu. Sampai 
beberapa kali Kasim pulang pergi Kepanjen-Perak, Jombang, hasilnya nol. Sumiati 
tak pernah diketemukan. Dan pesta perkawinan yang sudah disiapkan itu batal. Ia 
telah pula lapor ke pihak-pihak yang berwenang. Namun tak banyak menolong. 
Karena itu Kasim menyerahkan masalah itu kepada Serma Ngatemo adik misan 
Ny. Kasim, yang kebetulan anggota CPM Malang. Mendengar pengakuan kakaknya, 
Serma Ngatemo lapor kepada Letda Atmaji, Kaur Reskrim CPM Malang. 
"Sebaiknya, ayah Sumiati saja disuruh lapor ke sini. Biar kita mempunyai landasan 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukti- Bukti Penipu] n LP/ f 

bertindak," ujar Atmaji. 

Awal September 1972, Komandan CPM Malang segera memerintah Letda 
Atmaji dan Letda Marlan, Kaur penyidikan dan pemeriksa untuk mengumpulkan 
informasi sekitar Pondok Darul Hadits dan H. Nurhasan. Kesempatan itu ternyata 
banyak menolong Atmadji dalam proses penanganan kasus H. Nurhasan. "Banyak 
informasi yang menyebut H. Nurhasan sakit". Beberapa, ulama yang ditemui Atmadji, 
di antaranya KH. Machrus Aly- Kediri, KH. Ghozali di Kediri, KH. Sya'roni di 
Beji Pasuruan, membenarkan cerita itu. "H. Nurhasan sebetulnya telah dikuasai jin 
dari Makkah", kataKH. Sya'roni kepada Atmadji. 

Hampir semua ulama yang ditemui memberi do'a-do'a penangkal jin kepada 
Atmadji. Malahan KH. Sya' roni memberi pecut kecil yang disebutnya sebagai milik 
raja jin di gunung Gangsir. "Jangan percaya pada pecut ini, tetapi percayalah kepada 

Allah", kata Sya'roni. 

Pertengahan September, saat bulan puasa, Atmaji dan Marlan mulai bergerak 
memeriksa Pondok Gadingmangu, diikuti oleh Serma Ngatemo dan calon suami 
Sumiati, Suradji. Kepala pengajaran dan Siti Aisyah, pimpinan santri puteri, terus 
mengelak dan tak mau berkata apapun di sekitar hilangnya dua santriwati anak 
Kepanjen itu. Atmadji segera menggeledah seluruh komplek pondok. 

Namun Sumiati dan adiknya tetap tak diketemukan. Malahan ketika memeriksa 
sebuah mangan khusus yang oleh Siti Aisyah disebut sebagai ruangan Amir untuk 
membaiat santrinya, yang ada hanya sebuah tempat tidur saja", pikir Atmadji. 
Padahal, waktu itu Pondok Gadingmanngu, Perak, Jombang, hanya untuk santriwati 

saja. 

Karena Suraji dan Siti Aisyah tetap tak mau mengaku, dan Sumiati tak 
diketemukan, keduanya dibawa ke markas CPM Jombang untuk ditahan. Atmaji 
dan Marlan terus mengejar ke Pondok Kertosono dan Burengan. Hasilnya tetap 
nol. H. Nurhasan yang ingin ditemui, kabarnya juga ada di Jakarta. Atmaji dan 
Marlan segera berkonsultasi dengan Komandan Kodim Kediri. "Pokoknya saya 
melarang saudara menangkap H. Nurhasan", ujar Komandan Kodim kepada dua 
perwira CPM itu. Setelah berdebat, akhirnya Dandim menjamin, "H. Nurhasan 
akan saya perintahkan menghadap CPM Malang". Mendengar janji itu, Letda 
Atmadji dan Letda Marlan pulang. 

Seminggu kemudian, H. Nurhasan memang menghadap ke CPM Malang naik 
mobil Mercedes 220S dan dikawal sebuah jeep Toyota berisi anak buahnya. Oleh 
Komandan CPM, H. Nurhasan dan Suraji diberitahukan akan diperiksa sampai 



masalahnya selesai. Para pengikut dari Kediri diperintahkan pulang lebih dahulu. 
Meskipun mulanya menolak, akhirnya bersedia juga. 

Sehari diperiksa, H. Nurhasan selalu mengelak. Karena itu meskipun statusnya 
tak ditahan, H. Nurhasan harus tidur di Markas CPM dalam sebuah sel. Sedang 
Suraji di tempat sendiri. Esoknya, kejadian yang agak aneh terjadi, istri Letda Marlan, 
menjelang tengah hari pingsan. Tapi, dokter yang memeriksa menyatakan semua 
sehat, "Sebaiknya dicarikan orang tua saja", ujar dokter RS Supraun seperti ditirukan 
oleh Atmaji. 

Ny. Marlan sebentar-sebentar pingsan. Dan jika siuman langsung mengamuk. 
Menjelang maghrib Atmadji datang; ke tempat temannya itu. Ny. Marlan malah 
berteriak- teriak. Malahan menantang Atmadji berkelahi. Akhirnya Ny. Marlan yang 
selalu dipegang beberapa orang disuruh dilepas, langsung Ny. Marlan menyerang 
Atmadji. Dengan pecut KH. Syaroni, Atmaji memukul Ny. Marlan. Korban langsung 
jatuh dan berteriak-teriak. Lewat mulut Ny. Marlan yang kesurupan akhirnya 
diketahui, pengganggu itu adalah H. Nurhasan. Katanya, H. Nurhasan ke Malang 
membawa pengawal 10 orang. Semuanya dipimpin oleh Abdullah, raja jin dari 
Makkah yang dibawa Nurhasan sejak pulang dari sana. 

Sepuluh pengawal itu, oleh Nurhasan diletakkan di Bagasi mobil mercy-nya. 
Dengan bekal informasi itu. esoknya Atmadji memulai memeriksa Nurhasan. Begitu 
mendengar Atmadji tentang 10 jin pengawalnya di Bagasi mobil, Nurhasan gemetar. 
Apalagi, di kamar itu sudah diletakkan sebuah boneka kayu yang menurut pengakuan 
Sukardi, kakak kandung Sumiati yang hilang akhirnya sadar, pantangan H. Nurhasan 
adalah boneka. Karena itu, sebelum memeriksa, Atmadji meletakkan sebuah boneka 
di bawah mejanya. 

Nurhasan nampaknya akan membaca wirid. Dengan bekal do'a dari beberapa 
ulama, Atmadji segera memegang tangan kanan H. Nurhasan dan memijat nadinya. 
Keduanya, saling tarik menarik selama VS jam. Akhirnya H. Nurhasan jatuh dari 
tempat duduknya dan berteriak, "Ampun Pak 1 ' berkali-kali. mendengar berita itu 
banyak anggota CPM lari masuk kamar pemeriksaan. Dipikir Letda Atmadji yang 
tengah memeriksa Nurhasan telah mempermaknya. "Jika ada yang menulis H, 
Nurhasan dipermak secara fisik, itu bohong", ujar Atmadji. 

Melihat H. Nurhasan tergeletak, Atmadji mulai menggeledah tubuhnya, Jubah 
luarnya dilepas. Ternyata diketemukan beberapa biji bunga matahari terbungkus 
kain putih. "Jadi tak benar pula kalau Nurhasan ditelanjangi. Bohong itu. Itu kan 
hanya kata orang saja," ujar Atmadji, yang kini sudah keluar dari dinasnya di CPM 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEDUA: Bukii-BukH Penipuan LP/i 

dan tinggal di Lumajang agak sewot. Atmadji juga bilang, "Pemeriksaan itu terbuka 
dan banyak orang. Banyak saksi." 

Ternyata, akibat pertarungan wirid antara pemeriksa dan H. Nurhasan tadi, jin 
Abdullah yang selama ini menyatu dalam jasad Nurhasan lari. Tinggal 1 jin pengawal 
yang kemudian menyusup di tubuh Nurhasan. Jin itu mengaku bernama Muhammad, 
bekas penjaga beringinjenggot di Pasar Pahing, Kediri, yang ditebang oleh Nurhasan. 
Sejak itu H. Nurhasan kehilangan kesadarannya. 

Suradji yang tahu keadaan Amitnya, hancur mentalnya. Barulah ia mengaku 
ke mana Sumiati dan adiknya dilarikan. Untuk menghilangkan jejak, selama 4 bulan 
hilang, Sumiati dan adiknya selalu berpindah-pindah tempat. Dari Gadingmangu, 
Perak, Jombang, dibawa ke Kertosono, lalu ke Kediri dan tenis ke Pare, kembali ke 
Kertosono lagi dan baru dibawa ke Bandung. Ternyata itu bukan tujuan akhir, dari 
Bandung Sumiati disembunyikan di Garut di sebuah tempat sekitar 20 KM dari 
kota, di lereng gunung. Suradji, Letda Marlan, Serma Nga.temo dan calon suami 
Sumiati melacak jejak itu sampai ketemu. 

Keadaan fisik H. Nurhasan kian lemah. Ia lumpuh dan tak bisa bicara. 
Komandan CPM segera mengundang Tim Medis dari RS Supraun Malang untuk 
memeriksa. Tim mengambil kesimpulan, secara medis H. Nurhasan sehat. Sedang 
para spesialis ahli syaraf menyatakan tak sanggup mengatasinya. "Cari saja ahli 
metafisik, barangkali bisa menolong". Memang benar, H. Nurhasan dikuasai jin", 
ujarnya. Beberapa dukun yang kebetulan diundang sependapat dengan Umar Thalib. 

Melihat kondisinya kian lemah, bahkan selama seminggu ditahan tak pernah 
mau makan. Komandan CPM memerintah Atmadji memulangkan pada. keluarganya. 
Sementara itu, kepada Kaur Reskrimjuga diperintahkan segera mengumpulkan 
fakta-fakta Juridis perihal H. Nurhasan dan gerakannya. Sebab, secara formal H. 
Nurhasan belum selesai diperiksa dan tak bisa diperiksa dan tak bisa diperiksa lagi. 
Belum ada proses verbal. 

Untunglah banyak yang dirugikan Nurhasan melapor. Diantarnay Ny. Chudlori, 
istri bekas Amir Darul Hadits Malang. Ketika Chudlori meninggal dunia. H. 
Nurhasan bilang bahwa seluruh kekayaannya telah diwakafkan ke Pondok. Ny. 
Chodlori jatuh melarat. Setumpuk fakta dikumpulkan, sebab komandan CPM sadar, 
ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatannya dalam kasus pemeriksaan 
H. Nurhasan. Apalagi H. Nurhasan pulang dari Markas CPM Malang dalam keadaan 
lumpuh dan bisu. Memang benar, tak lama setelah itu Komandan CPM dipanggil 
ke Jakarta. Hasilnya tidak ada yang tahu. Kepada Atmadji ia Cuma bilang, "tak 



apa-apa, pokoknya kita jalan terus". 

Sejak peristiwa itu, kabarnya H. Nurhasan terus sakit. Lumpuh dan tak sembuh- 
sembuh, pada musim Haji 1973/1974. H. Isa asal Patuksalam, Blimbing, bertemu 
dengan Nurhasan di Saudi Arabia. H. Nurhasan katanya masih tetap lumpuh . Di 
rumahnya yang mewah di sana. H. Isa dan juga banyak sekali jama'ah Indonesia, 
menjual beras paket hajinya. (H. Nanang, H. Kaharudin- disarikan dari berbagai 
sumber) 

Radar Minggu edisi XX, Awal Juli 2003 



UNTUK MENYELESAIKAN KASUS 

INVESTASI LDII TIM PENYELESAIAN PINJAM 

UANG ANGGOTA JAMA'AH 



Perkembangan terbaui dengan dalih untuk menyelesaikan kasus investasi di 
LDII, Tim penyelsesai pinjam uang pada anggauta jama'ah. Ada yang 
memperkirakan, model penyelesaian macam ini bisa berbuntut keruwetan. 

Ada pepatah jawa yang berbunyi: "Wong bodo dadi panganan wong pinter". 
Artinya dalam bahasa Indonesia: "Orang bodoh jadi santapannya orang pinter". 
Pepatah ini tentu untuk memicu orang; agar mau menuntut ilmu, agar tidak bodoh 
dan agar tidak diperdaya orang. 

Tak jelas, apakah pepatah jawa tersebut di atas, saat ini berlaku di "tubuh" 
jama'ah LDII?, yang pasti, terakhir ini ada kesan, anggota jama'ah LDII 
diperlakukan bagai "sapi" perahan. Pasalnya, mereka sudah tertipu uangnya dengan 
kedok investasi, kali ini "diperah" lagi. Dalihnya, amal saleh gotong royong 
meminjami uang kepada organisasi untuk menyelesaikan kasus investasi. 

"Saya ini bingung, uang yang dikeruk untuk investasi tak kunjung ada 
penyelesaian, muncul fatwa "petinggi" untuk mengeruk uang anggota jama 'ah lagi," 
ujar korban investasi di Mojosari, Mojokerto. Ceritanya, sudah sekitar 4 bulan 
terakhir ini , para petinggi LDII berusaha mengeruk uang lagi dari para anggota 
jama'ahnya. Caranya, sambil menyampaikan "fatwa" , para petinggi membagi- 
bagikan kwitansi pinjaman pada setiap pengajar, baik itu pengajar rutin di kelompok 
sampai tingkat daerah. 

Dalihnya sederhana. Intinya, warga jama'ah LDII diketuk hatinya dari sisi 
Jgltpn pembelaan organisasi yang disebutnya sedang tertimpa musibah. Bentuk 

■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDii & Penipuan Triiiunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukii Penipum LP/i 

pembelaan yang diharapkan para petinggi kali ini berupa keikhlasan anggota jama'ah 
untuk meminjami uang kepada organisasi. 

Karena akadnya pemimjaman, para petinggi LDII berjanji akan mengembalikan 

sejumlah uang yang pernah dipinjamkannya berdasarkan bukti kwitansi yang 
dimiliki. Tapi, kapan janji pengembaliannya, masih tak jelas. Hanya diberi ancar- 
ancar, setelah kasus investasi tuntas. 

Praktis warga LDII yang terkenal dengan ketaan kepada Amir yang luar biasa 
ini menurut saja apa kata Imam, Kwitansi pinjaman yang dibagikan kepada anggota 
jama'ah, tak ada yang berani menolak. Apalgi protes, mereka Cuma diam. 

Para anggotajama'ah anggota yang meminjami diberi tanda kwitansi pinjaman, 
dan kwitansi itu tertulis nomor kwitansi, telah diterima dari jama'ah, nama, 
kelompok, jumlah uang, untuk pembayaran: meminjami Bpk Imam/Tim Ekonomi 
Keimanan. Kwitansi ini dilengkapi tanda, tangan yang menyerahkan, yang menerima 
KU kelompok, Saksi 1 Penulis KU di saksi 2 Imam kelompok. Setelah uang ini 
dihimpun, kemudian direkap dan baru disetorkan ke tim pusat. 

H. Kuncoro K. SE, koordinator tim penyelesaian kasus investasi enggan 
memberi keterangan tentang usaha peminjaman uang kepada anggota jama'ah 
tersebut. Kepada Radar Minggu yang menghubingi di Kediri, Kuncoro Cuma 
menjawab singkat "Wah saya nggak tahu itu" , kilahnya. 

Keterangan yang dihimpun Radar Minggu, upaya penggalangan dana dari 
anggota jama'ah LDII ini erat kaitannya denga "terobosan" baru para petinggi 
organisasi. Harapannya, dari himpunan uang para anggota jama'ah tersebut tim 
bisa segera menyelesaikan kasus investasi yang membelit LDII. Balikan, gagasan 
ini muncul dari KH. Abdudhohir, kyai sepuh LDII yang tinggal di Kertosono. 

Berdasar fatwa Kyai Sepuh itulah, RKuncoro Kaseno SE menerbitkan surat 
keteranagn tentang rencana penyelesaian kasus investasi di LDII. Intinya, mulai 
bulan Agustus akan ada pencairan dana pengembalian kepada nasabah, melalui 
Ring I dan Ring di bawahnya. 

Dijadwalkan pula, besarnya dana yang akan dicairkan tergantung dari besarnya 
pinjaman yang diterima oleh tim dari fihak ke tiga (warga LDII) . Dijanjikan secara 
transparan akan dilaporkan besarnya pinjaman yang diterima dengan besarnya dana 
yang dicairkan melalui ring I beserta ring di bawahnya setiap bulan. 

Yang menjadi pertanyaan, betulkah kasus penyelesaian kasus investasi di LDII 
ini mulai Agustus 2003 ini? Sebab surat keterangan H. Kuncoro tersebut tanpa 
tanggal .bulan, dengan tahumn pembuatan. Begitu juga, bulan Agustus yang 



dijanjikan, tanpa tertera tahunnya. Bisa jadi surat tersebut sengaja dibuat untuk 
"bohong-bohongan". 

Kuncoro sebagai koordinator tim penyelasaian juga dinilai kurang serius oleh 
beberapa korban investasi. Pasalnya, sejak kasus ini mucul ke permukaan awal 
tahun 2003, tim penyelesaian Cuma obral janji yang dalihnya masih dalam 
pendekatan. 

"Apanya yang didata, lha wong data di faktanya sudah jelas", tukas korban 
investasi di Kediri seraya menilai langkah timnya Kuncoro tersebut sengaja 
mengulur-ngulur waktu dalam rangka penyelamatan petinggi LDII yang terlibat. 
"Sepertinya Kuncoro ada. main dengan pengeruk investasi", tambahnya menganalisis. 

Dasar tudingan ini bertolak dari surat keterangan Kuncoro sendiri. Dalam surat 
itu disebut, besarnya dana yang dicairkan mulai Agustus, tergantung dari besarnya 
pinjaman yang diterima oleh tim dari fihak ke tiga (warga LDII). Lantas uang 
investasi yang dikeruk petinggi LDII itxi dikemanakan, kok malah nunggu pinjaman 
uang dari warga LDII," cetusnya. 

Bagi korban investasi, asal muasal penyelesaian memang tak menjadi masalah, 
yang penting , betul-betul ada penyelesaian. Tapi, bila bulan Agustus 2003 ini tak 
adil penyelesaian, bisa jadi itulah awal kehancuran "Kerajaan" Nurhasan Al Ubaidah. 

Radar Minggu edisi XXI, Medio Juli 2003 



JERITAN GIMO 

Penyelesaian kasus investasi LDII tak kunjung usai, menunggu berbulan-bulan, 
hasilnya bagai Cuma menggantung terapan. Jerit "tangis" penyesalan mewarnai 
kehidupan korban di hari-hari penantian. Berikut ini kisah sebagian di antara mereka. 

Sebut saja namanya Gimo. Penduduk wilayah kecamatan Mojoasri, Mojokerto, 
ini mulai aktif di LDII sejak menikah. Maklum, istrinya tergolong aktivis LDII. 
Berbekal ijazah SD, Gimo bekerja di sebuah pabrik di kawasan NIP (Ngoro 
Indrustrial Park), Mojokerto. Gajinya pas-pasan, tapi dengan cara berhemat , ia 
mampu membuat rumah kecil-kecilan. 

Perjalanan biduk bahtera rumah tangganya dilalui dengan tenang penuh 

kedamaian. Selain sibuk bekerja, keluarga ini tak pernah absen dari kegiatan mengaji, 

sebagaimana umumnya jama'ah LDII. Infaq sabilillah sepuluh persen pun dari 

penghasilan tak pernah terlalaikan. 

.^.^J^ehadiran anak pertama sekitar tahun 1 990, disusul kemudian adiknya pada 

■ HMC. Shodiq« Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEPUA: Bukii-Bukti Penipuan LP/I 

sekitar 1 999, tentu membuat suasana keluarga semakin bahagia. Berkat keuletannya, 
rumah kecil-kecilan yang dibangun, akhirnya tergolong rumah layak huni. 

Begitu juga. perabot isi rumahnya, boleh dibilang, suasana rumah tangga ini 
tergambar sebagai "potret" keluarga sakinah kelasnya. Sebagai jama'ah LDII aktif, 
keluarga Gimo juga tak pernah absen dalam kegiatan organisasinya. Hingga pada 
suatu hari, Gimo ketemu Muhammad Mukminin, menantu Ghalib, tokoh LDII di 
Mojoasri. Singkat cerita, Gimo akhirnya terbuai rayuan Mukminin untuk bergabung 
dalam kelompok usahanya. Tugas Gimo mencari nasabah di lapangan. 

Mukminin membekali Gimo dua "proyek" yang bisa ditawarkan kepada calon 
"nasabah". Pertama "proyek" investasi dengan keuntungan bagi hasil sekitar 5-7% 
per bulan. Kedua "proyek" sepeda motor sebagai tabungan berjangka. Tapi, proyek 
ini dikemas dalam satu paket. 

Caranya, nasabah diharap membeli sepeda motor dengan harga kontan. Setelah 
pembayaran, sepeda diberikan. Tapi BPKBnya ditahan, dan baru akan diberikan 
setelah dua tahun kemudian, bersama modal yang ditanamkan senilai harga sepeda 
motor. Artinya setelah dua tahun, nasabah dijanjikan memiliki sepeda motor plus 
menikmati uang harga sepeda motor yang pernah dibayarkan. Bagi yang tidak 
kontanpun bisa diatur. Sepeda motor juga dibayar setelah diba}'ar uang muka. 
Sisanya, diangsur selama 23 kali cicilan. 

Tak pelak, hati Gimo berbunga-bunga, pikirnya, inilah kesempatan "emas" yang 
bisa diraih dari hikmah sambungnya tokoh dengan anggota jama'ahnya. Sebuah 
proyek yang diyakini sebagai usaha jama'ah LDII. Sebab, dalam sosialisasi proyek 
ini, para petinggi LDII tak pernah lupa "mengkampanyekair dalam setiap 
kesempatan pertemuan yang lebih luas di tingkat daerah. 

Tanpa pikir panjang, Gimo pun melangkah. Harapannya ganda. Satu sisi 
berharap meraih sukses di bidang ekonomi agar lebih mapan lagi, bila perlu segera 
dapat meraih kekayaan sebanyak-banyaknya. Sisi lain, karena "proyek" tersebut 
dianggap usahanya jama'ah, Gimo merasa lebih senang dapat memberi kontribusi 
"tabungan" yang akan ditunai di akhirat kelak.. 

Bertolak dari dua harapan itulah Gimo tak kenal lelah tak peduli waktu. Setiap 
ada kesempatan di luar jam kerja sebagai karyawan pabrik, Gimo memanfaatkan 
untuk menembus calon nasabah. Ternyata, hasil kerja kerasnya tak sia-sia. Dalam 
sekitar 7 bulan, sejak Mei-Nopember 2002 Gimo berhasil merekrut sekitar 47 
pembeli sepeda motor dengan nilai sekitar 400 juta. 

Radar Minggu edisi XXI, Medio Juli 2003 



KEBOHONGAN LDII AMAT NYATA 

Apakah di Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) ada Amir atau Imam?. 
Pertanyaan ini terdapat dalam buku Direktori LDII hal.24, bag.3 Dalam buku tanya 
jawab dalam isu-isu negatif itu secara tegas menjawab bahwa di LDII tidak ada 
istilah Amir atau Imam. Yang ada adalah Ketua Umum lazimnya di sebuah 
organisasi. 

Adapun istilah Amir dan Imam, lanjutan jawaban tersebut, memang terdapat 
di dalam AL Qur 'an dan AL Hadits. Sehingga di LDII istilah-istilah itu tetap dikaji, 
tetapi dalam rangka keilmuan saja. Tanya jawab dalam buku Direktori LDII, edisi 
II tahun 2002 ini menarik untuk disimak. Masalahnya, benarkah di LDII tidak ada 
istilah Amir atau Imam?. Secara tertulis, dalam struktur organisasi memang betul 
tidak ada istilah Amir atau Imam. Tapi, dalam praktek sehari-hari, istilah Amir dan 
Imam amat sangat melekat pada komunitas jama'ah LDII. 

Banyak bukti-bukti lama atau pun baru, baik itu tertulis atau dalam pembicaraan, 
istilah Amir dan Imam tetap diberlakukan. Salah satu bukti terbaru bisa diamati 
dalam sebuah kwitansi "peminjaman" yang diberlakukan di lingkungan jama'ah 
LDII, pada tahun 2003. 

Dalam kwitansi itu jelas tercetak: Untuk meminjami Bapak Imam/tim ekonomi 
keimanan. Di bagian atas tertulis. Kwitansi peminjaman, telah diterima dari jama'ah 
: ada pula nama dan kelompok. Dilengkapi pula, yang menerima KU . Kelompok, 
sakssi I Penulis KU, saksi II Ike . (Imam kelompok- Red) 

Kwitansi ini ceriteranya begini, Sejak akhir 2002 sampai Juli 2003 ini LDII 
terguncang kasus "investasi". Korbannya ribuan bahkan jutaann orang, baik anggota 
jama 'ah LDII maupun non LDII. Jumlah uang investasi yang dikeruk petinggi LDII 
mencapai triliyuna n rupiah. 

Bertolak dari itu, petinggi LDII membuat "fatwa". Intinya, pemberitahuan 
bahwa organisasinya telah tertimpa musibah, kasus investasi LDII. Kepada anggota 
jama'ah diharap mau beramal sholeh dalam bentuk pinjaman uang kepada organisasi 
agar dapat menyelesaikan kasus tersebut. 

Modus operandinya, setiap acara pengajian rutin, sang Imam mengedarkan 
kwitansi pinjaman kepada jama'ah. Setelah diisi, uangnya dihimpun petugas dengan 
istilah KU. Kelompok. Dibubuhi pula tanda tangan yang menyerahkan uang berikut 
saksi I. Penulis KU dan saksi II Imam kelompok. Selanjutnya, himpunan uang 



H.M.C. Shodiq« Akar Kesesatan L DI i & Penipuan Triliunan Rupiah 



. BAGAN KEDUA: Bukii-BuktiPcnipuin LD/i 

jama'ah ini disetor ke pondok pusat LDII, Burengan, Kediri, sebulan sekali. 

Terbitnya kwitansi peminjaman ini erat kaitannya dengan surat keterangan yang 
dikeluarkan oleh H. Kuncoro K. SE, Koordinator tim penyelesaian kasus investasi. 
Dalam surat keterangan itu, Kuncoro menerangkan akan menyelesaikan kasus 
investasi di lingkungan LD II ini mulai Agustus 2003 . Besarnya dana yang dicairkan 
tergantung dari besarnya pinjaman yang diterima oleh tim dari pihak ketiga (warga 
LDII). Kuncoro juga berjanji akan melaporkan perkembangannya secara transparan 
tiap bulan. 

Soal istilah Amir, amat sangat bohong bila LDII tak menggunakan istilah itu. 
Salah satu buktinya bisa disimak dalam surat pernyataan yang intinya, untuk 
menenangkan korban investasi LDII ini ditanda tangani H. Tawar Mulyono, Petinggi 
LDII di Lebanisuko, Kec. Waringinanom, Gresik. 

Dalam inti surat itu jelas-jelas menyebutkan nama Amir. Diantara kalimatnya 
berbunyi: "Maka jama'ah supaya kompak, rukun, taat Allah, Rosul dan Amir. Dan 
tetap lima bab karena Allah," dan seterusnya 

Masih soal bukti istilah Amir dalam LDII, bisa dibuka kembali surat moh Yudha 
yang dimuat Radar Minggu edisi VII, Mei 2003. Surat ini dimuat dengan judul. 
"Surat Yudha Dari Penjara". Moh. Yudha ketua PA C mentikan, Mojokerto, yang 
dihukum 8 tahun, akibat menentang praktek investasi di LDII, mengirim surat kepada 
KH. Abdul Dhohir, Kyai Sepuh LDII, pemegang tahta "kerajaan" dinasti Nurhasan 
Ai Ubaidah ini disebutnya sebagai Amirul Mukminin. 

Praktis, istilah istilah Amir dan Imani, jelas amat sangat melekat dalam 
komunitas jama'ah LDII. Yang menjadi pertanyaan, mengapa dalam buku direktori 
LDII yang informasi lengkapnya juga bisa disimak di internet, WWW.Ldii. Net ini 
dengan tega menyebut, tidak ada istilah Amir atau Imam di LDII. 

Bisa jadi, ikhwal tersebut merupakan salah satu bentuk "pembohongan" umat 
di luar LDII. Ada kesan, biar LDII bukan penerus Islam jama'ah yang kental dengan 
istilah Amir atau Imam. Menurut mantan "Gembong" Islam Jama'ah, ustadz KH. 
Bambang Irawan Hafiluddin, di dalam Islam Jama'ah, pokok-pokok doktrin sesat 
yang disebutnya sistim "sihir taqiyah" atau kebohongan berupa fatonah, bithonah, 
Budi luhur, luhuring budi, karena Allah. 

Begitu juga cerita Zainal Arifin Aly, tokoh Islam Jama'ah yang menjadi muballig 
selama 7 tahun sejak 1976-1982. Katanya, sudah menjadi doktrin ajarannya dari 
Amir pusat sampai pada para muballig nya, kelihatannya baik di depan, tapi lain di 
hati. Berpura-pura tak ada perbedaan antara Islam Jama'ah dengan non Islam 



Jama'ah. Mereka menggunakan fathonah bithonah, boleh berbohong bahkan wajib 
berbohong kepada yang bukan golongannya. 

Berbicara di forum diskusi majlis Ta'lim Sydney di UN. S W. Australia, pada 1 
Februari 1979 itu, Zaenal Arifm Aly mengungkapkan. Mereka boleh mengatakan 
apa. saja untuk membohongi umat Islam ini dengan tanpa punya rasa berdosa/salah, 
sekalipun sama orang tuanya sendiri, apalagi sama orang lain. Yang tidak kalah 
menariknya, Gerakan Islam Jama'ah menghukumi para ulama kita sama dengan 
bajingan tengik, bahkan lebih keji dankotor dari itu. Jadi jangan heran kalau Islam 
Jama'ah di sini juga demikian sikapnya Karena itulah aqidah mereka. Kita dianggap 
sama dengan mereka yang bukan Islam. 

Kecuali orangyang mau diajak mengaji secara manqul, diperlakukannya seperti 
penginsap baru (baru insaf dari jahiliyah-red). Dibujuk dengan segala rayuan agar 
tertarik masuk pada golongannya, dengan sikap sabar dan telaten. Begitu sudah 
kelihatan bisa dipercaya, mereka dimasuki doktrin ajarannya. Sehingga yang 
bersangkutan tidak merasa dipaksa, lalu terjadilah pembaiatan oleh Amir baik 
langsung atau pun melalui wakil-wakilnya. Sejak itulah orang tersebut baru diakui 
sebagai orang Islam dan dijamin masuk surga oleh Amir, bahkan katanya wajib 
mutlak orang yang berbaiat sama Nurhasan dipastikan itu sorganya, dan pasti 
terhindar dari neraka. 

Karena kesombongannya sang Amir pun berkata: "Saya tidak rela kalau ada 
orang jama'ah yang masuk neraka", Ini berdasarkan pengakuan dan yang dialami 
Zaenal Arifm Aly lebih dari 7 tahun. Bukan omong kosong yang dibuat-buat. 

Kita semua memahami dan mengetahui bahwa penentuan surga dan neraka 
seseorang itu adillah hak Allah, bukan hak seorang seperti Nurhasan Ubaidah dan 
dinastinya yang secara ngawur Surga dan Neraka itu sudah di tangannya. Asal dibaiat 
Nurhasan /Abdul Dhohir pasti masuk surga. 

Nabi pernah bersabda : Bahwa ada tiga hal yang akan membinasakan manusia. 
Salah satunya adalah sifat ujub/berbangga dengan diri sendiri, apalagi sudahberani 
memastikan. Dalam hadits yang shohih cukup banyak menerangkan pada kita. tentang 
sabda beliau Rasulullah saw: Sejengkal lagi masuk neraka dan kurang sejengkal 
lagi masuk surga. Memang hal ini ghoib, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. 
Apalagi Nurhasan dan firqohnya, amat mustahil itu. (H. nanang, H. Kaharudin) . 

Radar Minggu edisi XXII Medio Juli 2003 



■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bulcti-Bukti Penipuan LP/I 



SI MISKIN PUN DIGEROGOTI 

Rumah Pasutri (pasangan suami istri-red) Rukun (52 tahun) dan Suyati (41 
tahun), tepat berada diantara "belantara" kebun tebu. Jalan tembus dari jalur Dusun 
Jati, Desa Katerbaan, Kec. Baron, menuju rumah Rukun, harus melewati pematang 
kebun tebu. Meski bisa dilalui kendaraan roda dua, dari arah kejauhan terkesan 
tidak nampak adanya pemukiman. 

Tidak hanya pemukiman Rukun, yang menempati pemukiman ini. Agaknya, 
keluarga yang satu ini, layak dikasihani. Rukun ternyata menderita kebutaan, akibat 
menjadi buruh kasar sebagai blandong kayu, waktu itu di rumah KH. Misbach 
(almarhum-red) tokoh LDII di desanya. "Dulu, saya ini pekerja berat. Blandong 
(tukang belah, dan angkat kayu bakar -red) selama 8 tahun" ungkapnya. Karena 
tidak diimbangi mensuplai makanan sehat, sementara pekerjaanya cukup berat, 
syaraf matanya lemah hingga mengalami kebutaan. 

Sementara untuk menopang kebutuhan sehari-hari, kini hanya mengandalkan 
Suyati, bekerja sebagai buruh tani. Kini penderitaannya kian terasa, karena keluarga 
miskin ini juga menjadi korban investasi warga LDII. Anak sapi sebagai disebut 
harta satu satunya yang dimilki, dari hasil jerih payah Suyati, selama delapan musim 
membanting tulang bekerja sebagai kuli pembuat batu merah, dijual dua tahun lalu. 

"Duwite kule ngge nabung ten nggene Pak Aziz", (uang hasil penjualan anak 
sapi ditabungkan pada Pak Aziz-red). Maksudnya H. Abdul Aziz, pengurus LDII 
desa setempat. 

Waktu ditemui Radar Minggu, Rukun dan. Suyati sedang melepas lelah. Bersama 

Haniatun Niswarah anaknya yang kini duduk di kelas VI, dan Slamet Riyadi (9 

tahun) cucu kesayangannya, besimpuh di depan layar TV hitam-putih ukuran 14 

, inc. "Pak, mak, enek dayoh! , (Pak, bu, ada tamu-red) ungkap Haniatun menyambut 

Radar Minggu. 

Sejenak Suyati membawa gelas-gelas kopi, sambil memperkenalkan diri. Dari 
guratan wajah keduanya, dapat dipastikan type buruh tani yang tangguh, dan sangat 
lugu. Kedua insan tersebut larut dalam pembicaraan dengan Radar Minggu. 
"Kebetulan, saya ini oleh pamong, saya pernah didata menjadi orang melarat, tapi 
jatah berasnya, yang menerima kok malah orang mampu," ungkap Rukun, setelah 
tahu tamu yang di runia hnya itu wartawan 

Meski ungkapannya disambut dengan senyum simpul wartawan, Rukun tetap 



antusias menyampaikan "uneg-uneg" di benaknya, "Bayangkan, yang didata melarat 
saya. Yang cap jempol juga saya. Lha kok yang terima bantuan orang yang kaya- 
kaya", tegas Rukun meyakinkan lawan bicaranya, dengan logat khas Jawa. 

TABUNGAN USAHA BERSAMA 

Pada bagian lain, Suyati membenarkan dua tahun lalu telah menabungkan 
uangnya pada H. Abdul Aziz warga LD II. Uang yang diserahkan senilai Rp. 2.5 
juta. Dijanjikan akan mendapat bunga 5-1 0%. Merasa ada harapan untuk membiayai 
hidup di hari depan dan biaya sekolah anak dan cucunya, Rukun dan Suyati kepincut 
lagi oleh tabungan bulanan yang juga dipandegani tokoh LD II tersebut. 

Kedua asuhannya atas nama masing-masing. Sambil mengambil buku tabungan 
terbitan warga LD II itu, Suyati sesekali mengiba, merenungi nasib yang dialami 
bersama keluarganya. "Sejak pernikahannya, hingga kini nasib saya sengsara terus 
pak. Kok teganya menipu saya," ungkapnya, sambil menunjukkan buku tabungan 
yang sampulnya bertuliskan: Usaha Bersama. 

"Namun kenyataannya, sejak 2002 hingga kini belum pernah menikmati hasil 
dari bunga yang dijanjikan. Bagaimana bisa menikmati, wong setiap ada bunga 
lansung saya masukkan ke tabungan bulanan atas nama anak saya," akunya memelas. 

HaniatunNiswarah, yang kini duduk di kelas VI SD itu, mengaku di sekolah 
juga ada tabungan siswa. Karena tidak ada bunga, ia memilih menabung pada Pak 
Aziz. 

"Ini kan untuk biaya sekolah anak saya kelak. Kalau tidak bisa keluar, mustahil 
saya dpat menyekolahkan ke SLTP", ungkap Rukun memelas. 

Meski demikian, kemiskinan hanyalah kebetulan saja. Kata Rukun, nyatanya 
dibanding Pak Aziz, Rukun lebih bisa berbangga. masih bisa menikmati enjoinya 
kursi "kathil" yang didudukinya. 

Pasalnya, Aziz yang dulu memiliki perabot komplit tidak dapat melayani tamu 
sambil duduk di kursi empuk. Mengapa?. Katanya seluruh perabot yang dimiliki 
Pak Aziz disita petinggi LD II untuk diuangkan, selanjutnya dibagikan kepada para 
korban investasi yang dikoordinir H. Abdul Aziz. 

Lha Pak Rukun sudah terima?. "Lha iya, katanya LDII itu kaya. Saya kok 
dijanjikan, akan diberi pengembalian Agustus," jawab Rukun sambil menghitung- 
hitung harta warga LDII, tentunya sebatas yang ia tahu dan mengerti. Keluarga 
Rukun hanyalah sebuah potret keluarga miskin yang menjadi korban investasi warga 



B H.M.C, Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukti-Bukii Penipuan LP// 

LD II. Tentunya banyak Rukun yang lain yang meskipun layak dikasihani, namun 
tetap dikerjai, dikeruk kekayaannya oleh "anthek-anthek" warga. LDII berkedok 
investasi. 

Ditemui terpisah, Tauhid (52 tahun) PJS. Kades, Katerban, membenarkan 
warganya banyak yang menjadi korban. "Cuma begini Mas, mengingat kondisi, 
kami tidak bisa melangkah sesuai peraturan yang ada sebelum masyarakat 
mengadukan secara resmi ke Desa," ungkapnya. Meski demikian, pihak pemerintah 
Desa tetap mendata, mencermati perkembangan yang ada." Kabarnya hendak 
diselesaikan tuntas Agustus ini," ungkap Tauhid. Dikabarkan, pengembalian uang 
korban LDII diterimakan melalui Ring masing-masing tanggal 27 Agustus 2003, 
secara keseluruhan. Mungkinkah? Dalam doktrin ajarannya kok "bohong" dengan 
orang di luar jama.' ah LDII itu boleh. 

Radar Minggu edisi XXII, Awal Agustus 2003 



STOP PRESS 
RADAR MINGGU DITEROR 

Menj elang shalat Jum y at, seorang mengaku bernama Lukman dari Mojokerto, 
melalui telepon mengancam Pemimpin Redaksi Radar Minggu, H, Nanang 
Kaharuddin dan wartawan koran ini, Benny Swandono. 

Orang itu mengancam, kalau Radar Minggu terus memuat kasus LDII, akan 
membunuh seluruh kelurganya dan membakar kantor Radar Minggu. "Saya tahu 
siapa anda, berapa anak anda, dan di mana rumah anda," katanya dari gagang telepon. 

Untuk itu, meminta untuk mempertimbangkan ulang kelanjutan pemuatan berita 
kasus investasi LDII pada edisi mendatang. Dalam pembicaraan via telpon lebih 
dari lima belas menit itu menyampaikan keinginannya minta, untuk bertemu dengan 
Nanang H. Kaharuddin dan Benny di suatu tempat yang akan ditentukan, di luar 
pondok LDII Burengan Kediri. Dengan catatan, tidak boleh memberi tahu polisi 
dan tidak boleh ada orang lain yang mengikuti. Kasus ini langsung dilaporkan polisi. 

Radar Minggu edisi XXII, Awal Agustus 2003 



PEMBERITAHUAN 

Bagi Para korban investasi di Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang 
ingin menuntut haknya, silakan hubungi Tim Advokasi Jama' ah Korban Investasi 
LDII, Jl. PuntodewoNo.53, Kertososno, Nganjuk, Jawa Timur. 

Atau melalui Pos Pelayanan Pengaduan berikut: 

1 . Sdr. Sholeh Jamal, SH. Jl. Raya Moropelang, Babat, Lamongan. 0322-45 1 869 

2. Gundy Sintara, SH. Jl. Megantoro, Nganjuk. 

3 . Sdr. Mahmud Reza, Perum Candra Bhirawa Asri Blok M- 1 Paron, Kediri. 
0354-683378 

4. Sdr. Arif Eddy P. JL Patimura IV/22, Tulungagung. 0255-324059 

5. Sdr. Habibi, JL Raya Gempol 144, 0343-858180 

6. Sdr. Yusuf, Karang Mendeng, Gebyog, Mojogedong, Karanganyar, 08 1 5670 
2674 

7. Sdr. SukaitonoMimbaan, Kec. Panji, Situbondo. 0338-675187-081 5512 6911 

8. Sdr. Prawoto, Watutulis, Rt.03/04 Prambon Sidoarjo. 
Koordinator Tim Advokasi Jama 'ah Korban Investasi LDII 

Ttd. 

BennvSwandono 

Radar Minggu e d i si XXII, Awal A %ustu$ 2003 



KISAH MENINGGALNYA 
KH, NURHASAN AL UBAID AH YANG DIRAHASIAKAN 

Lazimnya, kematian seseorang, apalagi berpredikat "tokoh", mesti dikabarkan 
secara luas. Tapi kelaziman ini tak berlaku bagi kematian tokoh kharismatik, 
pemimpin besar, ulama besar, serta pendiri Islam Jama' ah, KH. Nurhasan Al 
Ubaidah Amir Lubis. Mengapa? 

Ada beberapa versi alasan penyembunyian berita kematian KH. Nurhasan Al 
Ubaidah. Diantaranya, khawatir akibat kematian tokoh sentral tersebut dapat 
menggoyahkan jama'ahnya. Sebab kematian pemegang tahta keamiran "kerajaan" 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA Bukti-Bukti Penipuan LP/l 

secara mendadak, itu dikhawatirkan belum sempat menobatkan calon penggantinya. 

Tapi dugaan ini terbantahkan setelah "keamiran" dipegang oleh KH. Abdul 
Dhohir. Putra sulung dari enam bersaudara ini dianggap sebagai putera mahkota 
dinasti "kerajaan" Madigol. Madigol adalah nama kecil KH. Abdul Dhohir Al 
Ubaidah. Kini KH. Abdul Dhohir selain bergelar sebagai Amirul Mukminin, juga 
kental dengan sebutan "Kyai Sepuh" di kalangan jama' ah LD II (Lembaga Dakwah 
Islam Indonesia) 

Alasan lain, mengapa kematian KH. Nurhasan Al Ubaidah berusaha 
dirahasiakan? Banyak diantara yang menyebut karena pengikutnya merasa malu 
kepada masyarakat umum. Pasalnya, tak ada yang menyangka, orang ''sehebat" 
dia, ternyata matinya dalam sebuah kecelakaan dijalan raya. "Kekebalan" Nurhasan 
Al Ubaidah yang dikagumi banyak orang ternyata lenyap di atas mobil. 

Setelah banyak pihak yang mengetahui kematian pemimpin spiritual itu, anggota 
jama'ah LDII masih juga punya alasan penyembunyian berita kematian tersebut. 
Yakni, agar anggota jama 'ah tidak terjebak dalam kultus individu. Karenanya, meski 
ketokohannya dinilai luar biasa dengan istilah "Lubis", prosesi pemakaman bahkan 
makamnya pun tak ada yang istimewa. 

Alasan takut terjadi "kultus" individu memang bisa dipahami. Soalnya ihwal 
ini berkaitan erat dengan larangan agar setiap muslim menghindari kemusyrikan. 
Tapi yang menarik, kematiannya berusaha disembunyikan, namun anggota jama' ah 
LDII "dianjurkan" memasang foto Nurhasan Al Ubaidah di setiap rumah mereka. 
Berarti, ketika wafat dirahasiakan. Tapi setelah tiada, orang digiring untuk "kultus" 
kepada pendiri Islam Janur ah ini. 

Dalam sebuah buku Direktori LDII yang diterbitkan Dewan Pimpinan Pusat 
LDII edisi ke-2 tahun 2002, tertulis sebuah pertanyaan: " Siapakah KH. Nurhasan 
Al Ubaidah yang terpampang fotonya di rumah warga LDII?". Jawabannya, KH. 
Nurhasan Al Ubaidah adalah seorang "ulama" besar yang selama sebelas tahun 
belajar ilmu agama di Makkah dan Madinah.Tetapi lepas dari semua itu, Radar 
Minggu mencoba menyajikan kisah meninggalnya KH. Nurhasan Al Ubaidah yang 
dikutip dari berbagai sumber, salah satunya, yang termuat dalam Majalah TEMPO, 
10 April 1982. 

Hari itu, Sabtu sore 13 Maret 1982, mobil Mercy Tiger B 8418 EW meluncur 
dijalan raya Tegal Cirebon. Di jok belakang kanan duduk H. Nurhasan, sebelah 
kirinya istrinya, Ny. Fatimah. Yang menyetir mobil Abdul Aziz, anak Nurhasan, 
dan di sebelahnya duduk Yusuf, menantu. Dikabarkan mereka akan menghadiri 



kampanye Golkar di Jakarta, 

Sampai di Pelayangan (Kec. Babakan Kab. Cirebon -red) kira-kira 20 km lagi 
sampai kota Cirebon, sebuah truk Fuso mencoba mendahului Mercy merah itu. 
Jam menunjukkan waktu sekitar pukul tiga siang. 

Persis saat itu pula dari arah berlawanan muncul truk lain. Mengelakkan tabrakan 
dengan truk, Fuso membanting diri ke kiri, menyerempet Mercy. Dan Mercy merah 
itu pun terbang puluhan meter, terjungkal masuk sawah. . 

Semua penumpang cidera. Yang paling parah lukanya H. Abdul Aziz . dadanya 
remuk berlaga dengan kemudi, dirawat di rumah sakit pertamina Cirebon. Yusuf 
agak lumayan, luka di kaki dan tangan, tapi besoknya sudah keluar rumah sakit. 
Sedangkan muka Ny. Hj. Fatimah luka-luka, terkena pecahan kaca. H. Nurhasan 
sendiri hanya luka-luka lecet di kaki. Tapi sejak dibawa dari tempat kecelakaan ke 
Rumah Sakit Gunung Jati (RSGJ) Cirebon, dia tidak sadar. Dan selepas maghrib 
hari itu ia melepaskan nafas yang terakhir. 

Peristiwa itu jadi urusan Kepolisian Korem 852 Cirebon (Istilah sekarang 
Polres-red) Danres 852 Cirebon (Sekarang Kapolres Cirebon-red), lewat telpon, 
membenarkan tabrakan itu menyebabkan seorang penumpang mobil Mercy bernama 
H. Nurhasan Al Ubaidah meninggal . Juga lewat telepon RS Gungung Jati 
membenarkan. "Sopir truk itu sekarang kita tahan", kata Danres Letkol. Drs. Oetojo 
Soetopo, waktu itu. 

Keesokan harinya, mayat Nurhasan dibawa dengan ambulan RSGJ. Diantar 
oleh dr. Subarno, bersama Mulyanto pegawai LLAJR Cirebon dan sejumlah pengikut 
almarhum sampai ke rumah Pak Haji di Rawagabus, kelurahan Adiarsa, Kec. 
Karawang, salah satu komune Islam Jama'ah yang tertutup. 

Semula, menurut rencana begitu sampai di Rawagabus mayat akan segera di 
kuburkan . Eddy Simtoro Lurah Adiarsa, malam itu sudah dilapori ada penghuni 
desanya yang meninggal karena kecelakaan mobil. "Belakangan baru saya tahu 
kalau yang meninggal itu Pak Haji Nurhasan", kata Eddy Simtoro. Malam itu mayat 
Nurhasan disemayamkan di ruang tamu rumah gedungnya di Rawagabus. 
"Menunggu kedatangan teman dekat Imam dari Kediri dan Kertosono", tutur seorang 
pengikut. 

Seperti diketahui, Kediri adalah pusat Islam Jama'ah yang pertama Pondok 
Burengan, yang setelah ribut-ribut 1979 ditinggalkan Nurhasan yang lebih banyak 
menetap di Kertosono (Kab. Nganjuk, Jatim). Kertososno adalah pusat yang kedua 
dan tempat kedudukan Imam. Dia hanya datang sekali-sekali ke Rawabagus. 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPU A: Bukii-Bukii Penipuan LPH 

Sementara malam itu juga, di Desa Bangi, Purwoasri, Kediri rumah H. Abdul 
Fatah digedor orang. Pintu dibuka ternyata yang menggedor pembantu H. Nurhasan 
H. Fatah adalah adik kandung Imam itu. "Mungkin karena sangat terkejut", katanya. 
"Ia bilang H. Nurhasan sakit keras". Malam itu juga mereka berangkat ke Cirebon. 

H. Fatah memang terkejut. Baru dua bulan sebelumnya , "ia datang ke rumah 
saya dengan .... (seorang aktris Ibu Kota, pengikutnya)". 

Di Kertosono, tetangga H. Nurhasan menuturkan, hari itu para anggota keluarga 
berangkat berombongan. "Balikan Al Suntikah (istri Nurhasan yang lain) menangis". 
Tapi berita musibah itu memang tidak disiarkan. 

Dini hari esoknya, baru orang-orang yang ditunggu dari Kediri dan Kertosono 
datang diantaranya, terdapat pak Carik, tadinya sekretaris H. Nurhasan. Waktu itu 
juga Jenazah imam itu dikuburkan tepat pukul 03.00 dinihari, terhitung hari Senin 
1 5 Maret, dua hari setelah peristiwa. Makamnya persis di belakang gedung Nurhasan 
sendiri di Dusun itu ditandai dengan satu patok di arah kepala dan batu di bagian 
kaki. 

"Paling yang hadir malam itu hanya 100 orang", kata pengikut yang tadi. Mereka, 
selain sanak famili, adalah pengikut IJ dari Cirebon, Karawang dan sekitarnya, yang 
sempat tahu musibah itu. Siangnya baru banyak orang dari Jakarta yang berkunjung. 
Di antara orang-orang yang bermobil dari Jakarta itu, ada juga pejabat dan artis, 
seperti Benyamin, Ida Royani, Christin Hakim dan Keenari Nasution, ujar Haji ini, 
yang tidak disebut nama maupun identitasnya karena ia tidak sadar sedang berbicara 
dengan wartawan. Keenan sendiri membantah telah datang ziarah. 

Jadi Nurhasan (lahir 1 908 di Bangi, Kediri) sudah meninggal. Toh ia sebenarnya 
sudah lama sekali tidak memimpin pondok secara langsung. Setelah Islam Jama'ah 
(waktu itu bernama Darul Hadits / Jama'ah Qur *an Hadits/ yayasan Pondok Islam 
Jama'ah) dinyatakan dilarang Kejaksaan Agung pada tahun 197 1, organisasinya 

diubah. 

Pondok lalu berubah jadi Yayasan disebut Yakari, "di mana Imam H. Nurhasan 
Amir tidak lagi menjadi pemimpinnya (Amirnya)", dinyatakan oleh DPP Golkar 
dalam suratnya kepada para yang berwenang di Pusat (15 Juni 1975).antara lain 
Jaksa Agung. 

Tapi sampai 1 979 toh ektrimitas masih sama. Amir Murtono sendiri, seperti 
diceriterakan KH. Tohir Wijaya , Ketua Umum MDI Golkar, marah besar dan merasa 
"dikibuli" (Tempo, 22 September 1979). Agaknya Golkar lalu benar-benar 
melakukan 'penertiban \ 



Toh orang berfikir tentang pengganti sang imani. Orang di Karawang misalnya, 
yang dijejaki wartwan Tempo, menganggap tak ada lagi yang layak menjadi 
pemimpin kecuali Letkol H. Zubaidi Umar setelah Drs. H. Nurhasyim, tangan kanan 
dan perumus doktrinnya, juga meninggal beberapa tahun yang lalu. Zubaidi 
kebetulan anak tiri Nurhasan anak bawaan istrinya, Al Suntikah. Ia pula yang 
mengurus semua harta kekayaan jama' ah di Karawang. 

Tetapi tidak. Sebelum meninggal H. Nurhasan konon sempat menyampaikan 
wasiat penggantinya ialah H. Dhohir (40-an tahun), anak sulungnya. H. Dhohir 
sendiri ketika itu masih di Kertososno. Karena itu, "tak perlu lagi ada pemilihan 
Imam baru 55 , kata anggota jama 'ah yang tidak disebut namanya tadi. 

Tugas Imam baru siapapun dia, tentu tidak ringan walau katakanlah sebagai 
"Pemimpin Spiritual 55 belaka. Di Jatim saja imam punya empat pesantren. Di 
pemukiman Karawang punya 62 buah huller, sebuah bengkel, 3 8 Ha sawah dan 27 
Ha kebun. Dikomplek pertama di Karawang , "Sumber Barakah" di Desa 
Margakaya, Kec. Telukjambe, ada 8 rumah besar dan kecil di tanah seluas 5 Ha. 
Sekelilingnya terhampar sekitar 30 Ha sawah. 

Di Rawabagus, komplek terletak di tanah 5 Ha. Ada 4 rumah permanen dan 5 
rumah biasa, 2 mesin huller, sebuah bengkel mobil dan garasi untuk 10 truk. Rumah 
gedung terbesar berada paling depan, rumah Nurhasan. Tapi di atas pintu ada papan 
nama bertuliskan "Haji Zubaidi Umar SG 55 

CVSYAREKAH 

"Pak Imam (maksudnya Imam KH Nurhasan Al Ubaidah -red) , masih punya 
tanah ratusan Ha di Lampung 55 , kata sang pengikut. Semua harta beliau yang tak 
sedikit itu, katanya di pergunakan untuk membiayai pengikutnya. Di Pesantrennya 
di Kediri misalnya, lebih 500 santri tak mmpu, diberi kesempatan belajar gratis. 
"Malah makan juga dibiayai pesantren.". 

Di kantor pusat U di Kertososno waktu itu, di parkir lebih sepuhi sedan dan 
colt. "milik CV Syarekah", ujar seorang santri dengan celana dilingkis ke atas. CV 
Syarekah adalah milik H. Nurhasan. 

Nurhasan, setidaknya di luar kalangan U di Kertososno, memang lebih dikenal 
sebagai 'Haji Baidah Orang Kaya 5 . Terutama sejak ia kawin dengan Al Suntikah, 
janda yang memang kaya raya. Tapi juga berkat zakatnya, kifarat (denda agama), 
hibah, sedekah dan berbagai nama lain, yang dipungut dari para warga lewat para 
Amir yang hirarkis itu yang jumlahnya bisa sangat besar, apalagi dari anggota yang 



HMC. Shodiq, Akar Kesesatan LDi! & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukii-Bukli Penipuan LP/f 

kaya. 

Betapapun, di desa Mojoduwur, Kec. Bareng, tempat kelahiran Suntikan, di 
Jombang, kini terawat apik sekitar lebih 70 Ha kebun cengkeh atas nama H . Ubaidah. 
Dan di Arab Saudi ia punya empat rumah yang bukan sederhana di distrik Jakfariyah, 
Khud, Mala dan Hajun. 

Tapi yang menarik, meninggalnya sang Imam sendiri seperti dirahasiakan. 
Mungkin juga "agar tak mengganggu pemilu". H. Iskandar wakil Amir di Pondok 
Kertososno yang kini bernama "Khairul Huda", bahkan membantah. "Saya kira dia 
itu sudah lama berangkat ke Makkah", katanya kepada Tempo. Kalau begitu kapan 
balik? "Saya kira tidak akan balik lagi. Rencananya dia akan mati di Makkah". (H. 

Nanang, H. Kaharudin) 

Radar Minggu edisi XXII, Awai Agustus 2003 



UNTUK MENYELESAIKAN KASUS INVESTASI LDII: 
PETINGGI LDII INGKAR JANJI? 

KORBAN ANCAM DEMO BESAR-BESARAN 



Para Petinggi LDII pernah berjanji, akan menyelesaikan kasus investasi pada 
bulan Agustus ini. Betulkah janji itu akan ditepati? Bila tidak, para korban 
mengancam akan demo besar-besaran. Berikut hasil investigasi Radar Minggu. 

Bulan Agus 2003, bulan batas akhir penantian. Setidaknya, bulan penantian 
bagi para korban investasi di lingkungan LDII. Pasalnya, tim penyelesaian kasus 
investasi yang mendapat mandat dari petinggi LDII berjanji akan menyelesaikan 
kasus ini pada bulan Agustus. 

"Kaitan" ini, H. Kuncoro Kaseno, SE, Koordinator tim penyelesaian kasus 
investasi menerbitkan surat keterangan memuat tiga hal. Intinya, Pertama, mulai 
bulan Agustus, akan ada pencairan dana. pengembalian kepada nasabah, melalui 
ring I dan ring di bawahnya. 

Kedua, besarnya dana yang dicairkan tergantung dari besarnya pinjaman yang 
diterima oleh tim dari pihak ketiga (warga LDII). Ketiga, secara transparan akan 
dilaporkan besarnya pinjaman yang diterima dari besarnya dana yang dicairkan 
melalui ring I beserta ring di bawahnya setiap bulan. tmsm 



Masalahnya sekarang, betulkah para korban investasi di lingkungan LD II ini 
akan diselesaikan pada Agustus ini?. Tak ada yang berani menjamin kepastiannya. 
Balikan H. Kuncoro, yang dihubungi lewat ponselnya terkesan mengaburkan janji 
penyelesaian Agustus itu. 

Katanya, tim penyelesaian kasus ini sudah mulai mencairkan sejak bulan Juni 
dan Juli 2003 . Nilai yang diselesaikan pada Juni, sekitar 3 milyar. Begitu juga yang 
diselesaikan pada Juli, sekitar Rp. 3 milyar. Sedang untuk bulan Agustus ini, H. 
Kuncoro mengaku belum tahu nilai yang akan diselesaikan. 

Namun Kuncoro tak menjelaskan siapa saja yang sudah diselesaikan pada bulan 
Juni dan Juli yang lalu itu. Begitu juga, apakah yang sudah diselesaikan ini khusus 
yang menyangkut keterlibatan keluarga "dalam", atau pengepul umum?. Tapi yang 
jelas dari sekitar 40 milyar data korban yang ada di Radar Minggu, sampai Agustus 
ini belum ada satupun yang diselesaikan. 

Begitu juga laporan wartawan Radar Minggu dari beberapa daerah. Umumnya, 
belum ada langkah penyelesaian kongkrit dari tim penyelesai. Bahkan secara umum, 
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII terkesan tak mau ikut tanggungg jawab adanya 
kasus investasi di lingkungan LDII ini. 

Agus Priyatno, SPd. Ketua DPD LDII Kab. Situbondo, didik Tondo Susilo SH 
Sekretaris DPD LDII Kab. Jombang, dan Drs Hariyanto, Ketua DPD LDII Kab. 
Mojokerto yang dihubungi terpisah, terkesan meyampaikan tanggapan. senada. 
Intinya karena kasus itu dilakukan secara pribadi tidak ada kaitannya dengan 
organisasi, maka pengurusan penyelesaiannya, juga dipersilahkan secara pribadi. 

Wartawan Radar Minggu di Situbondo, Sukartono melaporkan, dari sejumlah 
korban investasi LDII di derah ini memang sudah ada yang diselesaikan, Tapi 
jumlahnya sangat kecil, yakni sekitar Rp. 200.000.00 yang diterima H. Sujat. 

Lain lagi laporan dari Mojokerto. Di daerah yang merupakan cikal bakal 
munculnya kasus investasi ini, para petinggi LDII sudah tahu bila tim penyelesaian 
memiliki dana Rp. 3 milyar. Tapi karena harus dibagi dengan 6.600 korban, para 
korban di Mojokerto terpaksa menolak. 

Begitu juga yang terjadi di Kab. Jombang. Penduduk wilayah Kec. Peterongan, 
Desa Mojokuripan, juga menolak uang Rp. 250.000 masalahnya korban ini 
menderita puluhan juta rupiah . Dia berharap, penyelesaian kasus investasi ini bukan 
seperti memberi "jajan" anak kecil. 

Didik Tondo Susilo, sekretaris DPD LDII Jombang, mengaku tidak memiliki 
data tentang korban investasi LDII di daerahnya. Begitu juga rencana penyelesaian 



■ H.M.C. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA: Bukti-Bukti Penipuan LP/f 

yang dijanjikan koordinator tim penyelesaian Kuncoro. Bahkan, karyawan kantor 
Infokom ini menyangkal langkah Kuncoro. "Lha wong kasus investasi itu urusan 
pribadi, kok organisasi dilibatkan, nggak benar janji Kuncoro itu", tukasnya via 

telepon. 

Wakil Bupati Nganjuk, Drs H. Jaelani Lshaq, kepada Radar Minggu secara 
tenis terang menyatakan kasihan kepada para korban investasi di lingkungan LDII 
itu. Karenanya, secara moral, pihaknya akan berpihak kepada korban manakala 
mereka mau menuntut haknya. 

Ketua DPC PKB Nganjuk ini, berharap para korban mau melapor pada aparat 
penegak hukum, atau setidaknya mau mengadu ke DPRD. Dari sinilah, aparat punya 
landasan untuk melangkah. "Silahkan lapor, kami akan membackup," tandasnya 
kepada Muzamil Surya Atmaja dan Mahmud Reza dari Radar Minggu. Dari 
Tulungagung, Drs. Imam Mahmud, MBA tetap mengacu pernyataan resmi di DPD 
LDII Jatim dalam menyikapi kasus investasi yang melanda warga LDII. Katanya, 
Dewan Pimpinan LDII dalam semua tingkatan tidak terkait dengan kasus investasi. 
Bila ada warga LDII yang terlibat, bukan tanggung jawab lembaga, sebab tidak 
pernah ada program investasi. Yang ada, program Usaha Bersama (UB) 
pengelolanya mengacu sistem koperasi. 

Sementara itu, para korban yang merasa "dikibuli" janji petinggi LDII 
merencanakan demo besar besaran di Kertososno, Nganjuk. Koordinator demo, 
Bermy Swandono, mengungkapkan, demo awal, rencananya akan dilaksanakan pada 
bulan Agustus ini. Sasaran demo, sekitar rumah kediaman KH. Abdul Dhohir, Kyai 
Sepuh LDII. Alasannya, putra tertua KH Nurhasan Ai Ubaidah ini dinilai sebagai 
pemegang kendali LDII. Mengapa sasarannya rumah KH. Abdul Dhohir?. "Kami 
berharap dengan demo itu Kyai Sepuh mau menolong korban dengan fatwanya", 
ujar Benny Suwandono optimis, seraya berharap: "Bila ada korban yang mau 
bergabung dengan Tim Advokasi Jama' ah Korban Investasi LDII, silahkan hubungi 
posko pengaduan yang ada di beberapa daerah. 

Radar Minggu edisi XXII, Awal Agustus 2003 



MENYIBAK INVESTASI LDII 
JANJI PENYELESAIAN 27 AGUSTUS TAK ADA 

REALISASI 

Tanggal 2 7 Agustus sudah lewat tapi janji Petinggi LDII yang akan menyelesaikan 
kasus Investasi pada tanggal itu tak ada realisasinya. Ironisnya, para korban 
yang akan melakukan tuntutan ternyata belum ada yang berani memperkarakan 
secara resmi. Berikut hasil Invetigasi Radar Minggu. 

Para korban investasi di LDII bagai terbius lagi, meski mereka merasa beberapa 
kali tertipu, tetapi sejumlah korban, baik dari anggota LDII maupaun luar anggota, 
belum ada tanda-tanda keberaniannya untuk menuntut secara resmi, mereka terkesan 
bagai terbius "Pasrah". 

Tak jelas mengapa mereka begitu pasrah, padahal sejak awal tersibaknya kasus 
investasi ini para korban merasa ditipu. Uang yang diinvestasikan ternya tak 
mendapat keuntungan yang dijanjikan, balikan ketika uang investasi diminta kembali 
para korban justru "dikemplang". 

Namun demikian para korban tampaknya masih mau bersabar, mereka yang 
menuntut pengembalian uang investasi dijanjikan oleh tim penyelesai yang dibentuk 
para petinggi LDII. Tim yang dikomandani RH. Kuntjoro Kaseno, SE mantan 
Kades Tengger Lor Kec. Kunjang, Kab. Kediri ini menjanjikan penyelesaian pada 
akhir agustus 2003. 

Akhir Agustus 2003 yang merupakan janji akhir penyelesaian ternyata tak ada 
realisasinya. Yang menarik, meski berkali-kali dibohongi, ternyata mereka masih 
enggan memperkarakan secara terang-terangan. Orang Jawa bilang "wani-wani 
angas" 

Kordinator tim Penyelasai SH. Kuntjoro Kaseno, SE. belum berhasil dihubungi 
Radar Minggu. Berkali-kali dihubungi Mahmud wartawan Radar Minggu di Kediri 
tak berhasil ditemukan. Mahmud mengaku menghubungi Kutjoro lewat telepon 
mereka di Ponpes LDII Burengan, melalui telepon rumah di Tengger Lor ataupun 
ponselnya, tak berhasil ditemukan. Menurut keterangan, Kuntjoro sejak pertengahan 
Agustus sudah "menghilang" pergi ke Jakarta. 

Praktis penyelesaian yang dijanjikan Kuntjoro masih belum dapat dipastikan. 
Sejumlah korban di beberapa daerah masih menggantungkan harapan. Para korban 



H MC. Shodiq. Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bukti-Bukti Penipuan LPII 

sampai akhir Agustus ini masih belum bersikap tegas, apakah akan menuntut atau 
tidak, kata Arif Edi Purwanto wartawan Radar Minggu melaporkan dari Tulung 

Agung. 

Laporan senada juga disampaikan oleh Wawan Edi Darsono wartawan Radar 
Minggu di Lamongan, Yusuf dari Solo, Sukartono dari Situbondo, Habibi dari 
Pasuruan dan yang lainya. 

Beni Suwandono koordinator advokasi korban nvestasi LDII menyebutkan, 
sampai akhir Agustus 2003 belum ada sikap akhir dari para korban, semuanya 
masih perlu sikap sabar untuk sementara waktu, sambil merumuskan solusi terbaik, 
ungkap Suwandono. 

Wartawan Radar Minggu di Kertosono Nganjuk ini juga melaporkan, pihak 
kepolisisan setempat sudah berjaga-jaga mengantisipasi terjadinya demo para korban 
LDII di Kertosono. Antisipasi aparat keamanan ini erat kaitannya dengan rencana 
demo para korban ke rumah Kyai Abdul Dhohir, Kyai Sepuh aliran ini, yang biasa 
disebut Amirul Mukminin aliran jama 'ah ini. 

Sebelumnya tersiar kabar, bila kasus investasi LDII ini tidak selesai pada akhir 
Agustus, mereka mengancam akan mengadakan demo besar-besaran. Mereka 
menuntut Kyai Abdul Dhohir untuk turun tangan menyelesaikan kasus, ini apalagi 
menurut M. Nasir, salah sorang Mubaligh LDII, kasus investasi ini tak lepas dari 
fatwa Kyai Sepuh Abdul Dhahir 

Ali Imran korban kasus Investasi di Peterongan Kab. Jombang termasuk yang 
ngotot akan mengadakan demo. Pria asal Palembang ini sebenarnya cuma tertipu 
Rp. 3 juta tapi karena cuma itu miliknya yang ia dapat dari uang pesanggon PHKnya 
di Kalimantan, kini ia bagaikan orang "setres". "Saya ini sudah terjatuh terhimpit 
tangga", ujarnya kepada Radar Minggu. 

Kasfiil Hidayat SH. Pengacara yang juga dosen Di Undar Jombang ini sepakat 
perlunya sikap tegas dari para korban. "Tanpa sikap tegas dari para. korban, kasus 
ini akan terus mengambang seperti sekarang ini. Kasful mengakui, mengikuti 
perkembangan kasus investasi LDII dari sejak edisi awal". Bila para korban tak 
mau tegas bisa rugi sendiri seperti saat ini, tambahnya. 

Begitu juga Darmadi, SH pengacara yang tinggal di Jombang. "Kalau bukti 
sudah cukup, segera lapor atau siapkan gugatan", tandas Darmadi yang juga tahu 
persis liku-liku kasus investasi LDII ini. Masalahnya sekarang tergantung kepada 
para korban mau menuntut terus atau uang jadi hangus? Tim. 

Radar Minggu, edisi XXIV, Awal September 2003 



KORBAN INVESTASI LDII BERENCANA LAPOR 

KE POLDA JATIM 

Bebarapa korban investasi di LDII berencana lapor secara resmi ke Polisi, tak 
tanggung-tanggung mereka akan mengadukan nasibnya ke Polda Jatim. Berikut 
hasil investigasi Radar Minggu. 

Sejumlah Investasi di LDII seperti Mojokerto, Jombang Nganjuk, Kediri dan 
Ponogoro dalam waktu dekat ini segera, melapor ke Polda Jatim, mereka sudah 
mendiskusikan dengan Kasful Hidayat, SH. Pengacara tinggal di Jombang yang 
sudah bersedia mendampingi mereka. 

Ali Imron, 35 tahun, korban Investasi di LDII mengungkapkan, rencana secara 
resmi ke polisi ini lantaran kejengkelannya diombang-ambingkan oleh bualan janji- 
janji petinggi LDII. Sebelumnya, para petinggi LDII yang menjadi pengepul investasi 
LDII ini berjanji akan menyelesaikan pada bulan Agustus 2003 tapi kenyataannya 
janji tersebut hanya bohong belaka. 

"Ibaratnya saya ini sudah jatuh tertimpa tangga digigit ular lagi!" keluh Ali 
Imran kepada puluhan korban lain yang setor ke pengepul LDII di Nganjuk itu. 
Nilainya mencapai ratusan juta rupiah. 

Selain Ali Imran ada beberapa korban lain yang sudah sepakat akan melapor 
ke Polda Jatim. Dari Mojokerto wartawan RM Setio Sumarno melaporkan Mukminin 
pengepulnya di Mojosari. 

Dari Ponorogo Suyadi wartawan RM mencatat tak kurang dari 50 korban yang 
sepakat melapor ke Polda. Sebagian para korban ini berada di wilayah Kec. Sampung 
dan Kec. Sawo, "Andai ada demo, para korban ini siap mengadakan aksi bersama/ 5 . 
ungkap Suyadi. 

Ancaman yang sama pun muncul dari beberapa korban di lingkungan Pertamina 
seperti yang akan dilakukan Sapari. Begitu juga yang tikan dilakukan Bu Kiswo 
korban investasi di Nganjuk. 

Kapan mereka tikan melopor ke Polda? Menurut Kasfal, masih akan menunggu 
perkembangan dari beberapa korban yang ada di daerah, sementara ini masih 
mendata korban yang betul-betul berahi lapor sebab selain itu banyak Koran yang 
mengeluh tapi tak berani melapor. "Karena itu saya siap mendampingi mereka 
menuntut haknya", tandas Kasful Hidayat, (tim) 

Radar Minggu, edisi XXV, Medio September 2003 



■ H.M.C. Shodiq» Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEPUA: Bu kii-Bukii Penipuan LP/l 



CERITA DARI BARAKA 

Tidak jelas tahun berapa, tepatnya organisasi LDII (Lembaga Dakwah Islam 
Indonesia) masuk wilayah Baraka, tepatnya Desa Curug, Cimanggis, Bogor. Karena 
baru beberapa orang, mereka belum nampak mewarnai kehidupan di kampung 
Baraka, balikan tak nampak akan adanya keresahan waktu itu. 

Tahun 1 992 sedikit demi sedikit mereka menampakkan adanya perkembangan 
dari hubungan pribadi antar tempat diadakannya pengajian dengan RT, mereka 
ditegur dan menyatakan hanyalah pengajian dasar dan untuk keluarga saja. 

Dengan cara dan metode ini, nampak sekal adanya kegiatan yang diikuti jamaah 
dari luar Baraka, dari sinilah warga sudah melihat adanya organisasi baru selain 
organisasi yang sudah dianut dan menjadi tuntunan warga setempat, karena mereka 
mempunyai Doktrin dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sendiri. 
Dari sini jelaslah mereka semakin nampak memisahkan dari kegiatan warga 
setempat. Timbullah keresahan, yaitu kenapa ketenangan dan keakraban warga ini 
tiba-tiba retak sedikit demi sedikit. 

Tahun 1994. karena warga punya RT dan ditunjuk untuk mengatur serta 
membantu pemerintah dalam segala bidang, datanglah kecurigaan warga dengan 
adanya organisasi yang tidak jelas keberadaannya setelah warga menanyakannya. 
Apakah ada ijin mereka mengaji , yang mengaji banyak jamaah dari luar, yang 
lokasinya, hanya berjarak 100 meter dari kegiatan musholla yang dibangun 
pemerintah setempat. Dari ketidakjelasan organisasi yang ada, yang jelas-jelas 
memisahkan diri, akhirnya majlis Ta'lim dan warga mendatangi tempat Sunargono, 
menanyakan tentang adanya kegiatan di rumahnya, setelah warga mendapatkan 
penjelasan dari RT 06 (Sunaryo) bahwa kegiatan ngaji hanyalah untuk keluarga, 
tapi telah disalahgunakan. Dan juga belum ada ijin dari aparat setempat. Kedatang 
warga dan jamaah pada saat itu dijawab, "Kami sudah izin RT dan RW. Pada saat 
itu juga dipanggillah RT/RW, ternyata bapak RT/RW menyatakan belum ada izin." 

Jelaslah ini sebenarnya tanda-tanda sebagian keresahan dari warga setempat, 
namun seolah-olah mereka tak pernah membuat kesalahan. Dari peristiwa demi 
peristiwa barulah mereka memberikan tembusan ke pihak RT/RW serta desa bahwa 
mereka menamakan organisainya itu dengan nama LDII. Apakh memang begitu 
cara-cara mereka masuk dalam wilayah? Setelah timbul keresahan, bahkan 
terbentuknya PC (Pengurus Cabang) LDII pun tiba-tiba turun dari pusat, dan setelah 



ada peneguran, mereka baru melapor. 

Tanggal 26 Syawwal 1414H/April 1994 Maj lis TaTim mendapat penjelasan 
bahwa Islam Jamaah itu sama dengan Lemkari dan juga LDII, bertambahlah 
keresahan warga yang akhirnya kita. hanya berdo'a dan berdo'a. 

Nopember 1 995, Majlis Ta'lim mendapat informasi bahwa Panglima Besar 
Islam Jamaah yang sudah 23 tahun berkecimpung di dalamnya kemudian bertobat. 
•Yaitu H. Bambang Irawan. Setelah melalui proses penelitian, akhirnya Majlis Ta ! lim 
sepakat mengundang beliau untuk memberikan penerangan, apa Islam Jama'ah itu? 

1 3 Januari 1 996, terlaksana acara pengajian Majlis Ta 'rim Al Barkah, RW 08 
Kampung Baraka, Cimanggis, Bogor. Yang sebelumnya telah meminta petunjuk 
langsung dan koordinasi RT/RW, pemerintah desa dan sekaligus mengundang Majils 
Ta'lim kiri-kanan dan undangan sekaligus memberitahukan kepada Muspika 
setempat dengan koordinasi keamanan yang mantap. Karena akan hadirnya 
penceramah yang asing, yaitu dari tokoh mantan Islam Jamaah serta akan dihadiri 
Muspika. Majlis Ta'lim meminta bantuan Muspika, Kasatgas desa Curug AMS, 
Pemuda Pancasila, Pemuda Demokrat dan Hansip RT/RW. Alhamdulillah aman dan 
warga telah mendapat penerangan apa itu Islam Jamaah, balikan disampaikan secara 
vokal. 

LD II adalah bukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia, namun kata H. Bambang 
Irawan, LDII adalah lembaga Dajjal Iblis Internasional. Setelah kata Dajjalkita 
kembalikan dalam arti "penipu agama". Memang tak sekali dua kali warga ditipu. 

20 Januari 1 996, perihal pelaksanaaan pengisian ceramah yang disampaikan 
oleh H. Bambang Irawan Hafiluddin, relasi LPPI (Lembaga Penelitian dan 
Pengkajian Islam) pada Sabtu malam Minggu tanggal 13 Januari 1996 di Musholla 
Al Muhajirin, Kampung Baraka, Desa Curug., Cimanggis, Bogor. 

Hal tersebut mendatangkan suatu protes oleh organisasi LDII di wilayah kami, 
bahkan kami selaku panitia sempat diintrogasi pengurus organisasi LDII, yang 
mengatasnamakan anggota ABRI (kini TNI) lebih kurang delapan orang di dalam 
rumah saya juga ada sebagian di luar dikenalkan pada saat itu ada dari Menpor, 
Brimob, 201 sebagian nama sudah dicatat pihak Koramil . Balikan pembicaraan 
kami sempat dishooting video dan direkam yang saya sendiri tidak tahu apa 
maksudnya. Dengan kejadian tamu tanpa ijin RT/RW setempat mendatangi salah 
satu panitia, yaitu Suharno, mengakibatkan terjadinya keresahan warga, dikarenakan 
warga makin lama makin banyak lebih dari 200 orang. Disinilah yang dimaksud 
keresahan warga yang jelas-jelas memilih ketua RT/RW sebagai wakil masyarakat 



H MC. Shodiq, Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 



BAGIAN KEDUA; Buk+i-Bukii Penipuan LP// : 

rendah tapi dianggap tidak perlu oleh mereka (oleh orang LDII). Bahkan dari 
kesalahan dan kelalaian organisasi tersebut alangkah resahnya, bukan terhadap 
kelalaian dan kesalahan mereka lalu mengoreksi diri, tapi justru tak segan-segan 
mereka mendatangi pengurus pusat yang membela kesalahan mereka. Dengan jelas 
menyebut dirinya dari pihak ABRI. . 

Akhirnya pertemuan debat tak terelakkan, saat itu sempat dihadiri pejabat 
pemerintah Desa, Dedi Subagyo, Babinsa dan Hasyim Ketua RW, tokoh masyarakat, 
dua orang dari dinas kepolisian, damailah tanpa reaksi lanjutaan. Boleh dibilang 
warga dipaksa harus menerima dan mengakui keberadaan organisasi LDII, namun 
kewaspadaan tetap kita tingkatkan. 

Mei 1 994, setelah melihat LDII membeli sebidang tanah bahkan lokasinya 
semakin dekat dengan musholla yang ada, timbullah keresahan lagi. Tak segan- 
segan jamaah musholla menanyakan bapak RT, dari sini dijawab tunggulah keresahan 
ini akan tetap kami tanggapi. Terlaksanalah pertemuan warga RT 06/04 pada saat 
itu setelah sekarang berubah RW 08. 

1 . Terlontarlah pernyataan warga untuk apa pembelian tanah tersebut, dijawab 
tanah tersebut dibeli dari uang sendiri untuk pembangunan rumah pribadi. 

2. Mengapa pengajian jamaah Sunargono memisahkan diri, didepan warga mereka 
berjanji mau bersatu di musholla tapi kenyataannnya setelah mencoba 
menyatukan diri selama tiga hari, setelah itu memisahkan diri. 

Akhirnya Sunargono berusaha minta waktu sendiri untuk mengadakan pengajian 
di Musholla, permintaan itu ditolak ketua Musholla, karena itu bukan merupakan 
persatuan tetapi sudah mengarah kepada perpecah belahan. Tanah yang dibeli dengan 
dalih untuk pemukiman pribadi, mulailah dibangun namun tidak layaknya rumah 
tempat tinggal. 

Warga mulai resah tempat itu ternyata untuk Majlis Ta'lim. Pihak Majlis Ta'lim 
di desa setempat berusaha menghubungi pemerintah desa, selanjutya majlis Ta'lim 
diberi memo diserahkan orang LDII namun demikian ketua RT mengaku kewalahan 
dengan cara-cara mereka. Hingga sekarang, bangunan tersebut tetap difungsikan 
sebagai ajang kegiatan Majlis Ta'lim LDII dan sholat Jum'at. 

Tanggal 25 Januari 1 996, warga sepakat unjuk rasa yang dikomandoi oleh Majlis 
TaTim Al Barkah Cimanggis, Bogor intinya kegiatan/aktifitas Jamaah LDII harus 
ditutup. 

Radar Minggu, edisi XXV, Medio Seftember 2003 



BAU BUSUK ASET LDII 

Para Korban Investasi hingga kini terus menggelepar, sedang petinggi LDII dan 
pihak petugas hukum pun hingga kini bagai tak mau tahu. 

Investasi besar-besaran yang dihimpun warga jama'ah LDII, dengan sistim 
bagi hasil 5 sampai 50% bagi penanam modal hingga membelalakkan mata, ternyata 
tak mampu sebagai penyelamat ekonomi penanam investasi itu. Manuver "tipu 
muslihat' yang gencar dihembuskan kelompok itu di tengah badai krisis ekonomi 
di negeri ini. Awalnya sebagai tumpuan pembangkit ekonomi di tengah krisis, tak 
mampu sebagai malaikat penyelamat keterpurukan penginves. 

Pengalaman para korban investasi hingga puluhan triliyunan rupiah itu telah 
menunjukkan, betapa kelatahan bangsa ini (baca umat Islam-red) dalam menilai 
organisasi LDII yang dianggap serba wah dan eksklusif, dan mungkin sengaja dipola 
sebagai perangkap, agaknya perlu peninjauan ulang yang cukup serius, teliti dan 
hati-hati. 

Sudah terpuruk akibat diterpa krisis, kantong robek dirogoh begitu banyak untuk 
investasi pengembangan sejumlah asset * ; anthek" LDII katanya triliyunan rupiah, 
balikan jika ditaksir asetnya yang dibilang yahud itu, ternyata penuh dengan bau 
busuk dan murahan. Para korban investasi hingga kini tenis menggelepar, sedang 
•petinggi LDII dan pihak petugas hukum pun hingga kini bagai tak mau tahu. 

Penipuan dilakukan dengan kedok intelektual itu, jelas-jelas dilakoni Drs 
Bashori, warga jama'ah LDII sebagai guru jurusan matematika di SLTP Negeri 3 
Kertosono, Nganjuk, Jatim, adalah salah satu contohnya. Bertindak selaku pengelola 
CV "Barakah Jaya", Drs Bashori PNS (45 tahun) asal Pandantoyo, RT02 / RW05 
Kertosono, berhasil menggelembus harta rekan seprofesinya hingga mencapai Rp. 
36 juta lebih, sedang di SLTP Negeri 3 tempat ia mengajar mengantongi sedikitnya 
Rp. 118 juta, sebagai dana investasi tabungan usaha bersama (gabungan). 

Betapa tidak kepincut, gleger lembaga warisan dinasti Madigol itu, memang 
keberadaannya cukup mentereng. Sehingga cukup pula menunjang Bashori anggota 
jama'ah itu, menebar jala pada "mangsanya". 

"Perangkap" lain seperti surat perjanjian sebagai disebut-sebut pihak I tertulis 
nama Bashori melekat pada CV "Barakah Jaya". Sedang pihak II penginves disebut 
sebagai pemilik modal, lengkap dengan sejumlah saksi danbermaterai Rp.6.000. 



•:v:-:->:-v.v.:v ■ HMC - ShodIq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEPL/A: Bu kti- Bukti Penipuan LP/t 

Uniknya, perjanjian juga diikat dengan sejumlah syarat yang sangat menggiurkan, 
yang akhirnya sesungguhnya penuh racun tipu muslihat, 

Batapa tidak, pihak II dalam perjanjian itu akan mendapat keuntungan sebesar 
50% dari hasil usaha tersebut (+4% dari modal yang diinvestasikan). Kedua, 
keuntungan dan modal, dapat diambil dalam tiap bulan, terhitung mulai tanggal 22. 
Ketiga, modal disetor paling lambat tanggal 5. meremnya lagi, keamanan modal 
dijamin 100% oleh pihak I. 

Praktis, sederet guru SLTP Negeri 3 kepincut investasi yang terkesan telah 
terorganisir itu. Drs. Suraji, Suyono SPd, Yamanik, Djunti Susianti, Suhariyono, 
Enik Romandiyah, YA Arif effendi, Syafrudin, Agus Nurbaktiono, dan Suwarko, 
masuk pada "perangkap" ala investasi tersebut. 

Runyamnya, meski kasus ini pernah diselesaikan di kantor pusat LD II Burengan, 
Kediri, hingga kini tak ada. penyelesaian. Padahal pengerukan harta, uang milik 
warga di luar jama'ah LDII ini terjadi sejak 2001. H. Kuncoro, dalam tiga kali 
bertemu dengan para korban dan Drs. Bashori warga LDII yang bertindak sebagai 
pengepul, ujung-ujung pembicaraannya penuh dengan ungkapan bohong belaka. 

Kasus ini, memaksa para korban mengadukan secara tertulis pada kepada Dinas 
Dikpora Kab. Nganjuk, 10 Februari 2004. Surat pengaduan tindak pidana penipuan 
itu, juga ditembuskan kepada Bupati Nganjuk, Kapolres, Kodim, DPR, bahkan 
Polsek Kertosono. Suyono SPd, salah satu korban saat ditemui Akhwamd Muslimin, 
wartawan Koran ini, membenarkan hal tersebut, bahkan, selaku pelapor, Suyono 
juga pernah diminta keterangan oleh petugas polisi Polsek Kertosono. 

Namun sayang, sekalipun telah dimintaisejumlahketerangan dengan sejumlah 

bukti tindak penipuan, Drs. Bashori masih juga dibiarkan bebas bergerak, malang 

melintangbahkan tetap difungsikan sebagai pendidik. "Ada apa ini, Bashori jelas 

bajingan. Kok tidak ada penanganan tuntas. Dihadapan petugas hukum justru saya 

yang diatur" akunya dengan nada emosional. "Kompromi damai dengan H. Kuncoro 

petinggi LDII, dan pihak polisi masih juga memimpong saya dan teman-teman" 

sambungnya. 

Radar Minggu, edisi ke 47, 12-18 April 2004 



RP. 2,6M DISERAHKAN 
"PETINGGI BURENGAN KEDIRI, JATIM" 

Sungguh luar biasa, Tipu muslihat yang "dirancang" kelompok Dr s, Bashori, 
guru SLTP Negeri 3 Kertosono , Nganjuk, Jatim, ini. 

Setelah masuk sel Polsek Baron, selama 24 jam, dengan akal bulusnya, 
merengek minta tolong Aris Mujiono SH yang sekaligus diminta mewakili dengan 
hak penuh melakukan penagihan kepada pengepul di atasnya yang juga jama 'ah 
LD II. Namun demikian, belum lagi tuntas, Bashori serta-merta membatalkan surat 
kuasa yang ditandatangani. 

Dalihnya, Bashori takut dicap mbalelo, takut dikucilkan kelompok jama'ahnya. 
Banhkan Bashori mengaku polos, jika sampai tega mengadukan anggota jama'ah 
kelompoknya, hingga ke polisi, ia tak akan dijamin masuk sorga. Kali ini, Bashori 
juga beruntung. Meski keberadaannya di sekolah diliputi rasa malu. Para guru, 
korban investasi warga LDII itu, masih mampu membendung "amarahnya". 

Sekalipun, Kapolsek Kertosono, AKP Mulyadi, jelas-jelas siap melanjutkan 
pengaduan para korban, namun responbaik itu, agaknya masih juga terhalang upaya 
kompromi. Padahal, dibalik kasus penipuannya terhdap rekan seprofesinya itu, 
Bashori masih juga dihadang pertanggungjawaban masalah tabungan Usaha 
Bersama yang dipimpin dari siswa/siswi SLTPN 3 Kertosono. 

Para guru (korban) agaknya ^terjebak" oleh perangai Bashori yang hingga kini 
berkelit pada kesanggupan mengembalikan, setelah dana itu cair dari ring atasnya. 
Pengakuan yang mencla-mencle dari Bashori, hingga kini mampu mengelabui 
korbannya. Betapa tidak. Setelah mengaku setor pada Hartana KTU SLTPN 2 
Tanjunganom, dan H. Ahmad Sumijan Jl. Kartini 10, lingkungan kujonmanis, 
warujayeng (keduanya juga warga LDII-red). Kini mengaku menitipkan dana yang 
diliimpim dari para korbannya itu pada; Sabit, Hartana, Sumijan, dan Nafiudin. Yang 
kebetulan, sederat nama tersebut di atas juga anggota LDII. 

Dari ke empat nama itu, mengakui telah menerima dana investasi namun 
diantaranya diserahkan ke Eksan, warga LD II Desa/Kec. Lengkong. Kepada korban 
Eksan mengaku telah menyerahkan pada Agus (keponakannya-red). Ringpenipuan 
itu, belumlah berakhir pada nama Agus. Karena, keponaknnya Eksan telah 
menyetorkan dana pada ring atasnya yang juga jama'ah LDII bernama Wahyudi, 



H.M.'C. Shodiq 1 Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






BAGIAN KEDUA: Bukti- Bukti Penipuan LP// 

Gadingmangu, Kec. Perak Jombang. Nilainya? Rp. 2.6 Milyar. 

Sayang, meski Wahyudi pernah mengaku uang sebanyak itu diserahkan pada 
petingginya di Ponpes Burengan, Kediri, hingga kini belum ada kepastian yang 
jelas. Masalahnya, sejak kasus investasi ini mencuat, Wahyudi telah raib bagai ditelan 
bumi. Namun demikian, Eksan pada para korban memastikan, akan mengambil 
seluruh aset Wahyudi di Ponpes LDII Burengan Kediri. Eksan bahkan berjanji pada 
para korban, sanggup menyerahkan sejumlah setifikat bukti kepemilikan Wahyudi, 
sebagai jaminan kepada para korban. Berhasilkah langkah Eksan? Atau muncul 
lagi skenario baru agar Bashori CS lolos dari jerat hukumi. 

Radar Minggu, Edisi ke-50, 3-9 Mei 2004 



a r._» i/_ -_. i __ i fMi o. r-i-._i— . . .— _ tjii. .___ n. — : — 1_ iiii a m m_ 



_ W&mi 



H.M.C. Shodiq« Akar Kesesalan LDII & Penipuan Triliunan Rupiah 






INDEKS 



Incjeks 



A 

Abd.Dhohir 160 
Abdul Aziz 123, 208 
Abdul Ghafur 123 
Abdullahbin Abi Aufa 

viii 
Abdullah bin Ad Dai mi 

109 
Abdullah Jbnu Abbas 

109 
Abdullah Syam 145 
Abdurrahman Maisaroh 

23 
Abi Al Mughiroh 109 
AbiAsy-Syeik 109 
Abi Salmah ix 
Abi Sihab 108 
AbiZaid 109 
Abu Bakar 37 
Abu Daud 56. 87 
AbuMashar 27 
AbuSa'idAl-Khudri ix 
Abu Saman 42 
AdDarimi 16, 23 
Ad-Dailami 109 
ad-Darimi 84 
Adz-Dzahabi 27 
Agus 121, 125 
Ahmad viii, 17, 27 
AhmadlbnuHanbal 27 
Akhwanul Muslimin 

222 
Al Amanah 16 



AlBaihaqi 108 
AlJama'ah 87 
AUuhri 30 
AlMadini 28 
*A1-Ajaii 28 
Al-Azariqoh viii 
al-liaruriyyah ix 
al-Qur'an ix 
AlibinAbiTholib 21 
Ali SolihanZamakksyari 

103 
Amir xii, 61 
amir 2, 16 
Aniir Murtono 210 
AmrBinAsh 30 
anjing-anjing neraka viii 
At-Thobroni viii 
Ath-Thabrani 110 
Atho'binYasar ix 
Atsar 22 
Azdi 28 

B 

B.Swandono 119 
BAI'AT 62 
Bai'at 2, 16 
Bai'atur-Ridhwan 85 
Bai'atur-Ridvvan 86 
Bambanglrawan 

Hafiluddin 150 
Bank Negara Indonesia 

x 
Bank Rakyat Indonesia 



x 
Baqiyah 23, 27 
Bashori 222 
Basuki 122 
Benny Svvandono 207 
bid'ah 25 

Bisyr bin Manshur 109 
Bukhari 2, 24, 30 
Bukhari-Muslim 2, 20 
Burengan 3 



CHUSNUL 

KHOTIMAH 148 
CV Rorry Persada 123 

D 

Darul Hadis xiv 
DamlHadits vii 
DebyMurti Nasution 

15 1 
Dhabith 25 
Dhaif 108 
dha'if 2, 5, 9, 35 
Didik TondoSusilo 157 

E 

EddyM 136 
EkoZulianto 119 



faroqoljama'ah xi 

fasiq 25 



FATHONAH 78 
FATHONAH 

BITHONAH 79 
firqoh 21 
fusuq 10 

G 

ghuluvv vi 
GOLKAR 134 
Golkar 210 

H 

HAbdulGhafur 123 
HMunirA 123 
HMustafa 123 
H. Chrisvvanto Santoso 

141 
H, DIDIK TONDO 

SUSJLO 138 
H. Jumikan Karimunsaiii 

138 
H. Kimcoro Kaseno 

136, 138 
H. Loso 122 
H.Masyhudi 128 
H. NURHASAN 

UBAIDAH 7 
H. Nurhasan Ubaidah 

5, 8 ; 11, 18, 54, 84, 
86, 89, 97 

H.Tamsir Rasyid 128 
H. Usman Arief 136 
H. USMANARJF 138 
Haikal 37 
HajiRoyan 122 
Hamzah Jazri 108 
Hatim 27 , 
Hizbullah 16, 19 
HM Shodiq v, xiii 
Hudzaifah ibnu Al 

Yamani 21 



Hussain bin Muhammad 
103 

I 

Ibnu Abdil Bar 108 
Ibnu AbiAashim 109 
Ibnu Abi Hamzah 108 
Ibnu Hajar Al Haitsami 

6 
IbnuHazm 108 
IbnuKatsir 44, 69 
IbnuKhaldun 63 
IbnuKhasir 103 
IbnuMajah viii, 109 
Ibrahim bin Abi Ablah 

109 
Ulat 26 

ImamMahmud 213 
IMAMMALIKI 148 
Islam Jama'ah vii, xiv 
Islam murni 134 



Jabir bin. Samurah 3 1 
jama'ah 2, 16 
Jama'ah Al Hidayah 

134 
Jama'ah Muslimin 

16, 19 
Jama'ah Pengajian Al 

Hadils 134 
Jama'ah Qur'an Hadis 

134 
Jama'atul Muslimin 86 
Jama'atul- Muslimin 6 
Jama'atumMinal 

Muslimin 32 
Jama'atunMinal 

Muslimin 7 
Jamah Amirul 

Mukminin 134 



JarhwaTa'dil 103 
JOKOMULYONO 148 

Jombang v, 119 
JPID 134 ■ 

K 

KASMUDI 148 
Kediri 3 
Khawarij 

vii, 2, 19, 53 
Khudzaifah Ibn Al- 

Yamani 8 
kilaabun naar viii 
Kuntjoro 120 
Kyai "Sepuh" 160 

L 

LD II vii, xiv, 5 
Lemkari vii, xiv, 134 
Lisanul Mizan 26 
LPPI xii 

LuddhyCahyana 10 
LudhyCahyono 53 

M 

M. Nurfedhilah 154 
M.Ontorejo 117, 161 
MahmudalKhalidi 103 
Maisyaroh 28 
majhul 25 

Majma' Zawaaid viii 
Manqul 35, 41 
Manqul-Musnad 

Muttasil 41 
Maqthir 29 
Maryoso 124 
Maudhu' 108 
mauquf 5, 29 
Mbah Gombel 124 
Mirza Ghulam Ahmad 

108 



iii 



H.M.C. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Trillunan Rupiah 



Injcks 



Mizanul Ftidal 

26, 27, 103 
MohTohar 121 
Moh. Abdullah 123 
Moh.Ulfan 148 
Moh.Yudha 148, 149 
Mojokerto xi 
Muchtarom 123 
Muh. Nasliimddin al- 

Albani 103 
Muhammad bin Kholid 

alHanafi 110 
Muhammad bin 

Mihshan 109 
Muhammad Holid bin 

Hanafi 6 
Muhamma d Yudha 162 
MUJAHIDIN 148 
Mushthalahul Hadits 22 
Muslim 

ix 10, II, 17, 30, 88 
Musnad 35 

Musthalahul Hadits 103 
Muttasil 35 

N 

Nabi Muhammad 

\\ vi, 1. 6 
Ngadimin 123 
ngglembuk \ 
Nurbaktiono 221 
Nurhasan Ubaidah 32 
Nurhasan Ubaidah Lubis 

xii 
Nurhasim 3, 16, 23 



Pancasila xiii 

PERAWI 25 

PT Lima Utama Abadi 

123 



PT. Lima Utama 122 

O 

QURAISY 30 

R 

Radar Minggu 
v, xii, 119 
Rasulullah 1 

Rasulullah savv ix 
RH.Koentjoro 136 
Rijal 26 
nryu 9 



Sa 'id bin Jainhan viii 
sanad 24 
Sayid Alwi 42 
SayidAmin 42 
Sayuti 27 
shahih 7 

Sholeh Jamal 206 
SLTP N 2 Tanjunganom 

223 
SLTPN3Kertosono 

223 
Sofvvan bin Rustum 

23, 28 
SriHandayani 120 
Suara Baru 123 
SUDIRTO 148 
Sugeng Widodo 126 
Suyadi 217 
Suyanto 120 
Syaiful 125 
syarrul bariyyah vi 
Syeikh Kutub 103 
Syeikh Muhammad Siroj 

42 
Syeikh Umar Hamdan 

42 



TAAT 62 
ta'at 2, 16 
TAKHRIJ 26 
Takhrij 30 
TamimadDari 23 
Tarwiji 159 
Tawar Mulyono 123 
Thobaqotii*Huffad 103 
ThobaqotulHuffad 

26, 27 
Thobaroni 88 
Tirmidzi 9, 39 
TohirWijaya 210 
TOYIBUN 148 
Tsiqoh 25 

U 

UD. Kurnia Jaya Motor 

123 
Umar bin Khatab 16 
Umi Salamah 117, 159 
Usman Arif 157 
UUD 1945 xiii 

W 

Wahyudi 223 
Wakidjan 123 
WaliAlFatah 
16, 18, 31 
Winarno 124 



Yahudi vii 
Yayasan Pendidikan 

Nasional (Yapenas) 

134 
Yazid bin Harun 23, 27 
Yusair 20 



Al//-if l/c^ecien+nn ! riil ft Pcknini inn Trilli mnn Dnninh, W M P .^hnHin 



Daftar Buku-Buku Terbitan LPPI Jakarta 



No 


Judul 


Penulis 


Harga 


1 


Ahli Sunnah Menjawab 
Ahmadiyah 


Dede A Nasution 


Rp. 14.500 


2 


Ahmadiyah, Kepercayaan & 
Pengalaman 


Hasan bin Mahmud 
Audah 


Rp. 17.500 




Ahmadiyah & Pembajakan Al 
Qur'an 


M. Amin 

Djamaluddin 


Rp. 17.500 


4 


Bahaya Inkar Sunnah 


M. Amin 
Djamaluddin 


Rp. 7.000 


5 


Bahaya Islam Jamaah 


Bambang I rawan 


Rp. 18.500 


6 


Capita Seiekta Aliran 

Sempalan di Indonenesia 


M. Amin 

Djamaluddin 


Rp. 7.500 


7 


Keyakinan Al Qodiani 


Syaikh Mandur 


Rp. 11.900 


8 


Melacak Kesesatan Kedustaan 
Tarekat Naqsabandiyah 


M. Amin 

Djamaluddin 


Rp. 9.000 


9 


Membongkar Gerakan Sesat 

NI1 


Umar Abduh 


Rp. 12.500 


10 


Mengapa Kita Menolak Syiah 


M. Nabhan H usai n 

dkk 


Rp. 17.500 


11 


Penyimpangan & Kesesatan Al 

Zaytun 


M. Amin 
Djamaluddin 


Rp. 5.000 


12 


Akar Kesesatan LDII & 
Penipuan Triliyunan Rupiah 


HMC Shodiq 


Rp. 23.000 


13 


Kesesatan Lia Aminudin 


H M Amin 
Djamaluddin 


Rp. 9.000 


14 


Kedaliman Syiah Terhadap 
Ah i u Sunnah di Iran 
(Terjemahan) 


Abu Sulaiman Abdul 
Mun'im bin Mahmud 
Al Balusy 


Rp. 2.500 


15 


Catatan Atas Jawaban Lengkap 

Hashem 


HM Amin 

Djamaluddin 


Rp. 2.500 



HMC. Shodiq, Akar Kesesatan LDII & Penipuan Triiiunan Rupiah